Home / Featured / Jadilah orang agnostik yang shalih

Jadilah orang agnostik yang shalih

Bertanya bukanlah menyalahkan. Ini adalah prinsip dasar dari segala dialektik dalam diri kita. Suatu tanya berguna untuk mendapatkan informasi yang tepat, menjadi jawaban bagi hal-hal yang dianggap pelik tidak jelas dan mengganggu, atau disharmoni dalam realita.
Sebenarnya kebiasaan mempertanyakan apapun akan selalu terjadi pada semua manusia dikarenakan fitrah manusia tidak menghendaki hal-hal yang tidak (belum mampu) dipahami.
Suatu tanya adalah perjalanan untuk menjadi paham, dimulai dari rumusan hingga mendapati realitanya. Semisal si fulan dari Banyuwangi Jawa Timur hendak ke Jakarta. Sebelum berangkat mengemudikan mobilnya dia harus tau terlebih dahulu mana itu Jakarta, rute yang harus dilaluinya, dan alamat mana yang menjadi tujuan. Ini seperti teori yang akan diterapkan. Setelah mendapat teori yang benar dan mengemudi dia akan bisa sampai ke Jakarta dan menuju alamat yang ditentukan.
Demikian juga dengan hal-hal lain, suatu tanya adalah untuk mendapat teori yang tepat yang kemudian akan mengarah pada realita, bila hal itu memang tentang kenyataan dan bukan sekedar teori-teori yang abstrak seperti gagasan-gagasan. Sedangkan pertanyaan yang digunakan untuk menyalahkan tentu itu berkenaan dengan konflik, atau sengaja menciptakan konflik demi mengintegrasikan gagasan pada orang lain. Terkadang hal seperti ini bisa berlanjut pada tindakan zalim dan pengerusakan. Saya percaya untuk yang seperti itu suatu saat akan berbuah tragedi yang membawa pada penyesalan. Seseorang atau gagasan yang punya pola atau motif yang baik tentu tidak akan mudah menafikan apapun demi kokoh eksitensinya, sebab, alam ini begitu luas, dan sebagian keluasan alam ini penuh dengan rumusan yang kadang mampu dipahami orang (atau gagasan) selain kita dimana mereka mendapati atau bahkan mungkin malah hidup dengan dimensi itu. Sedangkan kita mendapat bagian yang lain dimana kita memang ahli di dimensi dimana kita tinggal. Maka antar gagasan yang dimaksudkan untuk saling menafikan jelas cara pikir yang keliru bila dalam skala kosmos.
Kita setiap saat pasti dihadapkan dengan hal-hal ketidaktahuan dan ketidakdiketahuian. Ketidaktahuan adalah kita tidak mengetahui rumusan (atau bahkan mungkin hakikat) obyek yang dimaksud. Sedangkan ketidakdiketahuian adalah kita tidak tau apa yang menjadi obyeknya sedangkan kita mengalami suatu proses yang tengah berjalan. Ini sering terjadi dalam ranah filosofi hidup, agama, metafisika, dan hal-hal abstrak.
Seperti saya katakan diatas bila manusia tidak menyukai hal-hal yang tidak jelas, tetapi biasanya hal itu berkenaan dengan kemasadepanan atau waktu yang akan datang. Kita merasakan seolah-olah waktu adalah sesuatu yang mengalir bagai kita mandi di suatu air terjun sehingga merasakan air itu mengalir dan pergi meninggalkan kita (menjadi masa lalu), sementara kita bertanya-tanya apa yang akan terjadi menimpa diri kita.
Waktu seolah-olah adalah perjalanan searah yang kita tidak bisa balik lagi dari mana kita berasal sehingga peristiwa-peristiwa bisa ditawar atau diperbaiki menurut kehendak kita. Seolah waktu adalah hal darurat sehingga kita pergi ke planet lain dan tidak akan kembali lagi ke bumi dan tidak tau apa yang akan terjadi di planet baru itu, apakah akan mati atau bisa membuat peradaban baru di planet itu.
Apa yang saya tuliskan di atas adalah berkenaan dengan pemikiran nalar akal. Tetapi sebenarnya ada hal-hal selain itu, yaitu ketika kita merasai hal-hal kehidupan kita dan berusaha mencari tau hakikatnya sehingga jiwa menjadi tentram.
Ketenangan atau ketentraman kalbu itu selalu dicari semua manusia dan di puji dalam kitab-kitab suci segala agama, meski sebagian orang antagonis dan egois akan selalu mencela ketenangan kalbu dengan alasan produktivitas. Mereka mengatakan bila ketenangan itu tidak produktif dan melalaikan dari realita hidup. Mereka adalah pembohong dan hanya bermental kapitalis, mereka tentu ingin menikmati eksistensi banyak individu demi posisi kemapanan, dan kemapanan itu sendiri sebenarnya juga bentuk dari ketenangan. Seumpama seorang tuan yang memperbudak banyak pekerja agar dia memperoleh harta yang melimpah, penghormatan dari kalangan lain, atribut-atribut keagungan, terpenuhi semua emosi dari semua lobang-lobang tubuhnya. Tentu terpenuhinya semua itu dengan tujuan memperoleh ketenangan dari gejolak-gejolak dalam dirinya. Hanya saja dia berbuat licik dan tega memperalat individu lain.
Ketenangan jiwa adalah keniscayaan yang menjadi tujuan. Ini seperti di ilustrasikan Tuhan dalam Al Qur’an :
يَـٰٓأَيَّتُہَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَٮِٕنَّةُ (٢٧) ٱرۡجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً۬ مَّرۡضِيَّةً۬ (٢٨) فَٱدۡخُلِى فِى عِبَـٰدِى (٢٩) وَٱدۡخُلِى جَنَّتِى (٣٠)
“ Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku ”. – Qs : Al Fajr : 27-30
Dalam ayat itu dikaitkan antara ketenangan dan surga. Surga bila kita pahami sebagai pentawaqufan jiwa. Pemberhentian dari pencarian perjalanan kesadaran dalam kehidupan dimana itu bernilai positif.
Ketenangan jiwa adalah bagian mutlak dari pencarian akan perjalanan hidup. Akan tetapi soal produktivitas yang konon harus mengabaikan ketenangan jiwa itu jelas gagasan yang keliru dan mengada-ada. Misal, bagaimana seorang pegawai bisa bekerja dengan baik ketika pikirannya tidak tenang. Kecenderungan terjadi kesalahan akan lebih besar dibanding pekerja yang melakukan pekerjaannya dengan tenang.
Sebenarnya yang saya maksudkan adalah berkenaan dengan dialektika. Ketika hidup sebenarnya penuh dengan hal-hal dialektis karena aktivitas nalar, baik penalaran kalbu ataupun akal, hal itu akan membuahkan banyak pertanyaan-pertanyaan yang lebih spesifik. Ini terjadi karena alam memang terbangun dari rumusan-rumusan yang begitu banyak, sehingga suatu jawaban kadang menimbulkan banyak pertanyaan lagi untuk dijawab hingga kapan akhir dari semua ini tidak diketahui. Atau setidaknya ketika seseorang pindah dimensi (mati), tetapi tentu di dimensi lain juga muncul pertanyaan-pertanyaan juga selaras dengan bentuk dimensi itu. Misal yang gampang, seorang anak SD tentu akan dipenuhi soal-soal ujian SD, ketika dia sudah ke jenjang SMP, pertanyaan-pertanyaan zaman dia SD tidak muncul lagi, akan tetapi dia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan (soal) dimensi SMP. Apakah itu lebih sulit atau lebih mudah tentu tergantung seberapa baik dia belajar. Bisa saja dulu waktu SD tidak begitu pintar. Ketika SMP sudah muncul kesadaran untuk belajar dengan baik dia menjadi pintar dan juara kelas. Atau mungkin sebaliknya, ketika SD dia selalu rangking atas, dan karena dia mengalami pubertas dan nakal dia menjadi bodoh ketika SMP.
Demikian juga soal keyakinan (agama). Ini hal yang sering dianggap sensitif dalam kehidupan, sebab, agama dipercaya sebagai jalan untuk kehidupan pasca dunia. Tetapi persoalan agama tidak sesederhana itu. Ada kenyataan buruk tentang agama-agama, belum ditambah dengan carut-marut klaim orang-orang yang mengaku sebagai agen Tuhan dimana memaksakan gagasan mereka yang didakwakan sebagai kebenaran final.
Agama saya katakan lebih rumit dibanding matematika dan fisika. Sebab, dua ilmu itu bisa dikuasai dengan baik dengan banyak latihan, dan itu hanya rumusan dua dimensi panjang kali lebar sebagai (diatas) kertas. Sedangkan soal agama adalah multidimensi sehingga serba pelik, tidak jelas, dan tidak ada kesepakatan.
Sebenarnya agama terkait erat dengan dialektik. Kalau kita membaca Al Qur’an tentang kisah-kisah para nabi, terutama nabi Ibrahim a.s. sebagai bapak monotheisme, beliau penuh dialektik. Beliau memulai keyakinannya dari mempertanyakan gejala-gejala alam. Hal kosmologi inilah yang membawa beliau pada kesimpulan ada pengatur tunggal dalam kosmos dimana benda-benda dalam jagad semesta ini tunduk dalam aturan yang diberlakukan-Nya.
Ketika agama sudah tidak sesimpel aslinya karena gejala-gejala antropologis, orang bisa menjadi mempertanyakan gagasan-gagasan (doktrin atau dogma) agama-agama. Tentu doktrin dan dogma agama adalah juga buah pikir atau mungkin juga dialektis seseorang yang kebetulan dia punya cita-cita atau ambisi besar untuk mengitegrasikan gagasannya itu pada kehidupan banyak orang kalau perlu semua manusia.
Suatu gagasan bagi orang tertentu bukan dianggap sebagai hal final sehingga layak dipaksakan pada orang lain, terlebih dia punya bentuk psikologi yang kreatif, mencintai ilmu pengetahuan, berpikiran luas, dan punya visi yang maju. Hal-hal seperti ini biasanya lebih banyak terjadi di wilayah sains ketimbang agama. Sebab, agama selalu menekankan ketaatan, sedangkan sains mengutamakan obyektifitas dan produk, yaitu teknologi.
Amatlah sering kita ketahui bila gagasan sains berbenturan dengan gagasan agama. Ini wajar. Tak jarang pula banyak saintis hingga akhirnya menyatakan sebagai atheis atau agnostik, bukan karena mereka tidak percaya keberadaan Tuhan, hanya saja tidak sepakat dengan cara penafsiran agama.
Agnostik, adalah pertengahan antara agamis dan sains. Suatu sudut pandang mempertanyakan penafsiran agama. Ini sebenarnya juga bentuk dialektis dalam diri seseorang menyikapi gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh orang lain dan berbenturan dengan realita atau gagasan yang di anut nya.
Untuk sementara ini agnostik dalam Islam sering di identik kan dengan hal-hal negatif, sesat, murtad, kafir, dan bahkan atheis.
Seperti ungkapan saya di atas tadi bila “Pertanyaan bukanlah penyalahan”, kaum agnostik sebenarnya tidak menafikan agama, hanya saja mereka mempertanyakan pembuatan rumusan agama-agama itu, terlebih rentang periode waktu dengan tokoh utama agama (para nabi) sudah sangatlah jauh, sehingga penuh dengat tafsiran menurut kebutuhan kelompok tertentu, atau bahkan penuh bias.
Seorang saintis tentu akan menilai suatu ajaran agama dengan metodologi yang di miliknya, bukan sekedar dalil literatur agama secara baku dan formal. Ini seperti validitas untuk mendapatkan nilai kebenaran universal.
Saya punya taksiran, sebenarnya agnostik akan terjadi pada semua orang yang menyatakan diri beragama. Mempertanyakan ulang apa yang diyakini, hanya saja seberapa kuat dia membiarkan itu terjadi dalam dirinya. Mungkin ini akan dikatakan sebagai bisikan setan atau bisikan kesesatan dsb. Menurut saya itu tidaklah mengapa. Itu semacam tahqiq atau observasi kedalam dirinya sendiri berkenaan dengan apa yang dipercayainya.
Tahqiq dan observasi memiliki kesamaan, yaitu, mengurai atau memecah suatu persoalan menjadi sub dibawahnya, sehingga akan nampak bagian-bagian struktur yang kecil sebagai penyusun apa yang menjadi persoalan (bahasan).
Ini mungkin akan terasa mengerikan dalam sudut pandang agama, dimana akan dianggap sebagai pintu kesesatan. Akan tetapi saya tegaskan bila “Mempertanyakan bukanlah menyalahkan”. Justeru seharusnya kita heran, kenapa persoalan itu ditutup dan dikunci rapat agar tidak dipertanyakan. Atau hanya sebenarnya tidak mampu menjawab pertanyaan sehingga ganti melempar tuduhan.
Tidaklah mengapa masih belum menemukan suatu jawaban asal hati tetap tenang dan tidak risau oleh obsesi-obsesi dalam jiwa, sebab, semua yang ada di alam ini bergerak. Jadi, mungkin jawaban akan hadir diwaktu di luar dugaan kita, atau pertanyaan itu menjadi sirna dengan sendirinya dikarenakan timbul suatu gagasan lain yang bisa memudarkan sensasi dan obsesi pertanyaan itu tadi.
Hubungannya dengan shalat
Karena shalat dalam Islam dianggap paling penting, maka akan saya kemukakan di sini bahasan di atas dengan shalat. Seseorang yang sudah pada tahap agnostik atau mempertanyakan Islam kadang dia menjadi enggan shalat. Ini wajar sekaligus salah langkah.
Saya katakan wajar dan salah langkah karena seorang yang mencurigai suatu hal biasanya kalau dia sudah kecapaian akan cenderung menghindari obyek yang dicurigai itu dan menganggap bila kecurigaannya adalah benar dan apa yang dicurigai memang selayaknya dijauhi. Seseorang yang sudah hampir kehabisan energi kejiwaan yang sehat akan cenderung mengabaikan shalat karena dianggap bila shalat yang bagian penting dari Islam itu bahwa Islam adalah sumber masalah dalam kehidupan.
Saya katakan bila orang seperti ini salah karena dia lupa bila fungsi mempertanyakan bukan untuk menyalahkan, tetapi mempertanyakan adalah untuk terus maju dengan tujuan mendapati esensi dari hal yang dipertanyakan itu.
Seseorang yang bergumul dengan sains yang ber-basik materialistik ketika dia sudah mengarah pada agnostik dia akan cenderung tidak mempercayai mistisisme dan metafisika, tentu termasuk ritual ibadah versi agama dianggap kebodohan yang layak ditinggalkan. Dalam hal ini shalat adalah nomer satu yang harus ditinggalkan.
Ketahuilah, biasanya orang seperti di atas akan terbentur dengan pertanyaan-pertanyaan soal jiwa. Bagaimana tentang jiwa, dan seluk beluknya. Hal ini tentu tidak akan bisa dijawab dengan matematika dan fisika dimana dua hal ini basik dari semua sains.
Saya katakan, bagi orang-orang seperti ini dimana dia mengalami kebingungan karena pertanyaannya sendiri sehingga mengarah pada mengabaikan nilai-nilai esoteris (hakikat) kehidupan yang penuh misteri ini. Janganlah mengabaikan agama dan shalat bila sedang pada posisi mendukung agnostik. Sebab, apa yang dipertanyakan itu bukan konsep dasar dari agama, akan tetapi mempertanyakan pembakuan doktrin / dogma dimana itu terjadi karena aktifitas pikir dan dialektik orang-orang tertentu. Dan itu memang sah. Akan tetapi hal-hal universal agama jangan diabaikan juga, sebab, itu memang kehendak Sang Pencipta manusia dan segala jagad ini.
Seorang agnostik karena sains tentu akan berpikir soal jiwa, apa yang akan terjadi dengan jiwanya ketika dia mati, di dimensi mana kesadaran yang diperoleh selama ini, dst … , Untuk itu saya katakan, “Jangan abaikan shalat”, sebab, shalat berhubungan dengan hal kejiwaan. Cobalah anda ingat atau perhitungkan sendiri, bukankan semua urusan shalat mulai takbir hingga salam semua berkonteks kosmologi ?. Jadi, ini adalah peluang untuk membuka wawasan kesadaran baru untuk menemukan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan obsesi yang mengarahkan pada agnostik tadi. Mungkin shalat akan terasa jelek dan memalukan karena tidak profesional, atau shalat dianggap tidak produktif membuang-buang waktu dengan doa-doa bodoh yang tidak masuk akal. Tetapi sekali lagi saya katakan bila semua ucapan shalat adalah bagi keuntungan diri sendiri dalam konteks kosmologi. Maka menganggap bila shalat itu buruk artinya dia sendiri dalam kondisi akal dan kalbu yang sedang buruk. Maka sudah selayaknya dan sepatutnya seseorang keluar dan bangkit dari kondisi ini.
Aktifitas pikir bila sudah sangat intens memang sering membawa pada kelalaian atau pengabaian realita lain. Tentu ini bukan hal baik, seumpama ketika anda sedang bekerja keras dan mengabaikan makan dan istirahat tentu anda akan mudah sakit atau bahkan memperpendek usia. Lalu sebenarnya apa (makna) yang diperjuangkan dalam hidup ini ?!
Ketika manusia tidak tau bagaimana kondisinya yang akan terjadi di masa depan dimana kematian adalah pasti, sedangkan kematian itu sendiri adalah hal-hal tentang jiwa yang abstrak tidak dapat dinalar dengan logika maka layak baginya untuk melakukan shalat. Sebab, shalat yang sebenarnya adalah hal-hal yang kosmologikal dari awal hingga akhir, mulai takbir hingga salam dimana manusia yang mikrokosmos terhubung dengan semesta alam (manifestasi sifat Tuhan) sebagai kutub makrokosmos. Sehingga shalat itu bukanlah hal-hal yang merugikan seperti banyak anggapan orang. Karena inilah dalam agama dikatakan bila shalat menjadi penilaian pertama atas penghambaan (relasi) antara makhluk kepada khalik-nya.

About adminislat1

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *