Home / Isu-isu Dunia Islam / Kritik Terhadap Agama

Kritik Terhadap Agama

Tidak dapat disalahkan sepenuhnya jika ada sebagian orang memandang agama sebagai fenomena yang berwajah buruk sekaligus menakutkan. Dalam pandangan mereka agama menimbulkan kekacauan, permusuhan dan percekcokan. Padahal dengan dengan akal manusia manusia sanggup mengetahui rahasia rahasia ketuhanan sekaligus mengatur persoalan hidup.

 

Jonathan Swift seorang anggota gereja anglikan mengakui “Kita mempunyai agama yang cukup untuk membenci, tetapi tidak cukup untuk saling mencintai”. Kritik lebih keras disampaikan oleh A.N Wilson seorang novelis dan wartawan inggris. Dalam pandagan wilson cinta pada Tuhan adalah sumber segala kejahatan. Agama adalah tragedi umat manusia. Tidak ada satu agama yang tidak ikut bertanggung jawab atas berbagai perang, tirani dan pembebasan kebenaran. Agama mendorong para penganutnya untuk menganiaya satu sama lain.

 

Sam Harris seorang pemikir dari Stanford University membuktikan berdasarkan penjelasan historis bahwa umat manusia mempunyai keinginan kuat untuk mengabaikan akal demi agama. Bahkan tidak jarang menggunakan agama untuk membenarkan perilaku kejahatan yang mengerikan. Harris menuduh agama sebagai sumber delusi, irasionalitas, intoleransi dan kekerasan.

 

Orang orang yang hidup di negara maju mencibir agama sekaligus berteriak “Kami menghargai kemanusiaan hidup lebih teratur, lebih damai, lebih sejahtera, lebih adil daripada orang orang yang mengaku beragama tetapi hidup kacau, tidak damai, tidak sejahtera dan tidak adil” karena tidak menghargai kemanusiaan.

 

Kritik terhadap agama tentu menyakitkan bagi yang mengaku beragama, tetapi kita harus menanggapi kritik dengan bijaksana, karena mungkin ada yang keliru dengan pemahaman dan penafsiran tentang agama yang membuatnya menjadi menakutkan dan segera ada yang perlu diperbaiki agar kembali pada agama yang sesungguhnya.

About adminislat1

Check Also

Ormas Radikal dan Demokrasi yang Tersandera

Demokrasi membuka ruang publik (public sphere) seluas-luasnya, termasuk kepada mereka yang menentangnya. Ini paradoks negeri Muslim …

One comment

  1. Sudah banyak para ahli yang menyerukan perlunya menafsirkan kembali ajaran agama, agar lebih manusiawi seuai perkembangan jaman, tapi oleh mayoritas malah dianggap sesat, bid’ah, Jaringan Islam liberal, antek Yahudi, antek barat, bahkan diancam fatwa mati.

    Mereka merasa paling benar sendiri, penafsiran para ulama masa lalu ribuan tahun yang lalu lah yang dianggap benar. Sehingga setiap ada upaya penafsiran kembali atas ayat ayat suci yng sudah tidak sesuai kondisi jaman, akan dianggap sesat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *