Home / Keindonesiaan / Filsafat Transendental : Bineka Tunggal Ika (bag.2)

Filsafat Transendental : Bineka Tunggal Ika (bag.2)

Menyadari Hakikat ADA

Pernahkah kita merenung sejenak tentang hakikat ADA? Apakah ADA hanya sebatas kata sifat dari suatu struktur kalimat yang terdiri dari subjek dan predikat. Apakah ‘ Kertas ada‘, hanya bermakna bahwa kata kertas berposisi sebagai subjek, dan kata ‘ada’ berposisi sebagai predikat? Apakah, karena begitu terbiasanya kita mengatakan “ADA” sehingga kita luput dari pengertian dan kesadaran akan hakikat “ADA” itu sendiri? Bukankah, sebenarnya, ketika kita mengatakan kertas-uang, semestinya harus didahului dengan ADA kemudian KERTAS kemudian UANG. Bukankah ADA menjadi sebab bagi adanya kertas, dan kemudian kertas menjadi sebab bagi adanya uang?

Baiklah, jika logika kita mengatakan bahwa ‘kertas-uang’ itu berarti kertas sedang berperan sebagai uang, bukankah juga ungkapan ADA KERTAS berarti ‘ADA’ sedang berperan sebagai kertas? Bukankah saat itu sesungguhnya ADA tengah berposisi sebagai aktor dan kertas berposisi sebagai peran? Dapatkah mata kita melihat uang tanpa menyaksikan kertasnya ? Dan dapatkah akal kita menyaksikan kertas jika kesadaran kita mengatakan kertas itu tidak ada?

Pandangan mata kita melihat sisi uang dengan segala fungsinya yang nyata sebagai alat tukar dalam kegiatan jual-beli, dan pandangan akal pikiran kita mengamati objeknya yang lebih nyata yaitu adanya kertas sebagai sebab bagi keberadaan uang, lalu kesadaran kita menyaksikan yang Maha Ada begitu nyata sebagai sebab utama bagi semuanya.

Di wilayah kualitas pandangan mata dan pandangan akal pikiran, kita amati ternyata antara subjek dan objek terpisah, namun di wilayah aktor dan sebab utama , antara subjek dan objek adalah identik, satu dan sama. Pandangan mata melihat objeknya di luar, yaitu uang, pandangan akal pikiran pun melihat objeknya berjarak dengan dirinya yaitu kertas, namun penyaksian kesadaran melihat objeknya dari dalam dirinya sendiri, yaitu ADA. MATA melihat UANG, AKAL melihat KERTAS, ADA menyaksikan ADA.

Saat kita menatap dan mengamati ‘uang’ lalu kita sentuh dengan kesadaran penuh, bibir kita pun berbisik; Ooo… ternyata yang ‘ada’ di tangan saya ini betul-betul kertas. Pada kenyataannya, meski kita tidak membahasakannya, saat kita menempelkan tangan kita pada ‘kertas’ itu, ternyata memang ‘kertas’ itu benar-benar ‘ada’, bentuknya ‘ada’, volumenya ‘ada’, warnanya ‘ada’, rasanya ‘ada’, sensasinya ‘ada’, aromanya ‘ada’ dan nominalnya pun ‘ada’. ‘ADA’ demikian mendominasi keberadaan ‘kertas’. Ternyata di situ ‘ADA’, tengah memerankan, memamerkan, dan memperkenalkan diriNya berupa bentuk sesuatu dan tertentu yang kita beri nama kertas, bentuk, volume, warna, rasa, sensasi, dan aroma. ‘ADA’ begitu mendominasi, meliputi dan menyelimuti sesuatu yang kita sebut sebagai ‘kertas’. ‘Ada’ begitu nyata. Tentu, ‘ADA’ di sini bukanlah bahasa, bukan kata sifat, tapi sesuatu yang nyata.

Di hadapan ‘KERTAS’, ‘uang’ hanyalah nama, identitas kosong, dan hanya suatu sebutan tanpa realitas. Kini di hadapan ‘ADA’, nasib si-‘kertas’ pun hanya merupakan sebutan dan identitas baru yang dikonsepsikan oleh pikiran kita. Pada kenyataannya, ternyata, hanyalah ‘ADA’ yang tengah berperan sebagai sesuatu dan dalam bentuk tertentu yang kita panggil dengan identitas baru dan nama baru yaitu : ‘kertas’. Di hadapan ‘ADA’ si-kertas hanyalah nama tanpa realitas.

Jika diperluas jangkauan yang meliputi keberadaan kertas dan lingkungan sekitarnya, akan kita temukan lagi-lagi ‘ada’ begitu mendominasi seluruh keberadaan yang kita sebut sebagai keberadaan. Bukankah saat kita menyentuh kertas, ternyata ‘kertas’nya ‘ada’, jemari kita pun ‘ada’, tenaga yang menggerakkan jemari kita pun ‘ada’, ruang di mana kita berada saat kita menyentuh pun ‘ada’, durasi waktu saat kita menyentuh pun ‘ada’, kesadaran kita saat menyentuh pun ‘ada’. Masihkah kita beranggapan bahwa ‘ada’ di situ sekedar kata sifat yang berposisi sebagai predikat. Atau Dia adalah realitas yang menyelimuti seluruh keberadaan ?

Dan misteriusnya, ‘ada’ sudah ada sebelum kita, kertas, ruang, waktu, tenaga, kesadaran, dan seluruh keberadaan yang meliputinya ada.Bahkan ‘ada’ akan tetap ada dan akan terus ada meski kita dan apa pun yang kita sebut keberadaan ini sudah tiada lagi.

‘Ada’ mendominasi ruang; atas ‘ada’ , bawah ‘ada’ , samping ‘ada’ depan ‘ada’, belakang ‘ada’, sisi kiri-kanan ‘ada’. ‘Ada’ pun mendominasi waktu; sekarang ‘ada’ kemarin ‘ada’, esok ‘ada’, nanti ‘ada’, tadi ‘ada’, durasinya pun ‘ada’.

Tengoklah ke dalam diri kita, bukankah ‘ada’ meliputi dan menyelimuti keseluruhan dan bagian-bagian keberadaan diri kita? Kesadaran kita ‘ada’, pikiran ‘ada’, khayalan ‘ada’, imajinasi ‘ada’, firasat ‘ada’ , akal nurani ‘ada’, jiwa ‘ada’, jasmani ‘ada’, otak ‘ada’, tulang ‘ada’, urat ‘ada’, saraf ‘ada’, sumsum ‘ada’, daging ‘ada’, darah ‘ada’, kulit ‘ada’, rambut ‘ada’ dan DNA ‘ada’. ‘Ada’ mendominasi seluruh keberadaan lahir batin kita. Bagaimana kita dapat lari dan menyembunyikan diri dariNya? Segenap susunan dan tata tertib alam metafisika dan alam fisika dalam liputanNya. Dapatkah ditemukan suatu ruang di mana ‘ada’ absen di situ ? Dapatkah didapati suatu waktu saat mana ‘ada’ absen di saat itu? Bukankah ruang hampa pun realitasnya ‘ada’ juga? Dapatkah kita menunjuk suatu objek di mana ‘ada’ tidak hadir di situ?

‘Ada’ sudah ada sebelum huruf-huruf a, d, dan a yang terangkai menjadi kata sehingga tertulis dan terbaca sebagai ADA itu, ada. ‘Ada’ sudah ada sebelum kita menyebut kata ada, dan ‘ada’ akan tetap ‘ada’ meski kata ‘ada’ sudah tak ada lagi. Huruf-huruf dan kata pun dapat disebut dan berfungsi sebagai huruf dan kata karena ‘ada’, jika huruf dan kata tak ada, bagaimana kita susun menjadi kalimat?

 

 

Ada Hadir Meliputi Segala Sesuatu

‘Ada’ terdapat dalam sesuatu dan saat yang sama didapati di luar sesuatu. ‘Ada’ terdapat di atas sesuatu namun di saat yang sama ‘ada’ terdapat di bawah sesuatu. Manakala ‘ada’ terdapat di dalam sesuatu pada saat yang sama ‘ada’ berada di luar sesuatu itu. Manakala ‘ada’ terdapat di atas sesuatu pada saat yang sama ‘ada’ juga berada di bawah sesuatu itu. ‘Ada’ meliputi segala sesuatu.

Tengoklah ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah, ke luar dan ke dalam,ke tempat yang dekat dan ke tempat yang jauh, kita hanya takjub dan berkata luar biasa,ternyata semuanya ‘ADA’, ternyata yang ‘ada’ hanya ‘ada’ selain ‘ada’ tiada. Ternyata ‘ada’ tak terbatas, sedemikian tak-terbatasnya maka Dia hanya sendiri, Maha Esa, Maha Tunggal. Yang benar-benar ada dan nyata hanyalah ‘ADA’ dan Dia-lah yang Esa itu, Yang Tunggal itu. Dia adalah sang Aktor tunggal dari segala keberadaan. Peran-peranNya begitu banyak dan tak terbatas, multi dimensi, beraneka bentuk, bermacam warna, rasa dan aroma, namun pada hakikatnya Dia hanya Sendiri. Bhinneka Tunggal Ika.

Sudahkah kita menyadari bahwa ADA menjadi aktor tunggal atas segala keberadaan ini? Ada kertas, ada uang, ada amplop, ada kayu, ada pintu, ada kursi, ada meja, ada besi, ada kain, ada air, ada udara, ada langit, ada bumi, ada laut, ada hutan, ada pohon, ada hewan, ada unggas dan seterusnya?

Sang Ada itu Maha Tunggal dan maha Esa, begitu agung dan sempurna keagunganNya. Bahkan Dia melampaui kata agung yang kita sebut sebagai keagunganNya, Dia melampaui kata sempurna yang kita sebut sebagai kesempurnaanNya. Sang Maha Tunggal yang hadir dalam skala penuh diriNya di dalam diriNya, hanya diriNya yang mengenal diriNya. Semua sebutan keagungan dan kesempurnaan hanya sebatas gagasan kita yang di hadapan hakikat Kesempurnaan dan KeagunganNya tak bernilai dan tak berharga sedikit pun.

Karna Maha tunggal maka Dia Maha Mandiri. KemandirianNya menunjukkan ketak-bergantunganNya. Ketak-bergantungan-Nya menunjukkan bahwa Dia Maha Kuat. KekuatanNya menunjukkan bahwa Dia Maha Kaya. Karena Dia Tak Terbatas, maka KekayaanNya pun tak terbatas pula. Dengan kekayaanNya Dia memberi secara tak terbatas, meski demikian seluruh pemberianNya tak kan mengurangi keberadaanNya sedikit pun.

Dia memberi kita kehidupan, maka kehidupan pun ‘ada’, Dia memberi kita kemampuan, maka kemampuan kita pun ‘ada’, Dia memberi kita nafas maka nafas kita pun ‘ada’, Dia memberi kita darah yang mengalir di tubuh maka darah kita ‘ada’, Dia memberi kita semangat dan tenaga, maka semangat dan tenaga kita pun ‘ada’. Dia –lah pemberi saham tunggal dan total bagi hidup dan kehidupan kita, kita tak memiliki saham sebutir debu sekalipun bagi keberadaan kita sendiri. Bagaimana mungkin kita mengklaim kebaikan-kebaikan yang kita lakukan di hadapan kebaikanNya? Bukankah Dia lebih berhak mengklaim segala kebaikan itu , karena sepenuh sahamnya-lah sebenarnya yang bekerja? Jika kebaikan-kebaikan saja tak pantas kita banggakan di hadapan keagunganNya, lalu mana mungkin kita dapat membanggakan segala keburukan kita di hadapan kuasaNya? Apakah dengan kemampun, semangat dan tenaga yang Dia berikan pada kita, kita gunakan untuk merusak sistem dan tatanan ciptaanNya? sekali kita melakukan pelanggaran terhadapNya sejatinya kita tak akan pernah sanggup untuk memohon maaf padaNya, bukankah untuk memohon maaf kita butuh fasilitas tambahan berupa keinginan dan kemampuan memohon maaf ? Jika pun Dia memaafkan kesalahan kita itu bukan karena hak dan prestasi yang membuat kita layak dan pantas menerima maaf dan ampunan, tapi itu murni karna kasih sayangNya.

Tak ada sikap yang lebih pantas kita kedepankan kehadiratNya selain berterimakasih atas segala fasilitas dan kelimpahanNya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang yang kita terima sebagai kemurahanNya. Dan sejatinya, terimakasih yang kita sampaikan kepadaNya pun semestinya melahirkan terimakasih lagi, karena saat kita berterimakasih kita butuh fasilitas tambahan berupa keinginan dan kemampuan berterimakasih. Pun, manakala terimakasih kita dihargai olehNya hal itu lagi-lagi bukan karena prestasi kita sehingga membuat kita layak dan pantas menerima penghargaan, lagi-lagi, itu semua karena Dia Maha Pandai Berterimakasih.

Dapatkah kita menunjuk suatu objek sementara ADA absen di situ? Bukankah setiap kita melihat, menyentuh dan merasakan sesuatu pasti ADA hadir di situ, sebagai penglihatannya, sebagai sentuhannya , sebagai rasanya, dan sebagai objeknya pada saat bersamaan? Bukankah ADA meliputi segala sesuatu? Bukankah sesuatu disebut sesuatu karena ada? Bukankah ADA sudah hadir terlebih dahulu sebelum kata ada itu sendiri? Bukankah ADA sudah ada sebelum alam semesta ini ada? Bukankah ADA akan tetap ADA meski alam ini sudah tiada lagi? Bukankah pada akhirnya yang ADA hanya ADA, selain ADA tiada? Bukankah kesadaran kita mengatakan bahwa ADA itu tak terbatas? Bukankah tak-terbatas itu artinya hanya Dia Sendiri yang ADA? Bukankah SANG ADA selalu bersama segala sesuatu kapan dan di manapun sesuatu itu berada? Bukankah ADA selalu bersama kita di manapun kita berada? Bukankah kita tak dapat berpisah dan bersembunyi dariNya? Lalu, siapakah ADA yang sering kita sebut-sebut itu? Bukankah Dia paling sering disebut? Bukankah Dia paling nyata di antara segala keberadaan ini? Lagi-lagi kita bertanya, sudahkah kita menyadari siapakah ADA itu?

Apakah uang dapat berfungsi tanpa kertas? Bukankah kertaspun tak dapat berfungsi jika ia tidak ADA? Bukankah sesungguhnya Sang ADA sedang berperan sebagai segala sesuatu, sebagai besi, sebagai kayu, sebagai air, sebagai udara, sebagai tanah, sebagai langit, sebagai bumi, sebagai gunung, sebagai kita, sebagai otak, sebagai tulang, sebagai urat, sebagai saraf, sebagai daging, sebagai darah, sebagai kulit, sebagai rambut dan seterusnya. Bukankah kita tidak dapat menyebut ‘kita’ jika kita tidak ADA? Bukankah ADA harus mendahului kekitaan kita sehingga kita dapat menyebut kekitaan kita itu? Bukankah saat sang ADA melepaskan diriNya dari kita , kita saat itu pula kita kehilangan diri kita? Bukankah kita tergantung total pada ADA? Bukankah ADA tidak tergantung pada apa pun dan siapa pun? Bukankah tanpa kita dan semesta ini sekalipun, ADA tetap ADA? Bukankah, lagi-lagi, yang ADA hanyalah ADA? Bukankah selain ADA hanyalah tiada? Bukankah ADA itu tunggal adaNya? Bukankah Dia aktor dengan berjuta peran, bukankah Dia Sang Aktor dengan peran-peran tak terbatas?

 

Sang Ada Lebih Nyata

Manakah yang lebih nyata, ADA atau kita? ADA atau alam semesta? Dapatkah kita beraktifitas jika kita tidak punya kemampuan? Dapatkah kita punya kemampuan jika kita tidak hidup? Dapatkah kita hidup jika kita tidak ADA? Bukankah karena ADA maka terjadi peristiwa kehidupan kita? Lalu, siapakah Sang ADA itu ? Bukankah ADA lebih nyata dari pada kita dan daripada apapun yang disebut alam semesta? Bukankah kehidupan ini seluruhnya bergantung padaNya? Bukankah kita dan alam ini diliputi dan dikuasai olehNya ?

Kita kembali pada contoh kasus Rano Karno dan Si Doel? Bukankah di saat mana ada Si Doel di saat itu pula ada Rano? Bukankah Rano tahu ke mana pun Si Doel pergi? Bukankah Rano tahu apa pun yang dikhayalkan Si Doel? Bukankah lebih nyata Rano daripada Si Doel? Bukankah Si Doel tergantung dan bergantung total pada Rano Karno? Bukankah segera Rano karno berpisah dari perannya sebagai Si Doel sesegera itu pula Si Doel kehilangan dirinya? Bukankah Rano Karno tidak tergantung pada si Doel? Bukankah meski tanpa Si Doel, Rano Karno dapat mengambil peran yang lain selain peran Si Doel? Bukankah Rano Karno lebih dekat keberadaannya pada diri si Doel, bahkan daripada Si Doel terhadap dirinya sendiri? Dapatkah Si Doel melakukan suatu tindakan tanpa rano Karno? Dapatkah si Doel membanggakan dirinya di hadapan Rano Karno? Manakah yang lebih nyata antara Rano Karno dan Si Doel?

Dengan analogi Rano-Si Doel di atas, bukankah SANG ADA, SANG MAHA WUJUD, sebagai aktor tunggal setiap saat dan di setiap tempat dan selalu meliputi keberadaan kita? Bukankah di saat mana kita berada di saat itu pula SANG ADA hadir meliputi dan menyelimuti kita? Bukankah Sang ADA tidak pernah absen dari diri kita? Bukankah segera Sang ADA absen dari kita sesegera itu pula kita absen dan lenyap dari kehidupan ini? Bukankah totalitas hidup kita ditopang olehNya? Bukankah kesertaan Sang ADA karena cintaNya yang murni penuh kasih kepada kita? Bukankah tanpa cintaNya kita kehilangan seluruh hidup kita? Mengapa kita sering absen dariNya? Dia selalu mengulurkan tanganNya, mengapa kita seperti pura-pura tidak tahu bahwa tanpaNya kita bukanlah apa-apa? Mengapa kita selalu absen dariNya, padahal Dia tidak pernah absen dari kita? Mengapa kita lebih mengutamakan diri kita daripada cintaNya?

 

Sang ADA sebagai Pembicara, Pendengar, dan Objek yang Dibicarakan

Sang ADA begitu nyata sehingga Dia berbicara tentang diriNya kepada diriNya. Kita tak dapat bicara jika kita tidak ADA, bukankah saat kita bicara sesungguhnya Sang ADA lah sejatinya yang berbicara? Kita tidak akan dapat membicarakan sesuatu jika sesuatu itu tidak ADA, bukankah sesungguhnya Sang ADA juga yang tengah dibicarakan? Dan kita tidak dapat bicara kepada siapapun jika yang kita ajak bicara tidak ADA, bukankah Sang ADA pula sejatinya yang kita ajak bicara? Dan ketika ada pembicaraan seseorang tentang sesuatu kepada orang lain, bukankah sebenarnya Sang ADA sedang berbicara tentang diriNya kepada diriNya? Bukan kah Dia yang bicara, Dia yang dibicarakan, dan Dia pula yang mendengarkan pembicaraan? Bukankah hanya Dia sendiri yang paling nyata di setiap fenomena yang kita saksikan? Bukankah Dia lebih dekat dari kita, bahkan lebih dekat daripada kita terhadap diri kita sendiri? Bukankah Dia lebih tahu daripada kita, bahkan daripada kita terhadap diri kita sendiri?

Bagaimana mungkin Dia tak tahu kapan dan di mana sehelai daun jatuh dari tangkainya, padahal Dialah sebagai aktor yang berperan di balik daun itu? Bagaimana mungkin Rano tidak mengetahui setiap khayalan Si Doel, bukankah dia yang melakoni peran si Doel? Bagaimana mungkin Dia tidak mengetahui semut hitam di balik batu hitam di malam gelap gulita, bukankah Dia yang berperan sebagai semutnya, sebagai batunya dan sebagai malamnya pada saat bersamaan? Bagaimana mungkin Dia tidak mengetahui setiap tindakan kita, bukankah Dia aktor di balik kehidupan kita?

Dia meliputi hidup dan kehidupan kita. Dia Yang Awal Dia pula Yang Akhir, Dia Alpha dan Omega, Lahir Batin, meliputi segala sesuatu, seperti yang sangat indah ditulis oleh Mohyeddiin seorang mistikus dari Andalusia, sedemikian dekatnya, Dia terus memanggil-manggil kita kepada diriNya dengan penuh cinta kasih :

 

Listen, O dearly beloved!


Listen, O dearly beloved!
I am the reality of the world, the centre of the circumference,
I am the parts and the whole.
I am the will established between Heaven and Earth,
I have created perception in you only in order to be the
object of my perception.
If then you perceive me, you perceive yourself.
But you cannot perceive me through yourself,
It is through my eyes that you see me and see yourself,
Through your eyes you cannot see me.

Dearly beloved!
I have called you so often and you have not heard me
I have shown myself to you so often and you have not
seen me.
I have made myself fragrance so often, and you have
not smelled me.
Savorous food, and you have not tasted me.
Why can you not reach me through the object you touch
Or breathe me through sweet perfumes?
Why do you not see me? Why do you not hear me?
Why? Why? Why?

“Listen, dear one, My voice is within you.
I’ve called you so often and you have not heard me.

I am the will between the seen and the Unseen.
Through Me you find yourself, why do you flee Me? …

Others love you for themselves, not who you really are.
Love Me, love Me alone, love yourself in Me.

I am the fragrance within every fragrance.
I am the savor within every savor.
You have not smelled Me and you have not tasted.

Let nothing possess you, nothing in any world.
Be Mine, be for Me, as you are in Me.

Dearly beloved, this way leads to union.
All separation dissolves like a shadow.

Let’s go hand in hand into the court of Truth.
Let Truth place its imprint on us forever.”

(Mohyeddiin)

About adminislat1

Check Also

Dalam NKRI Tak Ada Orang Kafir

Dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tak ada orang kafir. Pemeluk agama disebut berdasar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress database error You have an error in your SQL syntax; check the manual that corresponds to your MySQL server version for the right syntax to use near '%b, %b)' at line 1 for query INSERT INTO `wp_tsw_log` (`IP`, `Time`, `IS_BOT`, `IS_HIT`) VALUES ('54.163.209.109', 1513121276, %b, %b) made by require('wp-blog-header.php'), require_once('wp-includes/template-loader.php'), include('/themes/sahifa/single.php'), get_sidebar, locate_template, load_template, require_once('/themes/sahifa/sidebar.php'), dynamic_sidebar, call_user_func_array, widget_traffic_stats, view