Home / Isu-isu Dunia Islam / Feminisme islam dan Civil Society

Feminisme islam dan Civil Society

Sejak hampir seabad lalu banyak di antara kaum perempuan termasuk perempuan muslim, merasakan ketimpangan dalam relasi gender. Perjuangan menciptakan keadilan gender diwujudkan dengan gerakan feminisme. Secara garis besar tak ada perbedaan antara feminism islam dan feminism yang berkembang di dunia barat, kecuali feminism islam berpijak pada teks teks sacral keagamaan.

Secara umum feminism diartikan sebagai kesadaran akan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan yang disebabkan oleh adanya sistem sosial yang tidak adil, yakni perbedaan jenis kelamin, dominasi laki laki, dan sistem patriaki. Definisi feminism tidak hanya sampai batas kesadaran. Feminism juga mensyaratkan tindakan untuk mengubah keadaan tersebut. Dengan kata lain pemahaman harus disertai dengan tindakan.
Secara umum dapat disebutkan bahwa tujuan perjuangan feminism adalah mencapai kesetaraan harkat, dan kebebasan perempuan dalam memilih dan mengelola kehidupan dan tubuhnya baik di dalam maupun di luar rumah tangga. Karena civil society yang kuat tidak bisa harus disangga oleh tatanan sosial yang bersifat partisipatoris, yakni melibatkan semua unsur di dalamnya, termasuk kaum perempuan yang sadar akab hak hak mereka sebagai warga masyarakat.

Namun ada dua hal yang digarisbawahi dalam pengertian feminism. Pertama, feminism bukan bertarung melawan laki laki. Feminism adalah perjuangan menentang perspektif maskulin yang sudah demikian terinternalisir dalam pemikiran masyarakat sehingga dianggap sebagai kebenaran. Kedua, feminism tak dapat dipahami secara monolitik. Realitas cultural, pengalaman sejarah masyarakat, dan tingkat kesadaran serta persepsi yang menentukan tindakan menentukan corak perjuangan feminism yang berbeda beda.

Feminisme islam tidak dapat dilepaskan dari teks teks keagamaan yang sangat menentukan kesadaran masyarakat. Umat islam berpendapat bahwa kedatangan islam secara radikal memperbaiki peran dan status perempuan. Sebelumnya pada masa jahiliyyah, perempuan hanya dipandang sebagai beban keluarga.

Kedatangan islam membawa banyak perubahan. Dasar ikatan pernikahan yang semula kepemilikan diganti dengan menjadi ikatan kontraktual. Perempuan berhak menyatakan keberatan terhadap calon suaminya yang disodrokan walinya. Selain itu, mahar yang ditetapkan sebagai milik wali diubah menjadi sepenuhnya milik perempuan. Mahar bukan berfungsi sebagai “alat beli” perempuan, melainkan bentuk penghormatan laki laki terhadap perempuan yang akan dinikahinya.
Ketidakadilan yang dibenarkan dengan mengutip teks teks suci dianggap kaum feminis sebagai pangkal penindasan terhadap perempuan. Karena itu rekontruksi pemahaman tradisional terhadap agama dianggap sebagai sesuatu yang imperative untuk menghapus perbedaan status laki laki dan perempuan.

Tafsir harus dibedakan dengan agama. Agama bersifat mutlak dan berada di dataran abstrak, sementara tafsir sesuai dengan realitas penafsirnya bersifat relative. Bahasa Al Quran sebenarnya membuka pintu dialog dan penafsiran kembali selalu terbuka, inilah yang menjadikan Al Quran sebagai rujukan yang actual.

Dengan demikian feminism, termasuk feminism islam, tidak sekedar berupaya membongkar ketidakadilan gender yang selama ini mendapat pengesahan agama. Caranya adalah denga menggunakan proposisi keadilan yang selama ini yang diklain diusung oleh islam, yakni bahwa islam pada dasarnya menghendaki kedudukan setara (equal) antara laki laki dan perempuan.

 

Nurul agustina

About adminislat1

Check Also

Rahasia Berdoa

” Apabila Alloh telah melepaskan lidahmu untuk meminta, maka ketahuilah bahwa alloh akan memberi kepadamu”. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *