Home / Keindonesiaan / Jebakan Bubble Information

Jebakan Bubble Information

Sejak awal ditemukannya, teknologi internet telah memberi impian indah bagi banyak orang berjiwa bebas. Sebuah mimpi indah di mana teknologi informasi diharapkan makin meluaskan wawasan, mengenalkan ide-ide baru, dan melesatkan dunia ke masa depan yang cemerlang.

Sebuah masa depan cerah di mana kita terkoneksi dengan dunia, dengan orang-orang yang cerdas, kreatif dan inspiratif. Untuk bersama membangun dunia. Namun, ternyata di balik itu semua, sebuah bayangan hitam mengincar. Di tengah kecepatan kemajuan teknologi, justru kita melihat putaran fenomena yang terbalik.

Di jaman media menguasai dunia, televisi, radio, koran, internet sampai tumpah-tumpah mengobral informasi dari berbagai sumber dan perspektif, kita justru melihat sementara orang yang makin ngerti teknologi, makin gaul dan selalu update dengan gadget terbaru justru makin tambah jumud dan kolot. Makin sempit cara berpikir dan wawasannya dan makin rentan terpapar pemikiran ekstrim dan takfirisme.

Tidak sulit kita sekarang melihat betapa orang jenis ini alih-alih berpikiran terbuka, malah begitu mudah mengvonis orang/kelompok lain dengan tuduhan sesat, kafir, bahkan halal dibunuh. Apa pasal? Ternyata karena teknologi itu sendiri.

Terpenjara Informasi

Namanya fenomena bubble information. Algoritma Google dirancang untuk menampilkan informasi-informasi sejenis yang disukai oleh penggunanya. Yang tidak atau jarang dibuka atau di-klik, tak akan ditampilkan di mesin pencarian. Di sinilah efek buruk teknologi justru memenjarakan user-nya dalam bubble-nya sendiri.

Ada pergeseran modus bagaimana informasi yang tadinya diharapkan membebaskan manusia, justru malah memenjarakan penggunanya. Internet memang memanjakan kita untuk melihat apa yang ia (mesin algoritma pencari) pikir kita ingin lihat. Tapi, celakanya ia membuat kita terhalangi untuk melihat apa yang ada di luar ‘bubble’ kita.

“It will be very hard for people to watch or consume something that has not in some sense been tailored for them,” aku Eric Schmidt, salah seorang otak utama di balik Google.

Karena ‘disuapi’ oleh algoritma yang hanya memunculkan apa yang sering kita ‘klik, efek buruknya jelas. Kita jadi terhalang untuk melihat apa yang penting. Kita kehilangan kesempatan untuk melihat info-info di luar kita yang yang relevan, ide-ide baru yang kreatif dan inspiratif, atau bahkan sesuatu yang ‘tidak kita sukai’ apalagi dengan ‘yang mengkritik preferensi kita’. Padahal itu tak kalah pentingnya, karena bisa membuat kita sadar akan kekurangan dan selalu mendorong kita untuk maju.

Ya, tepat di sinilah pengerasan terjadi. Di sinilah penjumudan sublim dan sistematis makin menggumpal. Teknologi bukannya membebaskan, malah memenjarakan orang dalam bubble-nya sendiri. Dalam ilusi perspektif awalnya sendiri. Teknologi malah membuat orang tidak melihat dan bahkan tak siap dengan perbedaan. Belum kalau kita melihat lingkar eksklusif grup-grup BBM ato WA yang memiliki habitat sosialnya sendiri itu.

Jadi jangan heran, kenapa banyak kita lihat orang-orang yang secara penampilan itu modis, gaul, ngerti teknologi, tapi isi kepalanya kolot, jumud, dan sempit sekali. Seperti orang yang tak pernah piknik dan kurang gaul. Dan jadinya gampang kena virus takfirisme.

Ironis, di era globalisasi dan teknologi ini yang mestinya makin mencerahkan dan mencerdaskan orang, justru teknologi-lah yg sekarang bersumbangsih besar memenjarakan dan menjumudkan seseorang.

Oleh ; Muhammad Ngaenan (Mahasiswa semester akhir STAI)

About adminislat1

Check Also

Dalam NKRI Tak Ada Orang Kafir

Dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tak ada orang kafir. Pemeluk agama disebut berdasar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *