Home / Featured / Kerukunan Umat Beragama, Sebuah Tinjauan Normatif Islam (Bag. 1)

Kerukunan Umat Beragama, Sebuah Tinjauan Normatif Islam (Bag. 1)

Oleh Prof. Dr. Nurcholish Madjid*

Mukaddimah

Memang dirasakan adanya beberapa anomali dalam kita memandang diri kita sendiri sebagai bangsa.  Di satu pihak kita sering memuji dan mengagungkan diri sendiri sebagai “bangsa timur” yang sopan dan halus (“bangsa barat” tidak sopan dan kasar). Namun jika dilihat bagaimana situasi lalu lintas kita—dan jika benar cara berlalulintas mencerminkan kepribadian bangsa seperti bunyi poster-poster—maka terpaksa harus diakui bahwa kita termasuk bangsa yang paling tidak sopan dan paling kasar di muka bumi ini.

Kita juga senang mengklaim sebagai bangsa yang menganut dasar falsafah perikemanusian yang adil dan beradab. Tapi sudah merupakan bumbu yang enak dalam percakapan sekitar meja makan di kalangan mereka yang tahu keadaan luar negeri dan mengalaminya bahwa nilai-nilai perikemanusian terdapat lebih banyak pada bangsa-bangsa yang kita tuduh sebagai tidak memilikinya daripada pada kita.

Jika kita lihat bagaimana kita memperlakukan orang kecil, sejak dari pedagang asongan di tepi-tepi jalan, para pemilik tanah yang tidak berdaya, cara menyisihkan lawan dalam persaingan bisnis dengan menggunakan pengaruh kekuasaan politik dan lain-lain—yang beritanya setiap hari menghiasai halaman-halaman koran—maka kita harus akui dengan jujur bahwa banyak bangsa yang tidak secara resmi dan konstitusional meletakkan dasar perikemanusiaan menunjukkan kinerja kemanusiaan yang lebih tinggi daripada kita.

Demikian pula dalam hal kerukunan dan toleransi agama. Betapa seringnya kita mendengar pujian, baik oleh diri kita sendiri (lebih banyak) maupun oleh orang lain, bahwa kita adalah bangsa yang paling toleran dan rukun. Tetapi kerusuhan keagamaan, baik intern satu agama maupun antara agama-agama yang berbeda, bangsa kita adalah salah satu yang paling buruk di planet ini.

Bangsa-bangsa Timur Tengah yang oleh Barat sering dituduh sebagai sarang fundamentalisme dan terorisme justru sedikit sekali mengenal bentrokan antar umat beragama. Kecuali di Mesir selatan (di kota Assiut). Di Palestina (termasuk yang kini menjadi ”Israel”) dan di Lebanon. Itupun terutama disebabkan bukan oleh sifat hubungan antar agama itu sendiri, melainkan oleh kekecewaan sosial-politik yang getir sekali akibat kezaliman Israel dan sisa-sisa imperialisme Barat di sana.

Karena itu, sudah sepatutnya kita mempersoalkan kembali masalah ini dan menilai serta meninjaunya secara lebih jujur dan penuh kesungguhan. Dalam hal ini, jika diharapkan adanya hasil yang optimal, kejujuran itu dituntut baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang dan pihak lain. Banyak hal yang dalam masyarakat sudah menjadi “rahasia umum” namun tidak pernah dikemukakan secara terbuka.

Melalui suatu manipulasi dan demagogi, hal-hal yang merupakan “rahasia umum” mudah sekali diubah menjadi pangkal pandangan dan sikap penuh emosi, yang kemudian pada urutannya diubah menjadi energi yang destruktif. Banyak orang yang menghindar dari pembicaraan jujur dan terbuka tentang “rahasia umum” itu karena tidak mengenakkan telinga dan menyinggung perasaan pihak lain.

Tapi akibatnya ialah bahwa “rahasia umum” itu terbiarkan tumbuh menjadi api dalam sekam yang setiap saat dapat menyala berkobar-kobar karena tersiram oleh bensin demagogi dan retorika politik dan keagamaan akibat kekecewaan sosial-ekonomi dan perasaan teringkari dalam berbagai proses kehidupan masyarakat. Agamapun menjadi korban, dan para pemeluknya tertimpa oleh nama buruk.

Tinjauan kembali masalah kerukunan umat beragama akan lengkap sempurna jika dilakukan dari dua segi: pertama segi ajaran agama yang merupakan pangkal keharusan-keharusan; dan kedua segi sosial historis yang merupakan wadah kenyataan-kenyataan.

Segi yang pertama mungkin tidak terlalu sulit, asalkan kita memiliki piranti yang diperlukan untuk melihat dan mengapresiasi kembali khazanah keagamaan kita secara luas dan mendalam. Kesulitannya ialah faktor penerimaannya oleh masyarakat umum, khususnya mereka yang telah terkungkung oleh stereotip-stereotip keagamaan yang dapat disebut sebagai kristalisasi dari pengalaman getir-pahit kesenjangan sosial, atau semata-mata oleh obskurentisme (ketidakpedulian intelektual), bahkan mungkin hanya karena kesenjangan dalam bahan bacaan.

Segi sosial-historis persoalan kerukunan umat beragama adalah lebih sulit karena menyangkut hal-hal yang mungkin sensitif. Inilah yang telah diisyaratkan di atas sebagai “rahasia umum”. Kesulitannya ialah, banyak orang berpendapat bahwa segi sosial-historis itu tidak perlu diperkatakan. Tapi, juga sudah diisyaratkan, membiarkan hal itu terpendam akan menimbulkan bahayanya sendiri, yaitu suatu bahaya yang biasa timbul oleh adanya ‘pent up feelings”.

Tapi karena berbagai hambatan dan keterbatasan, makalah ini membatasi diri hanya kepada tinjauan dari segi ajaran. Jadi merupakan suatu pendekatan normatif. Segi sosial-historis, jika kita ingin lebih daripada sekedar mengangkar “rahasia umum” dan bahkan mungkin hanya “desas-desus”, menuntut penelitian yang luas dan mendalam. Dan hal itu ada di luar kapasitas makalah pendek ini.

Keimanan Islam, Kaum Yahudi dan Nasrani

Pertama-tama harus diperjelas di sini bahwa yang dimaksud dengan agama ialah agama Islam, anutan sebagian besar (± 90 %) rakyat Indonesia. Karena kenyataan demografis itu, maka sangat logis bahwa kebanyakan ketegangan antar umat beragam melibatkan kaum Muslim. Jadi juga sangat logis bahwa kaum Muslim adalah pihak yang paling banyak (tidak mutlak) harus bertanggung jawab atas kerusuhan yang terjadi. Maka ada urgensinya untuk melihat bagaimana sebenarnya ajaran Islam yang bersangkutan dengan masalah kerukunan beragama itu.

Para pemimpin Islam sendiri, khususnya para ulama dan muballigh, seringkali mengemukakan bahwa Islam adalah agama yang toleran, yang menghargai agama-agama lain. Banyak dukungan ajaran untuk pandangan serupa itu. Yang amat diperlukan sekarang ialah sosialisasi pandangan itu sehingga diketahui, dimengerti dan dihayati serta diamalkan oleh semua lapisan umat Islam. Sekalipun ajaran lebih berat sebagai segi keharusan (yang dalam banyak hal pelaksanaannya akan sangat tergantung kepada kenyataan), namun kesadaran mengenai hal itu tentu akan menghasilkan tindakan yang berbeda daripada jika orang tidak menyadarinya.

Dari sudut ajaran Islam, kerukunan umat beragama merupakan akibat wajar dari sistem keimanannya sendiri. Nabi Muhammad s.a.w. diperintahkan Allah untuk menegaskan bahwa beliau bukan yang pertama di kalangan para utusan Allah.¹ Juga ditegaskan bahwa Nabi Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah lewat rasul-rasul yang lain.² Karena itu Nabi s.a.w. juga menegaskan bahwa agama para rasul itu semuanya adalah satu dan sama, sekalipun syariatnya berbeda-beda.³ Kesatuan agama para nabi dan rasul itu, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an, adalah karena semuanya berasal dari pesan atau ajaran Allah.

Allah telah menetapkan bagi kamu dari ajaran agama apa diwasiatkan kepada Nuh dan yang Kami wahyukan kepada (Muhammad), dan yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: “Tegakkanlah agama itu, dan janganlah kamu berpecah belah mengenainya”. Berat bagi orang-orang musyrik (untuk menerima) apa yang engkau seru mereka kepadanya itu. Allah menarik kepada Diri-Nya (memilih) siapa yang dikehendaki, dan memberi petunjuk ke arah-Nya siapa yang mau kembali (kepada-Nya).

Jadi seharusnya kita menegakkan agama yang semuanya itu sama dari para Nabi seluruhnya tanpa membeda-bedakannya. Justru perasaan berat untuk bersatu dalam agama itu disebutkan sebagai sikap kaum musyrik, penyembah berhala (kaum pagan). Sedangkan perbedaan antara berbagai agama itu hanyalah dalam bentuk-bentuk jalan (syir’ah atau syari’ah) dan cara (minhaj) menempuh jalan itu. Perbedaan itu hendaknya tidak menjadi halangan, bahkan menjadi pangkal untuk berlomba-lomba untuk menuju ke berbagai kebaikan. Manusia tidak perlu mempersoalkan perbedaan itu, sebab kelak di Hari Kemudian Allah akan menjelaskan itu semua.⁵

Lebih jauh, disebutkan dalam al-Qur’an bahwa Allah telah mengutus rasul kepada setiap umat di muka bumi, tanpa kecuali, dan semua rasul mengajarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan perlawanan kepada tirani. Manusia dipersilahkan mengembara di bumi dan melihat sendiri serta meneliti bagaimana akibat mereka yang menolak kebenaran.⁶

Juga disebutkan dalam al-Qur’an bahwa setiap kelompok manusia atau bangsa (qawm, “kaum”) mempunya penunjuk jalan kebenaran,⁷ dan tidak ada satu umatpun yang padanya tidak pernah tampil seorang pembawa peringatan.⁸ Karena setiap bangsa pernah menampilkan utusan Tuhan, maka jumlah mereka banyak sekali dan tidak semuanya diceritakan dalam al-Qur’an.⁹ Menurut Nabi s.a.w. sendiri para rasul Allah itu sepanjang masa dan di seluruh muka bumi jumlahnya tiga ratus limabelas atau sekitar itu.

About adminislat1

Check Also

TASAWUF – Mereka Yang Diberi Hidayah Khusus Oleh Allah

“Dan Allah – yang mulia dengan segala asma-Nya – dalam waktu ke waktu dan dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *