Home / Universalia / Kajian Kontemporer / Islam dan Pluralisme

Islam dan Pluralisme

Beware of being bound up by a particular creed and rejecting others as unbelief! Try to make yourself a prime matter for all forms of religious belief. God is greater and wider than to be confined to one particular creed to the exclusion of others. For He says, ‘‘Wherever you turn, there is the Face of God’’ Q. 2:115. Ibn ‘Arabi

Islam secara teologis dan historis tidak bisa dile­paskan dari agama-agama lain. Hanya saja, bentuk dan corak hubungan tersebut berlangsung menurut konteks hubungan Islam dan agama-agama lain itu dalam lintasan sejarah yang spesifik. Kadang-kadang, berlangsung secara polemis, tetapi lebih banyak terjadi dalam dialog. Namun, prinsip yang mendasari hubungan Islam dan agama-agama lain itu tetaplah sama—sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an dan dicontohkan dalam kehidupan Nabi Muhammad—yakni pengakuan dan penghor­matan akan keberadaan agama-agama lain, dan adanya ruang kebebasan bagi para pemeluknya untuk menjalankan agamanya masing-masing. Dalam bahasa Dale F. Eickelman, seorang ahli Islam kontemporer, “ The Qur’an offers a distincly modern perspective on the role of Islam as a force for tolerance and mutual recognition in a multiethnic, multicommunity world ”.

Ada tiga pengertian pluralisme agama kontemporer yang telah dikembangkan, dan dapat dijadikan dasar pemahaman pluralisme dalam Islam. Ketiga pengertian itu adalah:

Pertama , pluralisme agama adalah keterlibatan aktif dalam keragaman dan perbedaan agama-agama untuk membangun peradaban global. Dalam pengertian ini, seperti tampak dalam sejarah Islam, pluralisme agama lebih dari sekedar mengakui pluralitas keragaman dan perbedaan, tetapi aktif merangkai keragaman dan perbedaan itu untuk tujuan sosial yang lebih tinggi, yaitu kebersamaan dalam membangun peradaban. Pluralisme adalah “pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban”.

Kedua , pluralisme agama dengan pengertian yang pertama, berarti mengandaikan penerimaan toleransi aktif terhadap yang lain. Tetapi pluralisme agama melebihi toleransi. Pluralisme agama mengandaikan pengenalan secara mendalam atas yang lain itu, sehingga ada mutual understanding yang membuat satu sama lain secara aktif mengisi toleransi itu dengan hal yang lebih konstruktif, untuk tujuan yang pertama, yaitu aktif bersama membangun peradaban.

Ketiga , berdasarkan pengertian kedua, maka pluralisme agama bukan relativisme. Pengenalan yang mendalam atas yang lain akan membawa konsekuensi mengakui sepenuhnya nilai-nilai dari kelompok yang lain. Toleransi aktif ini menolak paham relativisme, misalnya pernyataan simplistis, “bahwa semua agama itu sama saja”. Justru yang ditekankan keberbedaan itu merupakan potensi besar, untuk komitmen bersama membangun toleransi aktif, untuk membangun peradaban.

Ketiga pengertian pluralisme agama ini, secara teologis ini berarti bahwa manusia harus memang harus menangani perbedaan-perbedaan mereka dengan cara terbaik (fastabiq-u ‘l-khairât, “berlomba-lomba dalam kebaikan”, dalam istilah al-Qur’an), secara maksimal, sambil menaruh penilaian akhir mengenai Kebenaran kepada Tuhan (karena tidak ada satu carapun yang bisa dipergunakan secara objektif untuk mencapai kesepakatan mengenai Kebenaran yang mutlak ini).

Mohamed Fathi Osman, salah seorang pemikir pluralisme kontemporer mendefiniskan pluralisme agama sebagai, “Bentuk kelembagaan dimana penerimaan terhadap keragaman melingkupi masyarakat tertentu atau dunia secara keseluruhan. Maknanya lebih dari sekedar toleransi moral atau koeksistensi pasif. Toleransi adalah persoalan kebiasaan dan perasaan pribadi, sementara koeksistensi adalah semata-mata penerimaan terhadap pihak lain, yang tidak melampaui ketiadaan konflik. Pluralisme, di satu sisi, mensyaratkan ukuran-ukuran kelembagaan dan legal yang melindungi dan mensyahkan kesetaraan dan mengembangkan rasa persaudaraan di antara manusia sebagai pribadi atau kelompok, baik ukuran-ukuran itu bersifat bawaan ataupun perolehan. Begitu pula, pluralisme agama menuntut suatu pendekatan yang serius terhadap memahami pihak lain dan kerjasama yang membangun untuk kebaikan semua. Semua manusia seharusnya menikmati hak-hak dan kesempatan-kesempatan yang sama, dan seharusnya memenuhi kewajiban-kewajiban yang sama sebagai warga negara dan warga dunia. Setiap kelompok semestinya memiliki hak untuk berhimpun dan berkembang, memelihara identitas dan kepentingannya,dan menikmati kesetaraan hak-hak dan kewajiban-kewajiban dalam negara dan dunia internasional.”

Sementara itu, secara teologis, pluralisme agama didiskursuskan lewat hermeneutika berikut: bahwa secara eksplisit, al-Qur’an menegaskan bahwa Islam adalah penerus agama (millah) Ibrahim (Q. 6:161). Konsekuensinya, Islam tidak hanya mempunyai keterkaitan sejarah, tetapi juga titik-titik temu (adanya common platform) dengan agama Yahudi dan Kristiani yang berasal dari leluhur yang sama, yakni millah Ibrahim. Dengan adanya titik temu ini, Islam memberi landasan teologis bagi para pemeluknya untuk menerima pluralisme agama, yaitu suatu konsep keberagamaan mengenai keberadaan agama-agama lain, dan perlunya mengadakan hubungan baik dengan para pemeluknya.

Secara ringkas uraian konsep teologis tersebut adalah: al-Qur’an menjelaskan bahwa Tuhan telah mengirim nabi kepada setiap umat (Q. 17:15), baik yang namanya dise­but dalam al-Qur’an maupun yang tidak (Q. 40:78). Dan setiap Muslim harus beriman kepada mereka—para nabi ini—tanpa membeda-bedakan satu sama lain, sebagai bagian dari keberagamaan (Q. 3:84).

Al-Qur’an juga menganut prinsip: adanya realitas tentang pluralitas agama (Q. 2:62), kebebasan beragama (Q. 2:256), hidup berdam­pingan secara damai (Q. 109:1-6), malah menganjurkan untuk saling berlomba dalam kebajikan (Q. 5:48) dan bersi­kap positif dalam berhubungan serta bekerja sama dengan umat lain yang tidak seagama (Q. 60:8). Al-Qur’an juga secara tegas mengharuskan umat Islam untuk bersikap dan bertindak adil terhadap umat non-Muslim (Q. 60:80) dan untuk melindungi tempat-tempat ibadah semua agama (Q. 22:40).

Selain itu, dalam tradisi Islam juga telah dikembangkan sebuah konsep ahlul kitab (ahl al-kitâb) yang memberi petunjuk bahwa Islam tidak serta merta mengelompokkan non-Muslim sebagai orang-orang kafir. Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa orang-orang Yahudi dan Kristiani dikategorikan sebagai ahlul kitab, yang mempunyai kedudukan setara di hadapan Tuhan dengan orang kaum Muslim.

Memang, salah satu segi ajaran Islam yang sangat khas ialah konsep tentang para pengikut kitab suci atau ahl al‑kitâb—konsep yang memberi pengakuan tertentu kepada para penganut agama lain yang memiliki kitab suci. Ini tidaklah berarti memandang semua agama adalah sama—suatu hal yang mustahil, mengingat kenyataannya agama yang ada adalah berbeda-beda dalam banyak hal yang prin­si­pil (segi syari’ah dan akidah)—tapi memberi pengakuan terhadap hak masing-masing untuk berada (bereksistensi) dengan ke­bebasan menjalankan agama mereka masing-masing, dan membangun peradaban bersama.

Konsep tentang ahl al-kitâb ini telah mempunyai dampak global dalam pengembangan budaya dan peradaban Islam yang gemilang, sebagai hasil kosmopolitisme berdasarkan tata masyarakat yang terbuka dan toleran. Ini antara lain dicatat dengan penuh penghargaan oleh kalangan para ahli berkenaan dengan, misalnya, peristiwa pembebasan (fathh) Spanyol oleh tentara Muslim (di bawah komando Jenderal Thariq ibn Ziyad yang namanya diabadikan menjadi nama sebuah bukit di pan­tai Laut Tengah, Jabal Thariq—diinggriskan menjadi Gibraltar) pada tahun 711 M. Semua kelompok agama yang ada, khususnya kaum Muslim sendiri, beserta kaum Yahudi dan Kristen, mendukung dan menyertai peradaban yang ber­kembang dengan gemilang. Kerjasama itu mengakibatkan banyak terjadi hubungan darah (pernikahan lintas agama, dan persaudaraan) tanpa harus mencampuri agama masing-masing.

Maka konsep ahl al-kitâb pernah dikembangkan dan menjadi salah satu tonggak bagi semangat pluralisme agama dan kosmo­politisme Islam yang sangat terkenal. Dengan pandangan dan orientasi global yang positif itu ka­um Mus­lim di zaman klasik berhasil menciptakan ilmu pengetahuan yang benar-benar berdimensi universal atau internasional, dengan dukungan dari semua pihak.

Oleh sejumlah ulama, misalnya Muhammad Rasyid Ridha (w. 1935), tokoh pemba­ruan Islam Mesir, konsep ahl al-kitab ini diperluas hingga mencakup umat agama-agama lain yang memiliki kitab suci, seperti Zoroaster (Majûsi), Hindu, Buddha, Konghucu dan Shin­to. Kebolehan umat Islam memakan sembelihan ahl al-kitab dan menikahi kaum perempuan mereka (Q. 4:5) seperti terjadi dalam sejarah Islam, mengisyaratkan bahwa secara umum pergaulan akrab Muslim dengan non-Muslim telah berlangsung secara baik, dan penuh toleransi, walaupun banyak hal yang harus dikembangkan lebih lanjut, jika dilihat dari kacamata ide-ide toleransi dan pluralisme agama kontemporer.

Oleh karena itu sebagai agama maupun sejarah, Islam—menurut mereka yang memperjuangkan ide pluralisme agama—sejak awal berdirinya telah mempunyai kenyataan hidup dalam lingkungan plural, dan bahkan telah mengembangkan pluralisme agama dalam batas-batas kontekstual pada waktu itu. Apa yang ditulis di atas, adalah sekelumit gambaran konsep teologis bagaimana Islam telah bertemu, dan berdialog dengan agama-agama lain. Pertemuan tersebut dilandasi oleh etika pergaulan yang diinspirasikan oleh al-Qur’an yang mengajarkan pluralisme.

“Kaum Muslim, seperti halnya pemeluk agama lain, harus hidup dengan non-Muslim dalam suatu negeri tertentu. Penduduk Muslim dari suatu negeri dapat memiliki perbedaaan-perbedaan kesukuan dan doktrinal dalam diri mereka sendiri ataupun dengan kaum Muslim lain di seluruh dunia. Satuan Muslim tidak mensyaratkan kaum Muslim membentuk suatu negara tunggal—kekhalifahan … Dimanapun seseorang hidup, kemungkinan ditentukan oleh faktor-faktor geografis dan ekonomis. Suatu negara bangsa dalam sudut pandang Islam dapat dianggap sebagai suatu keluarga atau kerabat yang diperluas, masing-masing dengan kepentingannya yang khusus yang sama sekali tidak mengurangi hubungan kebersamaaann dan solidaritas universal yang dituntut oleh Islam. Pembagian menjadi orang-orang dan kelompok lain yang memiliki asal yang sama, dikemukakan dalam al-Qur’an (Q. 49:13), dan tidak ada yang salah mengenai hal itu sepanjang pembagian seperti itu tidak menghalangi hubungan dan kerjasama manusia yang universal dan tidak dicederai melalui arogansi dan permusuhan yang kauvinistik. Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa Tuhan dan ajaran-Nya harulah diletakkan di atas setiap kepatuhan kepada kelompok atau wilayah tertentu. Namun demikian, sejauh prinsip ini diamati, kepatuhan kepada keluarga seseorang dan himpunan manusia lainnya dan kepada tanah air seseorang diperkenankan (Q. 9:24). Karena kaum Muslim hidup dalam kelompok-kelompok yang lebih luas dan dalam wilayah-wilayah dimana mereka dapat tumbuh berkembang, mereka harus hidup dengan agama-agama dan sekte-sekte lain. Lebih jauh, globalisme dewasa ini tengah menciptakan kesaling-tergantungan yang tak terhindarkan antara segenap umat manusia, betapapun adanya perbedaan bawaan-alamiah atau perolehan.

Sikap Keberagamaan: Tiga Model

Bagaimana seseorang melihat teks maupun sejarah keanekaragaman agama-agama itu, ternyata ditentukan oleh bagaimana sikapnya terhadap agama lain. Sejauh ini, perkembangan teori pluralisme agama telah memunculkan tiga sikap yang meliputi: Sikap Eksklusif; Sikap Inklusif; dan sikap Plural atau Paralel. Pemaparan sikap ini penting, karena teks yang sama, ternyata bisa dimaknai berbeda, sejalan dengan sikap keagamaannya.

Sikap Ekslusif , adalah sikap yang secara tradisional telah sangat berpengaruh dan mengakar dalam masyarakat Muslim hingga dewasa ini, yang menganggap bahwa Islam adalah satu-satunya jalan kepada keselamatan, sedang Sikap Inklusif menganggap bahwa Islam mengisi dan menyempurnakan berbagai jalan yang lain. Sementara Sikap Plural beranggapan bahwa setiap agama mempunyai jalannya sendiri, yang sama-sama absah, untuk mencapai apa yang disebut keselamatan itu.

Sikap eksklusif. Sikap ini merupakan pandangan yang dominan dari zaman ke zaman, dan terus dianut hingga dewasa ini. Dalam Islam, sikap ini terutama dikembangkan berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an seperti, bahwa Islam adalah agama yang paling benar (Q. 3:19); Agama selain Islam, tidak akan diterima Tuhan di akhirat (Q. 3:85)—termasuk berbagai penafsiran atas dasar al-Qur’an dan Hadis, yang berkaitan dengan konflik kebenaran antara Islam dengan kalangan Yahudi dan Kristiani. Salah satu ayat favorit lain kalangan Islam eksklusif adalah, “ Orang-orang Yahudi dan Kristiani tidak akan rela kepada kamu, hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu ” (Q. 2:120). Ayat ini telah menjadi pembenaran yang sangat kuat untuk melakukan pembedaan Muslim dan non-Muslim.

Sikap Inklusif. Dalam pemikiran Islam, paham inklusivisme dimulai dengan penggalian pengertian islam (islâm), bukan sebagai organized religion (agama terlembaga), tetapi dalam arti rohani. Islâm, artinya pasrah sepenuh­nya (kepada Allah), sikap yang—menurut para pendukung paham inklusif—menjadi inti ajaran agama yang benar di sisi Allah. Karena itu se­mua agama yang benar disebut islâm. Al-Qur’an memang me­ngatakan bahwa Nabi Nuh menga­jarkan islâm, dan mewasiatkan ajaran itu kepada anak turunnya, termasuk kepada anak turun Ya’qub atau Israil (Q. 2: 130-132). Di antara anak Ya’qub itu ialah Yusuf, yang berdoa kepada Allah agar kelak mati sebagai seorang muslim (seorang “yang ber-islâm”) (Q. 12: 101). Kitab Suci juga menuturkan bahwa para orang-orang Mesir yang semula mendukung Fir‘aun tapi akhirnya beriman kepada Nabi Musa juga berdoa agar kelak mati sebagai orang-orang yang muslim (Q. 7: 126). Lalu Ratu Bulqis (Batseba) dari Yaman, Arabia Selatan, yang ditaklukan oleh Nabi Sulaiman juga akhirnya tunduk patuh kepadanya dan menyatakan bahwa dia bersama Sulaiman pasrah sempurna atau islâm kepada kepada Tuhan Seru sekalian alam (Q. 27: 44). Dan semua para Nabi dari Bani Israil (anak turun Nabi Ya’qub) dite­gaskan dalam al-Qur’an sebagai orang-orang yang menjalankan islâm kepada Allah (Q., 5: 44). Lalu Isa Al-Masih (Yesus Kristus) juga mendidik para pengikutnya (al-Hawariyûn) sehingga mereka menjadi orang-orang muslim, pasrah kepada Allah (Q., 3: 52-53 dan Q., 5: 111). Banyak ayat dalam al-Qur’an yang menyebutkan bahwa para nabi dan rasul terdahulu mengajarkan al-islâm ini. Sehingga tidak mengherankan, kalau kemudian dikembangkanlah suatu teologi Islam Inklusif, yang didasarkan pada al-Qur’an. Kaum Islam Inklusif menegaskan bahwa agama semua nabi pada dasarnya adalah sama dan satu, yaitu islâm, meskipun syariatnya ber­beda-beda sesuai dengan zaman dan tempat khusus masing-masing Nabi itu.

Pandangan inklusif ini, dalam keterbukaannya menjadi fondasi untuk berkembangnya pluralisme agama yang sejati. Juga sebaliknya pandangan pluralisme agama sejati hanya bisa dibangun dengan fondasi sikap inklusivisme semacam ini.

Sikap Plural . Paradigma ini percaya bahwa setiap agama mempunyai jalan keselamatannya sendiri, dan karena itu klaim Islam adalah satu-satunya jalan (paradigma atau sikap eksklusif), atau yang melengkapi atau mengisi jalan yang lain (paradigma atau sikap inklusif), haruslah ditolak, atau lebih tepat dikembangkan selebar mungkin, demi alasan-alasan teologis dan fenomenologis.

Dalam memahami paradigma plural ini, Raimundo Panikkar, seorang filsuf dan penganjur paham pluralisme agama keagamaan terkemuka dewasa ini, menjelaskan tiga macam model.[12] Pertama Model Fisika, diambilnya contoh pelangi. Tradisi-tradisi keagamaan yang berbeda adalah seperti warna yang tak terhingga, yang kelihatan ketika cahaya putih jatuh di atas prisma. Setiap pengikut suatu tradisi, diberi kemungkinan mencapai tujuan, kepenuhan dan keselamatannya dengan caranya sendiri, tetapi sekaligus sebenarnya setiap warna (setiap agama) menyerap semua warna yang lain, tapi sekaligus menyembunyikannya, karena ia memunculkan secara ekspresif sebuah warna.

Model yang kedua adalah Model Geometri: Invarian Tipologis. Model ini mengatakan bahwa agama yang satu itu sama sekali berbeda dengan agama lain, bahkan tidak bisa didamaikan, sampai ditemukan adanya satu titik (invariant) topologis yang tetap. Titik ini bisa lebih dari satu. Pandangan mengenai adanya kesatuan transenden pengalaman religius manusia (transcendent unity of religions dari Fritjof Schuon dan Seyyed Hossein Nasr), misalnya bisa menjadi contoh dari model ini. Pada tingkat eksoteris semua agama sebenarnya berbeda, tetapi ada satu titik transenden (esoteris), semua agama itu bertemu. Titik transenden itu adalah Tuhan (pandangan ini sangat kuat dikembangkan oleh para pemikir Muslim penganut filsafat perenial).

Model ketiga adalah model bahasa. Model ini menganggap bahwa setiap agama itu, seperti sebuah bahasa. Setiap agama, seperti halnya bahasa pada dasarnya sepenuhnya lengkap dan sempurna. Sehingga tidak ada artinya, jika mengatakan bahwa suatu bahasa (agama) menyatakan dirinya lebih sempurna dari bahasa lainnya. Karena itu setiap perjumpaan agama-agama, bisa dianalogkan dengan perjumpaan bahasa-bahasa. Di sini penerjemahan bisa menjadi medium. Penerjemah harus menjadi pembicara dalam bahasa asing tersebut, dan dalam tradisi asing tersebut. Ia harus menjadi juru bicara sejati dari agama tersebut. Ia harus yakin akan kebenaran yang dibawanya, masuk ke dalam tradisi yang diterjemahkannya.

Ketiga model ini membawa kita kepada pandangan plural. Pandangan ini tidak menganggap bahwa tujuan yang ingin dicapai di depan adalah keseragaman atau kesamaan bentuk agama-agama. Sebab gagasan pluralisme agama keagamaan, sesungguhnya berdiri di antara pluralitas yang tidak berhubungan dan kesatuan monolitik.

Dalam Islam pemikiran pluralisme agama bisa diungkapkan dengan rumusan teologis, sebagai berikut: Bahwa pluralisme agama sesungguhnya adalah sebuah Aturan Tuhan (sunnat-u ‘l-Lâh) yang tidak akan berubah, sehingga tidak dilawan atau diingkari. Islam adalah agama yang Kitab Sucinya dengan tegas mengakui hak agama-agama lain sepenuhnya. Pengakuan akan hak agama-agama lain itu dengan sendirinya merupakan dasar paham pluralisme agama sosial-budaya dan agama, sebagai ketetapan Tuhan yang tidak berubah-ubah (Q. 5:44-50). Kesadaran tentang kontinuitas agama juga ditegaskan al-Qur’an di berbagai tempat, yang disertai perintah agar kaum Muslim berpegang teguh kepada ajaran kontinuitas itu dengan beriman kepada semua Nabi dan Rasul tanpa kecuali, dan tanpa membeda-bedakan antara mereka, baik yang disebutkan dalam Kitab Suci maupun yang tidak disebutkan (Q. 2:136; 4:163-165; dan 45:16-18). Oleh karena itu, tidak saja agama tidak boleh dipaksakan (Q. 2:256; dan Q.,10:99), bahkan al-Qur’an juga mengisyaratkan bahwa para penganut berbagai agama, asalkan percaya kepada Tuhan dan Hari Kemudian serta berbuat baik, semuanya akan selamat (Q. 2:62; dan 5:16). Inilah paham eskatologis Islam, yang menjadi fondasi pluralisme agama.

Penggalian Hermeneutis atas Isu Pluralisme Agama

Pemikiran pluralisme agama kini telah berkembang pesat dalam Islam, lewat penggalian hermeneutika al-Qur’an. Banyak di antara ayat Al-Qur’an yang mengandung nilai-nilai pluralisme telah digali sisi hermeneutisnya, di antaranya Q. 49: 13, yang artinya:
“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal” (Q. 49: 13).

Berdasarkan ayat di atas dapat diketahui, bahwa dijadikannya makhluk dengan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku adalah dengan harapan agar antara satu dengan yang lainnya dapat berinteraksi secara baik dan positif. Kepada masing-masingnya dituntut untuk dapat menghargai adanya perbedaan tersebut. Sikap kaum Muslim kepada penganut agama lain jelas, sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an, yaitu berbuat baik kepada mereka dan tidak menjadikan perbedaan agama sebagai alasan untuk tidak menjalani hubungan kerjasama dengan mereka, lebih-lebih mengambil sikap tidak toleran dengan mereka.

Dalam ayat lain juga dikemukakan bahwa “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat” (Q. 11: 118). Dari ayat tersebut juga dapat dipahami bahwa kalau Tuhan mau, dengan sangat mudah sekali akan menciptakan manusia dalam satu group, monolitik, dan satu agama, tetapi Allah tidak menghendaki hal-hal tersebut. Tuhan malah menunjukan kepada realita, bahwa pada hakekatnya manusia itu berbeda-beda, dan atas dasar inilah orang berbicara tentang pluralisme agama. Dalam Q. 2: 213, disebutkan:
“Manusia itu adalah satu umat. (Setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus para nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan beserta mereka mereka Ia turunkan Kitab-kitab dengan benar, supaya Dia bisa memberi keputusan antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan”.

Dalam ayat itu muncul tiga fakta: kesatuan umat dibawah satu Tuhan; kekhususan agama-agama yang dibawa oleh para nabi; dan peranan wahyu (kitab suci) dalam mendamaikan perbedaan di antara berbagai umat beragama. Ketiganya adalah konsepsi fundamental al-Qur’an tentang pluralisme agama. Di satu sisi, konsepsi itu tidak mengingkari kekhususan berbagai agama, di sisi lain konsepsi itu juga menekankan kebutuhan untuk mengakui kesatuan manusia dan kebutuhan untuk menumbuhkan pemahaman yang lebih baik antar umat beragama. Kemajemukan sangat dihargai dalam ajaran Islam, karena Islam sebagai al-dîn merupakan agama Allah yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Salah satu fitrah itu adalah kemajemukan yang hakekatnya bersumber dari ajaran agama.

Al-Qur’an berbicara secara eksplisit tentang universalitas dan keanekaan wahyu dan nabi guna menerangi umat manusia dari masa ke masa: “Untuk masing-masing (umat) Kami tentukan suatu undang-undang (syir`ah) dan aturan yang terang (minhâj). Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Ia menjadikan kamu satu umat, tetapi Ia hendak menguji kamu atas pemberian-Nya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Kepada Allah tempat kamu kembali, lalu ditunjukkan kepadamu apa yang kamu perselisihkan” (5:48). “Umat manusia tiada lain daripada suatu bangsa; kemudian mereka berselisih. Sekiranya tidak karena suatu firman yang keluar dari Tuhanmu sudah mendahului, yang diperselisihkan niscaya sudah terselesaikan antar mereka”. (10:19). “Kepada setiap kaum (telah diutus) seorang rasul” (10:47).

Menafsirkan ayat-ayat ini, Abdullah Yusuf Ali mengatakan bahwa semua manusia diciptakan satu, dan ajaran Allah kepada umat manusia, disebabkan oleh kelemahan manusia dikuasai oleh sifat mementingkan diri sendiri (egoisme), sehingga timbullah perbedaan-perbedaan (individu, ras, bangsa). Dan atas dasar kasih Allah yang tak terhingga, Allah pun selalu mengutus para Rasul untuk menyampaikan kembali “ajaran yang sama” yang disesuaikan dengan keanekaragaman kondisi umat manusia, dengan sekaligus hendak menguji mereka dengan segala pemberian-Nya, dan mendorong berlomba dalam kebaikan dan ketakwaan—dan yang demikian ini akan membawa mereka menuju kepada tauhid dan kebenaran.

Jika al-Qur’an menyebutkan ada banyak wahyu dan rasul serta kebenarannya masing-masing, maka konsekuensinya adalah segenap umat Islam harus bisa menerima ajaran ini sebagai keyakinan. Dan, tentu saja salah satu rangkaian dari wahyu-wahyu itu adalah al-Qur’an sendiri yang merupakan kitab suci yang datang setelah beberapa kitab suci sebelumnya, dan al-Qur’an membawa kebenaran dan membenarkan kitab-kitab suci sebelumnya itu (5:48). Lebih jauh, konsekuensi apa yang dituturkan al-Qur’an itu adalah bahwa Islam mengakui kebenaran agama-agama lain yang telah hidup sebelumnya.

Implikasi dari memandang sejarah sebagai landasan diturunkannya pesan langit adalah bahwa semua agama, dalam satu hal atau lainnya, menurut mereka saling terikat dan karenanya, memiliki satu tujuan yang sama, yang disebut islâm, yaitu ajaran kepasrahan kepada Allah sepenuhnya. Kesimpulan dari teologi ini, bahwa suatu agama samawi tidak dapat menjadi saingan, tetapi hanya menjadi sekutu (sahabat) agama samawi lainnya. Karena itu, dalam Islam, gagasan tentang universalitas wahyu Tuhan selalu memainkan peran kunci dalam membentuk teologi Islam tentang agama-agama. Akibat diadopsinya keyakinan ini, kaum Muslim mampu berpartisipasi dalam esensi dan pendekatan keagamaan terhadap tradisi lain.

Kebenaran dalam agama-agama itu dituturkan oleh al-Qur’an, “Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi’in, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan beramal saleh, mereka akan mendapatkan pahala dari Tuhan mereka, mereka tidak perlu khawatir dan bersedih”. Ayat ini memang biasa dibantah oleh kelompok ekslusif dengan mengatakan: Pertama, ayat itu telah manshukh (dibatalkan) oleh Q. 3: 85. Kedua, ayat ini hanya mengacu kepada umat Yahudi, Nasrani, dan Sabi’in sebelum Nabi Muhammad saw, dan ketiga, mereka memandang Allah hanyalah Tuhan milik umat Islam. Menjawab bantahan tersebut, melihat bahwa kosa kata islâm dalam Q. 3:85 bukan menunjuk kepada Islam sebagai agama formal yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., tetapi mengacu kepada islâm dalam pengertian umum, yakni sikap pasrah kepada Tuhan, yang merupakan misi segenap risalah langit. Pengertian demikian akan terlihat pula dalam ayat, “Ingatlah ketika Tuhannya berkata kepadanya (Ibrahim), islâm-lah (pasrahlah) engkau!’ Dia (Ibrahim) menjawab, ‘Aku islâm (pasrah) kepada Tuhan pemelihara alam semesta.” (2:131).

Al-Quran sebenarnya secara tegas dan jelas menunjukkan adanya pluralitas dan keanekaragaman agama (Q. 2:62), dan secara tegas menyatakan adanya keselamatan yang dijanjikan Tuhan bagi setiap orang yang beriman kepada-Nya dan Hari akhir, yang diiringi dengan berbuat kebajikan (amal saleh), tanpa memandang afiliasi agama formal mereka. Artinya semua yang beriman kepada Allah dan beramal saleh tanpa memandang afiliasi keagamaan formal mereka akan selamat, karena Allah tidak mengutamakan satu kelompok dengan menzalimi kelompok yang lain. Dalam Islam diteguhkan bahwa tidak ada nama dan tidak ada sifat yang bisa memberi kebaikan jika tidak didukung oleh iman dan amal saleh. Aturan ini berlaku untuk seluruh umat manusia. Keselamatan tidak dapat ditemukan dalam sektarianisme keagamaan, tetapi dalam keyakinan yang benar dan kebajikan”. Menurut Nurcholish Madjid, “kaum muslim” (tidak tergantung agamanya apa) adalah kaum yang ber-islâm, yang tunduk patuh, pasrah, dengan kedamaian (salâm) kepada Tuhan, sebagaimana kaum mu’min (orang Islam) yang beriman, sepenuhnya percaya kepada Tuhan.

Menurut Nurcholish Madjid, salah satu distorsi tentang pengertian syariat ialah pandangan orang banyak seolah konsep tentang “syariat” itu hanya ada pada agama Islam (tegasnya, hanya ada pada agama islâm “versi terakhir,” yaitu Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad). Padahal yang sesungguhnya terjadi ialah, semua ajaran kepatuhan kepada Allah (makna yang fundamental frase Arab “dîn-u ‘l-Lâh”) dengan sendirinya mengandung ajaran tentang sesuatu bentuk syariat, sebab “syari’ah” itu sendiri artinya “jalan”, yaitu jalan menuju Tuhan, dengan menjalankan ajaran-ajaran-Nya. Padanan konsep tentang “syari’ah” itu dalam agama Islam ialah konsep-konsep tentang shirath, sabîl, tharîqah, minhâj, dan mansak. Sebab semuanya itu mempunyai makna dasar jalan, cara, atau metode. Dalam agama-agama lain, konsep-konsep itu dinyatakan dalam peristilahan khas mereka, seperti “ dharma,” “marg” dan “tao”. Nabi Isa al-Masih (Yesus Kristus) juga menyebut dirinya sebagai “jalan” sebab dengan mengikuti ajaran-ajaran-Nya manusia akan berada di atas jalan yang benar, menuju Tuhan.

Selain “syarî`ah”, perkataan “syir`ah” juga digunakan dalam al-Qur’an, dengan kata kerja “syara`ah” yang artinya “menetapkan syariat”. Maka disebutkan dalam al-Qur’an, “Dia (Allah) menetapkan syariat bagi kamu, berupa agama (al-dîn, ajaran kepatuhan), sebagaimana yang Dia wasiatkan kepada Nuh, dan yang Kami (Allah) wahyukan kepada engkau (Muhammad), dan yang Kami (Allah) wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa. Maka tegakkanlah agama itu, dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. Terasa berat atas orang-orang musyrik apa yang kau serukan kepada mereka ini. Allah menarik (mendekatkan) kepada agama itu siapapun yang dikehendaki-Nya, dan memberi petunjuk kepada agama itu siapapun yang mau kembali (kepada Allah).” (Q. 42:13).

Jika dicermati firman itu, maka jelas bahwa syariat itu sama pada semua agama, yaitu, pada pengertian-pengertian fundamental itu, dan tidak boleh berpecah belah. Dan sangat menarik penegasan dalam firman itu bahwa seruan untuk bersatu dalam pengertian-pengertian fundamental itu, dan tidak boleh berpecah-belah, juga seruan ini (untuk bersatu dalam pengertian-pengertian fundamental itu) terasa amat berat pada orang-orang musyrik. Sebab mereka itu tidak mengerti, atau tidak sanggup memahami, bahwa pada dasarnya “agama-agama itu adalah satu”, dan semua Nabi dan Rasul Tuhan “mengajarkan hal yang sama”, yaitu ajaran kepatuhan kepada Tuhan (dîn-u I-Lah), yang kepatuhan itu harus dilakukan dengan sikap pasrah dan tulus, dengan rasa damai (yaitu islam atau “al-islâm” dalam pengertianya yang paling dasar). Jika suatu kepatuhan kepada Tuhan dilakukan secara terpaksa, tanpa ketulusan dalam hati berdasarkan iman, maka ajaran kepatuhan atau “din” serupa itu dengan sendirinya tidak absah di sisi Tuhan, dan yang bersangkutan akan merugi. Karena itu dalam al-Qur’an terdapat penuturan tentang orang-orang Arab nomad yang datang kepada Nabi saw dan melaporakan “iman” mereka dengan sikap bangga. Maka Allah memerintahkan Nabi untuk menanggapi dengan menegaskan bahwa mereka itu baru “islâm” dalam artian sekedar tunduk patuh secara lahiri, sementara iman belum masuk dalam hati mereka (Q. 49:14).

Maka, sikap patuh atau dîn selain patuh kepada Allah dengan sikap pasrah yang damai (al-islâm) tidak merupakan sikap patuh yang benar. Dalam al-Qur’an juga ditegaskan bahwa sikap pasrah yang damai atau islâm kepada Tuhan itu adalah ajaran semua kitab suci, namun banyak penganut kitab suci itu yang menganut sikap berbeda (Q. 3:19). Diterangkan pula bahwa pasrah yang damai itu adalah sikap semua penghuni seluruh langit dan bumi (Q. 3:85).[20]

Di zaman modern ini wacana pluralisme dalam Islam, dikembangkan oleh pemikir-pemikir Muslim kontemporer, seperti Fritjof Schuon, Seyyed Hossein Nasr, Hasan Askari dan Abdulaziz Sachedina. Di Indonesia, Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, Ahmad Syafii Maarif, dan sekelompok intelektual Islam Progresif yang lebih muda. Pada dasarnya, pluralisme adalah sebuah pengakuan akan hukum Tuhan yang menciptakan manusia yang tidak hanya terdiri dari satu kelompok, suku, warna kulit, dan agama saja. Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda agar mereka bisa saling belajar, bergaul, dan membantu antara satu dan lainnya. Pluralisme agama mengakui perbedaan-perbedaan itu sebagai sebuah realitas yang pasti ada di mana saja. Justru, dengan pluralisme agama itu akan tergali berbagai komitmen bersama untuk memperjuangkan sesuatu yang melampaui kepentingan kelompok dan agamanya. Salah satu unsur pokok dari pluralisme agama adalah munculnya satu kesadaran bahwa agama-agama berada dalam posisi dan kedudukan yang paralel.Argumen utama pluralisme agama dalam al-Qur’an didasarkan pada hubungan antara keimanan yang pribadi, dan proyeksi publiknya dalam masyarakat Islam. Berkenaan dengan keimanan pribadi itu, al-Qur’an bersikap non-intervensionis (misalnya, segala bentuk otoritas manusia tidak boleh mengganggu keyakinan batin individu). Sedangkan dengan proyeksi publik keimanan, sikap al-Qur’an didasarkan pada prinsip koeksistensi, yaitu kesediaan dari umat dominan untuk memberikan kebebasan bagi umat beragama lain dengan aturan mereka sendiri. Aturan itu bisa berbentuk cara menjalankan urusan mereka dan untuk hidup berdampingan dengan kaum muslimin.

Maka, berdasarkan prinsip ini, masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, seharusnya bisa menjadi cermin sebuah masyarakat yang mengakui, menghormati, dan menjalankan pluralisme keagaman.

Abdul Aziz Sachedina mengatakan:
“Saya sangat percaya bahwa jika kaum muslim menyadari pentingnya ajaran al-Qur’an mengenai pluralisme kultural dan religius sebagai suatu prinsip pemberian Tuhan dalam membentuk suasana hidup berdampingan yang harmonis sesama manusia, maka kaum Muslim akan menghindari kekerasan dalam menentang pemerintahan represif dan tidak efesien.”

Sebagai keyakinan dan interpretasi Islam dalam kenyataannya adalah plural (islams) Sama seperti halnya tidak ada satu Indonesia, Amerika, Eropa ataupun Barat, begitu pula tidak ada satu pun penjelasan pas yang melukiskan berbagai kelompok maupun orang dengan nilai dan arti yang sama. Juga tidak ada lokasi tunggal ataupun budaya seragam yang identik dengan Islam. Dengan demikian, tidak ada Islam yang monolitik. Maka berdasarkan filsafat tersebut, pluralisme adalah “pondasi kehidupan bagi agama-agama” (ashl al-hayât bayna al-adyân). Para pemikir Islam melacak ayat-ayat al-Qur’an yang mendukung pluralisme agama ini sebagai satu rahasia dari lautan rahasia Allah. Salah satunya, “Jika Tuhanmu menghendaki maka kalian akan dijadikan umat satu”. Ternyata Allah tidak berkehendak untuk menyatukan umat manusia. Keragaman agama di sini yang disinyalir ayat tadi merupakan rahasia dan kehendak Allah. Pluralisme sebagai dasar kehidupan semua agama mengajak membuka dan memahami rahasia Allah itu. Keragaman agama sebagai rahasia Allah meliputi juga agama-agama lain yang biasa disebut “agama-agama Ibrahimi”. Pluralisme agama sendiri mengakui adanya tradisi iman dan keberagamaan yang berbeda antara satu agama dengan agama lainnya.

Gaya bahasa al-Qur’an sendiri memiliki semangat pluralisme. Setiap kata atau ayat dalam al-Qur’an memiliki kemungkinan makna dan penafsiran yang beragam sesuai dengan semangat zaman. Lahirnya kitab-kitab tafsir yang beragam merupakan bukti adanya pluralitas pemahaman terhadap teks al-Qur’an. Di samping redaksi al-Qur’an yang pluralis, kandungan ayat al-Qur’an sendiri mengisyaratkan nilai-nilai pluralisme tersebut, bahkan al-Qur’an telah menanamkan kaidah-kaidah mendasar bagi pluralisme agama, di antaranya: Pertama, kebebasan beragama. Setiap manusia oleh Islam diberikan kebebasan untuk menentukan agama apa yang dianut. Di samping memberikan kebebasan, Islam juga melarang adanya pemaksaan dalam agama. Prinsip ini merupakan dalil paling jelas bagi pluralisme agama. Dan dalam banyak ayat al-Qur’an menjelaskan prinsip ini dengan tegas (Q. 2: 256; 10:108; 17:15; 18: 29).Kedua , al-Qur’an menegaskan sikap penerimaannya terhadap agama-agama selain Islam untuk hidup berdampingan. Yahudi, Kristen, dan agama-agama lain diakui eksistensinya oleh al-Qur’an (Q. 2: 62).

Sehingga jelas bahwa al-Qur’an tidak mencegah kaum Muslim untuk bekerjasama dengan orang lain demi menegakkan keadilan dan kebenaran. Al-Qur’an dan teladan Nabi mendukung kerja sama dan solidaritas antariman untuk keadilan dan kebenaran. Solidaritas ini tidak dilandasi oleh kehendak yang sama untuk perdamaian dan ketentraman, melainkan pada perjuangan menentang ketidakadilan demi menciptakan dunia yang aman bagi umat manusia. Sikap Islam terhadap pluralitame agama berdiri di atas prinsip kesejajaran, toleransi dan saling melengkapi. Inilah pilihan yang paling baik karena pluralisme agama lebih baik dari pada satu agama. Satu agama tidak akan mampu merespon dinamika global kemanusiaan dewasa ini. Dengan satu agama kondisi saling berlomba dalam berbagai kebajikan tidak akan tercipta. Sikap toleran dan saling melengkapi jelas lebih baik dari pada sikap saling berseberangan dari puluhan agama.

Adanya hubungan yang diciptakan oleh semangat pluralisme atas dasar toleransi, merupakan anugerah dan kesempurnaan. Inilah kondisi paling otentik, semua agama berdoa kepada Tuhan yang Mahaesa dan mengajak kepada nilai-nilai cinta, kebaikan dan keadilan. Setiap agama, dengan berbagai kelebihannya, berlomba untuk berperan dalam membangun sebuah peradaban “untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku”.

Pengakuan terhadap pluralisme agama dalam sebuah komunitas sosial menjanjikan dikedepankannya prinsip inklusivitas (keterbukaan)—suatu prinsip yang mengutamakan akomodasi dan bukan konflik—di antara mereka. Sebab, pada dasarnya masing-masing agama mempunyai berbagai klaim kebenaran yang ingin ditegakkan terus, sedangkan realitas masyarakat yang ada terbukti heterogen secara kultural dan religius. Oleh karena itu, inklusivitas menjadi penting sebagai jalan menuju tumbuhnya kepekaan terhadap berbagai kemungkinan unik yang bisa memperkaya usaha manusia dalam mencari kesejahteraan spiritual dan moral. Realitas pluralitas yang bisa mendorong ke arah kerja sama dan keterbukaan itu, secara jelas telah diserukan oleh Allah Swt dalam Q. surat al-Hujurât: 14. Dalam ayat itu, tercermin bahwa pluralitas adalah sebuah kebijakan Tuhan agar manusia saling mengenal dan membuka diri untuk bekerja sama. Kerjasama adalah sesuatu yang asasi bagi kehidupan manusia membangun peradaban. Pluralisme adalah bagian dari peradaban, yang secara teologis didasarkan pada konsep kesamaan dasar (kalimat-un sawa’—sekarang popular dengan istilah common word) agama-agama. Peradaban Islam merupakan peradaban yang pluralistis dan sangat toleran terhadap berbagai kelompok sosial dan keagamaan. Untuk menunjukkan implikasi-implikasi dari komitmen pada keragaman manusia, dan pengetahuan bersama pada masa kini dibutuhkan refleksi moral dan perhatian pada situasi historis, sebagaimana pluralisme, dalam rumusan Nurcholish Madjid di atas disebut sebagai “pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban”—a genuine engagement of diversities within the bounds of civility. Pluralisme menuntut suatu penghampiran yang jujur dan terbuka untuk “memahami pihak lain dan kerjasama yang membangun untuk kebaikan semua”.

Tidak ada pertentangan antara Islam dan pluralisme. Pluralisme bukan hanya fenomena dalam Islam, tetapi juga dalam konteks global, di antaranya pluralisme peradaban-peradaban dunia. Bahkan, dalam setiap peradaban juga mempunyai pluralisme mazhab, pemikiran, filsafat dan aliran politik. Jadi, pluralisme merupakan titik temu di antara keistimewaan dan kekhasan tersebut.

Pluralisme juga mengandung arti bahwa kelompok-kelompok minoritas dapat berperan-serta secara penuh dan setara dengan kelompok mayoritas dalam masyarakat, sambil mempertahankan identitas dan perbedaan mereka yang khas. Pluralisme harus dilindungi oleh negara dan hukum dan akhirnya oleh hukum internasional. Kaum Muslim harus hidup dengan non-Muslim dalam suatu negara tertentu. “Penduduk Muslim dari suatu negeri dapat memiliki perbedaan-perbedaan kesukuan dan doktrinal dalam diri mereka sendiri atau pun dengan kaum Muslim di seluruh dunia. Satuan Muslim tidak mensyaratkan kaum Muslim membentuk suatu negara tunggal –kekhilafahan sekalipun selalu terdiri dari beragam keyakinan dan kesukuan.” Suatu negara bangsa dari sudut pandang Islam dapat dianggap sebagai suatu keluarga atau kerabat yang diperluas. Perbedaan-perbedaan antara sesama Muslim, meskipun masing-masing memiliki kepentingan khusus, tidak boleh mengurangi hubungan kebersamaan dan solidaritas universal.

“Kaum muslim semestinya menampilkan sikap al-Qur’an dihadapan umat manusia dengan memperluas jarak dialog mereka hingga mencapai Hindu dan Buddha, Taoisme dan agama lainnya. Al-Qur’an (7:172-173) mengajarkan setiap manusia mempunyai kompas petunjuknya masing-masing, dan telah dianugerahi tuhan dengan martabat (17:70). Diatas dasar spiritualitas, moralitas dan martabat yang sama ini, segenap manusia dapat mengembangkan hubungan yang universal dan memelihara pluralisme global. Adalah sangat bermakna al-Qur’an menyebut kebaikan “apa yang dikenal oleh akal sehat” (ma’ruf) dan kejahatan “apa yang ditolak oleh akal sehat” (munkar). Atas dasar itu, hubungan manusia universal memiliki dasar moral dan spiritualnya sendiri, di atas mana tanggung jawab bersama membangun dunia dan manusia: “Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya” (11:61). [33]

Inilah pluralisme global yang menyaratkan pengetahuan dan pengertian di kalangan beragam manusia (49:113). Penghargaan yang timbal balik mencegah kecurigaan dan membantu terperiharanya keadilan. Keterikatan moral pada keadilan adalah hal mendasar untuk suksesnya setiap mekanisme hukum dan kelembagaan: “Jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah walau pun terhadap dirimu atau ibu bapak dan kaum kerabatmu…maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ingin menyimpang dari kebenaran (3:135), ”Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa” (5:8). Memelihara pengertian bersama dan keadilan hendaknya mengarahkan kepada perdamaian dunia yang menjadi penting bagi kerjasama.

Tantangan Pluralisme Global

Untuk bisa beradaptasi dengan pluralisme global ini diperlukan keberanian dari umat Islam untuk melakukan dialog dengan pemeluk agama-agama lain. Perjumpaan agama-agama atau yang disebut dengan perjumpaan iman memang memerlukan keberanian, pengalaman, kepercayaan diri serta kematangan pribadi. Dialog yang produktif tidak akan terwujud jika masing-masing partisipan tidak ada kesediaan untuk membuka diri, kesediaan saling memberi dan menerima secara sukarela dan antusias.

Islam sejak semula menganjurkan berdialog dengan umat lain teristimewa umat Kristen dan Yahudi, atau terhadap pengikut Isa (Yesus) dan Musa. Al-Qur’an menggunakan kata ahl-u ‘l-kitâb (yang memiliki kitab suci), pengguna kata ahl, yang berarti keluarga, menonjolkan keakraban dan kedekatan hubungan. Sebagai contoh ini pernah terjadi ketika pengikut Nabi Muhammad yang terpaksa meninggalkan Makkah untuk untuk menghindari penganiayaan bangsa sendiri (Arab jahiliyah) berhijrah ke negara lain Ethiopia. Di sana mereka diterima dengan baik dan mendapatkan perlindungan oleh Raja Negus (Najashi) yang beragama Kristen. Peristiwa ini menandakan keakraban dan hubungan harmonis antara kedua umat.

Dalam dialog ini sisi-sisi persamaan di antara berbagai agama, budaya dan peradaban itu dimunculkan, tentu saja dengan tetap menunjukkan sisi-sisi perbedaannya, agar masing-masing kelompok agama, budaya dan peradaban ini dapat saling memahami dan saling menghormati. Dalam konteks Islam, hal ini sangat bermanfaat, karena ia dapat menghilangkan citra negatif oleh kalangan non-Muslim, yang beranggapan, bahwa Islam adalah agama anti-perdamaian, atau agama pendukung kekerasan. Dengan terbentuknya kondisi saling memahami ini, konflik antaragama, antarbudaya dan antarperadaban ini dapat dihindarkan. Memang, konflik-konflik yang pernah terjadi sebenarnya tak ada satu pun yang semata-mata disebabkan oleh perbedaan faktor ini. Namun, tak dapat dibantah, bahwa ketiga faktor ini ikut andil dalam pemunculan konflik ini, meski hanya sebagai faktor legitimasi. Lebih dari itu, atas dasar nilai-nilai universal ini pula umat Islam dapat merespons sistem atau ide-ide global, seperti demokrasi, hak-hak asasi manusia, pluralisme dan sebagainya, sebagai sistem atau ide yang kompatibel dengan ajaran Islam.

Dialog ini, bukanlah untuk suatu kegemaran intelektual melainkan suatu keharusan. Dialog sejatinya dilakukan dalam kesetaraan. Dalam dialog tidak boleh prinsip diabaikan dan tidak boleh sekedar mencari kedamaian palsu sebalik-nya harus ada kesaksian yang diberi dan diterima guna saling memajukan satu sama lain di dalam perjalanan pencarian dan pengalaman keagamaan; dan saat yang sama menyingkirkan prasangka, sikap intoleran dan kesalahpahaman. Kalaupun seseorang mengalami pertobatan lewat dialog, kenyataan itu harus dapat diterima semua pihak secara positif dan wajar. Dialog menyaratkan sikap konsisten, terbuka, kerendahan hati dan keterus-terangan sehingga dialog dapat memperkaya dan memperbarui masing-masing pihak. Dialog meminta keseimbangan sikap, kemantapan dan menolak indeferentisme (paham yang menyamakan begitu saja agama-agama) dan tidak menghendaki suatu teologi universal yang sinkretik.

Dalam dialog setiap orang harus diterima sebagaimana ia memahami dirinya sendiri. Oleh sebab itu, masing-masing hanya dapat berbicara untuk dirinya sendiri berdasarkan posisinya sendiri. Tentu posisi ini tidak boleh menjadi dogma kaku, melainkan ia harus dinamis sesuai situasi yang berubah. Dialog sama sekali tidak mengurangi kesetiaan yang penuh dan jujur terhadap imannya sendiri, melainkan memperkaya dan memperkuatnya. Dialog adalah suatu hal yang asasi dalam menghilangkan salah paham dan prasangka yang pernah timbul di masa silam harus dihilangkan dan disebabkan pula oleh sikap kita yang menolak aliran-aliran kepercayaan yang lain.

 

Oleh ; Budi Munawar Rachman (LSAF)

About adminislat1

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *