Home / Isu-isu Dunia Islam / Mencari Pluralisme yang Proporsional

Mencari Pluralisme yang Proporsional

Dalam The Oxford English Dictionary disebutkan, bahwa pluralisme ini dipahami sebagai semangat atau kesadaran kolektif dan personal akan realitas keragaman etnik atau kelompok-kelompok kultural dalam suatu masyarakat atau negara, Tapi definisi ini sama sekali tidak komprehensif karena mengarah kepada suatu bentuk tertentu dari pluralisme, yaitu pluralisme sosial.

Sejauh yang penulis temukan, ada tiga interpretasi tentang pluralisme agama sebagai berikut:

Pluralisme: “Kebenaran elementer bertebaran dalam aneka agama”

 

Besar kemungkinan, maksud para pendukung pluralisme agama adalah bahwa tak satupun agama atau mazhab memiliki kebenaran absolut, namun setiap agama dan mazhab memiliki sebagian kebenaran, sebagaimana tak satupun agama atau mazhab yang salah total, bahkan dalam penyembahan berhalapun kebenaran dapat ditemukan. Ia tak ubahnya partai-partai dalam pentas politik.

Tanpa mempertimbangkan bahwa klaim-klaim tentang agama-agama dari aspek epistemologi dan teologi yang membutuhkan argumen dan tidak dapat diargumentasikan adalah hanya mengandalkan satu analogi. Pluralisme agama dengan arti demikian menegasikan prinsip-prinsip dasar Islam. Inti semua agama-agama monoteis yang tercampur dengan mitos-mitos (sinkretis) adalah kebenaran yang satu, yaitu penyerahan dan pasrah total dihadapan Sang Ultim. Pada prinsipnya, sampul-sampul agama-agama yang merupakan ajaran-ajaran normatif yang bermacam-macam tersebut berbeda dalam beberapa hal. Dari sisi ini, Islam menganjurkan para penganutunya untuk mengimani kerasulan para nabi dan kitab-kitab samawi<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>. Ayat-ayat yang menekankan adanya kalimah sawa’ dalam al-Qur’an sangatlah banyak.

Konon, setiap agama monoteis adalah manifestasi wahyu Ilahi pada masa tertentu pada person tertentu yang memilik fase tertentu pula, yang pada fase lain tidak diterima dan tidak relevan.

Adalah jelas bahwa tidak relevan tidak berarti palsu dan tidak benar. Dengan alasan partikular inilah, revisi menjadi mungkin dilakukan dan dapat terjadi. Sebagian agama menghapus sebagian ritus sebelumnya. Kemudian ritus normatif (syariat) menggantinya dengan yang baru. Sampai suatu ketika gulita menutupi ummat manusia. Karenanya terbit cahaya Islam dengan ditunjuknya Muhammad sebagai Rasul. Pada masa sekarang, Islam telah merevisi agama-agama sebelumnya dan yang diridhai Allah hanyalah syariatNya.

Menurut para pendukung pengertuan pertama ini, apabila kepalsuan tidak bercampur dengan kebenaran, maka kreativitas menjadi sia-sia dan tidak berarti. Andaikan ajaran-ajaran yang menyimpang dan palsu tidak menyembunyikan wajah aslinya, mana mungkin ia dapat memberikan warna kebenaran dan mendapatkan pendukung.

Dengan demikian, ditolaknya agama-agama lain pada masa kenabian Muhammad bukan karena tidak memiliki kebenaran atau karena salah secara total, namun iman dalam setiap periode sejarah memiliki terminologi yang khas. Apabila seseorang menolak kenabian Muhammad, padahal ajaran Islam telah sampai dan bukti-buktinya telah diketengahkan dihadapannya secara sempurna, maka ia berhak menerima sanksi abadi, karena pada kenyataannya ia telah mengumumkan penentangan terhadap wahyu secara sengaja dan memilahnya, fanatisme dan egoisme<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–>

Pluralisme: “Semua agama adalah benar”

Semua agama adalah tampilan-tampilan yang berbeda dari satu kebenaran. Agama yang beragam adalah persepsi subjektif tentang Yang Absolut. Menurut Hick, manusia di berbagai penjuru menunjukkan kean kepada kebenaran. Perbedaan-perbedaan yang merupakan produk dan akibat dari faktor-faktor kemanusiaan dan historis inilah yang menyebabkan setiap agen memiliki ciri khas dan mandiri<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–>.

Bagi sebagian, mungkin pendapat dan interpretasi demikian telah mereduksi arti agama, karena agama adalah suatu objek permanen dan unik, sedangkan persepsi manusia tentang agama berubah dan dinamis. Dengan demikian perbedaan-perbedaan persepsi keagamaan dalam diri setiap manusia di hadapan kebenaran merupakan konsekuensi dari perbedaan agama.

Menurut Nurcholis, perbedaan yang ada hanyalah dalam bentuk responsi khusus tugas seorang Rasul kepada tuntutan zaman dan tempatnya. Maka perbedaan itu tidaklah prinsipil, sedangkan ajaran yang pokok atau syariat para Nabi dan Rasul adalah sama, sebagaima ditegaskan dalam sejumlah ayat Al-Qur‘an<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–>.

Pluralisme: “Hidup dalam kerukunan”

Boleh jadi yang dimaksud dengan pluralisme agama oleh pendukungnya adalah bahwa para pemeluk berbagai macam agama meski berbeda pandangan, kean, dan ritus, hidup rukun dan menghindari setiap tindakan ekstrim dan represif (anarkis) yang dapat merusak perdamaian, keamanan, dan sikap saling menghormati.

Dalam khazanah Islam, pluralisme sama dengan arti demikian selalu menjadi objek perhatian dan diterima. Hingga ketika para penguasa tiran dan bejat yang melindungi dirinya pun terpaksa mengakuinya.

Teks-teks utama Islam dan sejarah Nabi memberikan jaminan kehidupan yang penuh kedamaian kepada para penganut agama monoteis (ahl al-kitab) yang tidak berencana melakukan konspirasi dan pengkhiantan serta bersedia untuk hidup rukun dengan orang-orang muslim. Para penganut Islam Syiah, sebagai minoritas, dianjurkan berkorban dengan perasaan, dan hidup rukun dengan para penganut Mazhab Islam lainnya. Lihatlah kesabaran mayoritas Syiah di Irak yang tidak pernah membalas aksi teror bom, pembunuhan dan penyanderaan yang dilakukan oleh kelompok ekstrim yang ‘secara sepihak’ mengaku sebagai golongan Sunni. (Tentu, mereka sama sekali tidak merepresentasi Islam Sunni yang mayoritas hidup damai dengan warga Muslim Syiah selama berabad-abad, apalagi dipelopori oleh orang-orang non Irak).

Boleh jadi, pandangan tentang keragaman yang disebut peluralisme inilah yang dapat menciptakan toleransi. Inilah yang semestinya disebut pluralisme politik dan sosial. Pendek kata, atas dasar interprestasi ini, meskipun masing-masing mengklaim dirinya sebagai benar dan lainnya sebagai salah, dengan melakukan diskusi dan dialog konstruktif dan adil serta dan melakukan misionari yang diatur oleh uandan-undang, para penganut agama monoteis atau para pemeluk sekte dalam agama monoteis hidup rukun dan menghindari anarkisme<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–>.

Menurut Arkoun, untuk mewujudkan dan mendukung pluralisme tersebut, diperlukan toleransi. Meskipun hampir semua masyarakat yang berbudaya kini sudah mengakui adanya kemajemukan sosial, namun dalam kenyataannya, intoleransi ini masih sering muncul, termasuk di dunia Barat. Persoalan ini terutama berhubungan dengan ras atau agama. Kedua hal ini bahkan kadang-kadang menyatu, seperti dalam kasus Israel-Palestina, Serbia-Bosnia, dan sebagainya<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–>.

Indentifikasi “Area Sengketa”


Menurut penulis, para pemuka agama harus mampu mengidentifikasi area kontroversi dalam dialog antar agama. Hal ini penting agar dialog yang dilakukan tidak hanya bersifat ‘basa-basi” dan tidak produktif. Mengurut tema dialog secara metodis dengan menyepakati sejumlah prinsip yang menjadi titik temu, misalnya.

Ada beberapa titik temu yang, menurut penulis, bisa menjadi daya perekat masing-masing agama. Dengan menjadikan ini sebagai aturan yang disepakati dan terapkan bersama, maka kerukunan hidup akan tercipta. Titik temu-titik temu itu adalah sebagai berikut:

Pertama, adalah prinsip immaterialisme. Prinsip ini adalah sebuah keyakinan akan adanya sesuatu yang non material. Bila ini dispekati, maka titik temu kedua dapat ditemukan dan disepakati.

Kedua, adalah prinisp teisme, yaitu keyakinan akan adanya Sang Ultim dalam realitas eksistensi. Kesepakatan tentang titik temu kedua ini, akan membuka jalan bagi munculnya titik temu ketiga yang lebih sempit.

Ketiga, adalah prinsip monoteisme. Yaitu keyakinan akan keesaan Tuhan Pencipta. Keyakinan akan keesaan Tuhan ini, demi kepentingan dialog, harus bersifat umum dan tidak menyinggung sub-sub tema di dalamnya yang masih diperselisihkan, seperti sifat-sifat Tuhan dan lainnya. Dalam konteks keindonesiaan, sila pertama Pancasila mungkin dapat dianggap sebagai salah satu contoh prinsip yang digagas demi meraih cita-cita Bhineka Tunggal Ika.

Keempat, adalah prinsip relijiusitas. Prinsip ini merupakan hasil pengejawantahan akan keyakinan keesan Tuhan yaitu keyakinan akan adanya aturan Tuhan bagi manusia. Pada titik inilah masyarakat beragama dapat membangun bersama gagasan-gagasan universal, seperti penentangan terhadap aborsi dan agresi negara adi daya atas nama agama.

Kelima, adalah prinsip relijiusitas profektik, yaitu keyakinan akan adanya aturan Tuhan yang disampaikan orang-orang yang ditunjuk sebagai penerima wahyuNya. Tentu sekup kesamaan dalam tahap ini lebih sempit karena ia hanya menjadi titik temu para penganut agama “poros Yerussalem” yang biasa disebut ‘agama Ibrahim’. Ismail Faruqi dan Syed Hossein Nasr adalah pemikir Islam Sunni dan Syiah yang aktif mengikuti trialog agama-agama Ibrahimi, Yahudi, Kristen dan Islam.

Keenam, adalah prinsip Muhammadisme, yaitu keyakinan akan kenabian Muhammad sebagai utusan terakhir Tuhan. Di sinilah umat Islam dari berbagai mazhab dapat bersatu dan hidup berdampingan atas dasar sikap saling menghormati.

Islam Syiah dan Islam Sunni adalah realitas yang determinan. Keduanya adalah sebuah fenomena intelektual yang harus dicermati, dikritisi dan diapresiasi, dan tidak semestinya didikotomikan. Usaha-usaha apapun untuk menolaknya baik dengan provokasi, selebaran atau penistaan baik secara akademik (menggunakan dalil sepihak) maupun non akademik (retorika sarkastik) terhadap masing-masing ajaran dan para tokoh-tokohnya hanya akan menguntungkan pihak-pihak eksternal, terutama sentra-sentra hegemoni yang kapitalistik dan sekular.

Lebih dari itu, memaksakan “satu Islam” kepada semua penganut Islam yang terpencar dalam berbagai mazhab dan pandangan tentulah menyalahi watak toleransi Islam. Obsesi seseorang atau suatu kelompok terhadap yang “satu” hanya mungkin dilakukan lewat pemaksaan, seringkali lewat kekuasaan senjata, dan tindakan ini menyalahi konsepsi Islam yang dasar. Dengan kata lain, menginginkan ‘satu pemahaman tentang Islam’ adalah utopia dan anarkisme! Karena itulah, pluralism sebagai sikap social harus didukung.

Pustaka:

  • Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2001.
  • Jurnal filsfat berbahasa Parsi, Ma’rifat Vol 22 wawancara Prof M. T. Misbah Yazdi seputar Pluralisme Agama.
  • Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan, Perspektif Filsafat Perennial, Paramadina, 1995..
  • Hick and Nasr, The Religions and The Concept of Zat Gha’iy, Jurnal berbahasa Parsi Makrefat. Vol 23.
  • Ali R. Golpaigani, Roots and Signs of Secularism, The Center of Islamic Propagation, Qo, 1999, hal.35-40.
  • Harold Coward, Pluralisme agama, Kanisius, Jogjakarta, 1998, hal. 47
  • M. Hasan Karamilki, Secularisme in Islam and Christianity, The Center of Islamic Propagation, Qom 2000.
  • Abdollah Nasri, The Man’s Expectation of Religion, Study of Contemporary Theology, Danesh Publishing, Teheran, 2001.
  • Abuddin Nata., Metodologi Studi Islam, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001
  • Munadhar Soelaiman, Ilmu Sosial Dasar, Teori dan Konsep Ilmu Sosial, Pteresco, Bandung,1995.
  • Clifford Geertz, The Religion of Java (1960), Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, terj. Aswab Mahasin, Pustaka Jaya, Jakarta, 1983.
  • Amin Abdullah, Studi Agama Normativitas atau Historisitas? Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1996.
  • Nurcholis Madjid, Islam, Kemodernan dan keIndonesiaan, Mizan, Bandung, 1987.
  • Bactiar Effendy, Masyarakat Agama dan tantangan Globalisasi: mempertimbangkan Konsep Deprivatisasi Agama, dalam Jurnal Kebudayaan dan Peradaban, Ulummul Qur’an, Etika bisnis dalam Al-Qur’an, 3/VII/97, Grafikamatra Tatamedia. 1997.
  • Jurnal Naqd, tahun pertama, Vol. 4,

About adminislat1

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *