Home / Featured / Kesadaran Realitas

Kesadaran Realitas

Term kesadaran yang sering dipahami sebagai conscientization atau pencerahan (raushanfikr), rupa-rupanya menyimpan misteri dalam soal pemaknaan substansial dari manusia secara individual. Sebagai makhluk yang memiliki potensi untuk mengetahui, tingkatan (level atau maqom) pemahaman tiap individu sendiri ternyata mengalami perjenjangan (ber-gradasi). .

Dalam pengertian lain, yang namanya kesadaran tentu saja sifatnya abstrak. Karena memang hal itu hadir dalam benak tiap individu. Dan secara etimologis, yang namanya kesadaran bukanlah suatu kata yang berdiri sendiri, melainkan senantiasa terikat dengan kata yang lainnya. Artinya, kesadaran adalah suatu term yang akan bermakna ketika diikuti oleh term selanjutnya.

Contohnya, kesadaran tentang pendidikan. Bila dimaknai, kata kesadaran yang dimaksud adalah ketika manusia sebagai subjek kemudian menyerap informasi mengenai pendidikan yang dalam hal ini disebut sebagai obyek pemahaman. Akan tetapi, kesadaran jelas berbeda dengan pengetahuan. Pengetahuan boleh jadi hanya proses hadirnya identitas obyek dalam benak berupa informasi. Sementara yang namanya kesadaran, tentu lebih dari itu. Tingkat pemahamannya telah berdiri pada konteks bagaimana memperlakukan obyek yang telah dipahami tadi.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa arti kesadaran tentang pendidikan, tidak hanya mengetahui pendidikan dalam bentuk informasi mengenai identitas sesuatu, melainkan telah beranjak ke dalam tingkatan bagaimana memperlakukan atau menyikapi pendidikan. Sehingga, term pendidikan bukan sebatas informasi, melainkan telah diberi nilai melalui pandangan hidup (ideologi) individu.

Demikianlah akhirnya, kata kesadaran tentang pendidikan tadi tidak sekedar kegiatan individu untuk menghadirkan definisi tentang pendidikan, melainkan telah diikuti oleh sebuah proses ideologisasi. Pendidikan, telah diikatkan dengan konteks penilaian individu. Pandangan hidup (ideologi) individu kemudian memegang peranan dalam memandang pendidikan tadi.

Hingga di sini, pendidikan digiring pada konteks perbincangan mengenai bagaimana pendidikan yang terjadi (das sein) dan bagaimana pendidikan yang seharusnya (das sollen). Dua kubu yang memiliki konteksnya masing-masing ini akhirnya saling berinteraksi dalam benak manusia. Tentu saja, individu yang tengah mengalami proses kesadaran tentang pendidikan akan memiliki pandangan terhadap pendidikan tadi. Bahkan tidak hanya itu, dirinya pun beranjak ke wilayah memperlakukannya secara konkrit dalam bentuk yang lebih praksis (aplikatif).

Inilah barangkali yang dimaksud dengan yang namanya kesadaran tentang pendidikan. Sebagai sebuah bahasan, term pendidikan tentu saja hanya salah satu kasus atau obyek kajian dari banyaknya kajian, bahasan atau obyek pemahaman yang ada. Dalam maksud lain, individu yang sadar ternyata term kesadarannya dibatasi oleh obyek yang disadarinya.

Hal ini akan sangat terlihat ketika realitas sebagai bentuk-bentuk obyek yang mesti dipahami oleh individu itu ternyata memancang demikian luas. Bila saja term pendidikan dijadikan contoh di awal, hal itu jelas hanya sekelumit potret realitas dari banyaknya realitas-realitas. Dengan demikian, kesadaran individu tentu tidak berdiri sendiri.

Kesadaran individu merupakan bahasan yang akan mengalami permaknaan ketika disertai oleh obyek yang lain. Ini pun kemudian tidak menjadi terlihat sempurna sebagai tingkat kesadaran secara makro (luas), melainkan hanya butir-butir kesadaran saking banyaknya realitas yang mesti disadari pula oleh individu.

Kesadaran untuk tidak merokok terjadi ketika individu mengerti tentang identitas rokok dan kemudian memberikan pandangan nilai buruk terhadap merokok, sehingga dirinya memandang jelek kegiatan merokok sekaligus bertindak (aplikatif) untuk tidak merokok. Pada konteks ini, kesadaran untuk tidak merokok pada diri individu telah sempurna.

Sempurnanya bentuk kesadaran ini terjadi karena wilayah pembicaraannya diletakkan pada konteks yang jelas (definite). Maksudnya, bentuk kesadaran – dalam contoh tadi – telah terkerangkai oleh domain pembicaraan mengenai pendidikan dan tidak merokok. Kesadaran ini, hanyalah butiran bentuk-bentuk kesadaran individu yang notabene hidup di alam dengan banyaknya realitas.

Kesadaran realitas adalah domain pembicaraan yang sangat luas. Kesadaran untuk tidak merokok merupakan butir kesadaran, kesadaran tentang pendidikan juga salah satu bentuk kesadaran. Tapi, bukanlah sesuatu yang obyektif ketika individu yang memiliki kesadaran untuk tidak merokok tadi dinilai telah menyadari realitas secara umum (makro).

Dengan demikian, kesadaran akan realitas akan sangat bergantung terhadap konteks realitas yang dimaksudnya. Artinya, seorang individu menyadari untuk tidak merokok, akan tetapi pada konteks yang lain boleh jadi dirinya belum menyadari tentang membuang sampah pada tempat sampah, sehingga dirinya kerap membuang sampah tidak pada tempatnya. Demikian pun sebaliknya.

Mengingat banyaknya konteks kesadaran dalam realitas praktisnya ini, setiap individu tentu saja dengan sendirinya mesti terus melakukan ikhtiar untuk menyadari realitas ini secara utuh (kaffah). Tapi, hal itu hanya akan terjadi ketika individu tersebut memiliki pandangan dunia (ideologi) serta diikuti dengan pengetahuan yang menyeluruh tentang butiran-butiran realitas dalam setiap segmen.

Barangkali seperti itulah kesadaran realitas yang berpotensi hadir dalam benak setiap individu. Banyak konteks dan banyak pula tingkatannya. Contoh bentuk kesadaran di awal jelas hanyalah sebentuk kesadaran yang mungkin hadir pada sesosok individu. Di samping itu masih banyak realitas yang mesti disadari oleh individu.

Dengan demikian, tepatlah ungkapan sophisticated yang menyatakan bahwa setiap manusia senantiasa berproses, melakukan perubahan dan bergerak menuju kesempurnaan. Dalam dirinya tersimpan potensi untuk menuju kebenaran (hanif) secara terus-menerus. Kesempurnaan yang dimaksud tentu saja luas maknanya, tapi memang itulah yang diinginkan oleh seluruh manusia.

Proses menyempurnakan dirinya – termasuk – dengan menyadari realitas di luar dirinya sudah barang tentu tidak datang dengan tiba-tiba dan tanpa landasan pengetahuan. Barangkali dengan proses mengetahui, memahami dan kemudian menyadari-lah sehingga manusia secara individual dapat memiliki karakter berfikir kritis-konstruktif, bersikap bijak dan bertindak efektif.

Sementara kesadaran, karena sifatnya yang abstrak, akhirnya akan sangat bergantung pada kejujuran masing-masing individu. Setiap individu-lah yang kemungkinan dapat menilai dirinya sendiri, termasuk berproses dan lalu berproses lagi untuk mencapai tingkatan-tingkatan kesadaran yang ber-gradasi tersebut.

Sampai di sinilah, kualitas dan integritas setiap orang besar (the great man) dapat dipahami sebagai sebuah proses percepatan menyadari dan menyadari lagi, sehingga individu yang lain merasa kagum dan kadang belum memahami secara keseluruhan terhadap orang besar tadi karena adanya jurang kesadaran yang bertingkat (level atau maqom).

Alhasil, secara individual, dunia ini memang wadah atau ruang proses yang menjadi penyangga tersempurnakannya kualitas hidup tiap individu. Dalam wilayah sosiologis, kesamaan kesempatan alamiah ini kemudian ditanggapi secara berlainan atau berbeda oleh tiap individu. Dan hanya individu yang memiliki kejelasan tujuan-lah yang kemudian dapat menjelajahi realitas-realitas ini dengan penuh kesadaran yang akhirnya berbuah kebahagian sejati karena berhasil melewatinya dengan alur perubahan dan perubahan menuju perbaikan dan penyempurnaan.

Oleh: Mi’raj Dodi Kurniawan

About adminislat1

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *