Home / Featured / KAJIAN – Ibn Arabi: Hidup Ini Hanyalah Mimpi (Bagian 4)

KAJIAN – Ibn Arabi: Hidup Ini Hanyalah Mimpi (Bagian 4)

Takwil

Bagi Ibn Arabi, mimpi itu bukan tidak nyata. Hanya saja, seperti watak mimpi, ia membutuhkan pada takwil. Ia nyata, tapi perlu dimaknai melalui takwil tertentu. Arti takwil secara harfiah adalah mengembalikan sesuatu kepada asalnya, kepada awalnya (dari asal kata awwala). Dan di sini logika Ibn Arab memang konsisten. Dalam bukunya, Al-Futuhat Al Makkiyah, dia menyebutkan semua perintah Allah yang terkait dengan organ-organ tubuh manusia seperti wudu, shalat, rukuk, sujud dan sebagainya bukan hanya tampilan luarnya yang dimaksudkan.

Ibn Arabi dalam bab Thaharah Al-Futuhat Al Makkiyah memunculkan sebuah istilah untuk menjelaskan masalah di atas: ‘itibar. Secara harfiah, ‘itibar diambil dari kata ‘abara yang bermakna ‘melintas’. Menurutnya, semua aktivitas lahiriah ibadah itu memiliki ‘lintasan’ ke suatu makna batin, yang merupakan makna awalnya. Dan itulah takwilnya.

Dengan ‘itibar itu, kita bisa memahami mengapa ‘buang air’ membatalkan wudu yang dilakukan dengan membasuh wajah. Menurut Ibn Arabi, membasuh wajah itu adalah mimpi dan takwilnya adalah membasuh fitrah manusia. Karena dalam bahasa Arab, wajah adalah hakikat sesuatu. Dalam aplikasinya, ketika orang Arab mengatakan ‘wajah’ yang dimaksud ialah hakikatnya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman, “Fa ainama tuwallu fatsamma wajhullah,” (QS. Al Baqarah 115) yang berarti “kemanapun engkau menghadap, engkau akan melihat wajah Allah.” Wajah Allah tentu bukan berarti ‘muka’. Ini pandangan keliru ketika mimpi biologis manusia membayangkan Allah. Takwil ‘wajah’ di sini ialah hakikat dan kehadiran Allah Swt.

Demikian pula ketika membasuh tangan dalam wudu. Menurut Ibn Arabi, sesungguhnya yang dimaksud bukanlah tangan fisik manusia tapi kekuasaan atau amanat yang dia emban dan dia miliki. Dalam Al-Qur’an dikatakan, “yadullah fauqa aydihim,” (Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka. – Al-Fath: 10). Artinya, tangan yang dibasuh bukan hanya tangan fisik, melainkan kekuasaan dan amanat yang diemban si pelaku wudu itu. Inilah konsistensi Ibn Arabi yang bersumber dari pembacaannya yang ketat terhadap Al-Qur’an.

Kehidupan ini bukanlah mimpi palsu tapi mimpi biologis yang perlu dilintasi melalui takwil. Jika ada orang yang menganggap palsu, silahkan saja tangannya dicubit. Bukankah orang yang mimpi dikejar anjing bisa berefek ketakutan atau keringatan? Mimpi tercebur ke sumur misalnya, bisa membuat orang itu terbangun dan berkeringat ketakutan.

Ya, Ibn Arabi tidak sedang mengajak orang menjadi apatis dan pasif. Tetapi, dia mengajak orang untuk memiliki kesadaran yang tidak dangkal. Dia ingin seorang manusia menyadari adanya kehadiran dan tingkatan yang beragam dari kehidupan ini.

Kasyaf Epistemologis

Seperti dijelaskan sebelumnya, cara takwil dari mimpi biologis itu ada dua cara. Yaitu, cara ontologis dan ‘kasyaf’ epistemologis. Cara ontologis dengan meng-fana-kan diri, sedemikian sehingga manusia itu tidak lagi mengatakan ‘aku’ di hadapan penampakan-penampakan dan kehadiran-kehadiran Ilahi.  Karenanya, Ibn Arabi mengatakan “ana ibnul waqt wa ibnul maqam”, yang berarti, “aku adalah anak waktu dan anak maqam.” Ibn Arabi berkata, “Sesungguhnya aku tidak ingin mempercepat perjalanan maqamku sebagaimana juga aku tidak ingin memperlambat. Aku hanya ingin melihat apa yang Allah tampakkah padaku pada beragam waktu dan maqam sesuai kehendak-Nya.”

Yang dimaksud kasyaf dalam cara kedua, artinya menyingkap dan menyibak. Alam mimpi ini disingkap tabirnya hingga terlihat hakikatnya. Penjelasan rasionalnya ialah ketika alam indrawi ini diakui sebagai alam paling rendah berarti harus diakui bahwa ada alam yang lebih tinggi. Dan yang lebih tinggi harus diakui sebagai yang lebih hakiki. Inilah yang disebut sebagai gradasi atau kebertingkatan.

Tentu yang dimaksud dengan gradasi bukan seperti ketika yang di sini ada lalu di sana tidak ada. Tapi maksudnya di sana ada tapi tidak terlihat oleh mereka yang berada di sini. Agar dapat melihat yang ada di sana, seorang harus melalui kasyaf.  Istilah kasyaf ini juga ada dalam Al-Qur’an seperti dalam surah Qaf, ayat 22, Allah juga berfiman, “laqad kunta fi ghaflatin min hadza fa kasyafna anka ghitaaka fa basharukal yauma hadida.” Artinya, “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai tentang hal ini,” apakah mungkin kita lalai tentang sesuatu yang tidak ada? Menurut Ibn Arabi, tidak mungkin Allah salah berfirman. Sekali lagi, apakah lalai itu tentang sesuatu yang ada atau tidak ada?

Tentunya, lalai itu berlaku atas sesuatu yang sudah ada lalu kita lalaikan atau abaikan. Jika kita melalaikan sesuatu yang tidak ada, maka secara bahasa, logika dan moral kita tidak bisa disebut ‘melalaikan’. Mungkinkah dikatakan, ‘Jangan lalaikan kedua anakmu’ pada orang yang belum memiliki anak? Tentu saja tidak.

Ayat ini, Qaf: 22, termasuk ayat favorit para ahli kasyaf. Lanjutan arti ayatnya, “maka Kami singkapkan (kasyafna) daripadamu yang menutupi matamu maka penglihatanmu pada hari itu menjadi tajam.” Artinya, ada alam lain yang berjalan ‘di sana’ tapi kita lalaikan. Kelak, ketika diangkat (disingkap) tabirnya, ternyata alam itu telah mengikuti kita.

Contoh sederhana yang diyakini semua Muslim, bahwa ada dua malaikat pencatat di kanan dan kiri kita namun sebagian dari kita melalaikannya. Penggunaan lalai dalam contoh ini benar belaka. Menurut Ibn Arabi, sekiranya Anda mengalami kasyaf, maka sebenarnya dua malaikat itu memang selalu ‘mengintip’. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Rasulullah selalu berjalan paling belakang dan meminta para sahabatnya berjalan lebih dahulu. Lalu Rasulullah bersabda, “Biarkan punggungku dikuntit oleh para malaikat.” Dalam riwayat lain yang lebih masyhur, Rasulullah bersabda, “Sekiranya bukan karena dosa-dosa yang kalian lakukan, maka kalian akan mendengar yang aku dengar dan melihat apa yang aku lihat.”

 

Sumber : https://islamindonesia.id/kajian/kajian-ibn-arabi-hidup-ini-hanyalah-mimpi-bagian-4-2.htm

About syauqi glasses

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *