Home / Featured / Kebangsaan di Awal Agama Manusia

Kebangsaan di Awal Agama Manusia

Pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta terlihat begitu menguras energi bangsa ini, terutama energi negatif. Dampak buruk dari energi negatif yang berlebihan bisa merusak tatanan sosial kebangsaan. Keberagaman kita bisa terkoyak disebabkan isu SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) yang kian menguat.

Agama seakan dijadikan dalih untuk menilai seseorang dalam kelas kebangsaan. Padahal, kebangsaan dengan agama sebenarnya dua hal yang berdiri masing-masing. Namun satu sama lain saling mengisi dan memberi makna.

Bangsa menurut Ernest Renan (1882) merupakan jiwa, suatu asas kerohanian yang timbul dari kemuliaan bersama di masa lampau (aspek historis), dan keinginan untuk hidup bersama di masa yang akan datang.

Dengan demikian, kebangsaan merupakan nilai-nilai solidaritas yang telah dirajut sedemikian lama dalam kehidupan bersama untuk masa depan.

Kebangsaan dalam Yahudi

Agama Yahudi merupakan agama langit pertama yang teridentifikasi memiliki kitab suci. Agama yang dibawa oleh keturunan Ibrahim bernama Musa atau Mose (Ibrani). Secara akar kata Musa bermakna dua, yakni ditarik keluar dari air dan menarik keluar dari Mesir.

Kehadiran Musa (1527-1408SM) digambarkan sebagai juru selamat atas kelompok manusia keturunan Judah, putra keempat Ya’kub dengan istrinya Lea. Begitulah Kitab Suci Tanakh (Taurat) mengabarkan. Yahudi di masa itu merupakan kelompok yang tertindas di Mesir di bawah kerajaan Firaun yang besar. Identitas keturunan Judah dengan kehidupan sosial marginal, menjadikan Musa sebagai pemimpin di masanya untuk mencari wilayah baru.

Musa membawa kaum Yahudi mengembara keluar dari tanah Mesir selama 40 tahun untuk menemukan tanah perjanjian atau yang dijanjikan YHWH atau Yahweh (Tuhan dalam bahasa Ibrani). Walaupun Musa pada akhirnya meninggal di bukit Nebo (Yordania) sebelum memasuki tanah Kana’an.

Di tanah Kana’an itulah kebangsaan Yahudi terbentuk dan terdeklarasikan dengan jelas. Dengan identitas ras sekaligus agama yang melekat pada suatu bangsa. Penguatan kebangsaan yang dirintis Musa ini berlanjut hingga David (Daud) dan Solomon (Sulaiman) membentuk sebuah kerajaan atau pemerintahan.

Di sini, kebangsaan Yahudi digambarkan berangkat dari kesamaan keturunan, lalu ada misi agama yang diemban Musa menunjukkan jalan penguatan untuk menuju kebangsaan.

Kebangsaan dalam Kristen

Bangsa Yahudi sepeninggal Daud dan Sulaiman menjadi sebuah bangsa yang terjajah. Mencapai puncaknya di saat Kekaisaran Romawi berkuasa. Dimulailah penindasan Romawi terhadap bangsa Yahudi di tanah mereka sendiri.

Jesus (1-33M) dari Nazareth hadir ke muka bumi sebagai pengemban amah Tuhan di hadapan bangsa Yahudi. Jesus sendiri dipahami sebagai Raja Penyelamat, hal ini sesuai dengan apa yang termaktub dalam Injil Matius. Dengan demikian, Jesus sebagai pembebas bagi bangsanya.

Semangat pembebasan Jesus agar bangsa Yahudi bisa melepaskan dirinya dari ruang penjajahan seakan mengumandangkan terompet kebangsaan. Di masa itu, pelembagaan Rabi atau Rabbi (tokoh agama Yahudi) selain menjadi sentra tunggal otoritas agama, sekaligus penguasa kedua selain kekaisaran Romawi. Kerjasama penguasa dengan para rabi menjadi titik temu penghancuran bangsa Yahudi, penindasan.

Jesus melakukan perlawanan terhadap keduanya. Baik terhadap para rabi dan penguasa Romawi sekaligus. Melalui ajaran bukan dengan kekerasan. Spirit perlawanan untuk pembebasan bangsa Yahudi terlihat dari sikapnya yang tidak pernah mau berkompromi dengan para penindas.

Jesus menjadi garda terdepan di tengah masyarakat mengajarkan kemanusiaan sesama anak bangsa. Namun, ajaran Jesus dianggap sebagai ancaman bagi kekuasaan. Hingga kemudian Jesus sendiri menjadi korban kebrutalan para tokoh agama dan penguasa Romawi, disalib.

Di sini, identitas sebuah bangsa sudah ada terlebih dahulu. Namun kesadaran akan kebangsaannya yang hilang. Maka Jesus berupaya mempersatukan anak bangsa dalam nilai kemanusiaan, tidak berpecah-belah, tidak terhegemoni oleh kekuasaan. Sebab, hakikat kekuasaan cenderung menindas. Minta dilayani bukan untuk melayani. Ini pula yang termaktub dalam Alkitab (Matius 20:28).

Kebangsaan dalam Islam

Rasulullah Muhammad (570-632 M) diutus Allah guna menyempurnakan akhlaq umat manusia di Semenanjung Arab. Arab sebagai sebuah bangsa sudah jauh terbentuk sebelum Nabi Muhammad lahir. Namun persoalannya, kebangsaan di tanah Arab sering kusut disebabkan fanatisme dan sentimental antar kabilah di masyarakat Arab yang begitu tinggi (Ashabiyah).

Proses Hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad ke Madinah disebabkan Madinah yang terdiri atas berbagai campuran kabilah dan suku (heterogen), cenderung menjadi masyarakat yang terbuka, dan egaliter. Walaupun prilaku Ashabiyah itu ada, namun tidak seburuk pada masyarakat Mekkah yang tertutup. Di Madinah kemudian ajaran-ajaran Rasulullah tentang kesetaraan (equality) dan anti Ashabiyah itu terserap dalam kehidupan bersama.

Di sini, Rasulullah memperkuat kebangsaan yang heterogen dengan nasionalisme, demi kepentingan kehidupan seluruh penduduk Madinah. Menumbuh kembangkan rasa memiliki bersama terhadap Negeri Madinah. Rasulullah berperan menjadi juru damai apabila ada perselisihan antar kabilah, semisal perselisihan turun temurun antara Kabilah Aus dan Khazraj.

Tidak hanya itu, bahkan Nabi membuat perjanjian dengan para kabilah-kabilah di tanah Madinah, bahwasanya jika ada pihak kabilah yang mendapat serangan dari luar, maka semua kabilah akan bersama-sama melawannya.

Dengan demikian, di sini Islam mengambil posisi sebagai penguat atau penopang atas hubungan baik sesama penduduk di Madinah. Rasulullah tidak berposisi layaknya Musa yang menuntun kelompoknya menjadi sebuah bangsa. Namun, Rasulullah bertugas menjaga keutuhan kebangsaan yang telah terbentuk. Maka digalakkanlah gerakan rasa cinta tanah air.

Cinta Rasulullah pada Madinah ini terdapat dalam beberapa hadis, salah satunya yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Sahabat Anas RA “Rasulullah SAW jika pulang dari bepergian dan melihat dataran tinggi kota Madinah mempercepat jalan untanya dan bila menunggang hewan lain beliau memacunya”.

Penutup

Gambaran dari hubungan kebangsaan dalam fase awal agama-agama lahir itu berbeda-beda. Pada fase Musa, identitas keturunan sebagai pembentuk kebangsaan dengan agama sebagai pendorongnya. Pada fase Jesus, agama menyadarkan kebangsaan untuk melawan penindasan. Dan dalam fase Nabi Muhammad agama mendorong rasa cinta pada kebangsaan (nasionalisme).

Dengan demikian, sesungguhnya kebangsaan itu tidak dilahirkan dari rahim agama, dan begitu pula sebaliknya. Agama dan kebangsaan berdiri masing-masing, bertemu dalam proses untuk membangun kepentingan bersama, yakni terjaganya tanah air, keutuhan persaudaraan dan kepentingan pembangunan.

Di Indonesia, kebangsaan sudah terbentuk jauh sebelum kemerdekaan. Semua berjalan dengan keberagaman yang ada. Maka dari itu, Bhinneka Tunggal Ika lahir dari tujuh abad lamanya kita berbangsa tanpa nama.

Semboyan kebangsaan diambil dari Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular yang ditulis pada abad ke-14 Masehi. Baru kemudian pada fase menjelang kemerdekaan, kita memproklamirkan diri dengan nama Bangsa Indonesia.

Sejarah menunjukkan bahwa posisi agama-agama dalam kebangsaan ini setara. Tidak ada yang lebih superiotas antar agama, suku dan golongan satu dengan yang lainnya. Keberadaan agama-agama menjadi penopang, penunjang, atau penguat dalam berbangsa dan bernegara.

Dalam Political Geoghraphy (1987) Frederich Ratzel mengemukakan bahwa negara hanya dapat kokoh, berkembang, dan menjadi besar apabila bangsa tersebut kuat dalam ikatan. Jika suatu bangsa tercerai berai, maka dengan sendirinya negara akan rusak, berantakan dan hancur.

Apa yang dikemukakan Ratzel tersebut memang teruji bila melihat kawasan Timur Tengah hari ini. Dari perang saudara sesama anak bangsa, hingga ekspansi militer dari pihak ketiga.

Akhir-akhir ini, di nusantara ini, merawat persaudaraan sesama anak bangsa sedikit mengalami ujian. Sebab, meributkan perbedaan dukungan dalam pilkada terlihat begitu mudah untuk dilakukan, bukan?

 

Sumber : http://www.qureta.com/post/kebangsaan-di-awal-agama-manusia

About syauqi glasses

Check Also

TASAWUF – Mereka Yang Diberi Hidayah Khusus Oleh Allah

“Dan Allah – yang mulia dengan segala asma-Nya – dalam waktu ke waktu dan dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *