Home / Featured / Menjadi Ateis (Mungkin) Semakin Logis

Menjadi Ateis (Mungkin) Semakin Logis

Ateisme dalam kamus bahasa Indonesia secara definitif bermakna sebagai paham yang tidak mengakui adanya Tuhan. Orang atau kelompok yang setuju dengan paham ini disebut sebagai ateis.

Gejala ateisme dalam pandangan subjektif penulis memiliki potensi yang cukup untuk menjadi semacam kiblat baru bagi kelompok rasionalis, terutama di Indonesia, bila melihat wajah agama yang dihadirkan oleh para pengikutnya hari ini.

Generasi Indonesia hari ini adalah mereka yang umumnya telah begitu akrab dengan dunia teknologi.

Pengaruh teknologi yang sayangnya tidak berjalan seimbang dengan Spiritual Quotion yang ditandai dengan hilangnya norma-norma sosial masyarakat seperti bertegur-sapa di tempat umum dengan orang di sekitarnya yang disebabkan keberadaan gadget yang telah menggantikan kawan bicara.

Selanjutnya adalah semakin kurang berharganya nilai-nilai kesucian dalam agama seperti keperawanan baik perempuan maupun laki-laki.

Lalu gaya hidup hedonistik yang sangat melekat serta peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai dasar keagamaan yang semakin lemah, akhirnya membawa generasi baru yang tumbuh dengan dunia logika yang kering dan miskin spiritualitas.

Faktor lain yang sangat potensial membawa posisi ateisme menjadi menarik bagi kelompok rasionalis adalah fenomena-fenomena tokoh agama yang janggal dan tidak bisa diterima nalar.

Salah satu contohnya seperti seorang cendikiawan Muslim yang mempercayai bahkan melindungi tokoh yang bisa menggandakan uang. Lalu ada  seorang tokoh yang penuh dengan rasa curiga berlebihan hingga mengira adanya kebangkitan komunisme yang hanya diukur salah satunya pada rectoverso uang.

Kemudian hal lainnya adalah  juga kekerasan yang menjadi sesuatu yang lumrah yang dilakukan baik secara fisik maupun verbal di media sosial dan dunia nyata oleh mereka yang mengaku beragama.

Faktor-faktor tersebut yang kemudian menjadi semacam tesis kuat bagi para rasionalis untuk melihat suatu agama berdasarkan tingkah laku para pengikutnya yang memang sebetulnya tidak menjadi representasi yang utuh dari agama itu sendiri.

Bagaiamana kita tidak habis pikir misalnya menyaksikan kelompok dengan pakaian relijius namun membuang sampah sembarangan di tempat umum dan bersikap biasa saja tanpa ada rasa salah dan malu sedikit pun.

Atau misalnya pejabat yang getol memberikan dakwah nilai agama yang dia anut dilengkapi atribut keagamaan yang semakin meyakinkan, namun faktanya tertangkap tangan sebagai koruptor yang bahkan juga telah menghambakan diri pada dunia syahwat yang tidak sanggup dibendung oleh nilai-nilai agama yang dia telah khatam memahaminya secara mendalam.

Hal-hal semacam ini yang semakin hari semakin biasa terjadi. Seakan semua dosa bisa dimaafkan dengan istilah khilaf dan bisa diampuni karena Tuhan adalah Maha Penyayang.

Penyelewengan dan penjualan nama Tuhan untuk melegitimasi segala keburukan yang dilakukan para penganut agama ini semakin tidak menarik untuk disaksikan.

Lebih jauh, agama pun semakin menjadi tidak menarik diikuti karena selalu menjadi alasan manusia saling berkonflik satu sama lain.

Generasi masyarakat yang mungkin membaca banyak informasi semisal tentang indeks negara yang paling bahagia dan makmur di dunia adalah negara yang terdiri dari dominasi ateis warganya.

Juga negara super power yang hari ini telah banyak berkontribusi untuk peradaban dunia adalah negara yang mengganggap agama adalah salah satu hal yang tidak lagi penting untuk dibahas.

Negara-negara yang tidak menghabiskan energi mereka dalam konflik agama itu adalah kebanyakan negara maju yang produk dan karya mereka hampir digunakan oleh seluruh umat yang bergama di dunia ini untuk kemaslahatan bersama.

Hal ini semakin memperjelas sudut pandang bahwa tanpa agama pun, manusia masih bisa beradab bahkan lebih beradab dari mereka yang beragama.

Gejala dan arus ateisme akhirnya tidak dapat lagi dibendung terutama dari mereka yang sudah sangat muak dengan tingkah laku para penganut agama yang gagal sama sekali untuk membawa pesan utama agama itu sendiri — perdamaian.

Dari semua kemuakkan perilaku para penganut agama ini akhirnya menyisakan dua sudut pandang utama dari penulis – agamamu yang salah diterjemahkan atau dirimu yang salah karena telah beragama.

 

Sumber : http://www.qureta.com/post/menjadi-ateis-mungkin-semakin-logis

About syauqi glasses

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *