Home / Featured / Islam, Intelektual Aktifis dan Gerakan Sosial

Islam, Intelektual Aktifis dan Gerakan Sosial

Pemikiran Islam tampaknya selalu menarik dan penuh dinamika intelektual merespon dunia pemikiran yang hadir di sekitarnya mulai dari dunia gaib Eyang Subur, poligami Kiwil sampai dunia Sang Marxis, sosialisme dan kapitalisme global. kesalehan individu (normatif-asketis) dan kesalehan sosial (progressif historis).

Mengapa Islam? Masih penting dan relevankah Agama digunakan sebagai dasar dan tujuan kehidupan? Mengapa Islam sebagai agama yang dianut mayoritas orang Indonesia belum tampak menonjol sebagai kekuatan dan gerakan sosial? Apakah itu Islam transformatif, Islam liberal, Islam Kiri, Islam Indonesia, Islam Jawa, Khilafah Islam, Salafi, Wahabi, Sunni, Syiah, Partai Islam, Ormas Islam. Tampaknya memiliki tantangan menjawab persoalan objektif masyarakat Indonesia: Oligarki dalam partai, peran demokrasi bagi kesejahteraan (welfare state), kepemimpinan yang lemah, liberalisasi ekonomi, krisis lingkungan, kekerasan berwajah agama, narkoba, korupsi dan terorisme.
Sebagai orang awam, saya memandang Indonesia kita hari ini didominasi oleh struktur negara dengan pemain utamanya para politisi-pengusaha dalam bingkai oligarki. Gawat darurat Oligarki! Rakyat adalah objek komoditi: untuk eksploitasi laporan pertumbuhan ekonomi, partisipasi politik, atas nama Tuhan; Suara rakyat suara Tuhan, Suara Partai adalah Suara rakyat. Perubahan kita diatur dalam korupsi dan kejahatan dalam kekuasan. Wah, sungguh dengan nurani awam, sebagai bangsa perahunya sudah dibawa ombak globalisasi ekonomi, ciri negara gagalkah ini? Di mana intelektual aktifis kita? Menjadi romantis, rasa merindukan Bung karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Gus Dur (intelektual dan aktifis).

 

Intelektual Aktifis

Dalam konteks gerakan sosial kita butuh peran intelektual aktifis. Kebutuhan ini didasari pemikiran bahwa aktifisme kita miskin kreatifitas, intelektualisme kita miskin dinamika gerakan. Semua serba standar; sang aktifis berdemo dan berorasi, sang intelektual menulis dan berbicara di media (koran dan televisi), menjadi staf ahli, seminaris, ikut parpol, masuk kekuasaan dengan cita-cita luhur berakhir terbajak pengusaha-politisi. Satu dua selamat, lebih banyak tersandera.

Ruang sosial kita bernama Indonesia yang kata para ahli kebudayaan tampaknya memiliki identitas budaya yang telah kabur, budaya Indonesia telah hidup bersanding dengan saling melayani dan menunjang mungkin sudah menjadi pelayan sejati budaya global yang imperialistik dan kapitalistik. Pancasila kita telah dilemahkan semua silanya, yang tersisa adalah Republik Keuangan Indonesia. Nilai luhur Pancasila kita (Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Permusyawaratan, Keadilan) tampaknya secara sosial tidak memiliki ruang yang hidup dalam sebuah tradisi kebangsaaan kita selama ini yang dibangun oleh para founding fathers. Bagaimanapun PANCASILA menurut saya adalah produk kebudayaan kita yang paling penting sebagai bentuk penjelasan yang paling baik hubungan agama dan negara.

Dalam bahasa yang sederhana, intelektual aktifis adalah intelektual yang hidup di masyarakat (bukan negara) yang berbicara dan menuliskan idenya melalui gerakan sosial. Idenya tentang perubahan, mulai dikerjakan sendiri, mengajak yang lain melalui argumennya untuk bekerja bersama di tengah masyarakat. Malamnya dia belajar, merenung dan beribadah, siangnya dia bekerja mengawal masyarakat dan hidup bersama dengan persoalan-persoalan mereka sembari bekerja untuk menghidupi diri dan keluarganya.

Dalam teori kenabian dalam Islam, Nabi diangkat dengan diberikan perangkat intelektualisme suci yaitu wahyu dan para nabi adalah orang yang telah memiliki syarat individu yaitu etika objektif universal (jujur, amanah, cerdas, karakter penyampai pesan (tablig)). Berbasis pada wahyu sebagai bahan utama risalah yang diantarkan oleh nabi kepada masyarakat dengan karakter etika individualnya. Bertemunya kedua syarat ini kemudian nabi menterjemahkan dalam bahasa sosial. Tujuan kenabian memang adalah monoteisme teoretis dan praktis yang bersifat individu tetapi syarat/landasannya adalah monoteisme praktis yang bersifat sosial. Oleh karena intelektualisme Islam tidak pernah terpisah dengan aktifisme, wacana/teoretis dan praktis adalah dua hal dalam satu nilai, artinya nilainya sebagai kebenaran ditentukan dalam hubungan keduanya / al nazhariah Al intidza’ / disposesional theory (Tashawwur dan tashdiq dalam kajian epistemologi Islam). Dari sini saya memandang permulaan sebuah gerakan yang berbasis pada intelektual aktifis yang profetis.

 

Gerakan Sosial Profetik

Agama secara umum adalah sebuah risalah Tuhan yang ingin membentuk sebuah sistem hubungan antara diri dan alam. Agama adalah sebuah pandangan dunia yang teoretis (Individu) dan praktis (sosial). Agama berbasis pada fitrah manusia yang dikontruksi untuk kemaslahatan manusia dalam memperjalankan dirinya dalam kehidupan sehari-harinya. Artinya, agama tidak mungkin hanya berada dalam sebuah defenisi terbatas/privat, agama pasti memiliki arti dan makna secara sosiologis dan budaya, suka atau tidak, keharusan intelektual dan sosial yang mempredikasi agama harus hidup dalam ruang yang terbuka (monoteisme teoretis dan praktis yang bersifat individu dan sosial)

Tuhan adalah sebuah kebenaran (Al Haqq) teoretis dan praktis, oleh karenanya Tuhan secara intelektual adalah sebuah defenisi dari kebenaran sebagai kesesuaian antara ide dan realitas, Tuhan secara spiritual adalah sebuah perjumpaan materi dan non material dalam sebuah hubungan yang niscaya (al harakah al jauhariyyah/ teori gerak substansial/ evolusi integrasi jiwa). Tuhan secara sosial adalah sebuah kerangka hubungan individu dengan alam dalam sebuah konstruksi etika dan hukum. Buat saya, Tuhan bukan pertama kali sebagai nilai moral tetapi Tuhan adalah pandangan eksistensial (hudhuri/presence) yang Nyata, moralitas muncul sebagai cara manusia untuk menilai hubungan mereka dengan yang Nyata/hakiki melalui dinamika perjuangan diantara yang benar dan salah, kebaikan dan keburukan, perang dan damai.

Orang boleh menolak Tuhan sebagai asal pencipta kehidupan (al mabda’/asal/Tauhid), tapi pertanyaannya, secara fakta kita ada sekarang dan secara fakta kita melihat kematian, dan akan ke mana kita setelah kematian? Maka menjelaskan Tuhan sebagai persoalan kembali (al ma’ad / kembali/kiamat) adalah persoalan mendasar manusia, mengapa harus ada kematian? Apa setelah kematian? Ngapain saja orang yang sudah mati itu? Jadi, tujuan profetik / kenabian selain menjelaskan asal (Tauhid) juga menunjukkan tempat kembali (Kiamat) dan cara untuk kembali (Agama sebagai kerangka hubungan profetik).

Gerakan sosial profetik adalah sebuah gerakan yang menempatkan pertama kali asal dirinya (tauhid teoretis bersifat individu) dan membawa dirinya kepada Tuhan (Kiamat) melalui sistem pandangan dunia agama/ideologi (Profetik /nubuwwah /kenabian) dalam sebuah kerangka hubungan individu dan sosial yang bersandar kepada etika dan hukum (tauhid praktis yang bersifat individu dan sosial).

 

Islam Fitrah dan Islam Bentuk

Secara fitrah/instinktif semua orang (beragama atau tidak beragama) memiliki dalam dirinya potensi untuk memiliki kebenaran, kebenaran bukan hanya klaim orang beragama, kebenaran adalah Al Haqq, maka kebenaran bersandar pertama kali pada Tuhan bukan agama. Oleh karena itu kriteria kebenaran bukan Agama (Islam Fitrah). Artinya, setiap orang berhak atas kebenarannya. Bisa saja orang menolak agama tetapi tidak mungkin (secara teoretis dan praktis) mereka bisa menolak Tuhan. Menolak agama adalah kemungkinan ideologis tetapi menolak Tuhan adalah kemustahilan (primary of existence/ashalah al wujud).

Islam bentuk adalah terbatas berdasarkan upaya intelektual, spiritual dan sosial. Islam bentuk berdasar pada Islam fitrah tetapi tidak setiap Islam fitrah akan menemukan Islam bentuk jika tidak mengupayakannya (Ideologi). Oleh karena itu, Islam bentuk adalah keperluan ideologis dalam tatanan sosial.

Islam fitrah (Islam sebagai nilai manusia bukan bentuk agama) menurut saya tidak diperdebatkan lagi, artinya kita tidak perlu memperdebatkan agama mana yang selamat, agama mana yang masuk surga /neraka, oleh karena kebenaran adalah ruang yang terbuka bagi semua orang beragama atau tidak beragama. Tetapi keperluan kita adalah menilai agama mana yang mampu menjawab persoalan ideologi (sosial-budaya). Tentu penilaiannya dalam aspek teoretis dan praktis. Islam bentuk (Islam sebagai agama) adalah metode/jalan (shirath). Jadi kita tidak memperdebatkan agama asal tetapi kita sedang mencari agama bentuk sebagai cara untuk kembali.

 

PENUTUP

Saya ingin menyimpulkan sementara apa yang menjadi persoalan seminar ini: “Pandangan Marxis Hati Islam; Landasan Teoretis Gerakan Mahasiswa di antara Sosialisme dan Nasionalisme Religius” bersama dengan uraian saya di atas:

  1. Sosialisme secara umum adalah sebuah pemikiran yang menilai bahwa ideologi itu terbentuk dari struktur sosial yang hadir di tengah masyarakat, sebuah struktur yang pembentukannya secara determinan dibentuk oleh sejarah dan perubahan masyarakat. Kerangka utama sosialisme adalah adalah ideologi tidak memiliki sistem nilai yang tetap, ideologi senantiasa berubah mengikuti pertentangan yang senantiasa hadir dalam sebuah dialektika sejati antara penindas dan yang tertindas. Islam dalam pandangan saya menerima fakta adanya penindasan dan struktur penindasan, tetapi berbeda dalam menyimpulkan sumber penindasan tersebut (ideologi). Kesimpulan Islam, bahwa struktur penindasan tersebut dibentuk oleh kondisi jiwa manusia dalam memahami diri (teoretis) dan alam (praktis). Maka sosialisme saya pandang sebagai persoalan mendasar dalam wilayah praktis bukan teoretis. Maka sosialisme religius dapat relevan dalam membangun spirit praktis, Islam dapat menjadi orientasi teoretisnya dalam menyempurnakan pandangan praktis sosialisme,terutama dalam basis historis Islam.
  2. Nasionalisme religius saya pandang sebagai basis nilai yang dapat diletakkan dalam konteks negara yang berdasarkan Pancasila. Nasionalisme juga adalah persoalan praktis yang mendasar dalam meletakkan sebuah upaya kebersamaan dan kohesifitas untuk meletakkan kondisi objektif apa yang paling realistis buat individu dan masyarakat tanpa meleburkan ideologi yang teoretis dalam sebuah kesimpulan praktis (nasionalisme). Kebenaran dan kesalahan (teoretis) tidak dapat diletakkan dalam neraca nasionalisme (praktis). Nasionalisme tetap dalam sebuah bingkai negara yang mendorong nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan masyarakat dengan warga dunia. Sifat Adil adalah objektifikasi yang paling dasar dari sebuah gerakan nasionalisme.
  3. Gerakan mahasiswa perlu menempatkan kekuatan orientasi intelektual sebagai basis pertama ideologi sebagai sebuah sistem keyakinan yang bersandar kepada ideologi sebagai sistem pemikiran. Sehingga kebenaran mutlak yang dicapai tidak tertutup dengan dinamika kehidupan sosial dalam sebuah bingkai gerakan sosial profetik (amar ma’aruf nahyi mungkar, dakwah bil hal). Persoalan mendasar gerakan mahasiswa saat ini menurut saya perlu diletakkan dalam orientasi profetik (gerakan keilmuan yang sains literacy, produksi pengetahuan) yang tidak terjebak dalam bahasa politik kekuasaan (negara) tetapi kepada masyarakat (ummah). Kelemahan mendasar gerakan sosial kita saat ini, menurut hipotesis saya, adalah kebergantungan/patronase gerakan sosial pada negara (kekuasaan).
  4. Islam adalah pandangan teoretis dan praktis (Jiwa), Marxis adalah salah satu yang memikat hati kita, tetapi bukan satu-satunya apalagi yang terbaik, Marxis adalah sahabat perjuangan kita, tetapi Islam adalah hati kita.

 

Oleh ; A.M. Safwan

About adminislat1

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *