Home / Isu-isu Dunia Islam / Demokrasi / Agama, Kebangsaan Dan Demokrasi Nurcholish Madjid Dan Kemanusiaan

Agama, Kebangsaan Dan Demokrasi Nurcholish Madjid Dan Kemanusiaan

Franz Magnis-Suseno

 

ABSTRAK

 

Pernyataan Nurcholish Madjid bahwa “Islam adalah agama kemanusiaan terbuka,” menga- jak kita untuk merenungkan kembali arti Islam sebagai agama yang menghormati martabat manusia. Iman kepada Allah hanya benar kalau terwujud dalam hormat terhadap ma- nusia, ciptaan tertinggi Allah. Agama, segenap agama, mesti dapat dirasakan sebagai sesuatu yang positif. Karena itu kita harus menolak keagamaan dengan wajah keras, keagamaan yang mengancam, membenci dan meremeh- kan mereka yang berbeda. Dalam hal ini, Indo- nesia menghadapi sejumlah tantangan serius, tetapi juga peluang yang menumbuhkan op- timisme. Inilah saatnya kaum agamawan dari berbagai agama untuk menegaskan kembali komitmennya dalam memperlihatkan bahwa agama adalah rahmat bagi seluruh alam, tanpa kecuali.

 

“Agama Kemanusiaan Terbuka”

 

Perkenankan saya memulai kuliah peringatan Nurcholish Madjid ini dengan suatu pertim- bangan yang pernah saya uraikan dalam Ulumul Qur ’an dan kemudian, sembilan tahun lalu, saya bawa dalam acara Dies di universitas Paramadina ini.  Saya bertolak dari pernyataan Cak Nur —perkenankan saya memakai panggilan akrab alm. Dr. Nurcholish Madjid ini—bahwa “Islam adalah agama kemanusiaan terbuka” (“Islam Doktrin dan Peradaban”, xliv).

 

Pernyataan ini memberi isi lebih mendalam pada dua keyakinan Cak Nur yang juga selalu ditegaskannya, bahkan yang penegasannya merupakan suatu misi Cak Nur. Yaitu bahwa Islam adalah agama kemodernan dan agama masa depan. Tentu yang pertama-tama dimaksud adalah peringatan kepada umat bahwa Islam bukan agama yang ketinggalan zaman, bahwa Islam tidak perlu menolak kemodernan, melainkan sebaliknya justru mau memajukannya, dan karena itu justru akan memainkan peran makin penting di masa depan. Kalau Islam berani mengaktualisasikan potensi-potensinya, ia justru akan sangat sesuai dengan zaman kita, zaman modern, dan karena itu sudah jelas merupakan agama bagi manusia di masa depan.

 

Akan tetapi pernyataan Cak Nur bahwa “Islam adalah agama kemanusiaan terbuka” menambah sesuatu. Pernyataan Cak Nur tentang kemodernan dan kecocokan Islam dengan masa depan mendapat dimensi yang lebih mendalam lagi. Lalu Islam, dalam pan- dangan Cak Nur, bukan hanya modern karena tak kalah bisa mendesain pesawat terbang atau menciptakan software komputer, melainkan karena Islam membenarkan manusia dalam martabatnya, padahal hormat terhadap martabat manusia adalah inti harkat etis moder- nitas. Mari kita melihat implikasi-implikasi pandangan Cak Nur ini.

 

Implikasi pertama dibuka oleh Cak Nur sendiri. Ia melanjutkan kalimatnya: “Maka umat Islam harus kembali percaya sepenuh-nya pada kemanusiaan.” Ucapan itu sendiri mencolok karena cukup berani. “Percaya pada kemanusiaan” adalah cara bicara yang tidak lazim di kalangan kaum agama. Mereka pada umumnya mengaku percaya kepada Allah, bukan pada kemanusiaan. Tetapi justru itulah gaya Cak Nur. Membaca kalimat itu orang barangkali kaget. Kalau orang lalu berhenti, menutup diri, menjadi emosional dan defen- sif, maka kalimat itu akan ditolak, barangkali dengan tuduhan-tuduhan yang bukan-bukan. Tetapi kalau pembaca bersikap terbuka, kalau ia orang yang mau belajar, ucapan Nurcholish akan membuatnya mulai berpikir. Ia juga akan memastikan bahwa Cak Nur tentu tetap meng- anggap kepercayaan kepada  Allah sebagai inti dan dasar agama Islam. Ia akan mengerti bahwa pointnya Cak Nur adalah membuat pembaca menyadari bahwa iman kepada Allah hanya benar kalau terwujud dalam hormat terhadap manusia ciptaan tertinggi Allah. Jadi bahwa iman yang tidak disertai sikap positif terhadap manusia belum merupakan iman dalam arti yang sebenarnya. Ucapan yang mengagetkan ini justru memaksa kita untuk memperdalam pengertian kita tentang iman.

 

Tuhan dan Manusia

 

Pernyataan Cak Nur bahwa “Islam adalah agama kemanusiaan terbuka” mengandung kebenaran bagi semua agama. Kalau “Islam adalah agama kemanusiaan terbuka”, pada- hal Islam jelas adalah agama Tuhan, agama Tauhid, maka Cak Nur mengatakan sesuatu yang sangat penting. Yaitu bahwa menjun- jung tinggi Tuhan, tetapi merendahkan manu- sia adalah kontradiksi. Kalau Cak Nur lantas menambah bahwa karena itu “umat Islam harus kembali percaya sepenuhnya pada kemanusiaan”, ia mengatakan bahwa percaya kepada Tuhan mengimplikasikan menghormati manusia.

 

Itu mempunyai beberapa implikasi. Yang pertama adalah bahwa sikap baik dan hormat terhadap orang lain tidak mungkin bersaing dengan sikap taat dan hormat terhadap Allah. Allah tidak dapat dimainkan melawan manu- sia. Kalau ciptaan diremehkan, apalagi dihina, maka Penciptanya juga diremehkan dan dihina. Dan kalau kita berbuat baik terhadap saudari atau saudara yang berkebutuhan, kita bersikap baik terhadap Tuhan.

 

Manusia oleh Islam dan juga oleh agama Yahudi dan Kristianitas diyakini merupakan ciptaan yang tertinggi, bahkan istimewa di dunia ini. Agama Yahudi dan Kristianitas mendasarkan diri pada bab pertama Kitab Perjanjian Lama di mana ditulis bahwa “manusia diciptakan menurut citra Allah”. Dalam Islam, manusia, dan hanya manusia, adalah wakil Allah. Perbedaan hakiki antara manusia dan, misalnya, kerbau atau kucing kesayangan adalah bahwa setiap manusia diciptakan untuk selama-lamanya. Kita mem- punyai permulaan, tetapi kita tidak punya akhir. Agama-agama Samawi percaya bahwa dalam kematian manusia tidak habis. Bukan hanya manusia pada umumnya. Tak ada itu manusia pada umumnya. Melainkan setiap orang secara individual. Kita semua akan diadili secara individual, tidak secara kolektif. Jadi kita dicintai secara individual oleh Tuhan. Beda dengan kucing atau kerbau yang dalam kematian juga mengalami berakhirnya indi- vidualitas eksisteni mereka. Meskipun di Barat ada orang yang tidak mau menerima itu, tetapi kiranya jelas bahwa anjing kesayangan yang sudah mendahului kita tidak akan menyambut kita apabila kita melewati pintu kematian.

 

Bisa juga dikatakan, dalam pandangan Tuhan yang menciptakan manusia, setiap orang bernilai pada dirinya sendiri. Binatang bernilai, tetapi akhirnya menyatu total dengan alam daripadanya ia muncul. Maka seekor anjing atau harimau atau burung elang tidak bernilai pada dirinya sendiri. Yang bernilai pada dirinya sendiri, bernilai abadi. Seseorang, sekali diciptakan, bernilai pada dirinya sen- diri, di mata Tuhan, dan karena itu eksisten- sinya tidak pernah akan habis.

 

Bernilai pada dirinya sendiri, secara individual, itulah martabat manusia, suatu marta- bat yang tak terhingga dalam arti bahwa orang siapa pun bukan sekedar sarana untuk tujuan atau maksud baik lain, melainkan merupakan tujuan pada dirinya sendiri. Allah menciptakan kita masing-masing karena Ia mencintai kita masing-masing, memperhatikan kita masing-masing, meminati kita masing-masing.

 

Maka pada agama-agama manusia, ya setiap orang, harus bisa merasa aman, selalu. Agama tidak boleh mengancam. Agama harus baik terhadap siapa saja. Terhadap siapa saja juga berarti, tidak hanya terhadap mereka yang se-iman. Jadi juga baik terhadap mereka yang imannya berbeda. Mereka pun dicip- takan dan dicintai Allah. Setiap orang sekecil bagaimana pun, juga, dengan kepercayaan tulus mana pun, adalah tujuan pada dirinya sendiri.

 

Itu yang dimaksud dengan kata martabat manusia, human dignity. Manusia bermartabat karena ia diberi martabat itu oleh Sang Pen- cipta. Martabat manusia mengandung makna bahwa manusia itu tidak pernah boleh dipakai semata-mata sebagai sarana. Misalnya sarana saya untuk menjadi kaya. Atau sarana negara untuk men-capai suatu tujuan. Negara, komu- nitas, adalah demi warga-warganya dan bukan sebaliknya.

 

Kelihatan betapa dekat sila pertama dengan sila kedua Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa hanyalah sejati apabila melahirkan Kema- nusiaan yang Adil dan Beradab. Tak mung- kin mengklaim berketuhanan apabila kita membawa diri secara tidak adil, secara tidak beradab. Dari apakah kemanusiaan yang adil dan beradab dijunjung tinggi secara nyata dapat kita lihat apakah Ketuhanan Yang Maha Esa yang barangkali diakui itu sejati, benar. Saya sangat suka dengan keyakinan umat Islam bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin. Menurut saya itu harus dituntut dari segenap agama. Agama itu harus dirasakan sebagai rahmat oleh semua yang bersentuhan dengan- nya. Justru bagaimana mereka yang di luar suatu agama melihat dan merasakan agama itu, itulah yang amat penting. Bukan kita yang memuji kita sendiri, melainkan mereka yang memuji kita, itulah tanda bahwa kita memang rahmat dan bukan celaka bagi orang lain.

 

Itu berarti: Pada agama, ya pada umat ber- agama, setiap orang, dari mana pun, harus bisa merasa aman. Agama tidak boleh menakutkan. Agama yang menakutkan sudah tidak berjang- kar lagi pada Tuhan yang diakui. Dia sudah mengkhianati panggilan Dia daripadaNya ia mendapat harkatnya sendiri, daripada di jalan Allah ia termakan ideologi kesombongan dari kegelapan hati yang menutup diri terhadap sinar Ilahi. Sinar Ilahi selalu ke arah kebaikan, belaskasihan, hati besar, jiwa besar, kemam- puan untuk memaafkan dan mengampuni, harapan dan optimisme. Di dunia gawat per- mulaan abad ke-21 agama mesti menjadi sinar harapan dan kasih dan bukan api bakar penuh kebencian. Kebencian, balas dendam, dendam kesumat, ke-kerasan hati, itulah sikap suatu hati yang sudah menutup diri terhadap Tuhan.

 

Menurut saya kita harus jelas. Orang beragama tidak dapat dikatakan beragama dengan sungguh-sungguh kalau dia tidak dengan konsekuen menghormati martabat saban orang sebagai manusia. Tanpa mem- bedakan jenis kelamin, agama, kepercayaan, pandangan politis, ras, suku, kedudukan sosial dlsb. Bisa juga dikatakan, bahwa di zaman modern yang cenderung sekularis, klaim agama-agama bahwa mereka menawarkan kebaikan Allah kepada manusia hanya akan kredibel apabila kaum agama sendiri nampak berperikemanusiaan.

 

Hak-hak Asasi Manusia

 

Di sinilah tempat untuk memperhatian paham hak-hak asasi manusia. Hak-hak asasi manu- sia merupakan operalisasi hormat terhadap martabat manusia. Agama-agama kok suka curiga terhadap paham itu. Agama saya butuh ratusan tahun sampai dia sekarang, syukur, secara tulus dan yakin menjunjung tinggi hak- hak asasi manusia. Padahal agama-agama harusnya menjadi pembela paling gigih jami- nan terhadap hak-hak asasi manusia. Karena hak-hak asasi manusia tak lain adalah ter- jemahan hormat terhadap martabat manusia ke dalam kehidupan bersama suatu bangsa.

