Home / Isu-isu Dunia Islam / Demokrasi / Menjaga Toleransi di Penghujung Tahun

Menjaga Toleransi di Penghujung Tahun

Setidaknya, di Indonesia, kita masih bisa berbahagia menjelang Natal dan tahun baru tiba. Meski perayaan setiap akhir tahun ini identik dengan peristiwa keagamaan mmat Kristen, namun kita sudah terbiasa melihat suasananya secara bebas di tempat-tempat umum. Di mal, di stasiun, di ruang terbuka, kita bisa melihat pernak-pernik yang menandakan suasana Natal. Belum lagi di televisi, akan banyak simbol-simbol Natal dan ucapan selamat Natal yang diucapkan oleh publik figur.
Mengapa kita harus berbahagia karena kita adalah warga negara Indonesia yang hidup dengan muslim sebagai mayoritas. Sekaligus kita juga tahu bahwa sejak peristiwa bom Natal di beberapa wilayah pada tahun 2000, kita hidup dengan pengetahuan bahwa perayaan umat Kristen bisa terancam oleh teror bom. Dan semua itu tak menghentikan suasana Natal yang bisa kita lihat setiap tahun di area publik dan media massa. Di negara lain yang juga dihuni oleh muslim sebagai mayoritas, kebebasan merayakan suasana Natal seperti yang kita alami di Indonesia belum tentu bisa terjadi.
Di Arab Saudi, Somalia, juga di negara tetangga Brunei Darussalam, perayaan Natal dilarang oleh negara. Di Turki, meski tidak dianggap ilegal, selalu saja ada kelompok orang yang menentang pemasangan pohon Natal dan pakaian Sinterklas karena dianggap sebagai promosi kebudayaan Barat. Di Dakkar, ibu kota Senegal, kebahagiaan dalam menyambut Natal boleh dibilang lebih semarak dari Indonesia. Di ibukota negeri dengan jumlah muslimnya sekitar 92 persen – 95 persen dari sekitar total 13,5 juta jiwa ini, pernak-pernik Natal seperti pohon Natal, manusia salju, orang-orang berpakaian Sinterklas, bisa dijumpai dengan mudah. Uniknya, masyarakat setempat tidak mau menganggap bahwa penyambutan Natal yang begitu terbuka di tengah mayoritas muslim ini sebagai “toleransi”. Mereka lebih senang menyebutnya dengan “solidaritas”. Mereka menganggap dalam toleransi terkandung situasi seakan-akan mayoritas memiliki superioritas dan memaklumi keberadaan kelompok minoritas.
Di Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, kebiasaan merasakan suasana Natal di tempat-tempat umum, diwarnai dengan silang-pendapat tentang larangan mengucapkan “Selamat Natal” kepada umat Kristen. Seorang penulis berkebangsaan Turki yang menulis buku berjudul “The Islamic Jesus: How The King of the Jews Became a Prophet of the Muslims”, Mustafa Akyol, menunjukkan bahwa perbedaan interpretasi tentang kelahiran Yesus dalam Kristen dan Islam membuat persahabatan dua agama ini dalam perayaan Natal menjadi tindakan yang berani.
Salah satu perbedaan yang mencolok adalah bahwa di dalam Perjanjian Baru, ibunda Yesus, Maryam, melahirkan sang anak di kotak jerami atau di sebuah penginapan ditemani suaminya, Joseph. Sementara dalam Al Quran, Maryam disebutkan melahirkan Isa – sebutan Islam untuk Yesus – sendirian di bawah pohon palem di tempat terpencil. Ketimbang mempertajam perbedaannya, Mustafa justru mengajak muslim untuk melihat bahwa Yesus atau Isa, diakui dalam Islam ataupun Kristen. “Orang-orang di Arab Saudi dan di Brunei yang melaran Natal menjalankan hal yang salah,” ujar Mustafa. KH Quraish Shihab memiliki jawaban yang mungkin lebih bisa diterima oleh muslim karena ulama ini tetap memegang perbedaannya.
Dalam sebuah khotbahnya di salah satu stasiun televisi swasta pada 2014, Quraish mempersilahkan umat Islam mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristen sebagai bagian dari basa-basi yang dilandasi dengan akidah Islam. “Jadi, kalau Anda mengucapkan ‘Selamat Natal’, tapi keyakinan Anda bahwa Nabi Isa bukan Tuhan atau bukan anak Tuhan, maka tidak ada salahnya. Ucapkanlah selamat Natal dengan keyakinan seperti ini dan berarti Anda mengucapkannya sebagai muslim,” ujar Quraish. Bagaimanapun, kitab suci sudah begitu adanya: bahwa ada perbedaan antara kisah tentang Natal, Yesus, dan Isa, dalam masing-masing kitab suci. Namun, yang tidak bisa dielakkan adalah bahwa hari raya adalah hari bergembira. Dan, mengucapkan Selamat Natal dengan nada gembira adalah sisi lembut dari solidaritas keberagaman agama.

Sumber : http://www.kompasiana.com/meryindri90/menjaga-toleransi-di-penghujung-tahun_5865e2a1119373540699cea3

About syauqi glasses

Check Also

TASAWUF – Mereka Yang Diberi Hidayah Khusus Oleh Allah

“Dan Allah – yang mulia dengan segala asma-Nya – dalam waktu ke waktu dan dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress database error You have an error in your SQL syntax; check the manual that corresponds to your MySQL server version for the right syntax to use near '%b, %b)' at line 1 for query INSERT INTO `wp_tsw_log` (`IP`, `Time`, `IS_BOT`, `IS_HIT`) VALUES ('54.82.79.109', 1513136288, %b, %b) made by require('wp-blog-header.php'), require_once('wp-includes/template-loader.php'), include('/themes/sahifa/single.php'), get_sidebar, locate_template, load_template, require_once('/themes/sahifa/sidebar.php'), dynamic_sidebar, call_user_func_array, widget_traffic_stats, view