Home / Universalia / Eudaimonisme

Eudaimonisme

Manusia selalu membutuhkan arahan dan alasan dalam bertindak. Mereka sepertinya selalu butuh “koridor” atau kompas dan sebuah alasan yang jelas untuk menunjukan arah mereka berjalan, entah dalam hal belajar, memasak, makan, mandi, dsb. Sama halnya dengan hidup. Manusia selalu membutuhkan arahan untuk hidup.

Sebuah pertanyaan yang sangat mendasar adalah “Apakah tujuan hidup manusia”. Jawaban atas pertanyaan fundamental ini seringkali kita dapatkan dalam Agama (Ajaran Yesus, Al-Quran, Hukum Taurat, dsb). Sedangkan, masyarakat dewasa ini mulai mengenal sekularisasi. Fakta ini menjadi penting karena mayoritas dari mereka mulai mencari jawaban atas pertanyaan “Apa tujuan hidup manisa” di tempat lain (bukannya Agama).

Dalam bukunya Etika Nikomacheia, Aristoteles menyebutkan ada dua tipe tujuan. Pertama adalah tujuan sementara, yaitu sebuah tujuan yang berfungsi sebagai sarana untuk tujuan yang lebih lanjut. Misalnya, mahasiswa mengerjakan tugas agar mendapat nilai. Tetapi nilai ini bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, melainkan sebuah sarana, misalnya untuk dapat lulus satu mata kuliah dengan baik.

Lalu apakah tipe tujuan yang kedua itu? Tujuan yang kedua adalah, tujuan akhir. Sebuah tujuan yang kita kejar demi dirinya sendiri. Tujuan yang bila sudah didapatkan manusia akan merasa puas dan tidak menginginkan apapun lagi. Aristoteles berusaha menjawab pertanyaan ini “Apakah tujuan akhir itu”.

Aristoteles menjawab: Kebahagiaan. Jika manusia sudah bahagia, dia tidak akan mau apapun lagi. Sebaliknya jika dia belum bahagia maka apapun yang dia dapat tidak akan pernah cukup baginya. Dalam bahasa Aristoteles: “Di satu pihak kebahagiaan selalu dicari demi dirinya sendiri, dan bukan demi sesuatu yang lain. Dan di pihak satunya, kebahagiaan mencukupi dirinya sendiri, artinya, kalau kita sudah bahagia, tidak ada yang masih bisa ditambah”.

Aristoteles adalah filosof pertama yang merumuskan dengan jelas bahwa, kebahagiaan adalah tujuan akhir semua manusia. Maka dari itu etikanya adalah apa yang kita sebut eudaimonisme. Eudaimonisme berakar dari kata yunani eudaimonia yang berarti “bahagia”. Tetapi lalu, bagaimana cari kita dapat mencapai kebahagiaan itu?

Salah satu jawaban yang dilontarkan adalah, mengejar nikmat sebanyak-banyaknya dan menghindari sakit sekuat tenaga. Jawaban itulah yang lalu dirumuskan menjadi paham hedonisme. Berbeda dengan pemahaman masyarakat dewasa ini tentang hedonisme, yang biasanya berpikir bahwa hedonisme adalah gaya hidup berfoya-foya.

Memang salah satu cara untuk mengejar nikmat sebanyak-banyaknya adalah berfoya-foya, tetapi, hedonisme bukanlah hanya berfoya-foya. Salah satu konsep penting dalam hedonisme adalah menghindari sakit sekuat tenaga. Apakah ini yang menjadi jawaban agar kita dapat mencapai “bahagia”? Aristoteles tidak setuju.

Menurut Aristoteles hidup semacam itu tidak membawa kepuasan dalam dirinya sendiri. Aristoteles menyatakan bahwa pola hidup semacam ini adalah “pola hidup ternak”. Menurut Aristoteles hedonisme adalah cara hidup hewani, yang hanya mengejar nikmat sebanyak-banyaknya (makan, minum, seks) dan menghindari sakit sekuat tenaga.

Jadi hedonisme berusaha menerapkan cara hidup hewani dalam kehidupan manusia. Tentu penerapan ini sangat tidak masuk akal, mungkin penulis dapat lebih jauh lagi berpendapat bahwa penerapan ini sangatlah memalukan. Tetapi jika bukan itu, lalu apa jawaban nya?

Sebenarnya pandangan Aristoteles juga tidaklah sesederhana itu. Aristoteles berpendapat bahwa nikmat juga merupakan unsur penting dalam kehidupan, begitu juga dalam kehidupan moral. Asalkan jangan dijadikan tujuan dalam dirinya sendiri. Selajutnya Aristoteles menjelaskan tiga hal.

Pertama, bahwa nikmat dan rasa sakit bukanlah sesuatu yang boleh diabaikan. Kedua, perasaan ini merupakan hal penting dalam usaha manusia untuk memperoleh keutamaan-keutamaan etis. Aristoteles berpendapat bahwa dua daya kuat itu (nikmat dan sakit) dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan diri manusia.

Kunci esesnsial dalam pemikiran Aristoteles mengenai nikmat adalah bahwa, nikmat tidaklah berdiri sendiri melainkan sesuatu yang “mengikuti”. Maksud mengikuti disini adalah bahwa nikmat selalu punya kaitan akan suatu perbuatan. Perbuatan yang budiman atau yang baik akan memberikan nikmat yang budiman dan baik.

Sebaliknya perbuatan yang keji dan jahat akan memberikan nikmat yang keji dan jahat pula kepada kita. Maka mengejar nikmat dan menghindari sakit menjadi tidak masuk akal, karena tidak ada hanya satu nikmat atau sakit yang ada hanyalah nikmat-nikmat yang berbeda.

“Yang bisa dikejar atau dihindari adalah perbuatan atau pengalaman tertentu bukan nikmat atau rasa sakitnya. Maksudnya jika kita mau mengejar nikmat cinta maka tindakan mencintailah yang menghasilkan nikmat cinta itu, tidak mungkin mengejar nikmat cinta dalam dirinya sendiri.

Maka menurut Aristoteles tindakan apapun memberi kita nikmat. Tetapi, jika nikmat itu sendiri yang kita kejar dan usahakan maka justru nikmat itu akan lari. Sebuah pengecualian bagi Aristoteles adalah nikmat inderawi, seperti makan, minum, seks, dsb.

Menurut Aristoteles, nikmat itu memang mungkin dikejar sebagai dirinya sendiri tetapi, dengan konsekuensi yang sangat berat. Bahwa nikmat inderawi hanya akan menutupi kita dari nikmat yang lebih baik atau indah, seperti cinta misalnya.

Itulah maksud Aristoteles dengan pola hidup ternak. Manusia tidak mungkin puas hanya dengan tampakan didepan matanya. Hidup mencari nikmat dalam arti mencari nikmat inderawi akan justru mengecewakan dan membuat kita “patah hati”.

Poin Aristoteles yang ketiga adalah, yang perlu di usahakan dan dikejar hanyalah perbuatan dan tindakan yang bermakna, maka, nikmat akan datang dengan sendirinya. Maka Arisoteles telah mengajarkan sesuatu yang sangat krusial bagi kita. Bahwa jika kita ingin hidup yang bahagia, yang bermakna dan berbobot, janganlah berfokus mengusahakan nikmat inderawi saja, melainkan coba usahakan nikmat yang lebih baik adanya.

Sebagai contoh: jika sepasang suami istri menikah dan hanya mengejar nikmat seksual saja (berarti nikmat inderawi) maka penulis yakin mereka tidak akan pernah puas.

Ini lalu menyebabkan sebuah pernikahan yang tidak harmonis dan menuju kehancuran, mengejar nikmat seksual justru sangat mengecewakan. Mengapa? Karena alih-alih mencoba mengejar nikmat cinta (nikmat yang lebih baik) mereka mencoba mempergunakan satu sama lain untuk mengejar nikmat inderawi (kita tahu hal itu tidak akan pernah berhasil).

Maka, dalam pengertian tertentu Eudaimonisme Aristoteles merupakan “evolusi” dari hedonisme. Mereka sama-sama mengejar nikmat. Tetapi berbeda dengan hedonisme, Eudaimonisme jauh lebih sempurna, karena Eudaimonisme bukan hanya mengejar nikmat inderawi melainkan nikmat-nikmat yang lebih tinggi. Maka, jawaban akan pertanyaan “Apakah tujuan hidup manusia” adalah sempurna dan lebih baik secara moral bila dijawab dengan eudaimonisme daripada hedonisme “mainstream”.

About syauqi glasses

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *