Home / Keindonesiaan / Memaknai Ulang Konsep Pahlawan
Pengunjung menyaksikan pameran stencil "Rupa Pahlawan", di Galeri Rumah Ada Seni, Padang, Sumatera Barat, Selasa (10/11). Sebanyak 27 seniman memamerkan karya seni grafis stencil mereka dalam rangka memperingati hari pahlawan. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/nz/15

Memaknai Ulang Konsep Pahlawan

Seandainya seseorang awam ditanya “Siapakah pahlawan menurut Anda?”, beberapa orang mungkin akan mengarahkan kepada nama–nama dalam buku teks ataupun ingatan ajaran guru sejarahnya. Umumnya awam melihat seseorang sebagai pahlawan sebagai orang yang membantu perjuangan atau mempertahankan kemerdekaan atau seseorang dengan bedil dan orasi membangkitkan semangat juang, hingga pemberantas kejahatan dan keburukan.

Seperti halnya  senantiasa tak terpisahkan, pahlawan membutuhkan antagonis sehingga gelar pahlawan dapat berarti protagonis, sebut saja penjahat yang berkosntruksi dalam suatu keadaan tertentu. Hal ini dapat kita lihat dalam film Sergio Leone yang berjudul “The Good, The Bad, and The Ugly”. Dalam film itu tergambar jelas tiga karakter film koboi berlatar pasca perang sipil, di mana Blondie sebagai pahlawan (the good),  Angel Eyes sebagai antagonis yang oportunis (the bad), dan Tuco (the ugly) yang menggambarkan korban dari kondisi dan berada di waktu dan tempat yang salah.

Namun sejatinya terlalu naïf, dunia memang tidak semudah klasifikasi the good, the bad, dan the ugly. Adalah kutipan dalam film tersebut, “You see, in this world has two kinds of people, my friend. Those with loaded guns, and those who dig.” Ucapan itu sejatinya  menggambarkan manusia dalam perjalanannya. Manusia yang pertama digambarkan sebagai pahlawan yang memegang senjata yang kemudian menembakkan kepada yang lainnya, sedangkan manusia kedua adalah yang kalah dan harus rela menggali kuburannya di dalam sejarah. Jadi sebenarnya seorang tokoh dapat menjadi pahlawan bagi sebagian orang, namun dapat menjadi penjahat bagi sebagian lainnya.

Hal ini dapat dilihat lho, kita kenal Soekarno, Hatta atau Jendral Sudirman dengan perannya sebagai founding father  atau pejuang nasionalisme yang memang bagi kita adalah pahlawan, namun bagi pihak kolonial – saat itu – mereka adalah penjahat yang ingin mengadakan makar untuk melakukan disintegrasi dalam wilayah kuasanya. Ada juga Adolf Hitler yang menjadi senantiasa dicap sebagai penjahat perang, kejam, jahat,diktator dan lainnya. Namun harus diakui Si doi-lah yang kemudian membangkitkan Jerman yang saat itu menanggung kekalahan luar biasa dari Perang Dunia pertama, dengan jeniusnya – dan tangan besi tentunya – mengantarkan Jerman sebagai superpower, pembuat repot Amerika dan sekutunya.

Selain itu bisa juga kita lihat bagaimana bad ending dari organisasi seni LEKRA yang notabene memiliki seniman berbakat dan karyanya yang monumental sebut saja Pramoedya Ananta Toer, Rivai Apin, Hendra Gunawan, – terlepas dari propaganda pakem propagandanya, namun seiring tragedi 1965, keterkaitannya sebagai underbow dari PKI menjadikannya para karya seniman dan organisasi tersebut harus terhapus dari sejarah.

Para pahlawan ini kemudian menciptakan apa yang pemikir Prancis Louis Althusser sebut Apparatus Ideology yang melahirkan doktrin sejarah. Ya sudahlah, sejarah memang ditulis para pemenang, dan para pemenang inilah yang kemudian bergerlar pahlawan dan menyingkirkan lawannya, disanjung dan dipuja hingga dikenang dalam ingatan sejarah.

Bukan maksud menawarkan sebuah sikap skeptis ataupun ahistoris. Namun melihat sejarah mungkin sebaiknya tidak berdasarkan buku teks panduan siswa belajar, melihat sosok pahlawan dan penjahat lewat sejarah membutuhkan nalar kritis kita, terlebih peristiwa yang sudah dari bahalul kala terjadi. Terkadang sulit menentukan siapa pahlawan. Lebih dari itu pahlawan dan penjahat kiranya serupa interpretasi Paul McCartney dan Stevie Wonder dalam lagu lawasnya, “Ebony and Ivory”. Yang dimana dijelaskan baik dan buruk yang diumpamakan sebagai eboni dan gading bersatu dalam sebuah harmoni dan saling membutuhkan satu sama lainnya, yang berakting di atas panggung yang Achmad Albar sebut panggung sandiwara.

Sekiranya memikirkan para pejuang kita yang berkatnya Indonesia berdiri itu penting, namun lebih penting lagi kita memikirkan seberapa besar kita dapat menginspirasi orang terdekat kita untuk hidup lebih baik, seberapa mampu kita meyakinkan diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik. Baiknya pilihlah pahlawan dari orang – orang terdekat yang senantiasa memberikan semangat atau dukungan fisik moril untuk kita, atau mungkin tokoh – tokoh yang ternyata tanpa kita sadari dapat menjadikan contoh yang sesuai konteks dan zaman, misalnya, ABG yang menjadikan Aliando pahlawan berkat perannya di “Ganteng – Ganteng Serigala” atau seorang perempuan yang menjadikan cowoknya senantiasa “ojek gratis” antar-jemput dan pasangan bermalam minggu sebagai pahlawan.

 

Sumber ; GEO TIMES

About adminislat1

Check Also

Dalam NKRI Tak Ada Orang Kafir

Dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tak ada orang kafir. Pemeluk agama disebut berdasar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *