Home / Featured / M. Quraish Shihab: Al-Quran Mengajarkan Sikap Bersahabat dengan Umat Nasrani

M. Quraish Shihab: Al-Quran Mengajarkan Sikap Bersahabat dengan Umat Nasrani

Haruskah umat Islam menjaga jarak dengan umat Kristen?

Salah satu ulama senior Indonesia yang konsisten mengatakan, TIDAK! adalah  Profesor M. Quraish Shihab.

Mentan Menteri Agama, mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia dan penulis buku yang sangat produktif ini berulang-ulang mengingatkan bahwa Al-Quran sendiri memerintahkan umat Islam untuk membangun hubungan baik dengan umat Kristen yang taat pada ajaran agamanya. Quraish juga berulang-ulang menunjukkan contoh nyata dalam kehidupan Nabi Muhammad yang seharusnya cukup bagi umat Islam untuk meyakini  arti penting membangun persaudaraan dengan umat Kristen.

Bersahabat
Salah satu rujukan dalam Al-Quran yang sering digunakan Quraish adalah surat Al-Maaidah ayat 82  yang berbunyi:

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ’Sesungguhnya kami ini orang Nasrani’. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat para pendeta dan rahib, (juga karena mereka sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.”

Ayat itu secara tegas menunjukkan betapa umat Narsani adalah kaum yang dipandang dalam tradisi Islam sebagai mereka yang memiliki kedekatan dengan umat Islam.

Quraish memaparkan bahwa ayat-ayat dalam Al-Quran yang mengandung kecaman terhadap kaum ahli kitab, lazimnya ditujukan kepada orang  Yahudi,  bukan  kepada  orang Nasrani. Ini bisa dijelaskan dalam konteks sejarah perjuangan Nabi dalam menegakkan Islam. Kedua kelompok itu – Yahudi dan Nasrani – memang memiliki perbedaan sikap terhadap kaum Muslim. Sejumlah kelompok Yahudi konsisten mengkhianati kaum Muslim, sementara pemuka Nasrani – seperti Raja Abisinia – menolong kaum muslim.

Sejarah mencatat, kaum Yahudi di masa  perjuangan Nabi cenderung bersikap negatif, antara lain karena kekhawatiran mengenai menurunnya peran mereka dalam wilayah politik dan ekonomi di Mekah dan Madinah. Para pendeta mereka pun dikenal licik,   memakan riba, dan masyarakatnya pun amat materialistis-individualistis.

Ini berbeda sekali dengan tampilan umat Kristen yang dikenal bersahaja. Para pemuka agama Kristen juga dilihat sebagai pantas diteladani karena mereka konsisten menanamkan ajaran moral yang bersumber dari ajaran Nabi Isa., dan hidup dengan mencerminkan sikap zuhud (menjauhkan  diri  dari kenikmatan  duniawi  dengan  berkonsentrasi  pada   ibadah).

Tidak Semua Sama
Dalam Al-Quran memang ada sejumlah ayat yang mengandung peringatan agar umat Islam berhati-hati terhadap kaum ahli-Kitab, termasuk kaum Kristen. Tapi, Quraish memberi catatan penting: ayat-ayat itu lazimnya tidak bersifat ’mencakup semua’. Dengan kata lain, ayat-ayat Al-Quran itu menunjukkan bahwa ada umat Kristen yang berbahaya, tapi ada (atau banyak pula) yang tidak perlu dicurigai.

Contohnya adalah, bunyi surat Al-Baqarah (ayat 109):

“Banyak  dari  Ahli Kitab  yang  menginginkan agar mereka dapat  mengembalikan  kamu  kepada  kekafiran  setelah  kamu beriman,  karena  dengki  yang timbul dari dalam hati mereka setelah nyata bagi mereka  kebenaran.  Maka  maafkanlah  dan biarkanlah  mereka  sampai  Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya  Allah  Mahakuasa  atas  segala  sesuatu.”

Begitu pula surat Ali ’Imran (ayat 69):

“Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu padahal mereka  (sebenarnya)  tidak  menyesatkan kecuali diri mereka sendiri, dan mereka tidak menyadarinya”

Dilihat dari redaksi ayat itu, jelas Allah menyatakan bahwa para ahli kitab itu tidak bisa digeneralisasi  Ada golongan dalam umat Kristen yang ingin menyesatkan, tapi ada pula yang tidak. Misalnya dalam surat yang sama, di ayat 113, tertulis:

“Mereka itu tidak sama. Di antara Ahli Kitab ada  golongan yang  berlaku  lurus.  Mereka  membaca  ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka  juga  bersujud”

Bagi Quraish, rangkaian ayat itu secara sangat jelas meminta umat Islam untuk bersikap kritis terhadap kemungkinan ajakan-ajakan negatif yang menyesatkan dari kelompok lain, tapi pada saat yang sama harus bersikap kritis dan tak begitu saja mengeneralisasi umat beragama lain.

Dalam surat yang sama pula, di ayat 75, Allah juga menyatakan:

“Di antara Ahli Kitab ada  yang  jika  kamu  mempercayakan kepadanya  harta  yang banyak, dikembalikannya kepadamu, dan di  antara  mereka  ada  juga  yang  jika  kamu   percayakan kepadanya  satu dinar (saja) tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali  selama  kamu  berdiri  (selalu  menagihnya).   Yang demikian  itu  karena  mereka  berkata  (berkeyakinan) bahwa tidak ada dosa bagi kami (memperlakukan tidak adil) terhadap orang-orang ummi (Arab). Mereka berkata dusta terhadap Allah padahal mereka mengetahui” (75).

Bahkan lebih jauh lagi, Allah bicara tentang para ahli kitab yang akan memperoleh pahala di sisiNya (Al ’Imran: 199):

“Dan sesungguhnya di antara  Ahli Kitab  ada  orang  yang beriman  kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu, dan apa yang diturunkan kepada  mereka  sedang  mereka berendah  hati  kepada  Allah,  dan  mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala  di  sisi Tuhan mereka. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya” .

Dengan begitu, Al-Quran mengandung ayat-ayat yang menempatkan sebagian umat Krisen dalam cara yang terhormat–  sebagai mereka yang bisa dipercaya, bersahabat dan akan memperoleh pahala. Implikasinya, tentu saja, umat Islam diharapkan untuk membangun hubungan baik dengan umat Kristen, kecuali dengan mereka yang jelas-jelas bersikap jahat dan memusuhi.

Sebagaimana termuat dalam Al  ’Ankabut (ayat 46), Allah meminta umat Islam untuk berkomunikasi dengan cara yang baik:

“Janganlah  kamu  berdebat  dengan  Ahli Kitab,  melainkan dengan    cara   yang   sebaik-baiknya,   kecuali   terhadap orang-orang yang zalim di  antara  mereka”. NEXT PAGE

Bersikap Adil
Setelah memerintahkan umat Islam untuk bersahabat dengan kaum ahli kitab, Allah juga menetapkan keniscayaan berlaku adil. Dalam salah satu tulisannya, Quraish menceritakan bahwa Nabi pernah  cenderung  mempersalahkan  seorang Yahudi yang sebenarnya tidak bersalah, karena Nabi  bersangka  baik  terhadap  keluarga  kaum Muslim  yang  menuduh orang Yahudi itu.  Sikap  Nabi tersebut ditegur oleh Allah dengan menurunkan surat An-Nisa (ayat 105): ” Dan  janganlah engkau  menjadi penantang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) orang-orang yang khianat.”

Dalam penjelasannya, Quraish menunjukkan bahwa ayat itu mengandung perintah agar umat Islam tidak membela sesama muslim yang melakukan tindakan yang melanggar hukum, hanya karena tidak menyukai mereka – dalam kasus itu, orang Yahudi — yang sebenarnya dirugikan.

damaiBersahabat dan Bersaudara
Dalam pandangan Quraish, tak ada alasan bagi umat Islam untuk bersikap apriori atau bermusuhan dengan kaum penganut agama lain, termasuk Kristen Terutama dalam masyaraat yang sangat heterogen seperti Indonesia, kesediaan untuk bekerjasama   merupakan keniscayaan.

Masalahnya, ada banyak kesalahpahaman yang kerap disangka bersumber dari Al-Quran. Quraish memberi contoh tentang ayat yang  sering ditafsirkan sebagai rujukan mengenai aturan bersahabat dengan  golongan non-Islam, seperti Ali ‘Imran (ayat 118) yang berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil  menjadi teman  kepercayaanmu  orang-orang  yang  di luar kalanganmu, (karena)   mereka   tidak    henti-hentinya    (menimbulkan) kemudharatan  bagimu.  Mereka  menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa  yang disembunyikan  oleh  hati  mereka  adalah  lebih besar lagi.”

Menurut Quraish adalah keliru untuk menafsirkan ayat itu sebagai larangan bersahabat dengan kaum non-muslim. Dengan merujuk pada tafsir Ibnu  Jarir, ia menjelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan  berkenaan dengan sikap  orang  Yahudi  Bani  Quraizhah
yang   mengkhianati  perjanjian  mereka  dengan  Nabi. Karena itu, menurut ulama besar lain,  Rasyid  Ridha; ”Larangan  ini  baru  berlaku  apabila mereka memerangi atau
bermaksud jahat terhadap kaum Muslim.”

Ridha,  mengeritik  dengan  sangat  tajam  pandangan beberapa ulama tafsir seperti Al-Baidhawi dan Az-Zamakhsyari – yang  menjadikan  ayat  ini  sebagai  larangan  bersahabat dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani secara mutlak dan permanen.

Dari  sini dapat ditegaskan, tulis Quraish,  bahwa Al-Qur’an tidak menjadikan perbedaan agama sebagai alasan untuk tidak menjalin hubungan kerja  sama,  apalagi  mengambil sikap tidak bersahabat. Bahkan, seperti terbaca dalam surat Al-Mumtahanah [ayat 8), Al-Qur’an sama sekali tidak melarang  seorang  Muslim untuk  berbuat  baik dan memberikan sebagian hartanya kepada siapa pun selama mereka tidak memerangi kaum  Muslim  dengan motivasi  keagamaan  atau  mengusir  kaum  Muslim  di negeri mereka.

Atas dasar  itu  pula  sejumlah  sahabat  Nabi  dan bahkan  Nabi sendiri ditegur oleh Al-Qur’an karena enggan memberi bantuan nafkah kepada sejumlah  ahli  kitab,  dengan  dalih  bahwa mereka  enggan  memeluk  Islam.  Sebagaimana terbaca dalam Al-Baqarah (ayat 272), Allah menyatakan bahwa:  ””Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka  mendapat  petunjuk, tetapi    Allah    yang    memberi   petunjuk   siapa   yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja  harta  yang  baik  yang  kamu nafkahkan  dijalan  Allah,  maka  pahalanya  adalah  untukmu jua..” NEXT PAGE

Mencari Titik Temu
Mendasari seluruh sikap penuh kedamaian terhadap umat non-Islam ini adalah keluasan titik temu antara Islam dengan agama-agama tersebut. Menurut Quraish, umat Islam tidak penranh diperintahkan untuk bersikap ‘saling meniadakan’ dengan kaum non-muslim. Sebaliknya, Al-Quran justru mengarahkan umat Islam untuk saling menghormati dan bekerjasama dengan non-muslim, atas dasar persamaan yang dimiliki antar agama, sebagaimana termuat dalam Ali ‘Imran (ayat 64) yang berisikan perintah agar umat Islam berkata:

“Hai  Ahli Kitab, marilah kepada satu kata sepakat antara kita yang tidak ada perselisihan di antara  kami  dan  kamu, yakni  bahwa  kita  tidak  menyembah kecuali Allah, dan kita tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun, dan tidak pula sebagian  kita  menjadikan  sebagian yang lain sebagai tuhan selain dari Allah”.

Dengan kata lain, terlepas dari agama mereka, selama mereka mempercayai Tuhan dan bersedia menjalankan perintah-perintah-Nya, kalangan non-muslim adalah sekutu kaum muslim.

Dalam kaitan itu, Quraish mengingatkan bahwa upaya untuk membangun hubungan harmonis itu akan terdederai dengan sikap-sikap yang menganggap diri paling benar seraya melecahkan keyakinan orang lain. Di dalam Surat Saba’ ayat 26 dinyatakan, “Kami (muslim) atau kamu (nonmuslim) di atas petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata”. Menurut Quraish, ayat terakhir ini mengandung pengertian bahwa boleh jadi kamu yang benar atau boleh jadi juga kami yang benar.

Ayat selanjutnya menjelaskan:

“Katakan (wahai Nabi Muhammad kepada orang-orang non-muslim), kalian tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas dosa-dosa kami dan kami pun tidak akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang kamu kerjakan. Katakanlah, Tuhan kita akan menghimpun kita di hari kemudian. Kemudian Dia akan memberi putusan yang benar (haq), siapa yang benar dan siapa yang salah.”

Menurut Quraish, ini menunjukkan bahwa umat Islam tidak perlu mempersoalkan kepercayaan yang berbeda, apakah itu Islam, Kristen, atau Yahudi. Yang penting, bagaimana masing-masing mempercayainya sendiri. Bahkan dalam ayat lain Allah berfirman, “Jangan  memaki sembahan orang. Karena, kalau kamu memaki sembahan mereka, maka mereka juga akan memaki sembahanmu.”

Terkait dengan hal ini, Nabi Saw. bersabda, “Dosa yang paling besar dari seorang  manusia adalah memaki ayahnya”. Sahabat Nabi bertanya, bagaimana ada orang yang memaki ayahnya sendiri? Nabi Saw. kemudian menjawab, “karena orang tersebut memaki ayah orang lain, maka orang lain tersebut akan memaki ayahnya”.

Karena itu, di mata Quraish, kalau saja umat Islam bersedia kembali menjalankan perintah-perintah Al-Quran dan mengikuti teladan Nabi Muhammad, niscaya jarak sosial yang tercipta antara umat Islam dan kalangan non-muslim saat ini akan lebih mudah terjembatani.

Dalam pandangannya, Al-Quran sudah secara jelas mengajarkan etika beragama dalam berhubungan dengan kalangan non-muslim. Sebagaimana tertulis dalam surat Al-Anfal (ayat 61): ””Apabila  mereka  condong  kepada  salam  (perdamaian), maka condong  pulalah  kepadanya,  dan  berserah  dirilah  kepada Allah.”

Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.*

(Ditulis berdasarkan berbagai karya Prof. Dr. M. Quraish Shiab)

About adminislat1

Check Also

TASAWUF – Mereka Yang Diberi Hidayah Khusus Oleh Allah

“Dan Allah – yang mulia dengan segala asma-Nya – dalam waktu ke waktu dan dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *