Home / Featured / Manusia dan Takdir Bag 1

Manusia dan Takdir Bag 1

Tidak ada dua kata yang lebih mengerikan dari nasib dan takdir yang pernah melanda telinga manusia.


Tidak ada yang bisa lebih menyedihkan bagi seorang manusia ketika memiliki perasaan bahwa ia tidak memiliki kebebasan dan semua tindakannya dikendalikan oleh takdir.

Dapat dikatakan bahwa kebebasan dan kemerdekaan adalah berkah tertinggi, dan kekecewaan yang paling pahit adalah perasaan tidak berdaya, perasaan bahwa seseorang tidak memiliki kemandirian, perasaan bahwa ia adalah seperti domba gembala karena tidak memiliki kontrol bahkan hanya untuk makan, tidur, hidup dan mati.

Perasaan yang dihasilkan dari ketidakberdayaan lebih memakan dan menindas jiwa manusia daripada api yang berkobar.

Itu adalah posisi ketika seorang manusia menemukan dirinya tak berdaya terhadap yang lain, seperti layaknya melawan binatang yang kuat. Sangat mudah untuk membayangkan keadaannya jika manusia menemukan dirinya di dominasi oleh kekuatan tak terlihat dan misterius yang tidak bisa ditolaknya, maka jelas keadaannya akan jauh lebih buruk.

Sebuah pertanyaan yang selalu dipikirkan oleh manusia adalah, apakah dunia ini terjadi sesuai dengan program yang telah diatur dan tak terhindarkan? Apakah semua peristiwa di dunia ini diatur oleh hal tak terlihat tetapi sangat kuat, kekuatan yang disebut nasib dan takdir? Apakah segala sesuatu yang terjadi sekarang atau akan terjadi, telah ditentukan? Apakah manusia tidak berdaya dihadapan determinisme, dan tidak memiliki kebebasan memilih? Atau bahwa tidak ada hal seperti nasib dan manusia benar-benar bebas menentukan nasibnya sendiri? Atau itu yang benar-benar ada sebagai alternatif ketiga, yang menurutnya dunia diatur oleh takdir? Pengaruh yang meluas ke segala sesuatu tanpa terkecuali, tetapi pengaruhnya membatasi kebebasan manusia sendiri? Jika hal ini terjadi, bagaimana itu harus dijelaskan?

Pertanyaan tentang nasib dan takdir adalah salah satu pertanyaan filosofis yang paling sulit. Untuk alasan tertentu yang akan dijelaskan nanti. Hal itu telah menjadi subjek perdebatan antara pemikir Muslim dari abad pertama Hijriah. Berbagai pandangan di ungkapkan dalam hal ini dan telah menyebabkan banyak kontroversi dan memunculkan beberapa pandangan di dunia Muslim dengan hasil yang berbeda selama empat belas abad.

Meskipun itu adalah pembahsan metafisik, dua alasan itu juga datang dalam kategori atau pertanyaan praktis dan sosial.

Alasan pertama adalah, bahwa cara manusia berpikir tentang pertanyaan ini mempengaruhi kehidupan praktis dan sikap sosialnya.

Hal ini jelas bahwa semangat dan sikap seorang manusia melihat dirinya sebagai makhluk tak berdaya dihadapan determinisme tak terhindarkan, berbeda dari orang yang percaya bahwa telah dibuat bebas dan karenanya menguasai takdirnya.

Secara umum, bagi sebagian besar manusia pertanyaan filosofis ini tidak mempengaruhi semangat, sikap dan tindakan manusia. Sikap praktis dan semangat sosial seseorang tidak dipengaruhi oleh pertanyaan seperti keabadian dunia atau tentang alam semesta, sesuatu yang tak terbatas, sistem sebab-akibat, yang banyak tidak berasal dari satu, yang esensi hingga keberadaan.

Alasan kedua adalah bahwa doktrin nasib dan takdir, meskipun menjadi keyakinan pribadi, datang dari pertanyaan universal bagi sebagian orang yang gelisah mencari jawaban.

Ini adalah salah satu pertanyaan yang hampir semua orang yang memilikinya, tanpa harus memiliki kapasitas berpikir lebih untuk menjawab pertanyaan pertanyaan umum. Semua orang secara alami tertarik untuk mengetahui apakah manusia bebas untuk menentukan hidupnya atau tidak dapat menentukan nasibnya sendiri.

Dua pertanyaan ini dapat dimasukkan dalam kategori kategori masalah praktis, universal dan sosial semua manusia.

Pada zaman dahulu sedikit manusia yang berpikir tentang pertanyaan ini. Karena pertanyaan ini dibahas hanya dari pandangan para filosof. Tetapi para sarjana modern, memperhatikan aspek-aspek praktis dan sosial dari pertanyaan ini sekaligus hubungannya dengan cara berpikir dan peradaban manusia, Karena akan menjadi hal menentukan kemajuan dan kemundurannya.

Beberapa kritikus Islam berpendapat bahwa penyebab terbesar kemunduran umat Muslim adalah pemahaman mereka tentang nasib dan takdir. Sekarang timbul pertanyaan, jika kepercayaan takdir adalah penyebab penurunan individu atau masyarakat, bagaimana mungkin umat Islam awal tidak terpengaruh oleh itu. Apakah mereka tidak memiliki keyakinan pada takdir? Apakah pertanyaan ini diperkenalkan dalam ajaran Islam kemudian, seperti yang ditegaskan oleh beberapa sejarawan Eropa? Atau bahwa sifat keyakinan mereka pada nasib dan takdir adalah seperti itu tidak bertentangan dengan iman mereka dalam hal kebebasan dan tanggung jawab? Di dunia lain, apakah mereka percaya bahwa takdir seseorang tidak benar-benar di luar kendali dan bahwa ia bisa mengubahnya. Jika demikian, apa dasar pemikiran mereka?

Mengesampingkan dasar keyakinan mereka, kita lihat apa yang Al Qur’an katakan dalam hal ini. Kemudian kita akan melihat apa cara berpikir yang harus kita lakukan.

Ayat Ayat Al Quran
Beberapa ayat dari Al-Qur’an secara tegas mendukung aturan takdir. Mereka menyatakan bahwa tidak ada yang terjadi di dunia tanpa kehendak Allah dan bahwa setiap peristiwa sudah tercatat dalam ‘Buku’.
Beberapa ayat-ayat Alquran seperti:
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan [tidak pula] pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab [Lauh Mahfuzh] sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. “. (QS al-Hadid, 57:22)
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya [pula], dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata [Lauh Mahfuzh]. “. (QS al-An’am, 6:59)
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ukuran“. (QS al-Qamar, 54:49)
Ada ayat lain yang menunjukkan bahwa manusia bebas dan ia dapat mengubah nasibnya:

Allah tidak mengubah kaum kecuali mengubah dirinya sendiri“. (QS al-Ra`d, 13:11)

Allah tidak melakukan kezhaliman kepada mereka, tetapi mereka telah menganiaya diri mereka sendiri“. (QS al-Ankabut, 29:40)
Tuhanmu tidak akan zhalim kepada hamba-Nya“. (Surah Fussilat, 41:46)
Maish ada ayat ayat lain selanjutnya. Sebagian penafsir Al-Qur’an dan para teolog menghadapkan ayat-ayat dari dua kategori tersebut karena bertentangan satu sama lain. Menurut mereka, perlu untuk menerima ayat-ayat satu kategori dan menjelaskannya pada orang-orang lain. Cara berpikir ini muncul pada paruh kedua abad pertama. Kelompok yang menyerukan kebebasan manusia dan doktrin kehendak bebas berusaha menafsirkan ayat-ayat dari kategori pertama. Dalam sejarah mereka disebut Qadariyyah.
Kelompok lain cenderung pada doktrin predestinasi, yaitu menafsirkan ayat-ayat kategori kedua, dan disebut Jabariyyah atau predestinasi. Secara bertahap dua kelompok besar teologi ini, mewarnai khazanah pemikiran umat islam. kemudian berkembang kembali dengan nama Asy’ariyah yang mendukung predestinasi dan Mu’tazilah mendukung doktrin kehendak bebas.
Kami telah mengatakan bahwa menurut sebagian besar penafsir Al-Qur’an dan para teolog, ayat-ayat Al-Qur’an dalam hal takdir dan kehendak bebas manusia yang saling bertentangan, dan karena itu perlu bahwa ayat-ayat dari salah satu dua kategori ini harus ditafsirkan dengan cara yang berbeda dari apa yang tampaknya mereka sampaikan,
Ini dapat disebutkan bahwa ada dua macam kontradiksi. Kadang-kadang pernyataan tegas bertentangan dengan pernyataan lain. Misalnya, seseorang mengatakan: “Nabi saw wafat di bulan Safar”. Orang lain mengatakan. “Nabi tidak mati di bulan Safar”. Dalam hal ini pernyataan kedua secara tegas menolak mengakui yang pertama. Tapi kadang-kadang posisi berbeda. Pernyataan kedua tidak bertentangan dengan yang pertama, tetapi kebenaran dari kedua menyiratkan kepalsuan. Misalnya, seseorang mengatakan: “Nabi meninggal pada bulan Rabi Ul-Awwal”. Hal ini jelas bahwa jika Nabi meninggal pada bulan Rabi`al-Awwal, ia tidak bisa mati di bulan Safar.
Sekarang mari kita lihat bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an dalam hal nasib dan takdir di satu sisi, dan kehendak bebas di sisi lain saling bertentangan. Apakah mereka dari jenis pertama dan tegas bertentangan satu sama lain, atau dari kedua ayat-ayat tersebut menyangkal ayat-ayat lainnya.
Tidak ada keraguan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an tentang hal ini tidak bertentangan satu sama lain. Posisi tidak bertentangan bahwa ayat-ayat dari satu kategori mengatakan bahwa segala sesuatu ditakdirkan dan kategori kedua menyatakan bahwa tidak ada takdir atau ayat-ayat dari satu kategori mengatakan bahwa manusia adalah bebas dan memiliki kekuatan memilih, tetapi orang-orang dari kategori kedua menegaskan bahwa manusia tidak bebas dan tidak memiliki pilihan. Tidak ada ayat-ayat Al-Qur’an menyangkal bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu tergantung pada kehendak-Nya.
Alasan mengapa dua set ayat-ayat ini dianggap bertentangan adalah, bahwa para teolog dan oenafsir  Al Qur’an berpikir bahwa nasib menyiratkan bahwa manusia tidak bebas. Menurut mereka, takdir dan kebebasan tidak konsisten. Mereka berpendapat bahwa, segala sesuatu ada dalam Pengetahuan Allah berarti bahwa segala sesuatu telah ditentukan oleh-Nya. Apakah harus mengakui bahwa manusia memiliki kehendak bebas, konsekuensinya pengetahuan Allah terdapat kesalahan.
Sebaliknya, jika benar bahwa manusia bisa menentukan takdirnya, berarti tidak ada yang ditakdirkan. Oleh karena itu, salah satu dari dua kategori ayat perlu penafsiran lain.
Para Mufasir Al-Qur’an dan kitab kitab teologi dari kelompok Asy’ariyah dan Muktazilah penuh penjelasan dan interpretasi tentang hal ini. Muktazilah menjelaskan ayat-ayat mengacu takdir, dan Asy’ariyah menafsirkan yang berhubungan dengan kehendak bebas. Untuk melihat interpretasi tersebut terdapat referensi yaitu Tafsir al-Kashshaf oleh Az-Zamakhsyari, yang cenderung kepada pandangan Muktazilah.
Sekarang mari kita lihat apakah layak untuk memiliki pandangan ketiga yang dapat menyelesaikan konflik antara keyakinan nasib dan takdir di satu sisi dan Maha Kuasa Allah dan Maha TauNya di sisi lain.
Seperti yang akan kita lihat, ada pandangan ketiga yang menjelaskan bahwa tidak ada pertentangan antara dua kategori ayat-ayat Al-Qur’an tersebut. Pertentangan terjadi karena kesalahpahaman pada sebagian kelompok teolog dan para mufasir.
Pada prinsipnya tidak ada artinya mengatakan bahwa ada kontradiksi dalam Al-Qur’an, dan bahwa perlu untuk mendamaikan ayat-ayat yang saling bertentangan. Faktanya adalah, bahwa tidak ada satu ayat yang bertentangan. Itu tidak terjadi bahkan dengan apa yang disebut ayat-ayat yang samar. Dalam pembahasan origininalitas Al Qur’an membutuhkan pembahasan rinci, karena bagaimanapun origininalitas adalah salah satu aspek yang paling ajaib dari Al Quran.
Bersambung . . .

About adminislat1

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *