Home / Isu-isu Dunia Islam / Mendefinisikan Terorisme

Mendefinisikan Terorisme

Aku tahu bahwa kematian orang-orang tak berdosa pada peristiwa 9/11 akan dibayar seluruh manusia. Tapi aku tak tahu bahwa aku dan kamu harus membayarnya dengan harga yang paling ma­hal… Kenapa ini terjadi kepada kita… Kenapa??” (Rizvan Khan, “My Name is Khan”, 2010)
Membicarakan terorisme mengingatkan kita akan hancurnya gedung kem­bar WTC di New York pada tanggal 11 September 2001. Setelah itu berselang satu tahun kemudian, terjadilah tragedi bom Sari Club dan Peddy’s Club di Kuta Legian Bali pada tanggal 12 Oktober 2002.Belum lagi kasus ledakan Bom di JW Marriot pada tanggal 5 Agustus 2003 yang menewaskan belasan orang dan puluhan orang luka-luka. Bahkan disaji­kan pula berbagai penyergapan ala game ‘Counter Strike’ yang mana diliput secara langsung di bebe-rapa daerah di Indonesia demi penangkapan para teroris tersebut.

Nah dengan isu ini pula, Amerika Serikat dengan bang­ganya mempelopori perang melawan terorisme, istilah ke­rennya ‘war on terrorism’. Tak ayal dengan keadaan seperti itu, yang seakan-akan menjadi bukti nyata benar-benar di-serang teroris, nasionalisme dan dukungan rakyat Amerika pun berdatangan. Bahkan sampai-sampai stasiun televisi CNN saat itu memberitakan kalo barang yang paling laris terjual di Amerika pada waktu itu adalah bendera negara, lencana, T-shirt, topi dan barang suvenir lainnya yang ada lambang negara atribut nasional Amerika. Tapi sebaliknya gara-gara kebijakan Amerika tersebut, banyak negara- negara khususnya Dunia Islam menjadi korban akan perang melawan terorisme ini.

Atas nama perdamaian, demokrasi dan HAM, maka doktrin ‘homeland security’ yang dikembangkan Presiden Bush untuk memerangi terorisme seakan-akan memberikan kekuasaan untuk bertindak semena-mena tanpa batas. Ter­masuk mendirikan kamp konsentrasi tahanan khusus Guan­tanamo Bay, mengangkut diam-diam tersangka teror antar negara, culik sana culik sini, melakukan interogasi dengan kekerasan dan tanpa kemanusiaan terhadap para tersangka teror, memperketat kebijakan imigrasi, menyerbu dan melu­luh lantakkan Irak dan Afghanistan, membunuh rakyat sipil, suka asal menetapkan orang sebagai teroris dan sebagainya yang katanya untuk memerangi terorisme. Apakah tindakan itu dibenarkan? Terus kira-kira apakah sekarang teroris itu tambah banyak ataukah berkurang?Ini belum lagi masalah yang ditimbulkan oleh istilah tero-risme itu sendiri, yang masih nggak jelas dan menimbulkan banyak perdebatan. Kalo mau kita rujuk lagi, sudah dasar memahaminya semaunya sendiri, diiringi tindakan yang juga semaunya sendiri, sudah barang tentu ada banyak pi­hak yang merasakan ketidakadilan akan tuduhan teroris ini. Lalu kenapa muslim yang menjadi tertuduh? Beberapa fakta di bawah ini dapat menjadi perbandingan :

· Juni 1914, seorang pemuda di Sarajevo membunuh Archduke Ferdinand dalam kereta kudanya, dan se-bagaimana yang kita ketahui beberapa pekan kemudian Perang Dunia Pertama meletus.

· Tahun 1940-an, anggota perlawanan Perancis mem­bunuh para serdadu pendudukan Jerman.

· Dan pada bulan Juni 1944 di Oradour-surglane Perancis Tengah, tentara Jerman SS (Schutzstaffel) melancarkan operasi balas dendam sehingga menewaskan 642 pen­duduk sipil.

· Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom dilangit Jepang sehingga menimbulkan kematian pa- ling tidak sekitar 190.000 orang yang hampir seluruhnya warga sipil, orang tua, wanita, anak-anak dan beberapa hari kemudian Perang Dunia Kedua pun berakhir.

Manakah dari empat peristiwa di atas yang merupakan tin­dakan terorisme? Kalo memang ada gitu, mengapa disebut sebagai terorisme? Sejarah manakah yang mengesahkan perbuatan dan tindakan-tindakan tersebut? Dan sejarahnya siapa? Kemudian apakah perbedaan antara terorisme dan perjuangan membela hak hidup, hak berdaulat dan hak ber­negara?” Kalo kita mau melihat dengan jeli pastilah dari fakta-fakta historis tadi, akan memunculkan pertanyaan-perta-nyaan yang jawabannya kemudian membutuhkan keteli­tian. Bahkan bisa jadi pertanyaan-pertanyaan itu pastilah akan berkembang seiring kita melihat realitas yang terjadi saat ini. Dimana kita tahu ada orang yang disebut pembom bunuh diri, front-front pembebasan, kelompok kaum spa­ratis, gerilyawan pemberontak, kelompok pembajak, atau bahkan tentara-tentara dari sebuah negara yang melakukan tindakan kekerasan terhadap orang lain, lawan politik mau­pun lainnya yang mana ironisnya selalu atas nama hak asasi manusia, keadilan, perdamaian, demokrasi, kesejahteraan dan lain sebagainya.

kira-kira siapakah dari kelompok-kelompok tadi yang pantas diberi label ‘teroris’? siapa pula yang berhak memberikan cap ‘teroris’ kepada siapa? Sepertinya kita harus bangkit dan berusaha keras seperti usaha Rizvan Khan mengatakannya kepada setiap orang yang dia temui, “My name is Khan, and I am not a terrorist”.

Teroris sudah pasti orang yang melaku­kannya dan terorisme adalah tindakannya, yang mana kata tersebut berasal dari kata latin ‘terrere’ yang artinya kurang lebih membuat gemetar atau menggetarkan. Kata teror juga bisa jadi menimbulkan kengerian. Ya sudah pasti, kengerian di hati dan pikiran korbannya. Secara umum, pengertian terorisme dalam arti yang sangat luas ialah setiap tindakan yang menimbulkan suasana ketakutan dan keputusasaan. Dengan pengertian seperti itu, maka aksi pembunuhan, pengancaman, penindasan, pembungkaman lembaga pers, dan intimidasi penguasa terhadap rakyatnya dapat dika-tegorikan sebagai tindakan terorisme.

Akan tetapi, hingga kini tidak ada definisi terorisme yang bisa diterima secara universal. Karena pada dasarnya, isti­lah terorisme itu sendiri merupakan sebuah konsep yang memiliki konotasi yang sangat sensitif karena terorisme menyebabkan terjadinya pembunuhan dan penyengsaraan orang-orang yang tidak berdosa. Maka dari itu tidak ada negara yang ingin dituduh mendukung terorisme atau men­jadi tempat perlindungan bagi kelompok terorisme.

Bagi Barat menganggap kebanyakan teroris itu orang-orang Timur Tengah, Bagi Israel yang disebut teroris adalah kaum perlawanan Palestina, yakni dengan maksud mencapai suatu kepentingan tertentu ‘hidden agenda’. Apalagi di zaman seperti saat ini, banyak orang masih meya­kini akan adanya teori konspirasi.

Lihat saja terbongkarnya kasus WikiLeaks yang menghe­bohkan tata hubungan in­ternasional, ketiadaan senjata pemusnah massal di Irak dan sekarang Irak terjebak dalam ke­miskinan dan sarat konflik, kelompok Al-Qaida yang masih merajalela sampai sekarang dan mungkin saja dipelihara, standar ganda yang diterapkan pada status Nuklir Iran yang berbanding terbalik dengan sikap dunia terhadap israel yang juga memiliki nuklir.

Pengertian terorisme untuk pertama kalinya dibahas dalam European Convention on the Suppression of Terro-rism (ECST) di Eropa tahun 1977 terjadi perluasan paradig­ma arti dari ‘Crimes against State’ menjadi ‘Crimes against Humanity’. Crimes against Humanity meliputi tindak pidana untuk menciptakan suatu keadaan yang mengakibatkan in­dividu, golongan, dan masyarakat umum ada dalam suasana yang teror.

Dalam kaitan HAM, ‘crimes against humanity’ masuk kategori ‘gross violation of human rights’ yang dilakukan sebagai bagian serangan yang meluas atau sistematik yang diketahui bahwa serangan itu ditujukan secara langsung ter­hadap penduduk sipil, lebih-lebih diarahkan pada jiwa-jiwa orang tidak bersalah sebagaimana halnya terjadi di Bali. Se­ruan diperlukannya suatu perundang-undangan terorisme pun disambut pro-kontra mengingat polemik definisi me-ngenai terorisme masih bersifat multi-interpretatif, umum­nya lebih mengarah kepada polemik kepentingan negara atau ‘state interested’.

Nah buat tambah memahami makna terorisme lebih 115 – Isu Terorisme jauh dan mendalam, kiranya alangkah baiknya jika kita me­ninjau beberapa definisi terorisme yang dikemukakan baik dari beberapa lembaga, penulis pakar atau ahli. Soalnya yang jelas tuh, pengertian akan terorisme rupanya tidak se­sederhana yang kita anggap selama ini dimana setiap tinda­kan kekerasan dianggap sebagai aksi-aksi terorisme.

Itu semua karena dalam setiap tindakan dan aksi-aksi kekerasan antara faktor internal, akar masalah, motivasi de-ngan faktor eksternalnya saling tumpang tindih. Gampang­ya aja, kesulitan lain dalam upaya mendefinisikan teror dan terorisme adalah saling keterkaitannya dengan para pelaku tindakan itu sendiri. Kadang-kadang kita tahu negara terten­tu karena merasa superior, pejuang demokrasi, polisi dunia, koar-koar HAM melulu tapi ada dan wujudnya malah sudah cukup melahirkan teror bagi negara-negara tertentu, tanpa perlu melakukan intimidasi apalagi tindakan kekerasan. Terus apakah negara seperti ini pantas dicap sebagai negara teroris?

Beberapa lembaga, penulis pakar atau ahli mencoba mendefinisikan apa itu terorisme, seperti misalnya:

· US Central Inteligence Agency (CIA): Terorisme interna­sional adalah terorisme yang dilakukan dengan duku-ngan pemerintah atau organisasi asing dan diarahkan untuk melawan negara, lembaga atau pemerintahan asing.

· US Federal Bureau of Investigation (FBI): Terorisme adalah penggunaan kekerasan tidak sah atau kekerasan atas seseorang atau harta untuk mengintimidasi sebuah pemerintah, penduduk sipil, elemen-elemennya untuk mencapai tujuan sosial atau politik.

· US Departments of State and Defense: Terorisme adalah kekerasan bermotif politik dan dilakukan oleh agen ne-gara atau kelompok subnasional terhadap sasaran ke­lompok non kombatan. Biasanya dengan maksud untuk mempengaruhi audien. Terorisme internasional adalah terorisme yang melibatkan warga negara atau wilayah lebih dari satu negara.

· The Arab Convention on the Suppression of Terrorism: Terorisme adalah tindakan atau ancaman kekerasan, apapun motif dan tujuannya, yang terjadi untuk men­jalankan agenda tindak kejahatan individu atau kolek­tif, yang menyebabkan teror di tengah masyarakat, rasa takut dengan melukai mereka, atau mengancam ke­hidupan, kebebasan, atau keselamatan, atau bertujuan untuk menyebabkan kerusakan lingkungan atau harta publik maupun pribadi atau menguasai dan merampas­nya atau bertujuan untuk mengancam sumber daya na­sional.

· Convention of the Organization of Islamic Conference on Combating International Terrorism 1999: Terorisme adalah tindakan kekerasan atau ancaman tindakan ke­kerasan terlepas dari motif atau niat yang ada untuk menjalankan rencana tindak kejahatan individu atau kolektif dengan tujuan meneror orang lain atau me-ngancam untuk mencelakakan mereka atau mengan­cam kehidupan, kehormatan, kebebasan, keamanan dan hak mereka atau mengeksploitasi lingkungan atau fasilitas atau harta benda pribadi atau publik, atau me-nguasainya atau merampasnya, membahayakan sum­ber nasional, atau fasilitas internasional, atau mengan­cam stabilitas, integritas teritorial, kesatuan politis atau kedaulatan negara-negara yang merdeka.

· Konvensi PBB tahun 1937: Terorisme adalah segala ben­tuk tindak kejahatan yang ditujukan langsung kepada negara dengan maksud menciptakan bentuk teror ter­hadap orang-orang tertentu atau kelompok orang atau masyarakat luas.

· US Department of Defense tahun 1990: Terorisme adalah perbuatan melawan hukum atau tindakan yang mengandung ancaman dengan kekerasan atau paksaan terhadap individu atau hak milik untuk memaksa atau mengintimidasi pemerintah atau masyarakat dengan tu­juan politik, agama dan ideologi.

· UU No. 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme: Terorisme adalah tindakan yang de-ngan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan bermaksud untuk menimbulkan suasana te-ror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa atau harta benda orang lain, atau untuk menimbulkan keru­sakan atau kehancuran terhadap objek-objek vital yang strategis, atau lingkaran hidup, atau fasilitas publik, atau fasilitas internasional.

Meski ada begitu banyak pandangan dan pendapat serta definisinya yang luas, paling tidak semuanya dapat ditarik kesimpulan, bahwasannya terorisme mempunyai kesamaan yaitu penggunaan kekerasan. Terorisme adalah kekerasan terorganisasi, menempatkan kekerasan sebagai kesadaran, metode berpikir sekaligus alat pencapaian tujuan. Nah dari berbagai pengertian tersebut maka kegiatan terorisme itu tidak dapat dibenarkan.

About admin

Check Also

Ormas Radikal dan Demokrasi yang Tersandera

Demokrasi membuka ruang publik (public sphere) seluas-luasnya, termasuk kepada mereka yang menentangnya. Ini paradoks negeri Muslim …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *