Home / Isu-isu Dunia Islam / Demokrasi / Agama dan Negara dalam Bingkai Pancasila

Agama dan Negara dalam Bingkai Pancasila

Membangun ikatan yang harmonis antara agama dan negara, atau antara umara dan ulama memang bukan perkara mudah. Terlebih jika agama mayoritas dalam suatu negara tidak mampu membawa kemajuan bagi negara yang bersangkutan. Jika sudah demikian, umumnya negara memilih untuk menjadi sekuler, memisahkan sepenuhnya peran agama dari negara.

Sekularisme radikal untuk pertama kalinya terjadi di Eropa barat sebagai dampak dari dominasi kekuasaan gereja selama zaman kegelapan. Gereja sebagai institusi kekuasaan Tuhan di Dunia mencampuri hampir seluruh kehidupan masyarakat baik dalam bernegara maupun dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Gereja bahkan tidak segan-segan melakukan pertumpahan darah demi mempertahankan pendapatnya.

Sekularisme tidak hannya terjadi di negara dengan dominasi gereja. Dalam kaitannya dengan khilafah islamiyah, contoh yang paling menarik dari sekularisme adalah yang terjadi pada Kekaisaran Ottoman di Turki pada tahun 1923. Mustafa Kemal Atarturk mempelopori terjadinya revolusi kemal mendirikan Republik Turki yang berhaluan sekular dan bersamaan dengan itu membubarkan kekaisaran ottoman yang merupakan bentuk negara agama (teokratik).

Ideologi sekularisme yang diterapkan Kemal waktu itu, merupakan bentuk pendobrakan terhadap status quo. Soekarno, dalam karyanya Di Bawah Bendera Revolusi menyebutkan setidaknya terdapat tiga hal yang melandasi perlunya dilakukan pemisahan antara agama dan negara di Turki kala itu.

Pertama, terpuruknya posisi Turki pasca Perang Dunia (1914-1981). Kedua, sikap fatalistik meyebabkan terpuruknya masyarakat Turki di bidang ilmu pengetahuan dan ekonomi. Sikap fatalistik tersebut merupakan efek dari ajaran tarekat yang berkembang di Turki kala itu. Padahal, sikap fatalistik yang cenderung pesimis terhadap kedidupan dunia sangat bertentangan dengan nilai ajaran Islam yang menjunjung tinggi kemerdekaan berkehendak.

Ketiga, menyatunya agama dan negara di Turki seringkali menyebabkan dualisme. Kekhalifahannya berlandaskan Islam, namun sabda-sabda kaisar sebagai pemimpin negara yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat seringkali bertentangan dengan nilai-nilai Islam itu sendiri. Pelaksanaan pemerintahan juga acap kali terhalang oleh fatwa-fatwa ulama yang membelenggu kemajuan.

Sebagai bentuk gerakan pendobrak, sekularisme baik di Turki maupun Eropa diakui atau tidak telah membawa perubahan sosial kemasyarakatan yang pesat. Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Tata Negara tidak lagi terhalang oleh fatwa-fatwa keagamaan yang membelenggu. Hal tersebut tidak lain karena sebelumya agama gagal memposisikan dirinya terhadap negara.

Apakah Indonesia negara sekuler?

Indonesia sekalipun merupakan negara dengan penduduk Muslim terbanyak, namun Indonesia jelas bukan sebuah negara agama (Teokratik). Di dalam konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak ada satu nama agamapun yang menjadi landasan kehidupan bernegara. Namun, dalam praktik penyelenggaraan pemerintahannya, Indonesia juga jelas tidak bisa dikatakan sebagai negara sekuler.

Pendapat di atas, diperkuat dengan realitas besarnya pengaruh dan peran agama terhadap negara di Indonesia, begitu pula sebaliknya. Negara dalam beberapa hal juga berperan dalam pelaksanaan kehidupan bernegara. Hubungan yang harmonis anatara agama dan negara ini berdiri di atas landasan sekaligus ideologi bangsa Indonesia, Pancasila.

Indonesia adalah Negara Pancasila, Negara Islam yang substantif

Berkaitan dengan diskursus hubungan agama dan negara, Indonesia bisa dikatakan jauh lebih maju dari pada negara-negara lain di seluruh penjuru dunia. Hubungan antara Agama dan Negara tidak berlaku hubungan antagonis, juga tidak terjadi pemisahan yang radikal di antara keduanya. Agama dan Negara memiliki hubungan yang integratif dan saling menopang satu sama lain.

Agama dan Negara, atau dalam istilah lain Keindonesiaan dan Keislaman adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Bagi seorang muslim, perjuangan dalam menegakkan ajaran Tuhan tidak mungkin dilakukan tanpa wadah, tanpa negara. Menciptakan keadilan adalah misi utama Islam dan juga merupakan misi besar negara. Maka dari itu, perjuangan menegakkan Agama dan Memajukan NKRI adalah satu usaha yang dapat dilakukan bersama-sama.

Maka dari itu, Agama di Indonesia harus diposisikan sebagai sumber nilai yang menjadi spirit untuk menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemajuan IPTEK, pengentasan kemiskinan, pemeliharaan persatuan, adalah tugas agama sekaligus tugas negara.

Jika kita mampu menjadikan agama sebagai inspirasi, motivasi, dan sumber nilai bagi pelaksanaan kehidupan bernegara, maka sejatinya kita telah membumikan substansi agama ke dalam tubuh negara. Hubungan yang substantif ini akan lebih harmonis dan dapat diterima oleh semua kalangan dari pada kita terjebak pada usaha pembentukan negara agama yang simbolik.

 

Sumber : http://www.qureta.com/post/agama-dan-negara-dalam-bingkai-pancasila

About syauqi glasses

Check Also

TASAWUF – Mereka Yang Diberi Hidayah Khusus Oleh Allah

“Dan Allah – yang mulia dengan segala asma-Nya – dalam waktu ke waktu dan dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress database error You have an error in your SQL syntax; check the manual that corresponds to your MySQL server version for the right syntax to use near '%b, %b)' at line 1 for query INSERT INTO `wp_tsw_log` (`IP`, `Time`, `IS_BOT`, `IS_HIT`) VALUES ('54.225.57.89', 1511414630, %b, %b) made by require('wp-blog-header.php'), require_once('wp-includes/template-loader.php'), include('/themes/sahifa/single.php'), get_sidebar, locate_template, load_template, require_once('/themes/sahifa/sidebar.php'), dynamic_sidebar, call_user_func_array, widget_traffic_stats, view