Home / Universalia / Pandangan Dunia / Hirarki Pengetahuan Primer

Hirarki Pengetahuan Primer

Konsep matematika mengenai penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Pengetahuan ini bukan pengetahuan yang berperantara sehingga dapat di golongkan sebagai pengetahuan apriori namun dibawah level dari pengetahuan apriori yang utama yaitut pengetahuan mengenai ‘ada” dan “tiada”. Jadi pengetahuan inilah yang tidak bisa dipertanyakan lagi kebenerannya karena pengetahuan primer ini adalah pengetahuan mengenai segala sesuatu yang disebut “apa” tapi diperoleh dan diketahui melalui kesadaran diri. Inilah yang disebut dengan pengetathuan presensi atau pengetahuan Huduri dalam levelnya yang lebih rendah. jika pengetahuan ini dipertanyakan, maka seluruh pengetahuan akan batal dengan sendirinya. Analoginya adalah seperti prinsip DOS atau operating system dalam komputer yang jika prinsip system ini di utak-atik maka keseluruhan program komputer akan tidak dapat di operasikan.

Pengetahuan Aposteriori (sekunder)
Pengetahuan skunder adalah pengetahuan yang membutuhkan perantara. Pengetahuan ini bergantung pada pengetahuan primer. Pengetahuan ini disebut juga pengetahuan teoritis karena membutuhkan argumentasi berbentuk premis-premis yang tertata yang berujung pada pengetahuan swabukti yang tadi disebuttkan. Bagi pengetahuan ini dibenarkan untuk mengajukan pertanyaan “mengapa’ unuk mengklarifikasi apakah pernyataan-pernyataan jenis ini dapat dikomfirmasi hingga sampai tahap swabuktti. Kesalahan kebanyakan manusia adalah malah memposisikan pengetahuan jenis ini sebagai pengetahuan swabukti yang dikomfirmasi oleh scripture-scripture keagamaan.
Penalaran
Pengetahuan teoritis apapun jika merupakan pengetahuan yang benar, pasti akan kembali pada prinsip-prinsip swabukti atau apriori. Pengetahuan ini disebut dengan pengetahuan aposteriori. Contohnya dalam pertanyaan “listrik mengandung muatan negatif dan positif”, pernyataan ini membutuhkan premis pendukung yang mengandung dua kemungkinan, pertama premis ini merujuk langsung kepada premis swabukti, atau melalui premis yang lebih dekat kepada premis swabukti. Inilah yang disebut dengan penalaran deduktif atau susunan fikir. Setiap pernyataan disebut valid, jika berujung pada premis swabukti.
Premis swabukti  mengenai “ada” dan “tiada” memunculkan konsekwensi adanya gagasan ‘sebab” dan “akibat”. Inilah yang disebut dengan kaidah Ontologis. Rangkaian sebab dan akibat ini melalui prinsip ada ini hanya akan berakhir pada sebab yang tidak bersebab, tidak terbatas, tidak terdefinisikan, dan ekstemporal. Sebab ini adalah “ada” itu sendiri. Dari realitas “ada” sebagai sebab ini, maka muncullah realitas “apa” yang mewujud dalam bentutk alam ini. pengetahuan mengenai sebab dari segala sebab ini diketahui melalui penalaran yang kita sebutkan tadi yaitu penalaran deduktif.
Maka dari sini kita memulai pengetahuan dengan membedakan antara sebab dan akibat. Pengetahuan ini berimplikasi pada banyak hal termasuk pada keyakinan teologis, karena dengan pengetahuan ini kita membagi level realitas baik yang bersifat materi dan non-materi. Berangkat dari pembagian ini kita membagi pengetahuan menjadi pengetahuan teologis, kosmologi dan eskatologi.

About admin

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress database error You have an error in your SQL syntax; check the manual that corresponds to your MySQL server version for the right syntax to use near '%b, %b)' at line 1 for query INSERT INTO `wp_tsw_log` (`IP`, `Time`, `IS_BOT`, `IS_HIT`) VALUES ('54.224.102.26', 1510985485, %b, %b) made by require('wp-blog-header.php'), require_once('wp-includes/template-loader.php'), include('/themes/sahifa/single.php'), get_sidebar, locate_template, load_template, require_once('/themes/sahifa/sidebar.php'), dynamic_sidebar, call_user_func_array, widget_traffic_stats, view