Home / Isu-isu Dunia Islam / Demokrasi / Agama Siaga Satu

Agama Siaga Satu

Agama itu ketundukan, kesantunan dan kepribadian. Agama itu membentuk moralitas. Ia mengajarkan etika dan juga tata krama. Dalam sejarah agama-agama, Tuhan dan pembawa risalah (utusan) berperan penting dalam menebarkan pesan cinta dan kasih sayang. Sepertinya halnya agama-agama memiliki kitab suci sebagai pedoman hidup dan juga pranata sosial.

Manusia (umat beragama) memiliki ikatan privat dengan Tuhan. Tentunya kebutuhan manusia dengan Tuhan adalah kebutuhan yang sifatnya individual. Semua agama menjanjikan kehidupan yang layak baik di dunia dan di akhirat. Hal ini yang menjadikan umat beragama saling berlomba untuk berbuat kebaikan. Karena telah dijanjikan, bagi siapa saja yang berbuat kebaikan, penuh cinta, kasih sayang kepada sesama, pahalanya adalah surga.

Masalahnya kian rumit, ketika semua umat beragama menafsirkan ajaran Tuhan melenceng dari nilai-nilai keagamaan. Yakni nilai kesantunan, keadilan, cinta dan kasih sayang. Tidak sedikit umat beragama keliru menafsirkan pesan-pesan agama, sehingga merepresentasikan agama sebagai sebuah tindakan arogan, bengis, dan kejam.

Agama sering kali disalahartikan sebagai senjata kuasa, menjadi tirani penguasa. Agama tidak lagi berdimensi cinta dan kasih sayang, namun sebaliknya. Jangan kaget jika agama menjadi diktator kekerasan. Jangan kaget jika agama kian ditinggalkan karena merepresentasikan arogansi dan kebencian.

Ketika Manusia Menjadi Tuhan

Memang agama dicipta untuk manusia. Di tangan pikiran kreatif manusia agama melahirkan beragam ritual peribadatan. Belum lagi tentang penafsiran, karena kecerdasan intelektual manusia menafsirkan agama dengan representasi yang begitu beragam.

Juga pengaruh ideologi (identitas), agama sering kali tampak berwarna, dengan corak, bendera, simbol yang beragam, tidak perlu kaget jika masing-masing identitas saling berbeda bahkan menjatuhkan. Pada dasarnya perbedaan menafsirkan dan memahami yang melatarbelakanginya.

Semakin rumit ketika tidak lagi bisa dibedakan mana agama dan mana penafsiran. Memilih mana substansi dan mana makna partikular. Karena peran kreatif umat beragama jadi sulit dibedakan mana manusia dan mana Tuhan. Sering kali umat beragama merasa paling benar, paling otoritatif dibandingkan umat lain, padahal Tuhanlah yang paling otoritatif.

Sayangnya, perilaku umat Bergama seringkali merepresentasikan dirinya sebagai sosok utusan Tuhan (bahkan bertindak layaknya Tuhan), mereka menghukumi, menyesatkan, mengkafirkan, membakar, merusak, dan paling kejam mencabut nyawa. Bukankah hanya Tuhan yang otoritatif memberi dan memutuskan perkara-perkara keagamaan.

Tuhan sering kali diajak turun ke jalanan, hanya untuk merespon penistaan. Sering kali Tuhan diteriakkan untuk kekerasan, pembakaran, dan pembunuhan.

Ketika Ayat Suci Disalahgunakan

Kitab suci dalam kehidupan umat beragama posisinya sangat penting. Tidak sedikit umat beragama “menyucikannya” dalam berbagai hal, baik secara fisiknya, isinya, bahkan tafsirnya. Kitab suci menjadi rujukan primer umat beragama untuk menggali substansi keagamaan dan juga kehidupan sosial-kemasyarakatan.

Bahkan kitab suci kini telah ditafsirkan dengan sangat beragam, dari satu kitab suci/ayat-ayat tertentu melahirkan ratusan buku/penafsiran. Tidak sedikit insiden perbedaan penafsiran yang menjurus pada pertikaian dan permusuhan.

Baru-baru ini ayat-ayat suci keagamaan identik dengan kekeliruan. Beberapa kalangan menafsirkan ayat secara tekstual, menghilangkan makna substansialnya. Yang terjadi ayat suci sering disalahgunakan untuk kepentingan identitas (politik), ditafsirkan untuk melegitimasi tindakan intoleransi dan diskriminasi kepada minoritas.

Lebih rumit lagi, ketika ayat-ayat suci disalah tafsirkan untuk melanggengkan tirani kuasa, belum lagi sederet isu demokrasi yang sengaja dipertentangkan dengannya. Munculnya penistaan terhadak kitab suci sebenarnya bermula dari penyalahgunaan dan kepentingan menafsirkan. Sehingga yang tampil di depan bukan solusi-solusi keagamaan yang santun, toleran, penuh cinta, namun arogansi-arogansi penafsiran yang menunggangi kesucian ayat-ayat agama.

Apalagi jika ayat-ayat suci berada di tangan-tangan berkepentingan (politik), berideologi jihadis, ayat suci tidak lagi memberi solusi menyejukkan, justru melahirkan sederet kriminalitas, intoleransi, dan tindakan melawan demokrasi.

Ketika Agama dan Politik Sulit Dibedakan

Akhir-akhir ini agama sering kali diseret-seret dalam dunia politik. Agama sering dijadikan sebagai tunggangan untuk meraih jabatan. Momentum pilkada serentak tampak agama tidak lagi berdimensi ketuhanan-kemanusiaan, tapi politik-kekuasaan. Agama yang mengajarkan ketundukan, kesantunan dan kebijaksanana tidak lagi tampil sebagai solusi, tidak lagi menjadi sahabat bagi demokrasi.

Agama sering kali ditampilkan dalam panggung sandiwara politik untuk kepentingaan duniawi. Kenyataan ini kian menjauh agama dari pesan-pesan awalnya, yakni membawa ketentraman, menyejukkan, dan mendamaikan.

Momen Pilkada serentak 2017 agama seringkali menjadi wahana identitas diri. Banyak kepentingan disana sini menapilkan ketaatan dan ketundukan sesaat, padahal sandiwara politik jelas menjerumuskan agama pada pendusta-pendusta yang nyata.

Agama ialah nilai ketulusan, pembentuk kepribadian yang beretika dan bermoral, agama menjanjikan keteladanan sebagai jalan yang penuh dengan cahaya kebaikan. Sedangkan politik adalah drama sandiwara duniawi yang menjebak pada kepentingan sesaat.

Agama bukanlah arena bertarung politik. Silahkan anda menilai, benarkah agama ikut-ikutan turun kejalan, teriak-teriak atas nama agama pada momen hangat-hangatnya momentum pilkada. Katanya membela al-Qur’an, membela Tuhan, tapi bersikap arogan, kejam dan bengis, jelas itu bukan representasi dari agama. Benar-benar agama dan politik kian sulit dibedakan. Mana ajaran agama mana politik praksis.

Jangan jadikan agama sebagai arena konflik, jangan jadikan agama sebagai sarana memperoleh kekuasaan. Biarkanlah agama sebagai garda paling depan membentuk pribadi-pribadi yang santun, bijaksana dan demokratis. Jangan jadikan pilkada sebagai momentum membesarnya gelombang radikalisme di Indonesia. Pilkada itu soal demokrasi bukan urusan agama.

 

Sumber : http://www.qureta.com/post/agama-siaga-satu-menjelang-pilkada

About syauqi glasses

Check Also

Ormas Radikal dan Demokrasi yang Tersandera

Demokrasi membuka ruang publik (public sphere) seluas-luasnya, termasuk kepada mereka yang menentangnya. Ini paradoks negeri Muslim …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *