Home / Featured / Evolusi Teologi Dan Agama

Evolusi Teologi Dan Agama

Dulu, kaum musyrikin Arab pasti tidak pernah menyangka bila Allah dewa bulan sabit mereka di up grade menjadi Tuhan agama baru yang dinamai “Islam” dengan pelurusan teologi dari leluhur mereka Ibrahim a.s. Dan kaum muslim sekarang pasti juga tidak banyak yang tau bila kata Allah dalam ilmu bahasa Arab juga (bisa) berasal dari kata walaha yang artinya mengeluh, yang dari sinilah Jalaluddin Rumi membangun gagasan teologi cinta Ilahi kepada ciptaan-Nya, Dia menderita dengan kesendirian-Nya karena itulah ingin dikenal keberadaan-Nya.
Apa arti semua ini?. Artinya adalah, bahwa teologi memang berkembang menurut peradaban manusia. Akan tetapi trend gagasan teologi sejak Musa a.s. hingga sekarang belum berubah, yaitu gagasan akan hukum yang mengikat secara keras (syariah). Ini sudah berjalan ribuan tahun. Lalu, kira-kira apa teologi pasca agama-agama samawi dimana mereka juga menubuatkan musnahnya agama-agama itu?. Sebagian besar mengatakan bila manusia tidak mengenal Tuhan lagi. Akan tetapi hal itu berupa profetik dari agama-agama itu sendiri, bukan dari kenyataan pembelajaran manusia hingga sekarang.
Sains sering dianggap sebagai jalan pemurtadan, akan tetapi produk sains sendiri juga digunakan. Ini harus dipisahkan terlebih dahulu bahasan yang ada. Terlebih tidak semua bagian dari filsafat sains menolak keberadaan Tuhan yang Sang Pencipta alam semesta.
Sains dianggap media atheisme dikarenakan alam paradigma sains tidak sejalan dengan agama. Sains berfokus pada teknis pada konteks zahiriyah hajat kebutuhan hidup duniawi dimana semua orang terlibat. Sedangkan agama cenderung antara politik dan moral, sedangkan obyek Tuhan sendiri penuh kekaburan karena memang sengaja tidak boleh dibahas dengan melakukan pemagaran mitos.
Sementara sebagian orang sudah sangat meyakini bila agama adalah ciptaan manusia, lalu, apakah Tuhan (Pribadi-Nya sendiri yang sesungguhnya) apa akan diam ketika hal-hal penuh kepalsuan menjadi kenyataan dimana agama adalah alat untuk pengkultusan diri yang mana artinya ini adalah neo-paganisme dimana Tuhan begitu pengecut dan Maha Amarah dan Kebencian?, bukankan itu karakter politik manusia?
Pertentangan-pertentangan teologis seperti ini sebenarnya juga ulah manusia sendiri, lalu, betulkah Tuhan pasif dan hanya bersembunyi dibalik pengkultusan manusia?. Sebenarnya tidak sepicik itu juga kita harus menilai, sebab, kenyataannya kita mengalami hal-hal misteri meski kita tidak ingin menuhankan misteri. Setidaknya hal ini menjadi gambaran bila menjadikan diri sebagai batasan bukanlah cara yang benar, sebab, kenyataan berbicara bila kita banyak tidak tau daripada apa yang telah kita ketahui. Artinya, manusia bisa maju membentuk peradaban karena selalu belajar, dari pembelajaran inilah ada buah yang bisa dipakai meski bersifat kesementaraan karena akan selalu ada pembaharuan.
Demikian juga dengan agama.Ketika sebenarnya agama juga mengalami pembaharuan meski rentang waktunya sangat panjang hingga ribuan tahun lebih, maka mempertanyakan paradigma dan perspektif agama itu adalah sah. Ini akan bisa mengangkat nilai asli dari ajaran agama itu sendiri. Seperti contoh yang telah saya tuliskan di atas bila ajaran Islam ini memiliki akar dari kebudayaan pagan Arab kuno, dan hal itu juga memiliki akar pada tauhid era nenek moyang mereka Ibrahim yang jauh lebih kunolagi, dan Ibrahim a.s. memahami teologi dari sisi filosofis tentang alam dimana ini selaras dengan teknik yang biasa digunakan dalam sistem animisme-dinamisme.
Bila agama sebenarnya juga bermuara pada pemahaman tentang alam, kenapa akhirnya agama (Islam) semakin jauh dari nilai-nilai harmoni dengan alam, bahkan lebih cenderung pada aplikasi di wilayah politik?. Bila ada yang menanyakan :”Apakah semua politik itu negatif”, saya menjawab :”Secara kencenderungan nya memang begitu meskipun politik harus ada untuk kemaslahatan umat, akan tetapi manusia cenderung akan berlaku zalim ketika dia sudah di puncak atas dari satu sistem hirarki”.
Ketika konsep-konsep alam sudah mulai di tinggalkan dalam pemahaman agama, artinya agama itu mulai kering dari nilai esoteris nya, sebab, agama berusaha digunakan untuk eksploitasi manusia padahal demi siapa eksploitasi itu juga tidak jelas, toh Tuhan sendiri tidak bisa dibuktikan riil keberadaan-Nya dan hanya seputar teori-teori teologi, atau, pengalaman mistikal orang-orang tertentu yang tidak akan pernah muncul kepermukaan kecuali selain sebagai martir.
Agama-agama sendiri menubuatkan kepunahan mereka, artinya, evolusi juga terjadi pada agama-agama. Lalu, apakah agama ini artinya haruslah tentang teologi atau pun juga mistisisme yang mana dua hal ini arahnya dihadapan obyek Tuhan adalah sama, yaitu pancarian. Lalu bagaimana bila sudut pandang lain yang berbicara dimana Tuhan bukan pencarian lagi, akan tetapi “Di dalam Tuhan”. Hal itu adalah sangat mungkin, sebab, Tuhan (bila diyakini sebagai) adalah obyek hidup yang juga punya kehendak bebas-Nya sendiri yang tak bisa dimengerti dan di kontrol oleh manusia, yang selain itu Tuhan juga penguasa segala sesuatu termasuk waktu dan segala dimensi beserta rumusannya.
Ketika sains mulai mengembangkan gagasan memahami dan eksplorasi tentang alam berdasar hukum fisik (fisika) dan matematika (ilmu pasti) sehingga produknya dapat digunakan bersama, dan sains juga tidak loba mencari pengakuan bila dia adalah jalan hidup dan kebenaran, akan tetapi sains adalah alat produk manusia untuk manusia. Lalu apakah manusia tidak layak berterima kasih pada Sang Pemberi akal. Jadi, apakah kelak sains akan menggantikan posisi agama bila agama itu telah musnah. Benarkah dengan musnahnya agama akan musnah pula bentuk-bentuk moral?. Dan bagaimana bisa sains yang alat dianggap sebagai penghapus moral oleh anggapan kebanyakan para agamawan. Bukankan moral dibangun dari konsep mistisisme dan teologi sedangkan sains tidak punya kontradiksi dengan hal itu dimana sains adalah teknik dan alat?!
Jadi, anggapan sains kontra dengan agama itu pendapat yang kurang tepat meski memang sebagian para saintis memang atheis, akan tetapi bentuk seperti itu semisal para agamawan akan tetap berkolaborasi dengan politisi untuk melakukan genosida seperti beberapa waktu terakhir ini terjadi di Suriah dan Irak. Maka antara gagasan sebagai kerangka pikir global dan individu harus dipisahkan dalam memahami hal ini.
Apakah sains akan mampu memahami teologi terlebih di up grade menjadi agama di masa depan setelah agama-agama resmi itu semua sirna. Kita tidak tau, sebab, meramal bukan pekerjaan yang baik bila obyeknya tidak ada atau abstrak. Seandainya pun dari sisi sains sosial seperti antropologi, sosiologi, psikologi, dsb bisa mengurai hal-hal sebagian dari persoalan ini, akan tetapi sekali lagi (hingga saat ini) sains tidak tertarik di wilayah penuhanan karena sains adalah alat, jadi bukanlah user.
Inti persoalannya adalah, seberapa penting dogma atau doktrin agama dimana hal itu terbentuk dikarenakan respon kondisional umat atas gagasan orang-orang tertentu. Ketika hasil interpretasi segelintir orang itu tadi mengubah struktur agama hingga hilang esensi ajaran (kasih) Tuhan, itulah bagian dari evolusi agama. Lalu, apakah esensi agama itu harus dihilangkan karena kebutuhan akan hal-hal ekspansif (dakwah) secara membabi-buta sehingga agama nilainya menjadi (sepenuhnya) politik?.
Tetapkah Tuhan akan berdiam duduk di singgasana arsy-Nya tanpa peduli dan tinggal menyalahkan atau memberi pahala, dan seandainya pun melakukan respon, apakah dengan cara memberi kerusakan seperti bencana alam dsb. Karena inilah sains berusaha memberi jalan tengah (dengan observasi dan karya) untuk manusia bisa survive dan tidak sibuk dengan menuduh Tuhan dengan tuduhan keji atau penghujatan, meski sains tak jarang sering diberi cap sebagai kafir oleh para agamawan. Siapakah yang menghasut semua ini?. Haruskah teologi tentang Tuhan Perang zaman Musa a.s. berlangsung hingga masa depan?, dan kenapa Tuhan begitu kasih kepada (zaman) Ibrahim a.s. sebelum Musa. Sebenarnya semua ini gagasan Dia sendiri atau gagasan manusia. Lalu kenapa yang tidak ingin terlibat pertikaian pemikiran agama dan berkarya (sains) juga harus dilibatkan dengan memulai dari tuduhan-tuduhan?. Kenapa agama tidak pernah lepas dari tuduhan dan klaim dan berujung pada pertikaian.
Seandainya sains bisa membuahkan produk final dari kebutuhan kemanusiaan, akankah sains dianggap tuhan oleh manusia?, Apakah Allah tidak akan cemburu dan bertambah keluh kesah-Nya karena keinginan-Nya untuk dikenal manusia sudah di abaikan, tentu kesedihan-Nya semakin dalam. Tetapi kenapa dia juga tidak begitu banyak memberikan rahmat bagi dunia ini dengan banyak memberi pilihan yang sulit?. Seandainya dikatakan: “Manusia di dunia di gembleng agar bangkit potensinya”. Saya menjawab: “Untuk siapakah semua itu?, sebab, ketika setiap manusia yang hidup di dunia ini diberlakukan tanggung-jawab akan kehidupan baik atas dirinya dan juga orang lain”

About adminislat1

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *