Home / Featured / Kisah Sejuk dari Oman

Kisah Sejuk dari Oman

Tujuh tahun lalu, National Geographic melaporkan ekspedisi gabungan Oman dan Prancis yang berhasil menemukan masjid kuno di wilayah Qalhat, sebelah timur laut Oman. Tempat ibadah yang bernama ‘Masjid Jumat’ itu dibangun oleh Bibi Maryam pada 1300 Masehi. Dan menurut sejarahnya, masjid berusia 711 tahun ini dihancurkan bangsa Portugis di tahun 1508 Masehi sebelum akhirnya ditemukan kembali.

Bagian mimbar, dinding, pilar, pintu, menara, dihias dengan keramik yang berasal dari Iran. Namun, di abad ke 15 Masehi, kepopuleran Qalhat kalah dari Muscat (sekarang Ibukota Oman). Qalhat akhirnya juga hancur oleh gempa bumi.

 

Sejak abad ke-6 SM hingga kedatangan Islam abad ke-7 masehi, Oman berada di bawah pengaruh tiga dinasti Persia: Akhaimenia, Parthia dan Kekaisaran Sasaniyah. Wilayahnya pun merentang dari Selat Hormuz hingga ke Iran dan Pakistan. Di selatan, wilayahnya mencapai Zanzibar di pesisir tenggara Afrika.

Pada tahun 629 M, Nabi Muhammad tercatat pernah mengirim surat kepada kedua Raja Oman, Abdul dan Jaifar, putra Julanda yang bermukim di Sohar. Dari komunikasi ini, Abdul dan Jaifar akhirnya memeluk agama Islam secara sukarela.

Namun, dalam perjalanan waktu, perpecahan umat Muslimin semakin tampak khususnya setelah khalifah ketiga Usman bin Affan terbunuh. Perseteruan berlanjut hingga terjadi konfrontasi antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah.

Melihat kondisi kala itu, Abdul bin Al Julanda memutuskan bahwa Oman tidak akan terlibat dalam perseteruan kedua kubu itu. Sejak awal, Julanda ingin menjaga supaya Oman tidak tergantung pada kekuasaan Dinasti Umayyah. Namun pasca terbunuhnya Ali, Bani Umayyah semakin dominan dan memaksa Al Julanda pindah ke Afrika untuk menghindari serangan militer.

Sejak itu, pusat perlawanan politik terhadap hegemoni Umayyah terbentuk di Oman yang dalam perjalanan waktu melahirkan Mazhab Ibadi. Hingga kini, Ibadi merupakan mazhab dominan di Oman dan juga dapat ditemukan di Aljazair, Tunisia, Libya dan Afrika Timur.

Kaum Ibadhi, demikian mereka biasa disebut, didirikan oleh Abdul Abdalla bin Ibad di Basra pada tahun 680 M, sebagai kelompok Khawarij (moderat) yang menolak pemberontakan bersenjata dan pembunuhan politis serta berkeinginan hidup dalam harmoni dengan kaum Muslim lainnya.

Menariknya, meski mazhab Ibadhi dianggap turunan dari Khawarij, tapi di tangan Sultan Oman saat ini, Sultan Qaboos, semua unsur kekerasan itu dapat dihapuskan.

Di bawah pemerintahan kesultanan Qaboos, seperti pantauan IslamIndonesia, jargon dan slogan “Islam Rahmtan lil ‘alamin” memang tak banyak terlihat dan terdengar. Tetapi, Islam yang demikian justru dapat disaksikan dengan mudah.

 

Di masjid-masjid, misalnya, Muslim Ibadhi, Sunni maupun Syiah, masing-masng dapat shalat sesuai dengan ajaran fikihnya tanpa khawatir dengan tudingan bid’ah apalagi kafir. Dengan suasana yang penuh kerukunan dalam satu masjid, sebagian Muslimin shalat dengan bersedekap, dan sebagian lainnya meluruskan kedua tangannya.

Selain internal Muslimin, komunitas agama non-Muslim seperti Buddha, Zoroaster, Sikh, Baha’i, Hindu dan Kristen dapat hidup dengan aman di Oman. Hingga kini, Oman memang termasuk negara yang cukup aktif mengadakan dialog, pengajaran dan pameran tentang kerukunan hidup umat beragama ke negara-negara lain.

 

Kementrian Wakaf dan Agama di Oman, misalnya, telah bekerjasama dengan banyak institusi dunia demi menggalakkan kerja dialog antarkeyakinan (Interfaith). Bahkan, organisasi yang berpusat di Muscat, Alamana Centre, memiliki hubungan dengan Gereja reformasi Amerika dan telah bekerjasama secara internasional untuk membangun jembatan saling pengertian dan kerjasama antara kaum Muslim dan Kristen.

Di tengah badai permusuhan dan kekerasan sektarian di sekitarnya, Oman justru berhasil menjadi teladan dalam kerukunan hidup umat beragama. Bahkan ia layak dijadikan contoh bagi Indonesia yang sedang bergiat memajukan Islam Rahmatan lil ‘Alamin.

 

Sumber : http://linkis.com/islamindonesia.id/li/oCI5d

About syauqi glasses

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *