Home / Featured / Bukan Agama Kalau Bukan Cinta : Wawancara Dr. Haidar Bagir

Bukan Agama Kalau Bukan Cinta : Wawancara Dr. Haidar Bagir

Bukan Agama kalau Bukan Cinta

Belakangan, kini mulai marak konflik berlatar belakang agama di Indonesia. Jika merunut kejadian beberapa tahun ke belakang, kasus intoleran pernah terjadi di Monumen Nasional pada tahun 2008. Kemudian insiden penyerangan jemaah Ahmadiyah di Cikeusik tahun 2011 dan menyusul satu tahun setelahnya, penyerangan terhadap jemaah syiah di Sampang.

Insiden ini tentunya menuai reaksi dan tanggapan banyak banyak pihak. Salah satu gerakan yang hadir menangkal aksi radikal dan intoleran ialah Gerakan Islam Cinta, sebuah gerakan yang diprakarsai oleh Haidar Bagir bersama 40 tokoh muslim di Indonesia.

Lalu apa sebenarnya Gerakan Islam Cinta (GIC) ini ? Menurut Haidar Bagir, salah satu penggagas ide gerakan ini, Islam Cinta adalah meluruskan jika Islam itu ramah bukan amarah. Apalagi lahirnya gerakan ini didasari jika agama itu berawal dari cinta dan berakhir dengan cinta. “Sebetulnya semua agama, bukan hanya Islam, alpha-omega nya itu Cinta. Bermula dari cinta dan berakhir pada cinta. Di antara awal dan akhirnya cinta semua. Dan bukan agama, kalau bukan cinta, ” ujar Haidar Bagir saat berbincang dengan merdeka.com di kantornya, Kamis pekan kemarin.

Ide gerakan ini menurut Haidar Bagir muncul ketika banyak kekerasan yang mengatasnamakan agama. Apalagi saat ini banyak praktik keagamaan yang justru antitesis dengan makna agama yang dipahami. “Ini yang kita rasakan sekarang, banyak praktik keberagamaan kita betul-betul antitesis dari makna agama yang kita pahami itu, ” ujarnya.

Berikut petikan wawancara Haidar Bagir kepada Mohammad Yudha Prasetya dari merdeka.com soal Gerakan Islam Cinta.

Anda dikenal sebagai penggagas Gerakan Islam Cinta, bisa di jelaskan ?

Sebetulnya semua agama, bukan hanya Islam, alpha-omega nya itu Cinta. Bermula dari cinta dan berakhir pada cinta. Di antara awal dan akhirnya cinta semua. Dan bukan agama, kalau bukan cinta. Dalam Islam itu ada hadits nya, dikatakan ‘Agama itu cinta, dan cinta itu agama’. Bahkan Imam Ali Zainal Abidin mengatakan, ‘Agama itu apa lagi kalau bukan cinta?’, tegas hal itu. Agama itu dari A sampai Z-nya, cinta.

Ini yang kita rasakan sekarang, banyak praktik keberagamaan kita betul-betul antitesis dari makna agama yang kita pahami itu. Jadi agama itu jadi simbol kebencian sekarang. Peperangan di mana-mana semua atas nama agama. Sekali lagi saya bukan bilang kalau orang punya cinta itu enggak perang. Orang Palestina sekarang gimana lawan Zionis, apa mau pake ngomong ? Enggak kenal bahasa lain kecuali senjata. Harus perang.

Tapi kita bahkan enggak benci sama Zionis itu. Zionis itu manusia, Allah aja enggak putus asa kok bikin Netanyahu. Ada apa kok Allah membiarkan ada Netanyahu ? Kalau Allah merasa enggak ada manfaatnya, masa Netanyahu dibuat. Allah aja enggak putus asa sama itu. Pokoknya, ya kita tugasnya kalau enggak bisa diajak ngomong, ya dihukum mati. Hukum mati dosanya berhenti, dan dia enggak ganggu orang lagi. Cinta itu motifnya.

Rasulullah mengatakan, ‘Cinta itu prinsip ku’, kalau dalam bahasa Indonesia. Jadi agamanya Nabi itu tiangnya semua itu cinta. Kemudian Nabi itu kan juga disebut ‘Nabi Rahmah’, yaitu Nabi yang penuh kasih sayang. Misinya ‘Rahmatan lil alamin’, kasih sayang bagi alam semesta. Tuhan menyebut diri-Nya, Al Muhib, Al Waduud, yakni Yang Maha Pecinta.

Jadi Allah itu menciptakan, tapi pada saat yang sama memberikan cinta yang luar biasa. Jadi semua, Tuhan, Nabi, Agama, itu tidak ada lain kecuali Cinta.

Bagaimana pemahaman mengenai Gerakan Islam Cinta itu sendiri ?

Gerakan Islam Cinta itu kan prinsipnya, seorang muslim itu tidak boleh punya kebencian kepada siapapun. Bahkan terhadap orang jahat, orang kafir, pembunuh, kita enggak boleh benci. Bukan berarti enggak boleh menghukum. Tapi ketika kita menghukum, kita menghukumnya bukan dengan motif kebencian, tapi motif kecintaan. Kita percaya kalau ada penindasan, orangnya (pelakunya) dikasih tahu enggak bisa, maka harus di lawan dengan perang. Dan perang itu pun harus dilakukan dengan dasar cinta.

Ada satu contoh yang sangat menarik, kisah yang populer. Yaitu kisah Sayyidina Ali waktu duel melawan ‘Amr bin Abdi Wud. Saat pedangnya Ali tinggal ditusukkan ke dadanya, ‘Amr meludah menghinanya. Kemudian Sayyidina Ali mundur, enggak jadi membunuh. Walaupun memang akhirnya ‘Amr kalah dan mati juga dalam duel tersebut. Kemudian para sahabat bertanya, ‘Kenapa tadi tinggal menusukkan pedang enggak kamu bunuh?’. Sayyidina Ali bilang, ‘Waktu saya mau bunuh dia, dia meludah. Dan saya mundur, saya pastikan bahwa saya tidak membunuh dia karena marah’, kata Sayyidina Ali. Setelah mundur, maka dia harus bunuh orang ini karena cinta. Cinta sama orang ini supaya dosanya enggak banyak dan cinta kepada masyarakat yang mendapatkan gangguan orang ini.

Jadi kita boleh perang, boleh membunuh, boleh menghukum, bedanya Islam Cinta dengan Islam yang lain, motifnya cinta bukan kebencian. Enggak boleh benci kepada siapapun, benci sama perbuatan buruk boleh tapi tidak boleh benci sama manusianya. Kalau misalnya, kita benci sama manusia karena kafir, saya akan dakwah enggak sama dia kalau saya benci ? Ya enggak. Saya akan bilang mudah-mudahan mati sengsara, dibakar di neraka. Enggak akan saya dakwah sama dia. Satu-satunya yang memungkinkan saya berdakwah ya karena saya cinta, makanya saya berdakwah sama dia.

Kalau saya benci, seperti sebagian orang-orang Islam sekarang ini, benci mau memenggal biar yang dibenci itu masuk neraka, dakwahnya kapan ? Ya kan. Jadi saya selalu mengatakan yang tidak boleh dimiliki oleh seorang muslim atau seorang beragama itu, adalah kebencian kepada siapapun. Saya tidak mengatakan ini mudah lho, enggak, pasti Sulit. Emosi boleh tapi emosi itu jangan jadi dendam. Kalau kita sudah dendam sama orang, pokoknya dengar namanya saja hati kita bergetar karena emosi, nah itu sudah masuk kebencian. Kebencian itu pun, kebencian terhadap perbuatannya.

Saya berikan contoh, dalam Al Qur’an kalau enggak salah surat Al Mujadilah, kisah Nabi Ibrahim yang bilang sama orang-orang kafir itu, ‘Mulai saat ini ada permusuhan dan kebencian di antara kami dan kalian, Abadan’, yang dalam bahasa arab artinya ‘Abadi’. ‘Sampai kamu kembali beriman kepada Allah SWT’. Artinya apa ? Bahwa benci itu pada saat dia kafir, pada saat dia beriman bencinya harus dicabut. Jadi kita benci sama orang apa benci sama kekafirannya ? Begitu logikanya. Sebenarnya kalau dalam Islam itu bukan hanya filantropi, tapi cinta kepada semua makhluknya. Binatang, batu, tembok, mesin, apa saja. Enggak boleh merusak. Karena seperti di dalam Al Quran, semua ciptaan Allah Swt itu sebenarnya hidup, dan bisa merasakan kecintaan kita.

Apa pesan yang ingin anda sampai kan dalam buku “Belajar Hidup dari Rumi: Serpihan-Serpihan Puisi Penerang Jiwa” ?

Rumi itu disebutnya kan ‘penyair cinta’. Jadi saya sebetulnya ingin menampilkan itu. Nanti insyaallah tiga minggu lagi akan terbit buku saya lagi, judulnya ‘Semesta Cinta’. Tapi itu pengantar kepada pemikiran Ibnu Arabi, yang pemikirannya itu disebut sebagai ‘Hermeneutika Cinta’. Jadi dia menafsirkan agama, Al Quran dan hadits, semua berpusat pada cinta.

Gerakan Islam Cinta ini adalah suatu kegiatan bersama. Cinta kok dibikin gerakan ? Nah sering saya sampaikan pada teman-teman saya ini, cinta itu adalah sesuatu yang lembut dan tidak memaksa, sukarela, kok ini dibikin gerakan ? Nah justru kita mau menyampaikan pesan, ini kalau tidak ada gerakan bersama untuk mengembalikan pemahaman orang muslim, bahwa agama ini cinta, sudah kelihatan bahwa kita kalah sama kelompok-kelompok yang menganggap agama itu sumber kebencian. Mau bunuh orang, mau menggal orang, mukanya enggak pernah senyum, teror, horor, sangar, sekarang kan makin banyak yang seperti itu. Geruduk sana geruduk sini.

Sekarang kan agama jadi ajang kebencian kan, ini kafir itu kafir. Dan Indonesia menurut saya berada dalam ancaman besar kalau tidak ada gerakan. Ini makanya, cinta kok dikaitkan gerakan. Tapi itulah istilah yang suka kita edarkan di berbagai kegiatan kita. Itu dibutuhkan militansi kaum moderat. Sekedar untuk membangkitkan kesadaran orang, sebab kalau orang moderat kalah militan, disandera ini negeri sama orang-orang itu.

Seberapa pengaruh Jalaludin Rumi bagi Anda ?

Sebetulnya saya itu tahu Rumi lebih serius, itu juga belakangan. Kenal Rumi memang sudah dari pertama saya belajar agama. Yang berpengaruh banyak sama saya itu awalnya Muhammad Iqbal, dan Muhammad Iqbal itu kan pengagumnya Rumi. Jadi saya baca Rumi itu banyak lewat Iqbal, karena puisi-puisi Iqbal itu sendiri juga banyak dipengaruhi oleh Rumi. Makanya sambil jalan saya tentu juga membaca Rumi.

Tapi saya serius mempelajari Rumi itu baru beberapa tahun belakangan. Serius itu pun bukan akademis. Artinya saya menyediakan banyak waktu untuk membacanya.Terutama ketika saya mulai ngetwit (menggunakan Twitter), sekitar 2,5 tahun yang lalu, saya suka kalau malam itu posting #RUmiNight, dan itu ternyata paling banyak di retweet oleh follower. Terus ke sininya, sepertinya orang-orang ini senang dengan Rumi.

Kebetulan pemikiran Rumi ini juga sangat mirip dengan seorang sufi filosof, namanya Ibnu Arabi, yang bukunya mau saya terbitkan itu, itu sejalan. Bahkan mereka itu (Rumi dan Ibnu Arabi) sempat ketemu. Jadi kebetulan ada beberapa orang, termasuk Rumi ini, yang dekat sekali dengan bidang yang saya studikan ini. Jadi disertasi saya dulu tentang Mulla Sadra dibandingkan dengan Heidegger. Jadi Mulla Sadra ini banyak dipengaruhi oleh Ibnu Arabi dan saya lebih tertarik pada Ibnu Arabi ketimbang Mulla Sadra sendiri, yang saya ambil topiknya dalam disertasi saya.

Rumi itu menyampaikan apa yang disampaikan oleh Ibnu Arabi dalam bentuk puisi, dan buku-bku yang saya terbitkan tentang Rumi, Ibnu Arabi, sebetulnya itu adalah cara sederhana saya untuk mengembalikan pemahaman orang tentang Islam sebagai agama cinta, dengan menumpangi pemikiran tokoh-tokoh pemikir Islam tersebut. Jadi ada Rumi, Ibnu Arabi, terus nanti juga ada ‘Al Quran dan Hadits tentang Cinta’, yang ketiga buku ini bisa menjadi dasar bagi setiap orang yang mau dakwah mengenai Islam Cinta.

Banyaknya tudingan miring soal Islam Cinta, apakah itu menjadi motivasi ?

Oh iya, sudah pasti. Jadi saya kan berfikir secara serius yah. Kalau saya dituduh syiah itu kan sudah lama, sebelum gerakan takfiri dalam lima tahun terakhir ini. Sejak saya bikin Mizan tahun 1983, buku pertamanya berjudul ‘Dialog Sunnah-Syiah’, saya sudah dituduh sebagai Syiah. Itu sudah lama, tapi belakangan ini memang yang betul-betul menjadi makin parah. Saya enggak terlalu tertarik untuk berdebat Sunnah-Syiah. Di twitter itu mungkin sudah 30 kali lebih yang tanya ‘Apakah bapak Syiah?’, saya bilang ‘Saya bukan Syiah, bukan Sunnah, muslim insyallah!’. Dan saya memang enggak percaya sama -mahzab-mahzab itu.

Syiah itu mahzab yang sama seperti Ahlussunnah. Enggak ada masalah. Kenapa saya dituduh Syiah ? Ya gampang. Setiap orang yang tidak mengatakan bahwa Syiah itu sesat, mesti dituduh Syiah, pasti. Sekarang Ridwan Kamil dituduh Syiah karena kemarin mengizinkan perayaan Asyura. Ustaz Solmed itu anti Wahabi, sekarang dituduh Syiah. Asma Nadia karena enggak mau menyesatkan saya, sekarang sudah masuk ke daftar mereka (takfiri) juga.

Rasulullah kan mengatakan, ‘Kalau seseorang menuduh kafir terhadap orang lain, dan tidak terbukti, maka berbaliklah itu kekafirannya’. Jadi saya mikir terus apa ini cara paling efektif dalam menyikapi para takfiri ini. Inilah cara-cara yang kita lakukan, dan kita enggak akan berhenti. Segala macam cara akan kita lakukan. Saya tidak pernah melayani marah-marah, debat-debatan, caci-maki, sama sekali saya enggak pernah terlibat karena bukan cara kita. Gerakan Islam Contoh ini hanya satu di antara banyak langkah yang diambil banyak orang dan kelompok lain, mudah-mudahan bersinergi dan bisa menjadi pembendung terhadap kecenderungan takfir itu tadi, yang menurut saya didukung dana yang besar.

Menurut Anda, apa pengaruh konflik global di dunia Islam saat ini ?

Pengaruhnya besar. Bahkan kalau kita ingin memahami kelompok-kelompok ini kenapa Islamnya jadi keras, itu kita harus paham bahwa sikap keras ini merupakan ekses dari perasaan tertindas. Jadi kalau kita mau memahami orang-orang ini, mereka merasa Islam ini memang ditindas. Simbol yang paling utama Palestina. Palestina belum selesai, ada lagi Afghanistan, Irak diserbu.

Kemudian juga ada lagi penjajahan yang bukan militer, yaitu masuknya pengaruh barat yang dianggap bertentangan dengan Islam, yang ditafsirkan sebagai konspirasi. Jadi kalau masuk budaya barat dan bertentangan dengan syariat, itu bukan sekedar orang cari duit. Tapi memang niat mau merusak agama. Jadi memang sampai batas tertentu mereka itu harus dipahami, bahwa memang ada perasaan tertindas yang bukan tanpa alasan, yang kemudian membuat orang mengeras.

Kemudian, ada persoalan konflik geopolitik di Timur Tengah, yang enggak ada hubungannya sama sekali dengan Islam tapi dibawa-bawa, seperti konflik Suriah. Bahkan sampai setengah mati kita jelaskan, sejak kapan Bashar Assad itu menjadi tokoh Islam ? Bahsar Assad itu tidak pernah jadi tokoh Islam. Dia dari partai Baath yang Sosialis, enggak mengurus agama. Yang kedua, dia bukan Syiah juga. Dia itu Alawi, fiqihnya Ahlussunnah. Di bawahnya itu menteri pertahanannya, menteri luar negerinya, menteri dalam negerinya, semua orang Sunni.

Tapi Suriah ini pro Palestina, anti Israel. Jadi Israel ini juga sebenarnya mengail di air keruh. Belum lagi Suriah dibantu Iran, sementara Saudi takut sama Iran, dan ini konflik geopolitik yang enggak ada hubungannya sama sekali dengan agama, lalu Rusia ikut campur, atheis, dan ini dibawa seolah-olah menjadi pertentangan antar-agama. Urusannya di Timur Tengah dan dibawa-bawa ke sini. Caranya bagaimana ? Pertama, dukungan Saudi. Kedua, sumbangan-sumbangan, yang ketiga yaitu masjid-masjid yang dibangun.

Banyak orang mengatakan bahwa masjid ini semacam kuda Troya. Jadi melalui pembangunan masjid ini, hal itu menjadi proxy-nya Saudi, Kuwait, dan lain sebagainya. Proxy-nya Saudi melalui tentara dakwahnya itu, dikirim melalui masjid-masjid tersebut. Tapi saya ingin menegaskan bahwa ini konflik politik, dan kebetulan negara-negara Islam yang cara pandangnya terhadap Islam itu kering dan keras, terus dibawa ke Indonesia. Tapi karena lulusannya banyak, masjid-masjidnya banyak karena uangnya sampai sekarang masih mengalir, mesinnya ya jalan terus.

Apa yang harus dilakukan muslim Indonesia agar tidak terjadi konflik ?

Kita kembalikan Islam ini sebagai agama yang damai. Namanya saja Islam, dari kata ‘Salam’ yang artinya Damai. Kita semua harus kembali ingat bahwa konflik dalam Islam itu adalah pengecualian terhadap prinsipnya Islam. Prinsipnya Islam itu kan damai. Sekarang ini memang ada pemahaman Islam yang seolah-olah mengatakan bahwa prinsipnya Islam itu konflik, dan sayangnya ini yang didukung oleh sistem pendidikan di sekolah kita.

Mesti kita kan diajarkan oleh guru agama, bahwa kerjanya Nabi itu selama 23 tahun jadi Nabi apa ? Perang! Sampai saya itu pelajari jumlah perangnya Nabi, yang paling minimum bilang semua perangnya Nabi itu 80 hari, terus ada yang bilang juga yang paling minimum itu 800 hari. Itu kenabiannya Nabi itu 8000 hari lebih. Jadi kalau saya ambil yang maksimum perangnya Nabi, itu 10 persen dari umur hidupnya Nabi. Tahu enggak 90 persen kerjaannya Nabi itu apa selain perang ? Enggak ada yang tahu. Dipikir Nabi itu seumur hidupnya perang terus sampai meninggalnya Nabi.

Sekarang ini karena ketidaksengajaan di bidang pendidikan dan kekeliruan dakwah, ditambah dengan orang-orang jahat yang mau mengail di air keruh, sekarang ini muncul suatu kesan yang mengatakan bahwa prinsipnya Islam itu konflik dan perang. Padahal kalau kita mau kembali ke dalam prinsip Islam yang betul menurut kita, prinsipnya Islam itu cinta dan damai. Perang itu pengecualian.

Bagaimana pandangan Anda soal munculnya istilah Islam Nusantara ?

Saya kan juga sebagai penulis di salah satu buku yang best seller itu, yang judulnya ‘Islam Nusantara’, itu ada tulisan saya di situ. Menurut saya Islam Nusantara ini adalah Islam yang sejalan dengan prinsip damai itu tadi. Termasuk apa, damai dengan kultur. Jadi Islam itu tidak menganggap kultur itu sebagai distorsi terhadap agamanya. Tapi justru kultur itu kan pengejawantahan dari Allah Swt. Ciptaan itu kan sebenarnya pancaran sinar-Nya Tuhan saja. Semua ciptaan Tuhan itu kan tanda-tanda-Nya Tuhan.

Jadi seperti yang saya tulis di buku Islam Nusantara itu, bahwa semua ciptaan tuhan adalah wadah dari manifestasi Tuhan itu sendiri, baik itu manusia, tumbuhan, hewan, batu, bahkan termasuk budaya. Budaya itu adalah wadah di mana kebenaran ketuhanan itu terpancar. Lalu apakah Islam Nusantara itu lebih baik dari Islam Arab atau manapun ? Enggak! Justru biarkan budaya itu tumbuh, biar kita bisa belajar dari Islam Nusantara, Islam Arab, Islam Cina, Islam India, nanti perbedaan kultur yang masing-masing memancarkan cahaya Tuhan secara berbeda itu, menyebabkan pengetahuan kita tentang tuhan menjadi lebih lengkap.

Orang Indonesia jangan budayanya Arab. Karena Tuhan menciptakan orang Indonesia dengan budaya yang berbeda itu, karena Allah Swt ingin agar budaya-budaya ini menyerap sebagian dari pengejawantahan ketuhanan itu, supaya diketahui oleh orang lain yang bukan orang Nusantara. Orang Arab diciptakan dengan temperamen, cuaca, dan geografi yang berbeda, supaya dengan cara itu dia bisa menyerap kebenaran ketuhanan yang berbeda. Dengan ini nanti, pelihara lah Islam Arab, pelihara lah Islam Indonesia, India, dan lain sebagainya.

Tapi kita juga tetap harus menyaring nilai-nilai budaya itu, sehingga yang bertentangan bisa kita tolak. Jangankan penafsiran budaya, penafsiran agama saja kita saring kok. Bahkan belum tentu jika seseorang menafsirkan Al Quran itu betul. Masa semua penafsiran Al Quran kita terima, ya enggak dong. Budaya juga gitu, kalau bertentangan dengan syariah, seperti bertelanjang dada, ya enggak kita terima. Itu pasti bukan budaya yang merupakan penangkapan tanda ketuhanan, bukan. Karena kalau budaya yang menangkap tanda ketuhanan itu mesti sejalan dengan syariah. Tapi jangan bilang bahwa budaya ini mengotori dan mendistorsi agama.

Budaya ini wadah. Tapi sebagaimana budaya yang lain, bisa saja dia menampung kotoran. Ya kotorannya kita bersihin dong, tapi jangan dibuang semua isi wadahnya. Kira-kira begitu, dan itu ada di buku Islam Nusantara yang saya ikut menulis.

About adminislat1

Check Also

TASAWUF – Mereka Yang Diberi Hidayah Khusus Oleh Allah

“Dan Allah – yang mulia dengan segala asma-Nya – dalam waktu ke waktu dan dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *