Home / Isu-isu Dunia Islam / Kerukunan Umat Beragama, Sebuah Tinjauan Normatif Islam (Bag. 2)

Kerukunan Umat Beragama, Sebuah Tinjauan Normatif Islam (Bag. 2)

Setiap orang Muslim wajib percaya kepada semua Nabi dengan semua ajarannya dalam kitab-kitab suci, tanpa membeda-bedakan seorangpun di antara mereka.¹¹ Memang merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat diingkari bahwa tidak semua ajaran dan kitab-kitab para Nabi itu terpelihara dengan baik sepanjang masa, sehingga mungkin mengalami pengubahan-pengubahan tidak sah oleh tangan-tangan manusia. Karena itu al-Qur’an diturunkan pertama-tama adalah untuk mendukung kebenaran kitab-kitab suci yang ada di tangan umat manusia dan melindunginya,¹² dan untuk meluruskanmana yang telah menyimpang karena ulah manusia itu.¹³

Namun pada dasarnya al-Qur’an tetap mengakui bahwa kitab-kitab suci yang lalu itu mengandung kebenaran yang harus dijalankan oleh para pengikutnya. Karena itu, misalnya, Allah memerintahkan kaum Yahudi dan Kristen untuk dengan sungguh-sungguh menjalankan ajaran yang ada dalam kitab suci mereka masing-masing.¹⁴ Bahkan Allah menjanjikan bahwa jika mereka menjalankan ajaran kitab suci masing-masing maka rizki dan kemakmuran akan dilimpahkan “dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka”.¹⁵

Menurut Ibn Taymiyah kewajiban orang Yahudi dan Kristen menjalankan ajaran kitab suci mereka itu berlaku sepanjang masa, jika mereka tidak pindah agama (misalnya ke Islam). Ibn Taymiyah juga berpendapat bahwa sampai sekarang kitab-kitab suci Taurat dan Injil itu masih banyak mengandung kebenaran. Perubahan menurutnya hanya terjadi pada hal-hal yang bersifat berita (seperti berita tentang bakal tampilnya Nabi Muhammad s.a.w.) dan beberapa perintah saja.

Lebih jauh lagi, menurut Ibn Taymiyah golongan terbanyak kaum Salaf menganut pandangan bahwa ajaran dalam kitab-kitab suci itu juga berlaku untuk umat Islam, selama persoalannya tidak dengan jelas di-nasakh oleh al-Qur’an.¹⁶ karena itu umat Islam sebaiknya mempelajari kitab-kitab suci itu, meski dengan sikap kritis terhadap hal-hal yang berbeda dengan al-Qur’an. Itulah yang dilakukan oleh para ulama Salaf, seperti Ibn Taymiyah dan Syahristani.

Berpangkal dari berbagai pandangan asasi itu maka al-Qur’an mengajarkan bahwa kaum beriman atau umat Islam harus menghormati semua pengikut kitab suci (Ahli Kitab, ahl al-kitab, People of the Book). Sama halnya dengan semua kelompok manusia, termasuk umat Islam sendiri, di antara kaum pengikut kitab suci itu ada yang lurus dan ada yang tidak. Dari mereka ada yang memusuhi kaum beriman, tapi juga ada yang menunjukkan sikap persahabatan yang tulus. Dalam al-Qur’an disebutkan terutama kaum Nasrani sebagai yang paling dekat rasa cintanya kepada kaum beriman, karena di antara mereka ada pendeta-pendeta dan rahib-rahib, dan mereka tidak sombong.¹⁷

Bahkan al-Qur’an memperingatkan hendaknya kaum beriman tidak melakukan generalisasi terhadap Ahli Kitab berkenaan dengan sikap spesifik mereka. Di antara golongan penganut kitab suci ada umat yang lurus dan konsisten, yang senantiasa membaca ajaran-ajaran Allah di tengah malam dan beribadat. Mereka itu beriman kepada Allah dan hari Kemudian.

Melakukan amar ma’ruf nahi munkar (kegiatan menganjurkan yang baik dan melarang yang jahat), dan bergegas dalam berbagai kebaikan. Al-Qur’an menyebut mereka itu tergolong orang-orang yang saleh, dan menegaskan bahwa kebaikan apapun yang mereka lakukan tidak akan diingkari atau ditolak, dan Allah Maha Tahu tentang orang-orang yang bertaqwa.¹⁸

Sementar itu ada di kalangan uamt Islam yang memandang bahwa kaum Nasrani sekarang ini adalah musyrik (penyembah berhala) karena menuhankan Isa al-Masih (diyunanikan menjadi Yesus Kristus). Sebuah riwayat menuturkan adanya pernyataan ·Abd-u ·I-Lah ibn Umar bahwa baginya tidak ada syirik yang lebih besar daripada pandangan yang menuhankan Isa putera Maryam, sesama manusia. Ibn Taymiyah menolak keras pendapat  ·Abd-u ·I-Lah ibn ·Umar itu, dan mengatakannya sebagai pandangan atau madzhab kaum pembuat bid’ah.¹⁹

Dalam pandangan Ibn Taymiyah memandang kaum Nasrani sebagai musyrik adalah bertentangan dengan ajaran al-Qur’an. Katanya, memang dikalangan mereka itu ada, dan banyak sekali, yang menuhankan Isa al-masih (dan ada juga yang tidak, sampai hari ini). namun tidak benar jika mereka disebut “musyrik”. Yang mereka lakukan adalah perbuatan syirik, yang bagi Ibn Taymiyah sama saja dengan umat Islam sendiri yang sebagian dari mereka melakukan penyelewengan akidah seperti berfaham ittihadiyah (monisme), rafdliyah (menolak keabsahan tiga khalifah pertama, Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman), dan mendustakan taqdir.

Tapi, kata Ibn Taymiyah, hal itu tidak berarti dibolehkannya membuat generalisasi bahwa umat Islam adalah umat yang telah menyimpang. Demikian pula dengan kaum Nasrani, sebagian dari mereka memang melakukan syirik, namun tidak berarti dapat dikatakan bahwa agama Nasrani adalah agama syirik dan kaum Nasrani adalah musyrik.²⁰

Sebaliknya, Nabi s.a.w. sendiir, sementara beliau keras sekali kepada kaum musyrik, namun menjaga pergaulan yang sangat baik dengan kaum Nasrani yang lurus. terhadap mereka itu, ajaran al-Qur’an mengatakan bahwa kaum beriman tidak boleh berdebat kecuali dengan cara yang lebih baik, dari segi cara maupun isinya. Dan terhadap mereka itu pula, kaum beriman tidak dilarang untuk bergaul dengan baik dan bersikap jujur:

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang lebih baik, kecuali dengan orang-orang yang berlaku zalim di antara mereka; dan katakanlah (kepada mereka). “Kami beriman kepada yang diturunkan kepada kami dan kepada yang diturunkan kepada kamu. Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah Satu, dan kepada-Nya kita semua berserah diri.”²¹ Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama, dan tidak mengeluarkan kamu dari negeri-negeri kamu. Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil.²²

Atas pertimbangan itu semua, maka ketika umat Islam di Madinah diizinkan untuk perang guna membela diri (setelah selama di Mekkah sebelumnya dilarang), perang itu juga bertujuan membela kebenaran dan melindungi lembaga-lembaga keagamaan seperti biara, gereja, sinagog dan masjid.

Diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya; dan sesungguhnya Allah Amat Berkuasa untuk menolong mereka. Yaitu mereka yang diusir dari kampung halaman mereka secara tidak benar, hanya karena mereka berkata: “Tuhan kami ialah Allah”. Dan kalaulah Allah tidak menolak (mengimbangi) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya runtuhlah biara-biara, gereja-gereja, sinagog-sinagog dan masjid-masjid, yang di situ banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah akan menolong siapa saja yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat, lagi Maha Kuasa. Yaitu mereka, yang jika Kami berikan kedudukan di bumi, menegakkan sembahyang serta menunaikan zakat, menyuruh berbuat kebaikan serta melarang berbuat kejahatan. Dan bagi Allah jualah kesudahan segala perkara.²³

Terhadap mereka yang lurus itu, Nabi s.a.w. bersikap sangat ramah, sampai-sampai ketika suatu delegasi Kristen dari Najran (sebuah kota di selatan Makkah, dekat dengan perbatasan Yaman) datang menemui Nabi di Madinah dan selesai mengadakan perundingan dengan Nabi, beliau mengizinkan mereka itu malakukan kebaktian di masjid beliau (Masjid Nabawi).

Ada kalangan dari para Sahabat Nabi yang mencoba menghalangi mereka, dan hendak membawa mereka keluar. Tapi justru Nabi melarang para Sahabat itu, dan bersabda, “Biarkan mereka!”. Berdasarkan peristiwa itu, Ibn Qayyim al-Jawziyah, seorang ulama Salaf, menyimpulkan bahwa kaum Ahli Kitab dibolehkan masuk masjid dan mengadakan kebaktian di situ dengan disaksikan kaum Muslim, asalkan tidak dijadikan kebiasaan.²⁴

Di atas telah dikemukakan bahwa Allah telah membangkitkan utusan-Nya untuk setiap umat, dan bahwa setiap golongan manusia mempunyai penunjuk jalan ke arah kebenaran, dan tidak ada suatu umat kecuali pernah lewat padanya pembawa peringatan. Juga disebutkan adanya keterangan dari Nabi s.a.w. bahwa jumlah utusan Tuhan itu banyak sekali, hingga mencapai angka sekitar 315 orang. Yang disebutkan dalam al-Qur’an, sebagaimana dipercayai kaum Muslim, ada 25 orang, semuanya adalah juga tokoh-tokoh Taurat dan Injil, kecuali beberapa orang (Hud, Shalih, Dzu’l-Kifl, dan muhammad s.a.w.).

Sebagian besar lagi yang al-Qur’an sendiri mengatakan tidak diceritakan kepada Nabi s.a.w. itu terdapat nama-namanya dalam Taurat dan Injil (atau keseluruhannya disebut sekarang Bibel). Tapi untuk mencapai angka 315 seperti disebutkan Nabi s.a.w. maka masih banyak yang tidak disebutkan dalam kitab-kitab suci Yahudi, Kristen dan Islam itu.

Terkait dengan masalah ini, al-Qur’an menerangkan bahwa Allah tidak pernah mengutus utusannya melainkan dengan lisan atau bahasa kaumnya²⁵– dan bahasa di sini tidak hanya dalam pengertian lingusitik semata tapi juga pola fikir menurut suatu lingkungan budaya tertentu di zaman atau tempat tertentu.²⁶

Maka berkenaan dangan para rasul itu kepada Nabi s.a.w.  dituturkan hanya yang dikenal dalam lingkungan budaya Timur Tengah saat itu. Tidak ada penyebutan seorang nabi atau rasul dari tempat-tempat lain seperti Persia, India, Cina, dan lain-lain. Agama-agama yang disebutkan namanya ialah agama-agama Timur Tengah, yaitu Yahudi, Nasrani, Majusi dan Shabi’ah, kemudian kaum musyrik (pagan).

Sedangkan kaum Muslim, para pengikut Nabi s.a.w., hampir selalu disebut sebagai “mereka yang beriman”. Dalam sebuah firman disebutkan bahwa Allah akan memberi keputusan diantara kaum beriman, para penganut agama-agama yang ada, dan kaum musyrik, kelak di akhirat:

Mereka yang beriman dan mereka yang menganut agama Yahudi, kaum Sabean, kaum Nasrani,kaum Majusi, dan mereka yang melakukan syrik, sesungguhnya Allah akan memberi kata putus di antara mereka  di Hari Kiamat. sesungguhnya Allah adalah Maha Saksi atas segala sesuatu.²⁷

Bahkan sangat menarik untuk ditelaah, al-Qur’an menyebutkan siapa saja dari para penganut agama itu, kecuali—dengan sendirinya kaum musyrik—akan mendapatkan kebahagiaan asalkan mereka percaya kepada Allah—Tuhan Yang Maha Esa dan kepada Hari Kemudian, serta berbuat baik.

Sesungguhnya mereka yang beriman(kaum Muslim), mereka yang menganut agama Yahudi, kaum Nasrani dan kaum Sabean, siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian serta berbuat kebaikan, maka bagi mereka pahala mereka di sisi Tuhan mereka dan tiada rasa takut pada mereka lagipula mereka tidak akan sedih.²⁸

About adminislat1

Check Also

Ormas Radikal dan Demokrasi yang Tersandera

Demokrasi membuka ruang publik (public sphere) seluas-luasnya, termasuk kepada mereka yang menentangnya. Ini paradoks negeri Muslim …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *