Home / Keindonesiaan / Filsafat Transendental : Bineka Tunggal Ika (bag.1)

Filsafat Transendental : Bineka Tunggal Ika (bag.1)

BHINNEKA TUNGGAL IKA

Dalam setiap agama, Tuhan diyakini sebagai Sang Pencipta, sementara semua yang di luar Tuhan disebut sebagai makhluk-makhluk ciptaanNya. Setiap agama meyakini bahwa Tuhan itu tunggal adanya, sementara makhluknya beragam-ragam, majemuk dan berbhinneka. Sederhananya, setiap agama ingin menyampaikan pada penganutnya tentang Bhinneka Tunggal Ika, beragam-ragam namun tunggal jua adanya.

Bagaimanakah kita memahami kemanunggalan atau bhinneka tunggal ini? Sebenarnya sudah banyak para ahli teologi, filsafat dan tasawuf yang menulis dan mencoba memaparkan persoalan ini dengan metode dan pendekatan masing-masing. Namun sepengetahuan penulis masih jarang sekali tulisan yang disampaikan dengan bahasa sehari-hari sehingga para pembaca dapat lebih mudah memahami makna Bhinneka Tunggal Ika dari pembahasan soal Ketuhanan Yang Maha Esa.

Perumpamaan Aktor dan Peran

Oleh karena itu, demi memudahkan para pembaca, penulis menyajikan tulisan ini dengan bahasa  yang sangat disederhanakan, menggunakan perumpamaan aktor dan peran, dengan contoh-contoh kasus di depan mata kita sehari-hari sampai kita memahami bahwa bhinneka tunggal itu sebenarnya, beragam-ragam, beraneka warna dan bentuk, namun pada hakikatnya tunggal saja adanya.

Aktor adalah tokoh pelaku yang bertindak sebagai pemeran dari suatu cerita film atau drama. Adapun peran artinya lakon yang ‘dimainkan’ oleh pemeran atau aktor tersebut.

Dalam film “Si Doel Anak Sekolahan” misalnya, peran Si Doel dilakoni oleh seorang aktor yang kita kenal sebagai Rano Karno. Rano Karno sebagai aktor yang berperan melakoni watak remaja Betawi bernama Si Doel. Dari satu sisi kita melihat Rano dari sisi lain kita melihat Si Doel, ada dua nama Rano dan Si Doel tapi kenyataannya satu, Bhinneka Tunggal Ika. Setiap kita melihat Si Doel, pada saat yang sama kita tengah menyaksikan Rano Karno. Kita tidak mungkin melihat Si Doel tanpa menyaksikan Rano Karno.

Apa pun yang sedang dilakukan si Doel dalam film itu, sesungguhnya Rano Karno-lah yang secara nyata melakukannya baik ketika Si Doel berjalan, berbicara, naik motor, nyetir mobil, pergi kuliah, sampai ketika Si Doel jadi tukang insinyur, sebetulnya, semua yang kita saksikan adalah Rano Karno. Tak ada sosok Si Doel tanpa sosok Rano Karno. Singkatnya, tak ada peran tanpa sesosok aktor di balik peran tersebut, dan tak mungkin kita melihat peran tanpa menyaksikan sosok aktor di baliknya.

Dunia Panggung Peran-peran dalam bentuk sandiwara

Kata Ahmad Albar dalam lagunya :

“Dunia ini panggung sandiwara

Cerita yang mudah berubah

Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani

Setiap kita dapat satu peranan

Yang harus kita mainkan

Ada peran wajar ada peran berpura-pura

Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak

Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang”.

Begitulah yang disebut panggung sandiwara; ada peran sedih, peran bahagia, peran susah, peran senang, peran kaya, peran miskin, peran murid, peran guru, peran anak , peran orang tua dan seterusnya.

Di Balik setiap Peran Terdapat Aktor

Jadi, setiap saat kita melihat peran dan aktor yang bertindak di balik peran tersebut. Ketika kita melihat Si Doel tentu saat itu kita menyaksikan Rano Karno di baliknya, dari arah mana pun kita melihat Si Doel, kita hanya menyaksikan Rano Karno sebagai keadaan yang sesungguhnya.

Dari contoh kasus Rano-Si Doel, mari  kita melihat kasus-kasus lain. Sebagai contoh, saat kita melihat ‘uang’ saat itu kita menyaksikan sosok ‘kertas’ sebagai aktornya, dari arah mana pun kita melihat ‘uang’, kita hanya menyaksikan ‘kertas’ sebagai keadaan yang sesungguhnya, begitu pun saat kita melihat ‘ombak’ di tepi pantai, saat itu pula kita tengah menyaksikan ‘air’ sebagai aktornya, dari arah mana pun kita melihat ‘ombak’ kita hanya menyaksikan ‘air’ sebagai sosok aktor yang sesungguhnya.

Kita dapat mendaftar fenomena aktor-peran sebanyak fenomena alam di sekitar kita. Sang aktor seringkali memainkan banyak peran dalam waktu bersamaan ; ‘kertas’ dapat berperan sebagai uang, amplop, buku, kalender, majalah, koran, sertifikat, tissue, kartu, dan lain-lain. ‘Air’ dapat berperan sebagai ombak, hujan, embun, es, garam dan sebagainya. ‘Besi’ dapat berperan sebagai paku, palu, kunci, kampak, tiang dan seterusnya. ‘Kayu’ dapat berperan sebagai pintu, kursi, meja, lemari, dipan, mistar dan sebagainya. Begitu pun ‘manusia’, dapat berperan sebagai orang tua, anak, guru, murid, pemimpin, rakyat, pengusaha, pegawai dan seterusnya.

Dari semua peristiwa yang kita lihat dan amati, tak mungkin ada suatu peran tanpa wujud aktor di balik peran tersebut. Tak mungkin ada hujan tanpa air, mengapa? Karena hujan adalah peran yang dilakoni oleh air, tak mungkin pula ada paku tanpa besi, mengapa? Karena besi adalah aktor di balik peran paku, tak mungkin kita melihat tissue tanpa kertas, pintu tanpa kayu, baju tanpa kain dan seterusnya. Artinya, tak mungkin kita melihat peran tanpa menyaksikan sosok aktor pemain yang melakoni di balik peran tersebut; saat kita melihat peran maka saat itu kita pasti menyaksikan aktornya, melihat Si Doel pasti menyaksikan Rano, melihat ombak pasti menyaksikan air, melihat pintu pasti menyaksikan kayu, melihat paku pasti menyaksikan besi, melihat baju pasti menyaksikan kain dan sterusnya.

Manakah Yang Lebih Nyata dan Jelas Antara Aktor dan Perannya

Ketika kita merogoh saku biasanya dengan begitu saja kita mengambil ‘uang’, namun  pernah kita bertanya dalam pikiran kita, apakah sesungguhnya yang kita ambil dari saku kita itu? Apakah itu ‘uang’ atau ‘kertas’? Sekarang kita mulai mengerti. O, yang saya keluarkan dari saku saya adalah ‘kertas’ yang sedang berperan sebagai ‘uang’. Lalu kita masukkan ‘uang’ itu ke dalam amplop, bukankah amplop itu juga ‘kertas’ yang sedang berperan sebagai ‘amplop’? Bolehkah kita katakan bahwa sebenarnya, saat kita memasukkan uang ke dalam amplop, kita sedang memasukkan ‘kertas’ ke dalam ‘kertas’, yaitu ‘kertas yang sedang berperan sebagai ‘uang’ kita masukkan ke dalam ‘kertas’ yang sedang berperan sebagai ‘amplop’.

Manakah yang lebih nyata dan lebih jelas antara ‘uang’ dan ‘kertas’? Tentu akal kita mengatakan bahwa ‘kertas’ lebih nyata dan lebih jelas daripada ‘uang’, sebab ‘kertas’ adalah aktor sementara ‘uang’ hanyalah peran yang sedang dilakoni oleh sang kertas, kita tak dapat melihat ‘uang’ tanpa menyaksikan keberadaan ‘kertas’ yang lebih nyata dan lebih jelas daripada ‘uang’. Manakah yang lebih nyata dan lebih jelas ‘kertas’ atau ‘amplop’? Lagi-lagi, akal kita mengatakan bahwa ‘kertas’ lebih nyata dan lebih jelas daripada ‘amplop’, sebab ‘kertas’ adalah aktor sementara ‘amplop’ hanyalah peran yang sedang dilakoni oleh sang kertas, kita tak dapat melihat ‘amplop’ tanpa menyaksikan keberadaan ‘kertas’ yang lebih nyata dan lebih jelas daripada ‘amplop’ itu. Jadi jika kita hanya berbicara di wilayah aktor, kita boleh mengatakan bahwa kita seringkali memasukkan ‘kertas’ ke dalam ‘kertas’. Namun karena kita berbicara di wilayah peran, maka kita katakan bahwa kita memasukkan uang ke dalam amplop.

Aktor Peran Keterangan
Rano Karno Si Doel Melihat peran pasti menyaksikan aktor di baliknya. Aktor lebih nyata dari perannya, karena aktor berposisi sebagai asal-usul dan sebab bagi berlakunya peran.
Air Ombak, hujan, embun, buih
Besi Paku, palu, kapak, linggis
Kertas Uang, amplop, tissue, kalender
Kayu Pintu, kursi, meja, almari
Kain Baju, celana, gordyn, sapu tangan

Mungkinkah Peran Berpisah dan Bersembunyi dari Sosok Aktornya

Berbicara aktor-peran, kita boleh mengajukan suatu pertanyaan, mungkinkah peran dapat berpisah dari sosok aktornya meskipun sejenak? Mungkinkah Si Doel dapat berpisah dari Rano Karno, uang dari kertas, ombak dari air, paku dari besi, pintu dari kayu dan seterusnya? Tentu saja tidak akan mungkin terjadi bahwa suatu peran berpisah dan melepaskan diri dari sosok perannya. Untuk selamanya, peran tak akan mungkin berpisah dan bersembunyi dari keberadaan sang aktor. Si Doel tak mungkin sembunyi dari Rano, di mana pun Si Doel mengambil posisi tempat bagi dirinya pasti di situ ada sosok Rano Karno yang selalu menyertai Si Doel dan bahkan tak kan pernah ada posisi, situasi dan kondisi Si Doel yang terlepas dari posisi, situasi dan kondisi Rano Karno, di mana pun Si Doel menempatkan dirinya di situ ada Rano sedang meyertainya, apa pun yang dilakukan Si Doel sebenarnya Rano-lah yang melakukannya, apa pun yang dirasakan Si Doel dirasakan Rano, tak pernah ada situasi dan kondisi di mana Si Doel merasakan sesuatu Rano tidak merasakannya, tidak ada situasi dan kondisi di mana Si Doel menghayalkan sesuatu Rano tidak mengetahui hayalan Si Doel. Kesadaran Rano Karno sebagai aktor lebih dekat terhadap diri Si Doel, daripada kesadaran Si Doel terhadap diri Si Doel sendiri.

Peran selamanya tak dapat berpisah dan bersembunyi dari sosok aktornya. Sosok aktor melekat pada sosok perannya. Aktor selalu bersama perannya di manapun perannya itu berada. Rano Karno selalu bersama Si Doel di mana pun Si Doel berada, kertas selalu bersama uang, besi selalu bersama paku, kayu selalu bersama pintu, air selalu bersama ombak dan begitu seterusnya.

 

About adminislat1

Check Also

Dalam NKRI Tak Ada Orang Kafir

Dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tak ada orang kafir. Pemeluk agama disebut berdasar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *