Home / Isu-isu Dunia Islam / Kritik Filosofis Terhadap Individualisme

Kritik Filosofis Terhadap Individualisme

Salah satu dari filsafat humanisme yang muncul setelah masa Renesanse adalah filsafat kesejatian individu (individualisme). Dalam sejarah filsafat politik, permulaan abad ke-17, merupakan awal kemunculan dan perkembangan individualisme. Dalam filsafat ini, humanisme tampak dalam bentuk individualisme; artinya keinginan-keinginan, harapan-harapan, sumber-sumber kesenangan dan kebahagiaan seseorang menjadi objek perhatian dalam bentuk yang kosong dari pelbagai ciri dan kekhususan –baik kebangsaan, suku, budaya, ekonomi serta agama—juga rasio manusia dinilai sebagai rukun dasar, kebahagiaan independen dan keberuntungan baginya.

Pemikiran humanisme-individualis merupakan salah satu dari hasil rasionalisme era modern, juga menjadi sebab bagi kemunculan humanisme lainnya dengan nama filsafat hak-hak alamiah. Humanisme-individualis membentuk pondasi bagi filsafat tersebut –hak-hak alamiah—, di mana dalam tabiat manusia terdapat unsur-unsur yang berserikat (sama) pada seluruh person manusia, dan unsur-unsur  berserikat tersebut dianggap sebagai poros (titik) kesatuan bagi seluruh person manusia, serta unsur-unsur tersebut menciptakan tolok-ukur bagi hak-hak, aturan-aturan dasar dan negara yang baik, juga menjadikan manusia tidak membutuhkan kepada ajaran-ajaran dan hukum-hukum agama serta metafisika.[1]  Dengan demikian, humanisme berakhir pada sekulerisme.

Salah satu kritikan yang menyerang individualisme adalah, person manusia memperoleh kesejatian, dan meletakkan masyarakat dalam pandangan aksidental (sekunder) yang akan berkhitmat (melayani) person. Person adalah berposisi sebagai materi pembentuk masyarakat, dan masyarakat adalah sebagai penghubung antar materi-materi tersebut. Dengan demikian, berdasarkan filsafat individualisme bahwa nilai dan pentingnya penghubung lebih kecil ketimbang nilai dan pentingnya materi. Kritikan tersebut juga menghantam filsafat hak-hak alamiah yang merupakan cabang dari filsafat individualisme. Filsafat hak-hak alamiah hanya memberikan perhatian kepada materi-materi pembentuk masyarakat, dan tidak memberikan perhatian ataupun menganggap penting hubungan-hubungan antar materi yang mungkin saja sejalan dengan kecondongan-kecondongan alamiah, ataupun mungkin juga berseberangan (berlawanan) dengan materi-materi tersebut, ataupun hubungan-hubungan tersebut membatasi materi. Pemikiran ini, pada abad setelahnya menjadi objek yang ditentang oleh beberapa filosof seperti, David Hume dan lainnya.

Tentunya, filsafat hak-hak alamiah dapat dibenahi dan diterima dengan melalui dua penjelasan: pertama, hendaknya kita tidak meneliti tabiat (unsur) yang berserikat –sama- dalam insting, kecondongan-kecondongan material, keinginan-keinginan hewani, namun kita memahani –memperoleh-nya dalam fitrah manusia dan esensi tertinggi serta di luar kawasan insting; karena kecondongan dan keinginan hewani –walaupun pada saat yang bersamaan- adalah unsur yang berserikat, akan tetapi juga merupakan penyebab pertikaian dan peperangan serta dapat menjajah –menghancurkan- sistem dan kebahagiaan manusia. Namun, keinginan-keinginan fitri dan kecondongan-kecondongan mulia tidak memiliki hasil yang merusak. Kedua, bahwa kecondongan-kecondongan fitri dan petunjuk-petunjuk rasional, walaupun membentuk asas dan dasar kebahagiaan manusia, namun merupakan syarat yang lazim (harus) dan bukan syarat yang mencukupi; artinya manusia kapan pun tidak mungkin tidak membutuhkan ajaran-ajaran dan hukum wahyu juga samawi.

Filsafat humanisme adalah penyokong individualisme dan filsafat hak-hak alamiah, dengan segala ciri-ciri khusus yang ada padanya diterapkan di dalam budaya Barat berakhir pada sekulerisme bahkan meterialisme baik praktis ataupun keyakinan. Dari sebuah filsafat yang membentuk asas dan pondasinya dari kecondongan-kecondongan meterial dan insting manusiawi, maka tidak boleh mengharapkan hasil lebih dari itu –dari dasar dan pondasinya, berdasarkan filsafat tersebut yang menerima segala sesuatu dengan warna meterial, birahi dan nafsu, ia tidak memilki nilai-nilai dan keutamaan-keutamaan etika. Dan konsep-konsep nilai dan harapan seperti, keadilan, kebebasan hak-hak manusia, perkembangan, kemajuan ekonomi dan sosial serta yang serupa dengan konsep-konsep tersebut semuanya mempunyai warna dan aroma material juga duniawi.

 

[1] Dr. Baha`uddinî Pâzârgâh, Târîkh-e Falsafe-ye Siyâsî, jilid 2, hal. 549-551

About adminislat1

Check Also

Ormas Radikal dan Demokrasi yang Tersandera

Demokrasi membuka ruang publik (public sphere) seluas-luasnya, termasuk kepada mereka yang menentangnya. Ini paradoks negeri Muslim …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *