Home / Featured / Dialog Antar Agama

Dialog Antar Agama

Kenyataan adanya keragaman atau pluralitas yang tidak lepas dari konsekuensi perbedaan merupakan keniscayaan yang tidak dapat di pungkiri di dunia ini. Dari keragaman itu, tentunya tidak bisa lepas dari terjadinya konflik. Demikian juga keberagamaan. Tapi yang di butuhkan bukan lari dari pluralitas, melainkan cara atau pendekatan bagaimana menyikapinya sehingga akan mewujudkan kerukunan beragama.

 

Berhubungan dengan hal itu, dalam tahun-tahun belakangan ini semakin banyak didiskusikan mengenai kerukunan hidup beragama. Diskusi-diskusi ini sangat penting, bersamaan dengan berkembangnya sentimen-sentimen keagamaan, yang setidaknya telah menantang pemikiran teologi kerukunan hidup beragama itu sendiri. Dan secara otomatis mengingkari keniscayaan adanya pluralitas. Oleh karena itu diperlukan suatu ruang dialog, dimana sikap saling komunikasi yang baik dalam mengharmoniskan perbedaan akan tercipta. Dan menjalin hubungan positif dalam mewujudkan kedamaian dunia. Khususnya untuk membangun masa depan hubungan antaragama yang lebih baik, terbuka, adil dan demokratis. Selain juga kemunculan positif dari berbagai lembaga atau organisasi yang mendakwahkan pentingnya kerukunan antar agama, sangat membantu dalam mencapai keharmonisan ini.

 

Plurality As A Reality; Pluralism and conflict of interfaith

 

Kenyataan pluralitas adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri adanya dalam dunia ini. Demikian juga pluralisme, yaitu kesadaran bahwa dalam suatu kehidupan bersama manusia terdapat keragaman suku, ras, budaya dan agama. Keragaman agama misalnya, terjadi karena adanya faktor lingkungan tempat manusia itu hidup yang juga tidak sama. Keragaman agama juga terdapat pada kepercayaan dan doktrin-doktrin yang berbeda dalam membimbing umatnya. Agama sebagai lembaga sosial, merupakan bagian dari kebudayaan dan sistemnya. Jika kebudayaan manusia beragam, maka dapat dipahami, agama pun juga beragam. Mengapa agama bagian dari kebudayaan? Karena manusia tidaklah dapat hidup di luar kebudayaan. Jadi keragaman agama sebagai keyakinan dan budaya harus menjadi kekuatan untuk mewujudkan hidup damai, sejahtera dan lebih maju.

 

Dalam beberapa teologi agama-agama, sebenarnya terdapat penjelasan mengenai pluralitas. Dalam agama Islam misalnya, doktrin teologinya yang terdapat dalam al-Qur’an menjelaskan adanya Tuhan yang mutlak dan absolut. Ketauhidan itu, mempunyai konsekuensi bahwa tidak ada keesaan bagi alam dan masyarakat. Inilah yang disebut Gamal al-Banna dalam karyanya At Ta’addudiyah Fi Mujtama’ Islamy, dengan ”tauhid melahirkan pluralisme”. Di dunia Kristen, kesadaran adanya pluralitas dan perbedaan ditandai dengan konsiliasi gereja vatikan II yang menyatakan pada pendahuluan bahwa: “Semua bangsa merupakan satu masyarakat, mempunyai satu asal, sebab Allah menghendaki segenap umat manusia mendiami seluruh muka bumi. Semua juga mempunyai satu tujuan terakhir yakni Allah”.

 

Dari kedua pernyataan tersebut, Islam dan Kristen, tidak jauh beda. Karena menyadari ketidak-esaan dari selainNya. Tapi yang menjadi masalahnya adalah kembali pada penafsiran doktrin masing-masing agama yang tertutup. Karena tertutup para pengikut agama menciptakan eksklusifitas dan fundamentalisme yang cenderung radikal, fanatik dan otoriter. Hal inilah (eksklusifitas agama) yang sebenarnya menjadi musuh setiap agama dan memicu terciptanya konflik berbeda agama maupun intra agama.

 

Dalam sejarah, telah lama berkembang doktrin teologi eksklusif bahwa tafsir agama saya yang paling benar, tafsir agama lain sesat dan menyesatkan. Jika seperti ini, benturan agama tidak lagi bisa dihindari, dan selama pemeluk agama mengekspresikan tafsir agamanya secara eksklusif konsekuensinya konflik terus terjadi. Filsuf agama terkemuka Alvin Plantiga, mengungkapkan doktrin eksklusif itu dengan “The tenets of one religions are in fact true; any propositions that are incompatible with these tenets are false” dan John Hick, “The exclusive think that their description of God is the true description and the others are mistaken insofar they differ from it”. Rumusan dari Ajith Fernando, teolog kontemporer juga masih menarik untuk diungkapkan. Katanya “Other religions are false paths, that mislead their followers”. Gambaran Eksklusivitas dari pernyataan ini sangat jelas terlihat.

 

Berawal dari perbedaan cara memahami keyakinan, berubah menjadi masalah-masalah sosial yang tidak jarang menimbulkan pertikaian. Agama telah terkonstruksi menjadi sistem sosial, budaya dan simbol. Masing-masing agama juga mempunyai sistem, kepercayaaan dan keyakinan berbeda. Proses keagamaan yang semacam ini tentu memiliki implikasi sosial yang tidak hanya bersifat monologis melainkan menimbulkan persoalan jauh lebih kompleks. Belum lagi pertikaian politik yang ramai di zaman modern sekarang. Antara Negara maju dan berkembang atau Negara bagian barat dan timur terus menunjukkan pengaruhnya di dunia. Semua itu juga tak lepas dari gencarnya modernisasi. Disusul dengan gerakan anti logika yang akhirnya  timbul gerakan terorisme. Dimana akhir-akhir ini melibatkan dua kubu antara Barat dan Timur. Tidak dapat dipungkiri, hal itu masuk dalam wilayah agama. Yaitu antara Islam, Kristen dan Yahudi yang mewakili dua kubu tersebut.

 

Kemunculan berbagai konflik agama yang kian merajalela, harus diredam dengan sikap keterbukaan antar agama. sikap eksklusif harus diubah menuju sikap inklusifitas yang lebih terbuka dan dapat mengarah pada pluralisme sebagai kesadaran pluralistik dan memandang positif agama-agama lain. Kesadaran pluralisme ini akan menciptakan kesadaran interaksi dialogis lintas agama. Terkait tentang hal ini, para tokoh teologi agama sudah menyuarakan perlunya dialog antar agama dengan diktumnya
Dalam sejarah gereja-gereja Kristen, ide dialog antar agama dikenal dengan ecumenisme global. Walaupun sebelumnya masih mempunyai makna penyatuan antar orang Kristen, tapi juga bermakna penyatuan seluruh keyakinan yang berbeda yang ada di dunia . Hal ini dapat meningkatkan kesadaran dimensi global dalam persoalan agama.

 

Dalam perwujudannya, dialog lintas agama sudah pernah ada sejak lama. Ini dapat dilihat dalam maklumat kaisar Asoka yang ditulis di atas batu. Sungguh mengagumkan, karena dia memberikan beberapa prinsip dialog antar agama sejak 3 abad sebelum masehi . Dan sebenarnya dialog tidak hanya untuk saling berkomunikasi, menghormati dan memahami. Tapi lebih dari itu, dalam konteks pertemuan agama global mempunyai tujuan untuk bergerak bersama dalam mengatasi problem-problem dunia. Sehingga kerukunan beragama yang dicita-citakan akan terwujud.

 

Oleh karena itu, gerakan nyata yang harus dilakukan seperti yang dikemukakan U-Than dari Birma yang pada tahun 1960an menjadi pada saat menjadi sekjen PBB mengatakan “Apa yang kita butuhkan adalah persatuan agama-agama disamping untuk persatuan bangsa-bangsa”, walaupun tidak seorang pun menerima idenya. Ide ini dikembangkan oleh Mukti Ali bahwa dewan agama-agama global memang sangat dibutuhkan tapi tidak perlu dibawah bantuan PBB. Dengan tiga prasyarat masyarakat global masa depan; keadilan, perdamaian dan lingkungan yang dapat meningkatkan kehidupan.

 

Jika pemahaman kesadaran pluralisme sudah melekat dalam diri pemeluk agama dan dialog lintas agama juga terwujudkan dalam sebuah wadah pertemuan, maka kedamaian dan persaudaraan yang merupakan inti dari agama akan dirasakan semua warga dunia.

 

Oleh ; M. Yusuf Anwar

About adminislat1

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *