Home / Featured / Astrologi dan Astronomi dalam Tradisi Keilmuan Islam

Astrologi dan Astronomi dalam Tradisi Keilmuan Islam

Beberapa tahun yang lalu saat saya masih duduk di bangku SMA, mungkin sekitar tahun 2012, saya menemukan sebuah buku yang membahas tentang astrologi dan zodiak Islam. Tentu sebagai anak muda yang dahulu penasaran dengan hal-hal yang berbau spiritual saya membeli buku tersebut. Setelah sekian lama buku itu saya beli, buku tersebut masih rapi tersimpan di rak dan belum saya baca (mungkin ini salah satu perbuatan mubazir, masa beli buku tapi ngga dibaca)

Setelah beberapa tahun kedepan ketika saya duduk di bangku kuliah dan kebetulan mempelajari sejarah peradaban Islam. Saya baru ‘engeh’ kalau buku tersebut adalah terjemahan kitab klasik karya ilmwan besar Arab di abad 8 Masehi, yaitu Abu Ma’syar Al-Balkhi atau Abu Ma’syar Al-Falaki. Siapa Abu Ma’syar Al-Falaki? Beliau adalah salah satu tokoh Astronom Muslim ternama di masanya, yaitu pada era pemerintahan kekhalifahan dinasti Abbasiyah.

Beliau adalah salah satu murid yang gemilang dari seorang filosof Muslim, Al-Kindi. Kejeniusannya dan kehebatannya dalam cabang ilmu perbintangan dan antariksa membuat orang-orang menjulukinya Al-Falaki alias ahli falak/astronomi. Ya segitu saja yang saya tahu mengenai biografi beliau, tapi yang menarik dari beliau adalah pemikiran dan teori-teori perbintangan yang di cetuskannya saya rasa  tidak umum dengan keyakinan yang di anut oleh umat muslim sekarang.

Umumnya yang kita ketahui, menurut para ulama ilmu perbintangan itu haram, sebab kita mencoba-coba melihat nasib yang telah ditentukan oleh Allah, atau percaya bahwa langit-langit itu bisa menentukan nasib kita. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Barangsiapa mempelajari satu cabang dari ilmu nujum, ia telah mempelajari satu cabang dari ilmu sihir.” (HR. Abu Dawud 3907)

Namun tentu para ahli astronomi Muslim pada waktu itu menolak bahwa mereka membuat sihir. Dalil mereka pun cukup kuat yaitu berdasarkan ayat Al-Quran : ” Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 16) “Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut.” (Al-An’aam: 97)

Intinya, para astronom Muslim pada saat itu berpendapat bahwa jika melihat tanda-tanda langit seperti rasi bintang, orbit planet-planet, serta pergerakan benda langit lainnya, adalah sebagai suatu pengamatan ilmiah, bukan sihir atau bersekutu dengan setan. Termasuk mencari pengaruh dari pergerakan benda-benda langit pada keadaan manusia di bumi, bagi Para Astronom Muslim itu sah-sah saja, bahkan sangat dibutuhkan.

LANGIT DAN AKTIVITAS MANUSIA

Buku Abu Ma’syar ini bagi saya pribadi sungguh berharga, di samping sebagai peninggalan khazanah intelektual para ilmuwan Muslim di masa lampau, sekaligus memberi suatu pengetahuan baru bagi saya. Dan jika anda telah membaca buku ini, maka yakinlah bahwa ilmu falak atau astronomi  yang berkembang di dunia Islam pada saat ini sangat tertinggal jauh daripada ilmu astronomi di masa peradaban Islam lampau.

Di masa kini, objek ilmu falak kalau tidak membahas kalender awal bulan, waktu salat, pasti menentukan arah kiblat. sedangkan dahulu, cakupan ilmu falak luas sekali. Tapi saya yakin jika beberapa sahabat Muslim membaca buku ini, maka mereka akan langsung mencap buku ini sebagai buku sesat, khurafat, Bid’ah atau merespon negatif sebagaimana mereka merespon negatif buku Syamsul-Ma’arif karya Abu Ali al-Buti sang mistikus Islam.

Hal ini disebabkan karena buku ini menjelaskan bahwa fungsi ilmu falak atau nujum selain melihat cuaca, menentukan masa-masa panen, dan membaca tabiat alam, ilmu perbintangan juga bisa melihat tabiat dan sifat watak manusia juga mengenai hari baik dan buruk. Konon pada masanya, kitab ini di jadikan pegangan oleh para petani dan pedagang untuk melihat hari-hari baik dan hari-hari naas dalam bekerja.

Sebagaimana yang di yakini oleh para ahli astronomi zaman dahulu (mengutip ucapan Al-Kindi) bahwa ilmu nujum dan falak bukanlah ilmu sihir, namun ILMIAH. Ada keterikatan erat antara manusia (bumi) dengan planet-planet (antariksa), karena bagaimanapun kita dan planet kita adalah bagian dari alam semesta dan masuk kedalam hukum-hukum yang berlaku universal di ruang angkasa.

Menurut Abu Ma’syar dan para astronom Muslim, manusia sebagai makhluk mikro kosmos terikat dengan hukum yang menggerakan alam makro kosmos ini. Jadi pada dasarnya planet-planet dan bintang juga memiliki daya yang mempengaruhi aktifvtas di bumi, termasuk manusia. Contohnya seperti pasang surut lautan, bencana alam, wabah, kemakmuran bahkan kehidupan manusia.

Walaupun ilmu pengetahuan modern sudah memisahkan ilmu Astrologi dengan Astronomi, namun dalam konteks sejarah dimana buku Abu Ma’syar ini lahir, antara ilmu Astrologi dengan ilmu Astronomi masih merupakan kesatuan yang belum terpisah. Sehingga dapat kita lihat bahwa ilmuwan Muslim tetap mengkategorikan ilmu perbintangan sebagai salah satu bagian dari sains astronomi. Walaupun dianggap bisa menentukan nasib manusia, namun semua itu tetap dalam koridor kekuasaan dan takdir Allah

Salah satu bentuk pengaruh benda langit pada aktivitas manusia adalah, Bahwa letak bintang dan planet dapat menunjukan gejala beruntung dan naas. Contohnya jika seseorang lahir pada tanggal dan bulan sekian, maka hari baiknya adalah di saat Sore ketika planet sekian berada di posisi sekian. Begitu juga saat naasnya, bisa di prediksi dengan melihat tempat-tempat planet dan bintang. Konon kabarnya melalui ilmu nujum ini, Abu Ma’syar berhasil memprediksi dengan tepat adanya wabah kolera yang menyerang negerinya.

Sekali lagi penulis tekankan bahwa ilmu Nujum bukanlah ilmu sihir dan memakai bantuan setan seperti tuduhan para beberapa ulama. Menurut para Astrolog Muslim tersebut, ilmu nujum bergerak dengan ketetapan hukum yang pasti dan siapapun dapat mempelajarinya tanpa embel-embel ritual seperti yang dilakukan oleh para ahli sihir.

Sebagaimana sabda Nabi bahwa ramalan dengan angka-angka, garis-garis atau tabel-tabel yang tepat adalah boleh: “Seseorang di antara para Nabi (kemungkinan Idris as) ada yang meramal nasib dengan garis. barangsiapa yang garisnya bertepatan dengan garis nabi tersebut, maka benarlah ramalannya” (HR. Abu Dawud, Nasa’i dan Muslim).  Para ahli nujum atau astrologi juga menggunakan tabel dan garis untuk membaca tanda-tanda langit.

Asumsi saya mengenai buku astrologi Islam ini. Di lihat dari segi peradaban pada masa itu, pastilah teori-teori astronomi dalam buku ini terpengaruh oleh ilmuwan Yunani atau Persia. Namun sang penulis (Abu Ma’syar) mencoba “mengislamisasi” ilmu astrologi ini dengan banyak mengutip ayat-ayat Al-Quran dan juga membuat hizib-hizib dan azimat sebagai penangkal dari keburukan.

Bagi saya pribadi, perkembangan ilmu falak (astronomi) Islam saat ini jelas ketinggalan jauh dengan ilmu falak zaman dahulu apa lagi dengan ilmu falak modern yang dikembangkan oleh para Astronom barat. Dahulu kita mengenal Al-Biruni, Umar Khayyam, Ma’syar Al-falaki, Ibn Haytam, Al-Kindi, Al-Zarqali, Al-Farghani, Ar-Razi, Al-Farabi, Al-Battani dan lain sebagainya sebagai sosok Ahli falak yang mandiri dan tak segan-segan mengeluarkan teori baru yang menakjubkan.

Dengan kebebasan bereksperimen dan semangat ilmiah inilah yang membuat cakupan ilmu falak saat itu sangat luas. Bahkan sampai membicarakan secara detail hubungan benda angkasa dengan manusia. Yang membuat ilmu falak di zaman sekarang menjadi mati dan mengalami stagnasi, karena perannya di reduksi hanya sebagai  penentu kiblat dan waktu-waktu salat saja. Begitupula saat ini tak ada tokoh ahli astronomi yang berani mencetuskan sebuah teori baru.

Di tambah lagi dari sekian banyak teori-teori ilmu falak, ada pula teori dan metodenya sudah ketinggalan zaman namun masih di pertahankan. Jika sampai saat ini belum ada gebrakan dan inovasi baru dalam ilmu astronomi Islam, sebagaimana gebrakan Galileo atau Copernicus di dunia Kristen. Maka jangan heran jika setiap penentuan bulan Ramadhan dan Syawal kita akan di pusingkan dengan perdebatan mengenai soal-soal astronomi ini. Sampai-sampai untuk satu objek bulan saja bisa mencapai 3 pendapat yang berbeda-beda.

Hal ini disebabkan penggunaan metode perhitungan antariksa yang tidak diperbaharukan dan juga akibat dari sains astronomi menjadi semacam fiqh alias di bakukan. Sehingga sulit untuk melakukan inovasi ilmiah, apalagi untuk melakukan kritik pada teori lama dan gebrakan ilmiah. Pada suatu saat, Saya tetap berharap bahwa kelak ilmu falak dapat menjangkau planet-planet lain seperti Mars dan Jupiter.

Sumber : http://www.qureta.com/post/astrologi-dan-astronomi-dalam-tradisi-keilmuan-islam

About syauqi glasses

Check Also

TASAWUF – Mereka Yang Diberi Hidayah Khusus Oleh Allah

“Dan Allah – yang mulia dengan segala asma-Nya – dalam waktu ke waktu dan dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *