Home / Isu-isu Dunia Islam / Kerukunan Umat Beragama, Sebuah Tinjauan Normatif Islam (Bag. 3 Akhir)

Kerukunan Umat Beragama, Sebuah Tinjauan Normatif Islam (Bag. 3 Akhir)

Jadi ditegaskan bahwa para penganut agama-agama itu, selain kaum beriman (kaum Muslim)—tapi kaum musyrik samasekali tidak termasuk, siapa saja dari kalangan mereka yang benar-benar beriman atau percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kepada Hari Kemudian (hari pertanggungjawaban mutlak amal manusia) serta berbuat baik, maka mereka tidak perlu kuatir ataupun takut. Berdasarkan firman itu maka Muhammad Asad, seorang ahli tafsir al-Qur’an, mengatakn bahwa keselamatan tergantung kepada tiga perkara, yaitu berima kepada Allah, beriman kepada Hari Kemudian dan berbuat baik.²⁹

Karena itu semua, banyak ulama yang berpendapat bahwa beberapa tokoh pengajar kearifan di luar Timur Tengah, seperti Zarathustra di Persia, Buddha Gautama di India, Laotse di Cina, dan lain-lain, adalah para nabi dan rasul. Seorang ulama dari Padangpanjang yang amat terkenal, “Abd-u ‘I-Hamid Hakim, mangatakan bahwa agama-agama di India, Cina, Jepang dan lain-lain adalah agama kitab suci, karena itu para pemeluknya adalah tergolong Ahli Kitab seperti kaum Yahudi dan kaum Nasrani.

Jadi mereka harus diperlakukan dengan penuh hormat, seperti diajarkan al-Qur’an.³⁰ Keterangan itu dibuat oleh ‘Abd-u ‘I-Hamid Hakim berdasarkan pandangan dalam kitab tafsir al-Manar. Dan kitab tafsir itu sendiri mengembangkan pandangannya berdasarkan pandangan ulama salaf. Semuanya berdasarkan sabda Nabi s.a.w. agar memperlakukan kaum Majusi seperti perlakuan kepada Ahli Kitab.³¹ Keterangan Nabi itu menurut Ibn Taymiyah terkait dengan penarikan jizyah kepada kaum Majusi di Bahrain oleh Nabi, padahal tidak ada yang boleh ditarik jizyah kecuali kaum Ahli Kitab.³²

Muhammad Rasyid Ridla, penulis tafsir al-Manar, mengatakan bahwa dia sendiri dahulu pernah berpendapat seperti beberapa kalangan kaum Muslim, bahwa golongan bukan-Muslim selain Yahudi dan kaum Nasrani adalah musyrik. Tapi dia mengubah pandangannya setelah banyak membaca kitab-kitab para ulama Salaf, salah satunya ialah kitab al-Furq bayn al-Firaq (perbedaan antara berbagai Kelompok Agama) oleh Abu Manshur ‘Abn-u ‘i-Qahir al-Baghdadi (wafat tahun 429 Hijri).

Dalam kitab itu al-Baghdadi mengritik kaum Bathiniyah yang menolak beberapa prinsip keagamaan yang baku, sambil menegaskan bahwa, sementara itu, golongan-golongan lain di luar Islam justru berpegang kepada prinsip-prinsip keagamaan yang baku itu. Kaum Majusi disebutkan sebagai mengakui kenabian Zarathustra dan adanya wahyu Allah kepadanya.

Kaum Sabean mengakui kenabian Hermes, Walis, Doritos dan Plato dan sejumlah para ahli filsafah serta pembawa ajaran yang lain. setiap golongan mereka itu mengakui adanya wahyu yang turun dari langit kepada tokoh-tokoh yang mereka yakini sebagai nabi. dan mereka berpandangan bahwa wahyu itu mengandung perintah dan larangan (ajaran moral), serta berita tentang alam setelah kematian, tentang adanya pahala dan dosa, dan tentang surga dan neraka sebagai balasan atas amal perbuatan yang telah lewat.³³

Al-Qur’an memang tidak menyebutkan dengan tegas bahwa golongan-golongan agama lain selain Yahudi dan Nasrani sebagai Ahli Kitab. Padahal golongan Majusi dan Sabean memiliki kitab suci atau yang serupa itu, sama halnya dengan golongan Budhis, Brahman (Hindu) dan Konfusianis (penganut Konfusius atau Kong Hu Cu). akibatnya, banyak kalangan ulama Islam yang langsung memasukkan mereka ini ke dalam golongan kaum musyrik, padahal Kitab Suci al-Qur’an dan Sunnah Nabi jelas membedakan antara kaum musyrik dengan kaum Majusi dan Sabean.

Menurut Rasyid Ridla, al-Qur’an hanya menyebutkan kaum Majusi dan sabean karena kedua golongan itu sudah dikenal orang arab zaman itu, di Irak dan Bahrain. sedangkan kaum Budhis, Hindu dan Konfusianis tidak dikenal, karena orang Arab itu, kecuali sedikit sekali, belum pernah ke India dan Cina. Namun, kata Rasyid Ridla lebih lanjut, maksud al-Qur’an telah tercapai dengan menyebutkan golongan-golongan yang dikenal masyarakat Arab zaman itu, dan tidak perlu membuat keterangan tentang hal-hal yang belum mereka kenal.³⁴

Oleh karena itu, menurut Rasyid Ridla, penilaian sebagai “musyik” tidak dapat dikenakan kepada siapa saja yang menolak Nabi Muhammad s.a.w., juga tidak kepada siapa saja selain kaum Yahudi dan Kristen yang mereka ini dalam al-Qur’an dengan tegas disebut sebagai Ahli Kitab.

Bagi Rasyid Ridla, mengikuti pendapat kaum Salaf dan sesuai dengan sasaran pembicaraan al-Qur’an pada waktu diturunkan (zaman Nabi s.a.w.), pengertian kaum “musyrik” ialah para penyembah berhala kalangan Arab Jahiliah, karena mereka memang samasekali tidak mempunyai kitab suci atau yang serupa itu. Kemudian dianalogikan dengan orang-orang Arab musyrik itu, maka setiap golongan manusia yang jelas tidak mempunyai kitab suci dapat disebut sebagai “musyrik’.

Demikian pula dengan pengertian “Ahli Kitab”, dalam al-Qur’an memang terutama dimaksudkan khususnya kaum Yahudi dan Nasrani. Tetapi dianalogikan dengan mereka itu, maka setiap golongan yang mempunyai kitab suci adalah Ahli Kitab. sekalipun asal-usul kitab suci itu tidak lagi diketahui, tapi kalau mengandung ajaran moral dan syari’at (ajaran keagamaan) yang sebanding (tapi tidak mesti sama) dengan Islam, maka mereka Ahli Kitab.³⁵

 

Penutup

Dari uraian di atas menjadi amat jelas kebenaran klaim para ulama dan pemimpin Islam bahwa agama Islam adalah agama yang sangat toleran dan menghargai agama-agama lain. Inipun diakui oleh banyak kalangan sarjana modern, termasuk mereka yang ateis seperti Bertrand Russel.

Filosof inggris ini mengatakan, bahwa karena prinsip Tawhid atau Monotheisme (faham Ketuhanan Yang Maha Esa) yang jelas, maka Islam adalah agama yang tidak memaksakan dirinya kepada para pemeluk agama-agama lain dari kalangan para penganut kitab suci atau Ahli Kitab. Dan berkat sikapnya yang toleran dan terbuka itu maka, kata Russel, kaum Muslim masa lalu, sekalipun jumlah mereka kecil sekali, sanggup memerintah dan menguasai dengan mudah bangsa-bangsa lain dalam jumlah yang amat jauh lebih besar, yang meliputi daerah yang amat luas dengan peradaban duniawi yang lebih tinggi daipada orang-orang Arab.³⁶

Maka tantangannya bagi kita di Indonesia ini ialah bagaimana menanamkan kembali kesadaran normatif itu di kalangan kaum Muslim sendiri, serta bagaimana menyadarkan umat-umat agama lain tentang adanya ajaran Kitab Suci dan Sunnah Nabi seperti di atas.

Setiap ketentuan normatif tentu mengacu kepada apa yang seharusnya. Sedangkan kenyataan dalam masyarakat selalu menuntut apa yang mungkin, dan jarang sekali dapat dilaksanakan apa yang seharusnya. Tetapi jika dengan alasan itu ketentuan normatif ditinggalkan begitu saja, maka seluruh pengakuan menganut ajaran atau agama menjadi batal.

Ini tentu bukan yang kita kehendaki. karena itu tidak ada jalan lain dari ketentuan normatif harus diusahakan pelaksanaannya secara sungguh-sungguh dan konsekwen. Hanya dengan begitu suatu ajaran akan berfungsi. Atau, jika kita semua merasa asing dengan hal-hal di atas, jangan-jangan inilah zaman ajaran Islam terasa asing kembali sebagaimana dahulu datang sebagai ajaran yang terasa asing, seperti disabdakan Nabi s.a.w.³⁷

Dalam zaman yag sering disebut sebagai “era globalisasi” ini, umat Islam harus semakin banyak dan sungguh-sungguh menangkap kembali roh ajaran agamanya, yang mungkin saja telah tertimbun debu sejarah selama berabad-abad sehingga tidak tampak lagi samasekali. Padahal justru dalam roh keagamaan yang otentik itu, yang dahulu pernah membuat kaum Muslim salaf (Klasik) demikian hebatnya, dapat diketemukan sebagai jawaban potensial terhadap tantangan zaman sekarang ini.

Yang diperlukan ialah, kembali kepada Kitab Suci dan Sunnah Nabi dalam arti seluas-luasnya, yaitu kepada ajaran-ajaran prinsipil dan mendasar dalam kedua sumber suci itu, dan tidak kepada hal-hal ad hoc seperti selama ini terkesankan (misalnya, atas nama kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah namun yang tergarap hanyalah masalah-masalah ritual belaka).

Dan di samping Kitab dan Sunnah, yang amat diperlukan kaum Muslim sekarang ialah memahami, menyadari, dan menghargai kembali warisan peradaban mereka dalam sejarah, yang bermaktub dalam warisan intelektual yang kaya raya. Kemudian, semua itu harus dikembangkan secara kreatif dan men-zaman (up to date), guna menjawab masalah-masalah kontemporer. Sebab, pada ujungnya, hidup yang benar ialah pasrah yang tulus (islam) kepada Tuhan, dengan mengarahkan seluruh keinsafan makna keberadaan masing-masing kepada-Nya semata, dan dengan menempuh hidup bermoral di muka bumi.

Wallah-u a’lam.

* Pendiri Yayasan Paramadina dan Universitas Paramadina

  Sumber: KKA Seri ke 176/Tahun XVI/2002 (Hotel Sahid Jaya-Jakarta)

About adminislat1

Check Also

Ormas Radikal dan Demokrasi yang Tersandera

Demokrasi membuka ruang publik (public sphere) seluas-luasnya, termasuk kepada mereka yang menentangnya. Ini paradoks negeri Muslim …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *