Home / Uncategorized / Memahami Kebaikan dan Kejahatan dari Dostoyevsky

Memahami Kebaikan dan Kejahatan dari Dostoyevsky

Oleh Ayu Mellisa

 

“Mengapa perlu kita mengenali kebaikan dan kejahatan yang jahanam itu, apabila sangat mahal harganya?”

Kutipan pengarang besar Rusia, Ivan Dostoyevsky, tersebut menjadi pengantar diskusi hangat pada Jumat, 15 Januari 2016 lalu dalam Pemutaran dan Diskusi Film di Pisa Cafe, Mahakam, bersama Natalia Laskowska. Kandidat doktor di Leiden University Institute for Area Studies, Belanda ini mengajak kita untuk kembali mendiskusikan pertanyaan Dostoyevsky yang masih relevan hingga kini. Menurut Natalia, pertanyaan ini bisa kita gunakan untuk melihat berbagai fenomena sosial yang akrab dengan berbagai bentuk kejahatan, termasuk teror bom Thamrin beberapa waktu lalu.

Tema “kebaikan dan kejahatan yang jahanam” merupakan akar pencarian Dostoyevsky dalam segala karyanya. Tema ini juga diangkat dalam karya terakhir dan paling terkenal dari Dostoyevsky yang berjudul Karamazovi (The Karamazov Brothers, 1880). Karamazovi yang diakui sebagai salah satu karya terbaik dalam sastra dunia ini merupakan novel filosofis yang berlatarbelakang modernisasi Rusia di abad ke-19. Dengan mengisahkan mengenai kehidupan tiga orang anak laki-laki dan seorang ayah, novel ini menyajikan perdebatan tentang Tuhan, kehendak bebas, dan moralitas.

Novel ini kemudian diterjemahkan dalam sebuah film produksi 2008 arahan Petr Zelenka dengan mengangkat judul yang sama. Film ini mengisahkan dinamika yang dihadapi oleh sekelompok aktor dari Praha yang memilih sebuah pabrik baja di Krakow, Polandia sebagai tempat pementasan teater, mengadaptasi Karamazovi. Selama proses latihan, mereka dihadapkan pada dua realitas yaitu lingkup aktor yang memainkan peran dan narasi sinematik dari tokoh yang mereka mainkan. Para aktor ini tidak hanya mengalami kisah emosional berkaitan dengan keimanan, keabadian, dan keselamatan jiwa manusia, namun juga hubungan dalam kelompok mereka sendiri. Kompleksitas panggung kemudian ditransfer ke dunia nyata ketika terjadi tragedi selama latihan yang melibatkan salah satu penonton.

Baik novel dan film mengajak kita untuk kembali mempertanyakan hubungan kebaikan dan kejahatan. Dalam filsafat Barat, pembahasan mengenai kejahatan telah dirasionalisasikan oleh para filsuf seperti Imanuel Kant. Filsafat Barat yang lebih fokus pada pertanyaan mengenai yang ada dan tidak ada membuat pertanyaan mengenai kebaikan dan kejahatan dikesampingkan.

Sementara itu, dalam tradisi filsafat Rusia juga dianggap gagal dalam menjawab pertanyaan tersebut. Untuk itu, Dostoyevsky berusaha memberikan jalan keluar dengan mengenalkan kebaikan dan kejahatan dalam karya-karyanya. Dosa dan kejahatan membuka ampunan yang mengarah pada kebaikan. Hubungan saling membutuhkan antara hal yang baik dan hal yang jahat ini merupakan jawaban yang ditawarkan Dostoyevsky, tanpa mengenali kejahatan maka mustahil bagi kita untuk menemukan kebaikan.

Jawaban Dostoyevsky ini memang multi tafsir. Mungkin kita akan bertanya haruskah kita membuat kejahatan untuk mendapat kebaikan? Namun setidaknya jawaban Dostoyevsky mengajak kita untuk mawas diri bahwa kejahatan akan selalu ada dan hal itu tidak membuat kita putus asa bahwa kebaikan selalu mengikutinya.

 

Sumber ; PUSAD (Pusat Studi Agama Demokrasi)

About adminislat1

Check Also

Puasa Ruhani

Secara normatif Islam menghendaki kehidupan seimbang dunia akhirat, materi dan ruhani. Menurut Cak Nur keseimbangan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *