Home / Featured / Agamawan Sontoloyo
Sontoloyo

Agamawan Sontoloyo

Manusia kini berada pada satu era di mana kemanusiaan dan toleransi dijunjung tinggi. Kemanusiaan yang kosmopolitan mengharuskan kita meninggalkan ke-eksklusifan diri dan golongan. Karena eksklusifisme diri atau golongan merupakan faktor tertinggi penyebab konflik sosial sejak ribuan tahun yang lalu sepanjang sejarah peradaban manusia. Lantas lahirlah agama-agama, yang fungsi awalnya adalah sistematisasi aturan-aturan untuk mencapai kesempurnaan spiritual (bersifat transendensi) yang mendukung konstruksi bersosial manusia (bersifat humanis altruistik). Emile Durkheim mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci. Kita sebagai umat beragama semaksimal mungkin berusaha untuk terus meningkatkan keimanan kita melalui rutinitas beribadah, untuk mencapai kondisi rohani yang sempurna dan kebaikan kemanusiaan yang sempurna pula.

Prinsip-prinsip fundamental dalam beragama inilah yang banyak dilupakan atau sengaja ditinggalkan, entah karena adanya kepentingan tertentu atau memang karena kebodohan. Marx pernah mengatakan bahwa “agama adalah candu”, diktum Marx yang kontroversial dan dianggap pemicu berkembangnya paham atheis secara masif ini sejatinya bukan melarang agama. Karena secara logika yang dilarang dalam pernyataan Marx tersebut bukan agamanya, tetapi sifat kecanduannya. Sifat kecanduan menjadikan manusia menjadi eksklusif, sifat kecanduan menjadikan manusia fanatis, sifat kecanduan akan menghasilkan manusia-manusia bigot yang bodoh dan lupa akan realitas sosial disekitarnya. Lalu ada satu sindrom lagi yang banyak diderita oleh para pecandu agama, yakni sindrom “kaget kesholehan”.

Sindrom ini sama halnya dengan seseorang yang baru membaca buku The Prince-nya Machiavelli, Prison Notebooks-nya Antonio Gramsci dan Das Kapital-nya Marx. Biasanya akan datang perasaan menjadi cendikiawan besar dan orang paling pintar sedunia. Kesombongan-kosembongan fana ini juga banyak menimpa agamawan dan pengikut-pengikutnya, merasa dirinya paling alim dan sholeh, padahal baru membaca sedikit kitab agama dan baru hobi menjalankan sedikit ritus agama. Penulis secara pribadi pernah mendengar seorang mahasiswa men-judge wudu temannya salah hanya karena wudunya kurang dari tiga kali basuhan air. Padahal secara fiqihiyah wudu sah dan benar walaupun hanya sekali basuhan asalkan basuhan airnya merata dan mengenai seluruh bagian organ yang wajib dibasuh.

Contoh sederhana ini menggambarkan realitas besar yang terjadi dikalangan umat beragama kita, gampang menyalahkan orang lain, mudah mengkafir-kafirkan orang lain. Padahal judgment salah atau kafir yang terlontar dari mulutnya adalah bukan karena kesalahan atau kekafiran si tertuduh, tetapi melainkan karena kekurangfahaman dari si penuduh. Semakin dalam intelektualitas beragama seseorang, maka semakin luas mahkamah akalnya dalam memutuskan sesuatu itu halal atau haram. Sayangnya jenis agamawan cerdas prosentase kuantitatifnya jauh lebih sedikit ketimbang agamawan-agamawan sontoloyo. Sontoloyo sendiri merupakan diksi milik orang jawa untuk melabeli orang-orang yang konyol atau bodoh. Lucunya manusia-manusia bigot sontoloyo ini merasa dirinya cerdas dan bisa memberikan enlightenment bagi umat. Sehingga umat ditembak kesadarannya (kerangka berpikirnya) dengan argumentasi-argumentasi yang salah dan provokatif. Inilah yang menjadi hulu atas konflik-konflik agama yang terjadi di banyak daerah di Indonesia.

Contohnya tindakan represif yang sifatnya vandalistik terhadap kaum-kaum minoritas di Indonesia (kelompok agama tertentu yang dianggap sesat, seperti Ahmadiyah, Syiah, dll). Pengamputasian hak berpolitik orang-orang yang menganut agama diluar agama mayoritas. Kemudian juga kasus-kasus perusakan tempat ibadah atau demonstrasi menentang didirikannya sebuah rumah ibadah di beberapa tempat di Indonesia, yang mana ditempat itu lebih didominasi oleh kelompok agama tertentu sehingga kelompok agama minoritas tidak mendapatkan hak-haknya.

Padahal keyakinan merupakan suatu hal yang sifatnya sangat privat dan tidak boleh diganggu oleh siapapun bahkan oleh otoritas negara (penguasa). Kebebasan berekspresi secara ritus spirituil tentunya menjadi sebuah keharusan untuk ditegakkan di negara yang bukan negara theokratis ini. Negara sudah saatnya turun gunung untuk membendung faham-faham radikal pemicu konflik dan tindakan ekstrimisme oleh kelompok-kelompok yang jiwanya sudah kalis akan kebenaran ini. Agama seharusnya dijadikan perkakas untuk merajut keselarasan dan keharmonisan kehidupan manusia bukan sebaliknya. Ingatlah bahwa puncak tertinggi dari menuhankan Tuhan adalah memanusiakan manusia. Jangan jadi agamawan sontoloyo!

Sumber : http://www.aksara-hujan.com/2017/03/agamawan-sontoloyo.html

About syauqi glasses

Check Also

TASAWUF – Mereka Yang Diberi Hidayah Khusus Oleh Allah

“Dan Allah – yang mulia dengan segala asma-Nya – dalam waktu ke waktu dan dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *