Home / Featured / Masih Adakah Toleransi?

Masih Adakah Toleransi?

Saya bukan sosok religius yang paham agama secara mendalam. Saya dilahirkan dalam agama mayoritas negara ini. Sungguh, saya sangat mensyukuri nikmat iman dan Islam yang diturunkan orangtua yang notabene muslim sejak lahir.

Berbicara masalah toleransi, saya sudah diajarkan sedari kecil baik itu di sekolah madrasah maupun lewat pengajian di mushola dekat rumah. Diceritakan bagaimana Rasulullah sangat menghormati orang yang memeluk agama Yahudi atau Nasrani di kota Mekkah, pun sahabat beliau Umar bin Khattab melarang untuk mendirikan masjid karena ada seorang Yahudi yang tidak rela rumahnya digusur.

Sampai duduk di SMP belum begitu terasa aplikasi dari ilmu toleransi yang saya dapat. Saya mengenal non muslim pertama kali ketika saya mendapatkan beberapa teman korespondensi yang berbeda agama. Pada tahun 1992-an kondisinya tidak seperti sekarang yang terdapat berbagai macam media sosial.

Waktu itu untuk mengenal teman di daerah, pulau atau negara lain harus melalui surat, apabila ingin mengetahui wajah teman korespondensi ya harus saling tukar menukar foto masing-masing. Perasaan dengan surat kita lebih jujur dalam menuangkan kata-kata, lebih touching istilahnya.

Teman korespondensi saya ada yang berasal dari Perbaungan Sumatera Utara, Jambi, Jakarta, Karawang, Bandung, Banyuwangi, Bontang, pokoknya hampir seluruh Indonesia. Kalau dari luar negeri diantaranya dari Malaysia, Filipina, USA, dan lainnya. Nah otomatis teman-teman saya itu berbeda-beda agamanya. Ada yang beragama Buddha, Hindu, Katolik dan Kristen.

Barangkali dari sanalah saya belajar ilmu toleransi, walaupun hidup ditengah-tengah mayoritas, saya bisa memahami perbedaan teman-teman yang tidak seagama dengam saya. Ketika ada yang merayakan hari raya keagamaan, saya tidak sungkan mengirim kartu ucapan, tidak ada tendensi apa-apa kecuali ikut bersuka cita bagi teman yang merayakan hari raya agamanya.

Yang saya rasakan teman-teman yang tidak seiman juga begitu terhadap saya, mereka sangat menghargai dan menghormati saya sebagai muslim. Saya pernah punya pacar yang berbeda agama, ketika dia merayakan natal saya menelponnya untuk mengucapkan selamat, begitu juga dia yang selalu mengingatkan saya untuk salat lima waktu, berpuasa dan ibadah yang lainnya.

Ketika saya kuliah, di depan tempat kos saya tinggal pasangan suami istri muda keturunan Tionghoa beragama Kristen, saya sangat dekat dengan mereka, saking dekatnya saya tidak sungkan untuk mengambil makanan yang ada di rumahnya. Maklum sebagai mahasiswi yang uangnya pas-pasan, saya harus menghemat pengeluaran salah satunya untuk membeli makanan.

Pada suatu hari, sepulang kuliah saya mampir ke rumahnya, setelah mengambil air dingin di lemari esnya, saya beranjak ke dapur melihat masakan apa yang tersedia di sana. Setelah membuka tudung saji, nampak semangkuk sup daging, saya pun mengambil nasi dan bersiap menyendok sup.

Tiba-tiba istrinya menghampiri dan melarang saya memakan sup tersebut, saya heran, apakah sup itu basi atau bagaimana, setelah saya tanya dia pun menjelaskan saya tidak boleh memakannya karena itu sup daging babi. Nah, begitu menjaganya teman saya itu terhadap makanan yang akan saya santap. Sungguh pengalaman yang luar biasa.

Melihat kondisi beragama saat ini sungguh miris. Dimana nilai-nilai toleransi yang dianut dan dituangkan dalam Pancasila? Atau barangkali hal itu sudah terjadi sejak lama, hanya media waktu itu tidak begitu ramai membicarakan seperti saat sekarang ini.

Isu agama begitu sangat sensitif, akhir-akhir ini banyak diperbincangkan. Kenapa kita melulu melihat perbedaan? Bukankah perbedaan itu sunatullah? Bukankah perbedaan itu indah? Bukankah perbedaan itu supaya kita saling melengkapi satu sama lain?

Lalu kenapa kita sering menyulut dan tersulut oleh isu agama?Bukanakah agama diturunkan untuk menciptakan kedamaian? Barangkali untuk menjawab semua pertanyaan di atas tidaklah mudah dan membutuhkan pemikiran yang mendalam.

Umat beragama harus arif dan bijaksana dalam menyikapi isu agama, janganlah kita mudah terpecah belah gara-gara isu yang dilontarkan oleh pihak-pihak yang mengambil keuntungan pribadi dan golongannya. Janganlah kita ‘baper’ an gara-gara ajaran agama kita menurut persepsi orang dihina dan dilecehkan.

Sebelum mengambil sikap dan tindakan alangkah baiknya kita mencari tahu, menelaah, menganalisa yang sebenarnya terjadi. Jangan sampai kita melakukan aksi anarkis yang dipicu oleh kesalahfahaman dalam beragama.

Marilah kita mewujudkan kerukunan antar umat beragama dengan saling menghormati dan menghargai satu sama lain, memang tidak mudah tetapi bukan sesuatu yang mustahil. Seperti yang termaktub di dalam Al Quran surat Al Kafirun ayat 6: “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

 

Sumber ; http://www.qureta.com/post/masih-adakah-toleransi

About syauqi glasses

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *