Home / Uncategorized / AL QUR’AN – Jembatan Cinta Shalawat

AL QUR’AN – Jembatan Cinta Shalawat

Meski kerap dipandang remeh 0leh sebagian Muslim, shalawat sejatinya adalah bagian dari syarat sah shalat. Tak hanya itu, ia bahkan menjadi satu-satunya ibadah yang Allah juga melaksanakannya lalu disusul para malaikat.

Dalam surah al-Ahzab [33] ayat 56, Allah Swt berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya dengan tunduk (penuh penghormatan).

Menurut Ibnu Hajar al-Haitami, ayat ini mengandung penekanan pada kenabian Muhammad, sekaligus perintah ke para sahabat dan umat Islam pada umumnya, untuk menghormati Rasulullah, mengagungkannya secara lahir maupun batin, menaati perintah-perintahnya, dan mencegah segala perbuatan yang dapat menghilangkan rasa hormat.

Menurut Abu Aliyah, seperti diriwayatkan Bukhari, shalawat Allah kepada Nabi saw adalah sebagai tanda penghormatan terhadap Rasulullah saw. Sedangkan Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan shalawat Allah Swt kepada para hamba-Nya bermakna ampunan, rahmat, berkah, dan pengakuan atas ketinggian derajat Nabi Muhammad saw di dunia dan akhirat.

Lalu, mengapa shalawat begitu istimewa? Shalawat satu akar kata dengan shala, artinya hubungan. Ketika bershalawat, kita berarti tengah membangun hubungan tertentu; yaitu dengan Allah Swt, Muhammad saw dan keluarganya. Hubungan tauhid kepada Allah Swt sebagai satu-satunya Pencipta dan Tujuan. Sedangkan membangun hubungan dengan Nabi Muhammad, yang merupakan implementasi Tauhid, dengan mengikuti semua ajaran beliau, yang kita imani berasal dari Allah Swt.
tak heran jika kita temui banyak anjuran dan keutamaan membaca shalawat dalam berbagai hadits, seperti:

“Membaca shalawatlah kalian karena membaca shalawat kepadaku itu penebus dan penyuci dosa bagi kalian. Barangsiapa yang membaca shalawat kepadaku sekali, Allah membalasnya sepuluh kali.” (HR Ibnu ‘Ashim dari Anas bin Malik)

“Sesungguhnya orang yang paling utama dengan syafaatku kelak di hari kiamat ialah orang yang paling banyak membaca shalawat kepadaku.” (HR Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud). (IslamIndonesia)

About adminislat1

Check Also

Puasa Ruhani

Secara normatif Islam menghendaki kehidupan seimbang dunia akhirat, materi dan ruhani. Menurut Cak Nur keseimbangan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *