Home / Featured / Agama: Antara Kesalehan Dan Kekerasan

Agama: Antara Kesalehan Dan Kekerasan

Dalam sebuah laporan penelitian berjudul, “Pola-Pola Konflik Keagamaan di Indonesia” (1990-2008)” diperoleh temuan bahwa, dari sebanyak  832 insiden konflik keagamaan yang terjadi di Indonesia dalam rentang periode Januari 1990 hingga Agustus 2008 diperoleh angka 66% bentuk konflik berupa aksi damai dan 34% dalam bentuk aksi kekerasan.

Sekalipun angka konflik keagamaan dalam bentuk aksi kekerasan lebih kecil, “Namun, hal ini bukan berarti aksi kekerasan memiliki signifikansi yang lebih rendah. Karena, betatapun rendahnya tingkat aksi kekerasan, hal ini tetap penting mengingat dampak yang dihasilkannya, baik berupa korban jiwa maupun kerusakkan harta benda. Untuk menggambarkan hal ini, kalangan ahli ilmu sosial lazim menggunakan istilah ‘kecil tapi penting’ (the significant small)” (http://www.paramadina-pusad.or.id/proyek/riset/pola-pola-konflik-keagamaan-di-indonesia-1990-2008.html).

Kasus yang membelit Gubernur Basuki Tjahaya Purnama dengan tuduhan penistaan agama – terlepas lebih kental nuansa politisasinya – semakin memperkuat sentimen-sentimen primordialistik berbasis keagamaan yang berhasil menggiring opini publik untuk terjebak dalam sejumlah aksi-aksi kekerasan verbal maupun kekerasan simbolik serta kekerasan fisik.

Selalu timbul pertanyaan epistemologis, mengapa agama kerap memperlihatkan wajah yang garang dan keras sementara di satu sisi agama adalah panduan spiritual dan moral para penganutnya agar berperilaku lebih baik, saleh dan menggendalikan diri? Benarkah agama berwajah ganda? Mengapa agama terkesan memiliki wajah ganda? Ataukah wajah ganda agama lebih disebabkan oleh penafsir dan perilaku umat penganut agama itu sendiri?

Sayangnya, para sosiolog klasik setaraf Max Weber dan Emile Durkheim pun tidak menaruh perhatian terhadap fenomena kekerasan agama dalam buku-buku mereka. Mungkin fenomena kekerasan agama belum menjadi gejala universal dan fenomenal sebagaimana akhir-akhir ini terjadi sehingga kedua sosiolog tersebut tidak memasukannya sebagai bagian dari pengkajiannya.

Dalam bukunya, Sosiologi Agama (IRCiSOD 2012), Max Weber lebih menaruh perhatian pada aspek sosiologis yang mempengaruhi perkembangan agama maupun agama yang mempengaruhi kehidupan sosiologis. Demikian pula  Emile Durkheim dalam bukunya, Sejarah Agama (IRCiSOD 2005) lebih menaruh perhatian pada perkembangan evolutif agama dari bentuk-bentuk religius yang primitif yang kemudian beradaptasi secara terus menerus dengan lingkungan sosialnya.

Adalah Charles Kimball, seorang Guru Besar Studi Agama di Universitas Wake Forest, AS menuliskan dalam bukunya, Kala Agama Jadi Bencana perihal faktor-faktor yang dapat menyeret dan membawa agama sebagai sumber masalah. Sebelum membeberkan beberapa faktor tersebut, Kimball memberikan penjelasan bahwa pemahaman seseorang terhadap agama sangat mempengaruhi tindakan yang mereka kerjakan sebagaimana dikatakan, “Struktur dan doktrin keagamaan dapat digunakan nyaris seperti senjata. Kita akan melihat contoh-contoh orang yang diperbudak oleh gagasan atau begitu jauh berbuat untuk melindungi institusi agama dari ancaman yang mereka duga. Jika institusi dan ajaran agama tidak luwes dan tidak memiliki sistem check and balance, hal itu sungguh mempunyai kesempatan untuk tumbuh menjadi bagin terbesar dari masalah…Apakah agama seperti senjata? Di tangan Osama bin Laden, kita dapat mengatakan ya; di tangan Mahatma Gandhi, analogi ini menjadi sesuatu yang menjijikkan…Apakah agama itu suatu masalah? Ya dan Tidak. Jawaban atas pertanyaan itu terletak pada bagaimana orang memahami hakikat agama. Pada inti orientasi dan pencarian agama, manusia menemukan makna dan harapan. Dalam asal muasal dan ajaran inti mereka, agama-agama bisa jadi mulia, namun cara agama itu berkembang bisa saja jauh dari ideal” (Mizan 2003:73).

Dalam bukunya, secara panjang lebar Kimball mengulas bahwa agama akan menjadi kekuatan destruktif dan menimbulkan sejumlah masalah manakala kalangan penganut agama melakukan lima hal yaitu: Pertama, bila suatu agama mengklaim kebenaran agamannya sebagai kebenaran yang mutlak dan satu-satunya. Kedua, kepatuhan atau ketaatan buta kepada pemimpin agama. Ketiga, kegandrungan akan zaman ideal baik di masa silam maupun di masa yang akan datang dan direalisasikan dalam bentuk gerakan keagamaan. Kempat, tujuan yang membenarkan segala cara untuk meraihnya. Kelima, bilang perang suci dijadikan norma dan etika sehingga meniadakan komunitas beragama laiannya.

Melihat penjelasan Kimball, maka faktor agensi atau aktor pelaku agama dan interpretasi seseorang terhadap agama yang bisa menjadikan agama memiliki wajah lain di samping kesalehan yaitu kekerasan dan konflik. Segitiga konflik Galtungpun menempatkan faktor agensi dan interpretasi sebagai elemen yang berkontribusi terhadap situasi konflik dan kekerasan karena interpretasi agensi akan melahirkan sikap dan pada akhirnya sikap akan melahirkan situasi atau konflik (Novri Susan, M.A., Pengantar Konflik dan Isu-Isu Konflik Kontemporer,Kencana 2009:90-91). Jika seseorang memiliki interpretasi fundamentalistik terhadap teks agama kemudian melihat eksistensi orang lain sebagai ancaman dan lawan yang harus disingkirkan maka interpretasinya akan melahirkan sikap-sikap diskriminatif, provokatif hingga destruktif.

Jika sumber kekerasan dan konflik agama adalah agensi dan interpretasinya alias aktor pelaku agama dan interpretasi agama yang dimilikinya, maka kondisi- yang mempengaruhi aktor dan interpretasi mereka sehingga melahirkan sikap dan perilaku yang melahirkan situasi konflik dan kekerasan harus ditemukan dalam konteks sosiologis. Artinya, faktor-faktor sosiologis apakah yang turut berkontribusi terhadap seseorang atau kelompok serta komunitas agama memiliki interpretasi teks yang radikalistik dan melakukan tindakan-tindakan diskriminatif hingga destruktif.

Secara sosiologis, interpretasi seseorang terhadap teks agama dipengaruhi oleh sosialisasi dan interaksinya dengan pemikiran seseorang maupun dengan kelompok-kelompok keagamaan yang memiliki kecenderungan fundamentalistik dan radikalistik. Sosialisasi dan interaksi sosial dapat terjadi melalui buku-buku keagamaan yang berisikan pemikiran-pemikiran tokoh tertentu mengenai teks dan tafsir agama maupun melalui pertemuan-pertemuan dengan sejumlah tokoh dan kelompok yang memiliki pemikiran fundamentalistik dan radikalistik. Faktor sosiologis lainnya yang berkontribusi terhadap aktor dan interpretasinya yang membentuk sikap dan tindakan destruktif mengatasnamakan agama adalah kontruksi sosial yang diterima seseorang perihal orang lain yang tidak memiliki keyakinan yang sama dengan dirinya.

Konstruksi sosial tersebut bisa diterima melalui keluarga, sekolah atau lingkungannya. Konstruksi sosial mengenai orang lain bukanlah realitas yang sebenarnya melainkan realitas yang dikonstruksi oleh karena latar belakang pemahaman dan kepentingan tertentu. Sebagaimana dikatakan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckman bahwa konstruksi sosial terjadi dalam tiga momen dialektis yang disebut eksternalisasi, obyektivikasi serta internalisasi (Tafsir Sosial Atas Kenyataan: Risalah Tentang Sosiologi Pengetahuan, LP3ES 2013), oleh karenanya hasil konstruksi sosial akan membentuk pemahaman seseorang tentang dirinya, agamanya serta orang lain, agama orang lain serta etnis/bangsa lain serta agamanya.

Kembali kepada keseluruhan gagasan dalam artikel ini yang mengajukan pertanyaan apakah agama memang sejatinya berwajah ganda yaitu kesalehan dan kekerasan maka dapat kita jawab bahwa agama sejatinya sebuah sistem kepercayaan yang mengatur relasi dengan Keberadaan Yang Maha Tinggi yang dituangkan dalam seperangkat peraturan dan hukum yang berkaitan dengan peribadatan dan etika sosial sebagai pengejawantahan nilai-nilai yang dilekatkan pada Keberadaan Yang Maha Tinggi.

Kekerasan dan konflik dengan mengatasnamakan keagamaan oleh para penganut agama baik yang ditujukkan secara internal (dengan sekte/denominasi yang berbeda dengan dirinya) maupun eksternal (dengan penganut agama yang berbeda dengan dirinya) lebih dikarenakan faktor-faktor sosiologis yang mempengaruhi dan membentuk struktur interpretasi, pemahaman, sikap, perilaku, tindakan individu yaitu sosialisasi, interaksi sosial, konstruksi sosial. Faktor-faktor sosiologis inilah yang akhirnya membentuk individu pelaku agama atau dengan kata lain membentuk wajah lain dari agama yaitu konflik dan kekerasan.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor sosiologis yang membentuk wajah agama antara kesalehan dan kekerasan, maka jalan keluarnya bersifat sosiologis pula dimana seseorang sudah seharusnya lebih banyak berinteraksi dengan pemikiran dan kelompok serta komunitas yang memahami agama sebagai sumber kesalehan dan perubahan sosial konstruktif.

Selain itu, interaksi sosial dan pergaulan dengan beragam etnis dan kepercayaan akan mengikis sikap ekslusif dan superioritas keyakinan keberagamaan seseorang dan menimbulkan sikap saling menghargai dan berbagi ruang terhadap perbedaan-perbedaan. Rumah (keluarga) dan sekolah adalah sumber darimana nilai-nilai pluralitas dan penghargaan keragaman dimulai. Jika rumah dan sekolah gagal menjalankan fungsionalitasnya maka konflik dan kekerasan agama akan terus direproduksi dan mengalami repetisi dalam ruang waktu dari hasil interaksi sosial dan konstruksi sosial yang keliru.

 

Sumber : http://www.qureta.com/post/agama-antara-kesalehan-dan-kekerasan

About syauqi glasses

Check Also

TASAWUF – Mereka Yang Diberi Hidayah Khusus Oleh Allah

“Dan Allah – yang mulia dengan segala asma-Nya – dalam waktu ke waktu dan dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *