Home / Isu-isu Dunia Islam / Demokrasi / Mengurai Hakikat dan Perbedaan Antara Konflik dan Kekerasan

Mengurai Hakikat dan Perbedaan Antara Konflik dan Kekerasan

Konflik itu jenisnya bermacam-macam, mulai dari konflik yang dilatari isu keagamaan, rasial, et­nis, mobilisasi politik, premanise, tawuran dan lain-lain. Paling tidak konflik itu mengakibatkan jatuhnya ribuan korban jiwa dan kerugian harta benda. Bah­kan dalam Dunia Islam kini kian marak konflik yang terjadi antar umat beragama, atau antar aliran dan paham keagamaan.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh Poerwandarminta (1976), konflik di­maknai sebagai pertentangan atau percekcokan yang dapat muncul baik dalam bentuk pertenta- ngan ide atau fisik, antar dua belah pihak yang ber­seberangan. Bahkan terkadang ditambahkan pula unsur persinggungan dan pergerakan sebagai aspek dari tindakan sosialnya. Karena itulah konflik dapat dimaknai sebagai pertentangan yang ditandai oleh adanya pergerakan dari beberapa pihak yang terli­bat sehingga terjadi persinggungan di antara mereka. Bahkan konflik juga bisa didefinisikan sebagai suatu re­lasi yang menggambarkan ketidaksejalanan sasaran yang dimiliki ataupun yang hanya dirasa dimiliki oleh dua pihak atau lebih.

Masih banyak sebenarnya definisi konflik lainnya yang dikemukakan sejumlah ahli. Namun, terlepas dari persa­maan dan perbedaannya, terminologi konflik memiliki mak­na yang luas. Konflik mengandung unsur pertentangan, keti­daksejalanan atau percekcokan. Ada juga unsur pergerakan yang membuat terjadi persinggungan antar pihak. Konflik bisa berupa pertentangan fisik kekerasan dan juga bisa non fisik.Dalam konteks intervensi konflik itu, nanti dikenal ada-nya sejumlah upaya intervensi dalam menangani konflik. Di antara yang sering muncul adalah:

Pertama, Peace making (menciptakan perdamaian) yang biasa muncul dalam bentuk intervensi militer.Kedua, Peace keeping (menjaga perdamaian) yang juga muncul dalam bentuk intervensi militer agar pihak yang su­dah tidak bertikai tidak lagi melakukan aksi kekerasan.Ketiga, Conflict management (pengelolaan konflik) yang mulai menciptakan berbagai usaha pemecahan masalah dengan melibatkan berbagai pihak untuk mencari pemeca-han masalah. Beberapa tindakan pengelolaan konflik ini bisa dalam bentuk negosiasi, mediasi, penyelesaian jalur hukum, arbitrase dan workshop pemecahan masalah.Keempat, Peace building (pembangunan perdamaian) yang merupakan proses peningkatan kesejahteraan, pem­bangunan infrastruktur dan rekonsiliasi seluruh pihak yang bertikai.

Beda konflik dan kekerasan

Namun perlu diketahui juga bahwa secara teoritik konflik didefinisikan sebagai pertentangan atau perselisihan anta­ra dua pihak atau lebih yang bisa terjadi dalam bentuk ke­kerasan dan juga tanpa kekerasan. Tapi tidak semua konflik itu bermuara pada kekerasan. Konflik bisa terjadi juga dalam bentuk damai seperti tidak terjadi konflik. Dalam kaitannya itu maka penting untuk dipahami seperti apa perbedaan an­tara konflik dan kekerasan.

Kekerasan sering didefinisikan sebagai bentuk tindakan yang melukai, membunuh, merusak dan menghancurkan lingkungan. Kekerasan tidak selalu hadir secara kasat mata dalam bentuk tindakan fisik, tetapi juga bisa terjadi se­cara halus namun sangat mematikan. Bisa juga kekerasan didefinisikan sebagai kegiatan yang mencakup tindakan, perkataan, sikap, berbagai struktur atau sistem yang menye­babkan kerusakan fisik, mental sosial atau lingkungan atau menghalangi seseorang meraih potensi penuh.

Maka dari itu konflik dan kekerasan adalah dua hal yang berbeda. Jika konflik dimaknai sebagai hubungan antara dua pihak atau lebih yang bisa individu atau kelompok, yang memiliki, merasa memiliki, sasaran-sasaran atau tu­juan yang tidak sejalan. Sementara kekerasan meliputi tin­dakan, perkataan, sikap, berbagai struktur atau sistem yang menyebabkan kerusakan secara fisik, mental, sosial atau lingkungan atau menghalangi seseorang untuk meraih po­sisinya secara penuh atau kekerasan sebagai perilaku yang melibatkan kekuatan fisik, bertujuan melukai, merusak atau membunuh sesuatu atau seseorang. Kekerasan merupakan konflik yang gagal dikelola dan dilembagakan dengan baik.

Konflik tidak selalu bersifat negatif, namun bisa juga me­miliki fungsi positif. Konflik yang negatif adalah konflik yang bermuara pada kekerasan. Kekerasan sendiri bisa dikatakan terjadi akibat konflik tidak dilembagakan, atau dengan kata lain, pelembagaan konflik yang tidak memadai akan mela­hirkan kekerasan sosial seperti aksi pengrusakan, penjara­han, pembakaran dan lain-lain.

Nah bisa dikatakan bahwa sifat negatif dan positif konflik ini tergantung apakah ia menimbulkan aksi kekerasan atau tidak. Kekerasan bisa dilihat sebagai manifestasi dari kon­flik yang tidak terlembaga (un-institutionalized conflict), se­mentara sebaliknya, yaitu konflik yang terlembaga dengan baik (institutionalized conflict), akan dapat diselesaikan melalui cara-cara yang damai. Setidaknya terdapat dua tipe kekerasan yang bersifat personal dan yang bersifat kolektif atau sosial. Kekerasan personal berakar pada konflik per­sonal, sementara kekerasan sosial umumnya berakar pada konflik sosial.

Selain itu, ada juga yang membagi kekerasan menjadi tiga dimensi:

Kekerasan struktural berupa ketidakadilan yang dicip­takan oleh sistem yang menyebabkan manusia tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar. Kekerasan struk­tural ini menyebabkan tertindasnya manusia dan ke­lompok sosial sehingga mengalami berbagai kesulitan hidup.

Kekerasan langsung berupa kekerasan terhadap orang lain yang menyebabkan korban luka atau meninggal, baik karena pemukulan atau serangan. Teror yang me­nyebabkan ketakutan dan trauma psikis juga bisa di­maknai bentuk kekerasan langsung.

Kekerasan budaya yang bisa dilihat sebagai motor dari dua bentuk kekerasan struktural dan langsung.

Oleh karena itu kita perlu memetakan jenis-jenis kon­flik itu sendiri, semisal konflik yang berbasis agama, konflik berbasis etnik, konflik politik, konflik antar aparat negara, konflik sumber daya alam, konflik sumber daya ekonomi, tawuran, penghakiman massa, pengeroyokan dan lain-lain. Karena setiap jenis konflik itu memiliki sumber dan penye­bab yang bermacam-macam, baik itu yang vertikal ataupun horizontal. Konflik yang terjadi selama ini semisal di Mesir, Sudan, Palestina, Afghanistan, Iraq, Suriah dan Libya memi­liki berbagai faktor yang saling terkait, baik itu antara faktor sejarah, politik, sosial, ekonomi ataupun budaya.

Bahkan untuk konflik horizontal seperti konflik berbau etnik dan agama. Dalam konflik antar etnik, masalahnya bukan hanya persoalan sentimen antar mereka, tetapi ma­salah sering lebih banyak terkait dengan kebijakan. Senti­men antar etnik mudah ditiupkan oleh orang-orang yang hendak mengambil keuntungan. Begitu juga berkaitan de-ngan konflik yang berbasis keagamaan yang bukan hanya soal perbedaan tafsir semata.

Penting bagi kita untuk mengurai anatomi kon­flik di Dunia Islam dan mengkaji secara komprehensif. Hal itu untuk memberikan gambaran kerumitan sekaligus me-ngenali perbedaan dan persamaannya, jenis konflik, sum­ber dan akarnya masing-masing, serta bagaimana historikal penanganannya. Sebab, setiap konflik itu membutuhkan pola penanganan yang berbeda.

About admin

Check Also

Ormas Radikal dan Demokrasi yang Tersandera

Demokrasi membuka ruang publik (public sphere) seluas-luasnya, termasuk kepada mereka yang menentangnya. Ini paradoks negeri Muslim …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *