Home / Isu-isu Dunia Islam / Ekstrimisme dalam sejarah islam

Ekstrimisme dalam sejarah islam

Barangkali semua sistem kepercayaan yang ketat, khususnya yang didasarkan pada keyakinan keagamaan cenderung bersifat supremasi (merasa lebih unggul atau superior daripada yang lain). Orang orang yang beriman dipandang memiliki kebaikan tertentu yang membedakan mereka dengan penganut kepercayaan lain. Namun, doktrin supremasi kelompok puritan sangat tegas dan berbahaya. Pemikiran supremasi kelompok islam puritan memiliki komponen nasionalis yang sangat kuat, yang berorientasi pada dominasi cultural dan politik. Kelompok kelompok ini tidak puas hanya dengan menjalani hidup menurut tuntutan doktrin mereka sendiri, tetapi secara aktif juga tidak puas dengan semua alternative jalan hidup yang lain. Mereka tidak sekedar berupaya memberdayakan diri, tetapi juga agresif berusaha melemahkan, atau menghancurkan orang lain. Pokok persoalannya adalah semua kehidupan yang dijalani di luar hukum agama dianggap merupakan kejahatan terhadap Tuhan sehingga harus ditentang dan diperangi.

Namum, kini islam hidup dalam peralihan besar tidak seperti yang pernah dialaminya pada masa silam. Peradaban islam telah hancur dan lembaga lembaga tradisional yang pernah melangsungkan dan menyebarkan ekstrimisme islam telah runtuh. Secara tradisional, epistemologi islam membiarkan bahkan merayakan pandangan dan aliran pemikiran yang berbeda beda. Para pengawal tradisi islam adalah para ahli fiqih yang legitimasinya banyak bersandar pada semi-indepedensi mereka terhadap sistem politik yang terdesentralisasi, pada fungsi ganda mereka dalam mewakili kepentingan Negara terhadap masyarakat dan kepentingan masyarakat terhadap Negara.

Namun, dunia islam saat ini, Negara telah tumbuh sangat kuat dan semakin turut campur dalam urusan masyarakat, serta terpusatkan dengan cara yang tidak pernah terbayangkan oleh dua abad silam. Di sebagian besar Negara berpenduduk muslim, saat ini Negara mengkontrol urusan keagamaan privat yang dahulunya dikelola oleh ahli ahli agama. Lebih dari itu, Negara telah mengoptasi sistem keulamaan dan mengubah mereka menjadi pekerja yang dibayar. Perubahan ini mengurangi legitimasi ulama dan melahirkan kekosongan otoritas keagamaan. Dengan demikian, terdapat kondisi anarki yang sesungguhnya dalam islam modern disebut tidak jelas siapa yang bicara dengan otoritas dalam persoalan agama. Suatu kondisi anarki keagamaan yang barangkali tidak akan menjadi masalah dalam masyarakat sekuler yang telah mereduksi agama hanya sebagai persoalan privat. Akan tetapi, jika agama ditempatkan pada posisi penting dalam mendapatkan legitimasi public dan makna cultural, pertanyaan tentang siapa yang berhak mewakili suara Tuhan tetap merupakan pertanyaan yang sangat penting.

Khaled Abou El Fadl

About adminislat1

Check Also

Ormas Radikal dan Demokrasi yang Tersandera

Demokrasi membuka ruang publik (public sphere) seluas-luasnya, termasuk kepada mereka yang menentangnya. Ini paradoks negeri Muslim …

One comment

  1. Ketawa juga saya membacanya. Nice and good work, keep it up.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *