Home / Isu-isu Dunia Islam / Demokrasi / “Gitu Aja Kok Repot”

“Gitu Aja Kok Repot”

“Gitu aja, kok, repot!?” Kita mungkin merindukan ungkapan ini. Terbayang gestur Gus Dur kala mengucapkannya. Suaranya enteng meluncur bebas. Nadanya santai. Nuansa humor terasa mengiring seraya meredakan ketegangan. Pesannya jelas. Jangan merumitkan yang sederhana!

Pernyataan ini rasanya masih relevan sampai sekarang. Apalagi jika mengamati iklim kehidupan beragama di Indonesia. Tiba-tiba, banyak organisasi pembela agama mengapung ke permukaan. Dengan sukarela, mereka mau merepotkan diri mengurusi banyak hal. Misalnya, menjadi “pengawas” kampanye kontestan pilkada. Ada juga yang kerja keras memeriksa simbol pada uang kertas. Sementara lainnya sibuk “menjaga” toko pada hari Natal.

Pendeknya, polisi dan tentara moral tumbuh seperti jamur di musim hujan. Mereka berperan layaknya penanggung jawab integritas akhlak anak bangsa. Mereka menggantikan tugas aparatur negara dalam menerjemahkan hukum serta keadilan.

Fundamentalisme Agama Menguat
Fenomena ini menunjukkan satu hal. Fundamentalisme agama semakin hari kian menguat. Mereka tak lagi malu-malu menunjukkan eksistensinya. Jumlahnya pun bertambah banyak. Gerakannya pun mulai terstruktur dan massif. Arah geraknya yang bersifat ideologis semakin mengentalkan ciri radikalisme. Tak segan lagi, Pancasila, secara terang-terangan, dihina sebagai panca gila atau pantat cina.

Apa dampaknya? Agama, dalam bentuk fundamentalisme, akhirnya terlalu sering melanggar konstitusi. Dia memperkosa kedaulatan hukum. Demi menjaga moral sekaligus membela Tuhan, mereka sering mengambil jalan pintas. Dia menjadi hakim atas segalanya. Sehingga, kata Gus Dur, muncul kerancuan mengenai pemilik kedaulatan hukum tertinggi di negara ini (Islamku, Islam Anda, Islam Kita, 2011:157).

Jika ini dibiarkan terus, maka demokrasi kita sedang berjalan menuju kehancuran. Diskursus, sebagai nadi demokrasi, berdenyut lemah. Perang gagasan tak mungkin tercipta. Dengan begitu, segala perbedaan diharamkan lalu segera harus dimusnahkan. Ujungnya, jelas saja, adalah penghinaan terhadap hak asasi kemanusiaan. Hak untuk menentukan cara hidup sendiri diinjak-injak atas nama Tuhan.

Kata Gus Mus, radikalisme agama akan mereduksi kekayaan budaya dan kebebasan beragama (Ilusi Negara Islam, 2009: 233). Agama ujungnya menampakkan diri dalam rupa formalitas. Ini tentu akan mengganti kepercayaan menjadi ideologi, di mana kepentingan politik akan mengubah batas-batasnya. Agama akhirnya menjadi tujuan akhir, bukan lagi jalan sebagaimana semula diwahyukan. Kalau begini terus, ajaran kitab suci berganti menjadi hukum positif dengan segala sanksi menakutkan. Hasil akhirnya, iman mengecil jadi seremonial belaka.

 

Fenomena ini pun menggambarkan semangat berlebihan dalam beragama. Segala yang ekstrem akan selalu kontraproduktif. Hasil reaksinya pasti tidak sesuai dengan harapan awal.
Sebenarnya, ada motif mulia tersembunyi di balik semua keganjilan ini. Dari situ tersirat, kita berkerinduan menerapkan ajaran Tuhan dalam kehidupan bermasyarakat. Itu tandanya agama masih menjadi orientasi bangsa ini.

Permasalahannya, pengetahuan yang memadai tidak mendukung semangat itu. Akibatnya, agama memainkan komedi yang justru menjelma menjadi tragedi. Dagelan itu merobek rajutan persatuan dan kesatuan bangsa.

Semangat tinggi dibarengi kurangnya pengetahuan membuat realitas agama berubah ironis. Dia mau merelakan diri jadi pion-pion kekuasaan. Dengan tulus, dia menyerahkan dirinya jadi kaki-tangan kepentingan politik. Jiwanya terkorup sampai rela mengkhianati kejujuran. Tangan moralnya tak bertenaga dalam mengawal derap langkah bangsa.

Krisis Akal Sehat
Agama, dalam hal ini, tentu sudah keluar jalur. Dia menjamah yang bukan urusannya. Dia seolah menderita amnesia identitas. Lupa jati dirinya. Ingatannya menyusut tentang peran dan tugasnya.

Krisis akal sehat menjadi ciri utama fenomena agama saat ini. Daya kritis terkikis oleh fanatisme sempit. Mutu intelektualnya bangkrut tergadai. Padahal, nalar adalah kompas dari kepercayaan. Beriman tanpa akal adalah kebutaan. Jadi, tak mengherankan, jika kesudahannya religiositas sering menyimpang dari lintasan.

Sepanjang sejarah Indonesia, di masa inilah pendangkalan agama berada di titik nadir. Pengetahuan terbatas, kini, tak jadi soal, selama suara tetap kencang. Teriakan mengganti peran logika. Semakin lantang itu artinya semakin benar. Alhasil, banyak dari kita mau membela mati-matian, walau tak mengerti apa yang dibelanya

Spiritualitas Baru: Keugaharian
Kekerasan dan kebencian mendominasi wajah agama. Ini menjadi konteks baru di Indonesia. Dalam situasi demikian, kita perlu menuntut pembaharuan dalam cara berkeyakinan. Kita harus menggagas spiritualitas baru. Sesuatu yang relevan dengan konteks menjamurnya gerakan radikalisme. Sebuah gaya beragama tandingan yang bisa jadi pengimbang.

Cikal bakal dari semua ini adalah kerakusan. Orang memperalat agama untuk memuaskan nafsunya. Mereka bersembunyi di balik jubah religiositas agar perutnya kenyang. Dengan lancang nama Tuhan dimanipulasi demi kekuasaan. Ayat suci dipakai sebagai legitimasi kecurangan. Simbol religi digunakan untuk menggadai keadilan.

Hanya keugaharian (kesederhanaan) yang mampu mengalahkan kerakusan. Agama itu sebenarnya sederhana. Ajarannya hanya cinta kasih. Pengabdiannya pada peri kemanusiaan saja. Pesannya adalah persaudaraan abadi antar umat manusia. Keadilan menjadi arah jalannya.

Dia mengurusi masyarakat, bukan negara. Akibatnya, sifat perjuangannya adalah etis, bukan ideologis. Suaranya hanya menghimbau, bukan melarang. Dia mengajak, bukan memaksa. Jika mau, mari berjalan bersama. Kalau tidak, itu pun tak mengapa. Sesederhana itulah agama.

Fanatisme beragama tak lebih dari galeri kedegilan hati dan pikiran. Gus Mus dalam epilog Ilusi Negara Islam menasihati kita. Dia bilang, “Kebodohan adalah bahaya tersembunyi yang ada pada setiap orang, mengatasinya adalah dengan terus belajar dan mendengarkan orang lain.” Artinya, gaya beragama saat ini merupakan sesuatu yang bisa diperbaiki. Caranya dengan meneguk ilmu sebanyak-banyaknya!

“Bajingan mana pun bisa merobohkan gudang, tetapi butuh seorang pandai kayu untuk membangunnya.” Begitu kata Lyndon B. Johnson, mantan Presiden AS, dalam film All The Way. Hanya dengan belajarlah gelapnya kebodohan bisa diusir pergi. Tanpa ini, yang tersisa hanya fanatisme sempit bersifat menghancurkan.

Kita, pada akhirnya, memang membutuhkan sebuah spiritualitas baru dalam menghadapi situasi ini. Ini menjadi tantangan kepada umat, yang percaya Tuhan, untuk memunculkan budaya tandingan. Kita harus mulai membiasakan diri untuk beragama dengan cara sederhana.

Kita harus mendorong kasih dan pengampunan lebih dari segalanya. Karena, bagaimanapun, seperti Ghandi katakan, cinta dan kebenaran akan selalu keluar sebagai pemenang. Itulah inti sari spiritualitas keugaharian!

 

Sumber : http://geotimes.co.id/menuju-spiritualitas-gitu-aja-kok-repot/

About syauqi glasses

Check Also

Ormas Radikal dan Demokrasi yang Tersandera

Demokrasi membuka ruang publik (public sphere) seluas-luasnya, termasuk kepada mereka yang menentangnya. Ini paradoks negeri Muslim …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *