Home / Featured / Kritik Immanuel Kant Terhadap Empirisme Hume

Kritik Immanuel Kant Terhadap Empirisme Hume

Ajaran Kant tentang pengetahuan secara prinsip terdapat dalam karyanya “kritik der reinen Vernunft” , semacam proyek raksasa yang mau membuat sintesis antara rasionalisme dan empirisme.

Rasionalisme adalah, aliran filsafat yang mengajarkan bahwa sumber pengetahuan adalah akal budi (rasio) saja, pengalaman meneguhkan apa yang sudah ada dalam rasio. Adapun empirisme adalah, sumber pengetahuan hanyalah pengalaman inderawi, kebalikan dari rasionalisme. Maka, hanya yang bisa di indera saja yang pantas dijadikan dasar pengetahuan.

David Hume (1711 – 1776) filsuf Inggris bahkan mengatakan bahwa segala macam yang tidak bersifat inderawi hanya boleh dikira kira atau diterima sebagai “kepercayaan” (faith), tetapi tidak bisa dipastikan. Adanya prinsip kausalitas, misalnya juga tidak dapat diterima oleh Hume sebab merupakan prinsip yang tidak bisa diinderakan. Maka, filsafat dan ilmu pengetahuan alam yang cara kerjanya mengandalkan prinsip ini tidak bisa mencapai kepastian, paling paling hanya kemungkinan (probability).

Kant bereaksi secara kritis terhadap kedua pendapat tersebut. Walaupun Kant mengagumi Hume, Ia tidak bisa menerima ajaran Hume yang mengatakan bahwa dalam ilmu pengetahuan tidak bisa dicapai kepastian. Menurut Kant, sudah jelas bahwa hukum hukum ilmu pengetahuan alam berlaku umum selalu dan dimanapun. Persoalannya sekarang adalah bagaimana pengetahuan manusia bisa mengerti semua itu ?  Syarat apa saja yang harus dipenuhi agar ilmu pengetahuan alam bisa menghasilkan sesuatu yang jelas ?

Kant menjawab persoalan ini dengan menggunakan “Revolusi Kopernikan”, layaknya Nikolaus Kopernikus (1473 – 1543) yang mengatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya dan bumi berputar mengelilinginya, begitu juga filsafat Kant memperlihatkan bahwa pengenalan berpusat pada subyek  dan bukan pada objek.

Sebelum Kant, filsafat dipandang sebagai suatu proses berpikir dimana “Aku” (subjek) mengarahkan diri kepada “dunia” (objek). Akan tetapi sejak ada Kant, metodenya berubah , objek lah mengahrahkan diri pada subjek untuk diproses menjadi ilmu pengetahuan. Maka dari itu, filsafat Kant tidak mau mulai dari penyelidikan kepada benda benda sebagai objek, melainkan menyelidiki struktur struktur subjek yang memungkinkannya mengetahui benda benda sebagai objek.

Bagaimana pengetahuan terjadi ? manakah struktur – struktur subjek yang memungkinkan terjadinya pengetahuan?  benarkah klaim rasionalisme bahwa hanya akal budilah sumber pengetahuan ? dimanakah letak keberatan empirisme ? Kant menjawab dengan hirarki pengetahuan.

Tahap pertama dan terendah dalam proses tersebut adalah pencerapan inderawi, tahap berikutnya adalah tingkat akal, dan akhirnya tahap tertinggi dalam proses pengetahuan adalah tingkat budi atau intelektualitas. Budi atau intelek merupakan sesuatu yang ada ‘mengatasi’ akal dan pencerapan inderawi dan merupakan wawasan yang dalam.

 

Disadur : Tuhan Para Ilmuan dan Para Filsuf : Dari Descrates Sampai Whitehead , Romo Simon Petrus L. Tjahjadi

 

Sumber : http://himaindonesia.com/2016/09/17/reaksi-kritis-kant-terhadap-empirisme-hume/

About syauqi glasses

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *