Home / Featured / Membaca Satu Tuhan Banyak Agama

Membaca Satu Tuhan Banyak Agama

Diskusi-diskusi teologis berupa pemahaman tentang kebenaran dari masing-masing wahyu dalam setiap agama tidak lagi menjadi sesuatu yang baru atau menjadi hal yang sensitif. Saya sebagai orang Katolik merasa “bersyukur” bahwa ternyata Islam atau setidaknya para pemikir Islam telah membicarakan hal serupa.

Anggapan umum (sepengetahuan saya) melihat Islam sebagai agama yang menekakan teologi eksklusif dalam arti memandang kebenaran hanya dalam agamanya saja tidak dapat diterima begitu saja.

Teologi Kristen (Katolik) cukup lama secara resmi menganut paham eksklusif sehingga dorongan agar setiap orang harus menjadi kristiani sangatlah ditekankan agar dirinya dapat diselamatkan. Bagi saya, buku ini telah memberikan gambaran baru bahwa Islam telah jauh mendahului kekristenan dalam konteks diskusi seputar teologi inklusifitas.

Tiga pemikir yang menjadi obyek uraian  dalam buku ini sungguh telah memberikan sebuah wawasan baru sekaligus diskursus dalam hubungan antara agama khususnya berhadapan dengan pluralitas wahyu dari masing-masing agama. Ketiga pemikir antara lain: Ibn ‘Arabi, Rumi, dan Al-Jili.

Memahami pemikiran ketiga tokoh secara menyeluruh dan detail, saya pikir cukup sulit dan berat dalam arti mengungkapkan berbagai argumen mereka.

Melalui pembahasan dalam bab III, IV, dan V dapat disimpulkan beberapa poin dan titik penting. Data-data historis menunjukkan bahwa ketiga tokoh ini baik Ibn Arabi, Rumi, maupun Al-Jili memiliki kesamaan yaitu pada keyakinan mereka bahwa agama-agama memiliki kesatuan transenden. Tampak jelas bahwa kesatuan agama-agama secara mutlak hanya dapat terjadi pada wiliayah spiritual atau transenden, atau dalam bahasa Schoun pada wilayah esoterik.

Selain karena kedalaman pemahaman keagamaan, ketiga sufi ini memiliki visi sufistik yang berdasar pada pengalaman spiritual bahwa wilayah transenden hanyalah kesatuan, termasuk kesatuan agama-agama. Sejauh yang diungkapkan, pada wiliyah ini tidak ada kategorisasi, perbedaan, dan pertentangan. Melainkan hanyalah kesatuan yang bersifat absolut dan independen.

Kesatuan, dalam diskursus filsafat, diyakini merupakan sifat utama dari yang transenden, dan transendensi merupakan sifat utama dari wilayah esoterik.

Memang ditemukan kesulitan dalam menjelaskan tataran pengalaman spiritual. Akhirnya, kesatuan transendensi  itu dapat dijelaskan  dan dipahami pada uraian –uraian  ketiga sufi mengenai kesatuan esensi, kesatuan ketuhanan, kesatuan asal (sumber) syariat atau jalan, kesatuan sumber kitab-kitab suci, kesatuan tujuan, dan Agama Cinta.

Dalam uraian Media Zaenul Bahri, konsep mengenai kesatuan esensi, kesatuan esensi ketuhanan, kesatuan makna, kesatuan asal jalan/syariat, kesatuan tujuan penghambaan, kesatuan asal/sumber kitab-kitab suci, dan Agama Cinta merupakan bagian dari esoterik-metafisik.

Karena semua kesatuan itu berujung pada Tuhan (yang dalam pengertian-Nya sebagai realitas metafisik bersama-sama dengan realitas akhirat). Surga dan neraka meskipun realitas Tuhan sebagai pencipta berbeda sama sekali dengan realitas eskatologis sebagai ciptaan-Nya.

Selain itu, perbedaan dan pertentangan di antara agama-agama hanya terjadi dalam dunia fenomena, bentuk, ritus, bentuk, doktrin, dan ritus. Atau dalam bahasa Schoun perbedaan dan pertentangan hanya terjadi dalam wilayah esoterik. Perbedaan-perbedaan bentuk dan ritus itu terjadi karena tajalli (penampkan) Tuhan yang beragam dan faktor historis-alamiah sebagai hukum dunia yang tak mungkin dihindari.

Perbedaan bentuk-bentuk agama, yang berarti perbedaan jalan-jalan menuju Tuhan sesungguhnya terjadi karena interaksi antara penampakan Tuhan dengan respons manusia. Cara manusia merepons menjadi salah-satu penentu sehingga terjadi keragaman bentuk agama. Respons itu menunjukan bahwa manusia memiliki kebebasan untuk memilih keyakinan dan sikap keagamaan, yang kelak dimintai pertanggungjawaban.

Perbedaan bentuk-bentuk keagamaan bersifat nisbi dan relatif. Artinya, perbedaan setiap agama-agama tidak bersifat terpisah, independen, tetapi memiliki hubungan satu sama lain. Pandangan sufistik ketiga sufi menunjukkan bukti-bukti yang kukuh bahwa semua agama yang berbeda dan beragam sesungguhnya memiliki hubungan, keterkaitan, titik temu, bahkan kesatuan, karena berasal dari Tuhan Yang Esa.

Bagi saya, paham ketiga sufi lebih dekat dengan ideologi pluralisme. Kalau melihat argumen ini, superiotitas Islam sebagai agama yang paling sempurna tidak ditekankan. Berbeda dengan paham yang dominant dalam Katolik. Ideologi inklusifitas mengakui keragaman dan kebenaran setiap agama. Namun puncak keselamatan tetap terjadi dalam Yesus Kristus.

Media Zaenul Bahri, mengungkapkan alasan analisis ini dibuat. Bagi dia, penelitian ini setidaknya akan membantah dua kelompok sarjana. Kelompok pertama, yaitu yang menyatakan bahwa kaum sufi telah terperangkap dalam ide yang menyamakan setiap agama dan seolah membentuk agama baru.

Hal ini diungkapkan oleh ‘Abd al-Rahman al-Wakil. Kelompok kedua, yaitu yang menyatakan sebaliknya bahwa kaum Sufi justru tidak mengajarkan perihal kesatuan agama-agama. Namun Media Zaenul Bahri memberi argumen bahwa kedua kelompok di atas sesungguhnya tidak menelaah secara komprehensif penjelasan ketiga sufi mengenai konsep tentang kesatuan agama-agama.

Misalnya, kelompok pertama tidak memiliki pemahaman yang luas dan utuh mengenai keseluruhan pandangan ketiga sufi dan sufi-sufi lain yang sepaham. Kelompok pertama memandang bahwa kaum sufi menekankan keunggulan Islam dan menunjukan kelemahan agama-agama lain.

Zaenul Bahri beranggapan bahwa justru karena kelompok pertama ini telah memiliki kecurigaan dari awal atau tidak memiliki akses yang memadai untuk memahami pemikiran ketiga sufi itu.

Selanjutnya, data-data yang diajukan kelompok kedua di atas juga lemah karena tidak utuh. Jika yang dimaksud kesatuan itu adalah kesatuan bentuk syariat agama-agama, benar bahwa ketiga sufi tidak menganut paham itu. Tetapi, lagi-lagi, yang dimaksud ketiga sufi itu adalah kesatuan transenden sedangkan bentuk syariat agama-agama berbeda, bahkan bertentangan.

Dengan demikian, sesungguhnya, kelompok yang kedua telah mereduksi dan mengabrogasi pandangan utuh ketiga sufi yang menunjukan bahwa mereka memiliki pandangan humanis, inklusif, dan universal mengenai kebenaran prinsipiil agama-agama umat manusia.

Selain dua kelompok di atas, ada  lagi kelompok ketiga yang menilai pemikiran para sufi itu. Dalam analisis Bahri, penelitiannya bermaksud  memperkokoh kelompok sarjana ketiga yaitu sebagian besar sarjana tasawuf dan Perbandingan Agama yang menganut paham bahwa Ibn Arabi, Rumi, dan Al-Jili mengajarkan perihal kesatuan transenden agama-agama sebagaimana hal itu dinyatakan Schoun, Seyyed Hossein Nasr, Willian Chittick, Schimmel, John Hick, dan beberapa ahli lain lagi.

Namun bagi Bahri, data-data yang komprehensif menunjukkan bahwa pandangan kelompok sarjana ketiga di atas sesungguhnya juga tidak disertai dengan data-data yang lengkap dan utuh, yang secara teologis  dapat membawa implikasi yang cukup berbahaya bagi keyakinan kaum Muslim.

Kekurangan kelompok ketiga terletak pada sikap yang mengangap tidak pentingnya klaim kesempurnaan dan keunggulan Islam serta kritik-kritik ketiga sufi atas “agama-agama” historis.

Bagi Bahri, pandangan ketiga sufi ini mengenai agama-agama lain di abad ke-13 dan 14 merupakan pandangan yang humanis, unik, tidak lazim, dan mengagumkan, jika tidak disebut luar biasa, untuk ukuran ulama-ulama zaman itu yang terbiasa menunjukkan kelemaham dan kecacatan mazhab, paham dan keyakinan orang lain yang berbeda, baik dalam lingkup agama sendiri maupun terhadap agama lain yang berbeda.

Para ulama syariat di zaman itu berhenti pada level eksoterisme agama semata. Mereka tidak mampu menembus dan memahami apa yang inti, yang universal, yang esoterik dari agama-agama yang beragam dan berbeda. Hal itu berbeda dengan ketiga Sufi. Meski ketiganya, mengajukan kritik-kritik yang tajam pada level “agama historis”.

Tetapi pada banyak bagian-bagian lain dalam karya-karya mereka, tersaji suatu pandangan sufistik tentang “agama ideal”, agama pada level esoterik; bahwa Yang Hakiki terkandung dalam semua syariat (agama), dan keyakinan. Bagi Bahri, kaum beriman dalam agama apa pun patut belajar dari ketiga sufi untuk menjadi pluralis tanpa harus meninggalkan identitas dan otentisitas masing-masing pemeluk agama, namun  tetap  memiliki sikap kritis.

Secara umum pandangan-pandangan sufistik Ibn ‘Arabi lebih luas, kaya, dan rumit dibanding Rumi dan Al-Jili. Tetapi yang unik dari Rumi adalah perihal menggambarkan keragaman, perbedaan, sekaligus titik-temu dan kesatuan agama-agama. Sedangkan Al-Jili lebih banyak menjelajahi gagasan-gagasan sufistik Ibn ‘Arabi, meski terdapat pula modifikasi dan hal unik yang diuraikannya.

Bahri akhirnya memberi suatu kesimpulan bahwa ketiganya tidak memiliki suatu perbedaan  signifikan. Persamaan justru menjadi dominan dalam pemikiran ketiga sufi seperti teori Tajalli (Penampakan Tuhan), sebab-sebab perbedaan syariat, agama dan keyakinan, nama-nama dan sifat Tuhan, Tuhan Impersonal dan Personal, kesatuan esensi, dan kesatuan tujuan penghambaan.

Satu persamaan yang mencolok dan yang pantas diapresiasi oleh umat manusia adalah pandangan ketiganya tentang rahmat (Kasih Sayang) Tuhan yang amat luas, yang meliputi segala seuatu. Sebab rahmat inilah, segala- sesuatu yang beragam dan berbeda, dan karena limpahan rahmat pula, Tuhan “menghakimi” dan “menyelesaikan” semua pemeluk agama dan keyakinan yang beragam secara bahagia dalam keharuan dan kemurahan-Nya.

Tanggapan Kritis

Sebagai orang Katolik, di mana paham teologi (Inklusif) pasca Konsili Vatikan II cukup berpengaruh saat ini, saya mengapresiasi penelitian atau karya ini. Dari satu sisi, karya ini merupakan karya besar dalam konteks hubungan antar-agama namun tetap memiliki tantangan terutama dalam menghadapi teologi eksklusif. Harus diakui, saya tidak begitu mendalami karya besar ini.

Saya akan memberikan beberapa penekanan terutama analisis penulis tentang pemikiran ketiga sufi itu. Pertama, usaha untuk melihat kesatuan pada tingkat transendensi dapat berdampak pada pemahaman mengawang tertutama bagi kaum awam biasa.

Tanpa mengurangi pemikiran ketiga Sufi, melihat kenyataan dalam menghayatinya khusus dalam Islam misalnya cukup sulit di mana paham kafir menjadi pandangan yang masih mempengaruhi beberapa umat Muslim. Namun bagaimanapun, pemikiran ketiga sufi tentu melahirkan setidaknya beberapa ide inklusif yang dikembangkan oleh beberapa cendikiawan Muslim.

Kedua, praktik-praktik kemanusiaan yang diajarkan oleh setiap agama dapat menjadi indikator empiris mengenai tujuan “bersama” dalam setiap agama. Mengapa setiap agama mengajarkan kita untuk menolong orang menderita? Saya pikir ini juga menjadi nilai penting sebelum kita sampai pada ide tentang kesatuan Hakiki dari setiap agama itu.

Pertanyaan-pertanyaan apakah Yang Ilahi itu sebagai personal atau impersonal kiranya tidak begitu relevan/penting jika kita berusaha untuk melihat nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap agama. Bukankah jika memiliki banyak kesamaan dalam konteks nilai kemanusiaan berarti kita memiliki sebuah tujuan yang sama? Itulah  salah-satu insight penting setelah membaca karya ini yang mungkin “luput” dari karya ini.

Judul: Satu Tuhan Banyak Agama | Penerbit: Mizan | Tahun: 2011

 

Sumber : http://www.qureta.com/post/membaca-satu-tuhan-banyak-agama

About syauqi glasses

Check Also

TASAWUF – Mereka Yang Diberi Hidayah Khusus Oleh Allah

“Dan Allah – yang mulia dengan segala asma-Nya – dalam waktu ke waktu dan dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *