Home / Featured / Belajar dari Revolusi Libya

Belajar dari Revolusi Libya

Februari 2017 ini  tepat enam tahun revolusi Libya. Gelombang revolusi yang bermula di Benghazi itu telah sukses menumbangkan rezim Qaddafi. Rezim yang berkuasa selama lebih dari empat dasawarsa.

Sayangnya, revolusi itu harus dibayar dengan amat mahal. Saya akan sedikit bercerita tentang apa yang saya amati dan rasakan. Saat itu kebetulan saya sedang menempuh studi di salah satu perguruan tinggi di Tripoli, Libya.

Pertama, Qaddafi ini sosok yang dibenci sekaligus dicinta. Dibenci karena begitu represif terhadap lawan politik. Rezimnya cukup ketat dalam mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan warganya.

Merayakan Natal dan Tahun Baru adalah salah satu hal yang tak boleh dilakukan. Setidaknya itu terjadi pada tahun-tahun akhir kepemimpinannya.

Jika banyak yang cinta Qaddafi, barangkali karena  merasa cukup sejahtera. Kebutuhan-kebutuhan pokok tersedia dengan cukup terjangkau. Makanan pokok disubsidi. Bahan bakar murah. Keamanan juga terasa relatif kondusif.

Di luar itu, Qaddafi mampu bangun citra sebagai pribadi yang sederhana. Pria padang pasir yang memilih tenda sebagai tempat ternyamannya. Jika betul politik adalah citra, maka Qaddafi mampu raih dukungan politik karena mencitrakan dirinya dengan relatif baik.

Meski demikian, presentase yang benci dan cinta tersebut tidak bisa diverifikasi. Di samping karena institusi dan kanal-kanal demokrasi tidak berjalan semestinya, lembaga-lembaga independen yang bisa menilai kinerja pemerintah juga sunyi-senyap.

Tak pernah rasanya saya lihat hasil survey persepsi publik “bersliweran” di media massa. Semua terbungkam. Mungkin nyaris sama dengan masa-masa orde baru.

Hingga revolusi meletus, bisa dibilang bahwa: baik klaim yang menyatakan “banyak yang benci” maupun “banyak yang cinta” Qaddafi, keduanya tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tak ada acuan yang jelas.

Kalangan “melek literasi” Libya juga cenderung terbelah. Setidaknya itu yang saya baca dari sikap Perhimpunan pelajar Libya di Indonesia, misalnya.

Mereka menolak intervensi asing di Libya. Mereka juga anggap apa yang menimpa Qaddafi adalah fitnah. Sikap tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang difasilitasi oleh PBNU dan LPIL (Lembaga Persahabatan Indonesia Libya).

Kumpulan sarjana Libya lainnya, khususnya yang berasal dari timur Libya, mengambil sikap berseberangan. Mereka berharap Qaddafi segera usai.

Ulama dan agamawan juga tidak satu suara. Qaddafi cukup dekat dengan kalangan sufi. Amaliah-amaliah Islam tradisional terjaga dengan baik di Libya selama masanya.

Peringatan Maulid Nabi, yang sangat identik dengan kaum sufi dirayakan dengan meriah setiap tahunnya. Ulama Indonesia banyak yang diundang saat moment tersebut. Tidak heran jika banyak ulama sufi yang lebih pro kepadanya.

Berbeda halnya dengan ulama-ulama yang menjadi panutan gerakan Islam transnasional. Yusuf Qaradhawi misalnya, kendati tidak berada di Libya, tapi mengambil sikap ekstrim dengan mendorong pengikutnya untuk “mengenyahkan” Qaddafi.

Pandangan ini tentu saja mempengaruhi pengikut-pengikutnya di Libya yang cukup lama “tiarap” di masa Qaddafi berkuasa. Ulama tersohor Libya, Sadiq al-Gharyani juga memiliki sikap yang hampir sama.

Ulama-ulama yang ambil posisi moderat seolah tenggelam. Terkubur oleh dahsyatnya permusuhan yang dikobarkan oleh ulama-ulama emosional.

Hal ini pernah dipersoalkan oleh Said Aqil Siradj saat menerima kunjungan delegasi Libya (dipimpin oleh Menteri Pendidikan Libya) saat itu. “Ke mana ulama-ulama yang harusnya merekatkan umat?”

Situasi revolusi juga memunculkan rangkaian kabar “hoax”. Mirip dengan situasi pilkada maupun pilpres di Indonesia.

Bedanya, rakyat Libya saat itu punya akses kepada senjata. Jika “hoax”  mempengaruhi emosi mereka, mereka siap melampiaskannya dengan angkat senjata. Beruntung, kita di Indonesia tidak sejauh itu, meski tetap harus waspada.

Kabar tidak jelas sumbernya atau hoax ini juga pernah mendera kampus kami. Ada kabar bahwa ratusan demonstran mengarah ke kampus.

Sekilas nampak masuk akal karena kampus kami berada di bawah naungan “yayasan” milik tangan kanan Qaddafi. Seolah ada alasan bagi demonstran untuk datang.

Kepanikan pun terjadi. Padahal kabar itu tidak benar. Saya dengar laporan bahwa saking paniknya, banyak mahasiswa(i) yang naik ke lantai atas seolah menunggu helikopter menjemput. Gambaran betapa susahnya  memverifikasi kabar-kabar yang beredar saat itu.

Pada akhirnya, situasi perang memaksa seluruh WNI untuk evakuasi. Evakuasi harus segera dilakukan meski sempit waktunya. Ada kabar cukup meyakinkan bahwa tidak lama lagi akan diberlakukan no flying zone di langit Libya.

Mahasiswa sendiri terbagi menjadi dua kloter. Kloter pertama adalah kloter perjuangan. Karena semrawutnya bandara, mereka tertahan selama 36 jam di dalam bandara. Tidak bisa terbang.  Tidak bisa pula keluar lagi.

Padahal toko-toko makanan di bandara sudah berhenti beroperasi. Beberapa mahasiswa terpaksa bertahan dengan minum air dari kamar mandi.

Keesokan harinya, Dubes RI untuk Libya bermaksud mengantar sekeranjang roti untuk rombongan WNI tersebut. Beliau bawa dan pikul sendiri karena hanya beliau dan satu staff yang dapatkan akses masuk bandara. Belum sempat sampai di tangan WNI, keranjang tersebut dijarah oleh orang asing yang juga terlantar di bandara. Ludes!

Padahal sebelumnya, untuk mendapat sekeranjang roti tersebut, KBRI harus berebut dengan ratusan orang yang mengantre di toko roti. Hal itu karena kepanikan yang merajalela. Semua seolah khawatir dengan persediaan makanannya. Semua berniat menimbun sebanyak-sebanyaknya.

Saya ceritakan ini sebagai gambaran betapa sulitnya hidup jika kamtibmas sudah tidak terkontrol. Jika perang telah ambil alih. Kalau saja seluruh kengerian yang saya alami maupun yang saya lihat harus dituliskan, rasanya tak cukup waktu bagi Anda untuk membacanya.

Pada akhirnya  Qaddafi tumbang. Jatuh dengan cara yang paling buruk. Ditangkap di saluran air, dinistakan, dan dibunuh rakyatnya sendiri tanpa proses hukum.

Situasi pasca kematian Qaddafi belum menunjukkan tanda-tanda membaik hingga sekarang. Polarisasi yang terbentuk karena revolusi, justru jadi makin tajam saat ini.

Militer terbelah, ulama terbelah, politikus terbelah, cendekiawan-pun terbelah. Pada akhirnya melahirkan pemerintahan dan parlemen yang terbelah pula. Masing-masing mendaku sebagai yang paling sah.

Terorisme mengatasnamakan agama juga kerap terjadi. Dengan pola khas ISIS, mereka hancurkan tempat-tempat yang dihormati oleh kalangan Sufi. Makam-makam tokoh sufi menjadi sasaran bom. Salah satunya makam Syeikh Abdul-Salam al-Asmar yang satu komplek dengan sekolah dan masjid di Zelletin.

Bisa dikatakan bahwa revolusi di Libya lebih dekat kepada kegagalan daripada keberhasilan. Memang terlalu dini untuk menilai. Libya memang baru enam tahun terbebas dari pemerintahan yang totaliter. Mungkin saja mereka butuh kebih banyak waktu.

Namun kita bisa nilai prosesnya. Jika dibandingkan kedua negeri tetangga: Tunisia dan Mesir, Libya berada dalam kondisi yang lebih buruk. Padahal, hampir seluruh rakyat Libya adalah saudara seagama.

Ini pelajaran bagi kita. Bahwa persatuan bangsa adalah tanggung jawab bersama. Selayaknya politik tak memecah belah. Juga baiknya tak semua hal harus dipolitisir. Permusuhan yang terus dikobarkan hanya akan rugikan diri sendiri. Manakala kita gagal jaga situasi kondusif, kalangan ekstrimis akan ambil alih. Tentu tidak kita inginkan, bukan?

 

Sumber : http://www.qureta.com/post/belajar-dari-revolusi-libya

About syauqi glasses

Check Also

TASAWUF – Mereka Yang Diberi Hidayah Khusus Oleh Allah

“Dan Allah – yang mulia dengan segala asma-Nya – dalam waktu ke waktu dan dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress database error You have an error in your SQL syntax; check the manual that corresponds to your MySQL server version for the right syntax to use near '%b, %b)' at line 1 for query INSERT INTO `wp_tsw_log` (`IP`, `Time`, `IS_BOT`, `IS_HIT`) VALUES ('54.225.57.89', 1511414497, %b, %b) made by require('wp-blog-header.php'), require_once('wp-includes/template-loader.php'), include('/themes/sahifa/single.php'), get_sidebar, locate_template, load_template, require_once('/themes/sahifa/sidebar.php'), dynamic_sidebar, call_user_func_array, widget_traffic_stats, view