 

Gereja Katolik pernah terkena trauma. Yang pertama kali bicara tentang inalienable rights adalah John Locke (1632-1704), seorang yang keras anti-Katolik, lalu daftar pertama droit de l’homme et du citoyen (hak-hak manusia dan warga negara) dipermaklumkan dalam Revo- lusi Prancis dengannya Gereja Katolik terlibat secara traumatis karena Revolusi Prancis men- jadi keras anti-Katolik dan atas nama kebe- basan, kesamaan dan persaudaraan antara sepuluh ribu pastor dan suster dihukum mati. Gereja Katolik lantas menganggap paham hak- hak asasi manusia sebagai tanda pemberon- takan manusia yang maunya otonom terha- dap Penciptanya. Padahal hak-hak itu justru mau menjamin manusia dalam keutuhan dan martabatnya. Baru pengalaman-pengalaman mengerikan di abad ke-20: komunisme dan fasisme, membantu Gereja Katolik untuk ke luar dari terowongan kepicikan bikinannya sendiri. Baru menjelang musyawarah agung para pemimpin Gereja, para uskup, yang dise- but Konsili Vatikan II, 1962, Paus Johannes XXIII menyatakan dukungan mutlak terha- dap hak-hak asasi manusia yang kemudian dibenarkan sepenuhnya dalam Konsili Vatikan II itu yang lalu secara resmi mendukung kebe- basan beragama dan hak-hak asasi manusia.

 

Hak-hak asasi manusia dimengerti keliru kalau dipahami sebagai hak manusia terhadap Allah. Tentu manusia tidak punya dan tidak perlu punya hak apa pun terhadap Pencip- tanya. Melainkan, sebaliknya, hak-hak asasi manusia dalam bahasa agama bisa dipahami sebagai hukum Ilahi, sebagai perintah tegas Tuhan bagaimana manusia ciptaan Tuhan yang istimewa itu wajib diperlakukan dan bagaimana manusia wajib tidak diperlaku- kan. Justru karena kita taat pada Allah, kita menghormati manusia dalam keutuhannya, jadi kita menghormati hak-hak asasi manusia. Maka iman seseorang hanyalah utuh kalau ia sekaligus menghormati hak-hak asasi semua orang lain.

 

Di Indonesia hak-hak asasi manusia sampai sekarang masih juga dicurigai sebagai kereta liberalisme dan individualisme. Memang, di antara hak-hak asasi manusia ada hak- hak kebebasan yang diperjuangkan oleh liberalisme, seperti hak untuk tidak dibunuh sewenang-wenang, kebebasan dari penyik- saan, kebebasan bergerak, tetapi selain itu ada hak-hak asasi demokratis, hak asasi atas jaminan hukum, hak asasi sosial dan hak asasi kolektif. Menganggap hak-hak asasi manu- sia sebagai tanda individualisme adalah pra- sangka—suatu prasangka yang sering tidak jujur—prasangka elit berkuasa yang merasa terancam kalau orang kecil diberdayakan. Jaminan hak-hak asasi manusia adalah tanda solidaritas bangsa dengan anggota-anggotanya yang paling lemah, yang tidak bisa melawan, yang bisa digeser, digusur, dipukul, ditahan dan dibunuh begitu saja—tetapi dengan memastikan bahwa hak asasi mereka pun tanpa kecuali di hormati, masyarakat membuktikan bahwa ia solider dengan mereka. Jadi hak-hak asasi manusia bukan liberalisme atau indi- vidualisme, melainkan sebaliknya, bukti soli- daritas suatu masyarakat dengan para warga yang paling lemah. Mari kita jujur: Apa kita mau kembali ke zaman—belum begitu lama di belakang kita—di mana orang yang berpolitik “salah”, begitu saja bisa ditahan, barangkali bertahun-tahun, atau bahkan seenaknya bisa “dibon”, dipotong lehernya atau ditenggelam- kan ke sungai, di mana aktivis bisa diculik dan dibunuh dengan impunity, di mana tokoh seperti tokoh Papua Theis atau aktivis seperti Marsinah bisa dibunuh seenaknya dan mereka yang menyuruhnya dibiarkan saja?

 

Bisa dikatakan: Kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi nyata dalam hormat terhadap hak-hak asasi manusia. Ada hubungan khusus antara hak asasi manusia dengan demokrasi dan keadilan sosial. Dengan demokrasi karena demokrasi memberdayakan masyarakat dan hak-hak asasi membuat pemberdayaan itu nyata. Dengan keadilan sosial karena keadilan sosial tidak tercipta dengan percaya pada kebaikan hati, melainkan, lagi-lagi, dengan memberdayakan rakyat, dan pemberdayaan itu tercapai dengan menghormati hak-hak asasi manusia. Sangat sesat mereka yang ber- tanya apakah penetapan hak-hak asasi manu- sia dalam undang-undang dasar dapat mengisi perut rakyat. Jawabannya tentu: hak-hak asasi manusia malah satu-satunya jaminan. Hak- hak asasi manusia memberi ruang dan daya juang kepada rakyat, sehingga mereka dapat memperjuangkan keadilan. Keadilan sosial bukan pemberian pemerintah atau orang- orang kaya, keadilan sosial harus diperjuang- kan dan perjuangan itu dimungkinkan kalau hak-hak dasar orang lemah diakui. Buruh tidak perlu penetapan upah minimum, ia perlu diakui haknya untuk berserikat secara bebas dan untuk mogok. Lantas ia sendiri dapat memperjuangkan upah minimumnya, bahkan lebih daripada upah minimum.

 

Maka agama-agama harusnya tanpa jemu- jemu mendukung serta menuntut hormat terhadap hak-hak asasi manusia. Karena tidak mungkin menghormati Tuhan Sang Pen-cipta kalau martabat ciptaanNya yang paling bermartabat tidak dihormati

 

Sebuah catatan: Paham hak asasi manusia muncul di luar orang-orang beragama. Dan seperti tadi saya uraikan, orang beragama kadang-kadang condong untuk curiga ter- hadap paham itu. Padahal hanya orang yang percaya pada Tuhan punya dasar kokoh keber- lakuan hak-hak asasi manusia. Kalau manusia tidak lebih daripada kera dengan otak lebih besar, martabatnya juga tidak secara hakiki melebihi martabat kera. Hanya keyakinan bahwa manusia bukan hanya hasil evolusi, melainkan ciptaan Tuhan yang amat istimewa, bisa memberikan suatu dasar kokoh terha- dap keyakinan bahwa manusia bermartabat khusus, jadi pada hak-hak asasi manusia yang mau melindungi martabat itu. Kalau Allah dikesampingkan, hak-hak asasi manusia sulit dipertahankan.

 

Kebebasan Beragama

 

Kebebasan beragama adalah hak asasi paling dasar—dan paling sulit diakui oleh agama- agama. Sebenarnya sudah jelas: Setiap orang wajib berat untuk hidup, beriman dan beriba- dat menurut apa yang diyakininya sebagai kehendak Allah. Ia berdosa apabila ia menu-ruti tekanan, lalu beribadat menurut cara yang menurutnya justru tidak sesuai kehendak Allah. Karena itu dalam agama tidak boleh ada paksaan. Tetapi bagi agama-agama ini berat. Karena mereka, daripada menghormati Tuhan yang mereka akui, yang mengizinkan sekian banyak agama dan kepercayaan dianut dengan tulus oleh sekian orang, orang-orang yang tidak bisa toleran sudah tertunduk oleh suatu etika palsu partai politik.

 

Dari kita, kaum agama, dituntut agar kita membuktikan kepercayaan kita pada kedaulatan Allah dengan menghormati segenap orang mengikuti suara hatinya dalam hubungan dengan Tuhan. Tentu kita tidak akan menganggap segenap kepercayaan benar. Tetapi bahwa kita tidak mengakuinya tidak memberi hak kita untuk memaksakan keyakinan kita pada orang lain. Siapa dari kita yang pernah bertemu muka dengan Allah? Paus mana, ulama mana, mahabiksu mana, brahmana mana yang dapat mengklaim bahwa ia bertemu dengan Allah? Kita semua mendapat keyakinan keagamaan kita dari manusia lain. Itu wajar, tetapi itu harus mem- buat kita menjadi rendah hati.

 

Maka kalau kita mau betul-betul taat dan hormat pada Allah, dan kalau kita mau mengikuti kepanduan Cak Nur, serta kalau penga- kuan bahwa kita dibimbing Tuhan mau bisa dipercayai, kita harus secara prinsip menolak kekerasan dalam bentuk apa pun dalam men- gabdi kepada Tuhan, dan kita harus rendah hati. Sudah wak-tunya agama-agama bersatu dalam menolak jalan bujukan, tekanan, anca- man, paksaan dalam melakukan misi mereka. Orang beragama hanya kredibel apabila hati- nya bersih dari rasa benci, dendam, agresivitas, mata gelap.

 

Dan orang beragama harus rendah hati. Tak ada yang lebih menelanjangi kebohongan seseorang daripada kalau ia bicara tentang Tuhan dengan arogan, sombong, dengan menghina mereka yang berbeda. Kalau kita dekat dengan Tuhan, mestinya kita merasakan betapa kita sendiri tidak memadai. Hidup kita, pengertian kita tentang agama kita sendiri semuanya itu sangat terbatas. Kita tidak mempunyai mata Tuhan. Dan karena itu kita rendah hati dan baik hati. Terhadap mereka pun yang tidak kita mengerti kita tetap baik hati. Barangkali Tuhan lebih dekat dengan mereka daripada yang kita kira sendiri.

 

Di dunia yang penuh kekerasan, kemis- kinan, keadaan putus asa, penuh orang- orang yang harus lari dan mengungsi, dunia penuh kekejaman, di mana ada orang kurang makan—perlu agama-agama menjadi rah- matan lil alamin. Justru dengan membawa diri tidak sombong, melainkan dengan rendah hati, senantiasa dalam kesadaran bahwa kita sendiri tidak memadai, bahkan terhadap apa yang kita imani sendiri. Kalau kita menjadi kubu yang menolak kekerasan, sekaligus rendah hati, kita dalam segala keterbatasan akan menjadi sinar harapan bagi banyak orang yang hampir tanpa harapan.

 

Mengapa Indonesia Memberi Harapan?

 

Sahabat-sahabat Cak Nur. Izinkan saya sedikit masuk ke Indonesia tercinta kita. Kita memang mengalami sekian kekerasan dan konflik ber- latar belakang agama. Tanda-tanda intoleransi cukup mengkhawatirkan. Yang amat meng- khawatirkan adalah bahwa negara sampai sekarang menolak menjamin rasa aman dan bebas rasa takut komunitas-komunitas di luar enam agama “yang diakui”. Itu sama sekali tidak dapat diterima. Pemerintah kita wajib “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia” tidak ter- gantung agama mana yang mereka anut.

 

Jadi masih banyak hal yang tidak beres di negara kita. Akan tetapi, kalau dibandingkan dengan sekian negara lain, situasi di Indonesia adalah lumayan baiknya. Kon- sensus Pancasila hidup dalam masyarakat sekurang-kurangnya dalam arti bahwa tidak ada golongan dan kelompok berarti yang tidak menyepakati bahwa Indonesia adalah milik warga dari semua agama yang diakui. Itu jelas tidak cukup. Tetapi itu juga bukan ses- uatu yang perlu diremehkan. Kebanyakan umat  Kristiani  di  wilayah-wilayah  R.I. di mana mereka adalah umat kecil hidup, bekerja, berkomunikasi dan beribadat tanpa kesulitan apa pun, ya juga tanpa adanya rasa takut. Sebagai satu contoh saja. Dalam 30 tahun terakhir, juga berkat sosok-sosok luar biasa seperti Cak Nur sendiri dan Gus Dur, hubungan antara umat Katolik—baik para intelektual, pimpinan Gereja, pimpinan Gereja lokal (paroki) maupun umat—dengan dua organisasi besar Islam mainstream Nadlatul Ulama dan Muhammadiyah telah menjadi semakin baik. Kita bicara satu sama lain, kita sama-sama prihatin tentang masalah-masalah negara kita, kita sama-sama mau bekerja demi suatu negara di mana cita-cita Pancasila sema- kin menjadi realitas. Kita bahkan dapat mem- bicarakan masalah-masalah yang kita alami di antara kita sendiri.

 

Kenyataan itu menunjukkan sesuatu yang membuat saya optimis mengenai masa depan Indonesia. Yaitu bahwa NKRI kita, negara yang didirikan oleh Sukarno dan Hatta dan para pendiri bangsa lain 69 tahun lalu, didu- kung oleh sebuah blok luas masyarakat sipil Indonesia yang kira-kira mencakup sampai 90 persen rakyat. Blok NKRI yang saling mene- rima—meskipun selalu akan ada gesekan dan konflik-konflik kecil-kecilan—terdiri atas Islam mainstream, dengan NU dan Muhammadiyah sebagai sokogurunya, lalu Islam nasionalis (sebenarnya NU dan Muhammadiyah juga nasionalis) dan komunitas-komunitas non- Islam. Yang sepuluh persen lagi memang tidak tertampung dalam konsensus dasar NKRI, terdiri atas segala macam fundamentalis, eks- tremis, radikal, fanatik, puritanis, eksklusivis (yang semua tidak sama!). Blok NKRI sebesar 90 persen merupakan modal sosial-politik amat mantap bagi masa depan Indonesia. Bandingkan dengan situasi di Mesir, di mana bangsa dan masyarakat sipil sekarang dibagi limapuluh limapuluh, semangat revolusi demokratis sudah menguap, yang satu adalah Ikhwanul Muslimin (yang sesudah 20 tahun perkembangan ke arah moderat dan berse- dia ikut bersama yang lain, sekarang, karena ditindas kejam, kembali menjadi radikal dan ekstremis), yang satunya adalah kaum Salafi (untuk sementara), kaum nasionalis, Kristen Koptik dan Militer. Indonesia justru stabil karena masyarakat sipil pendukung NKRI yang secara etnik dan agama plural adalah begitu kuat (masalah di Indonesia adalah elit politik!).

 

Bagaimana kesatuan bangsa Indonesia itu bisa dijelaskan?Di sini tentu bukan tem- patnya untuk menguraikannya. Tetapi garis besarnya jelas. Kebangkitan Islam Indone- sia sejak permulaan abad ke-20 merupakan bagian dari kebangkitan nasional. Jadi sejak semula orang-orang Muhammadiyah dan NU tidak hanya merasa Muslim, melainkan juga Indonesia. Begitu pula, bahwa Kristi- anitas, Protestan dan Katolik, diterima begitu baik di pangkuan bangsa tanpa dipersoal- kan kaitannya dengan penjajah itu sama saja karena mereka sejak tahun 1920-an aktif terli- bat dalam gerakan kemerdekaan. Pak Kasimo bisa dekat dengan Mohammad Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara karena sama- sama mau membangun Indonesia yang adil, makmur dan bebas dari penjajah (dan curiga sama Komunis). Islam mainstream Indonesia merupakan pendukung amat kunci terhadap kesatuan internal Indonesia, jadi terhadap segi kebhinekaannya, karena mereka sekaligus nasionalis. Keberakaran agama-agama dalam kebangsaan Indonesia adalah dasar stabilitas masyarakat sipil kita.

 

Karena itu begitu penting kita buang jauh- jauh suatu paradigma yang sejak 1945, dan secara khusus 1955, lalu 1959 dan akhirnya selama 20 tahun pertama pemerintahan Suharto dipakai demi manipulasi rakyat, yaitu paradigma Nasionalis versus Islamis. Paradigma yang tepat adalah paradigma blok NKRI atau bangsa mainstream: NU dan Muhammadiyah, masyarakat agamis non- radikal lain, masya-rakat non-Muslim, ber- hadapan dengan pelbagai kelompok yang memang eksklusif dan sebagian ekstremis, yang tidak mendukung kesepakatan bangsa Indonesia tanggal 17 dan 18 Augustus 1945.

 

Kita Ditantang

 

Akan tetapi, tak ada alasan untuk puas diri. Kita yang bersatu dalam kesadaran bahwa hidup kita adalah rahmat Tuhan dan harus memancarkan rahmat Tuhan ke dalam masyarakat ditantang dari dua sudut.

 

Yang satu adalah konsumerisme kapitalis- tik yang semakin merentangkan tentakel-tentakelnya ke segenap pelosok di dunia kita. Suatu budaya semu yang membuat kita merasa hanya menjadi orang kalau kita mem- beli barang terakhir yang mereka lontarkan ke pasar, yang karena itu membuat kita hidup nir-makna, makin berpusat pada kita sendiri, makin buta terhadap mereka yang menderita dan makin kosong dari kesadaran bahwa hidup kita di tangan Tuhan.

 

Tantangan kedua adalah lawannya, yang sebagian dirangsang oleh budaya global kon- sumerisme kapitalistik. Itu adalah sekian bentuk revival religius yang keras, eksklusif, fundamentalis. Ciri religiositasnya adalah arogansi, arogansi yang membuat mereka meremehkan, menghina dan menindas siapa pun yang tidak mengikuti mereka, di mana kelompok-kelompok ekstrem sampai mengklaim berhak menentukan siapa yang boleh hidup dan siapa yang tidak, jadi mereka berani menempatkan diri di tempat Yang Ilahi. Ekstremisme itu atraktif karena seakan- akan memberi kepastian, kepastian bahwa saya, kami adalah benar dan yang lain-lain salah, sekaligus memberi legitimasi untuk mengikuti napsu-napsu paling gelap di hari manusia seperti kebencian, balas dendam, nikmat menghancurkan, menyiksa dan membunuh. Dalam kebingunan tentang tujuan hidup ekstremisme itu bisa menjadi menarik bagi orang muda yang mencari keagamaan yang kaffah, yang lalu dengan arogan mencap agama-agama mainstream sebagai sudah ter- kontiminasi oleh segala macam kekafiran.

 

Kita

 

Dalam situasi ini kita semakin perlu ber- satu dalam keyakinan bahwa agama wajib untuk menjadi penjunjung paling utama kemanusiaan. Kita dipanggil untuk secara tegas menolak keagamaan dengan wajah keras, keagamaan yang mengancam, mem- benci dan meremehkan mereka yang berbeda. Kita harusnya bersatu dalam menolak segala kekerasan atas nama agama. Kita harus ke luar dari kungkungan arogansi. Iman kita masing- masing hanya akan dapat dipercayai, kalau keagamaan kita rendah hati dan baik hati. Agama, segenap agama, mesti dapat dirasakan sebagai sesuatu yang positif. Itulah kesaksian yang dituntut dari kita. Kita harus meman- carkan kebaikan Yang Ilahi melalui kebaikan kita sendiri. Jadi siapa pun yang tulus hatinya, apa pun keyakinan religiusnya, mesti merasa aman dengan kita, mesti mendapat perlin- dungan. Bagi kita semua berlaku yang diserukan Nurcholish Madjid bagi agama Islam, bahwa kita “harus kembali percaya sepenuh- nya pada kemanusiaan.” Kita agamawan dari agama-agama yang berbeda sama-sama memberi komitmen untuk memperlihatkan bahwa agama adalah rahmat bagi seluruh alam, tanpa kecuali. Kesadaran melawan arus itulah warisan dan tantangan tokoh tercinta kita, Nurcholish Madjid, Cak Nur.•

 

Sumber: Orasi Ilmiah dalam rangka Nurcholish Madjid Memorial Lecture VIII Pusat Studi Agama & Demokrasi (PUSAD) Yayasan Paramadina

About adminislat1

Check Also

TASAWUF – Mereka Yang Diberi Hidayah Khusus Oleh Allah

“Dan Allah – yang mulia dengan segala asma-Nya – dalam waktu ke waktu dan dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress database error You have an error in your SQL syntax; check the manual that corresponds to your MySQL server version for the right syntax to use near '%b, %b)' at line 1 for query INSERT INTO `wp_tsw_log` (`IP`, `Time`, `IS_BOT`, `IS_HIT`) VALUES ('23.20.129.162', 1511067920, %b, %b) made by require('wp-blog-header.php'), require_once('wp-includes/template-loader.php'), include('/themes/sahifa/single.php'), get_sidebar, locate_template, load_template, require_once('/themes/sahifa/sidebar.php'), dynamic_sidebar, call_user_func_array, widget_traffic_stats, view