Home / Featured / Merengkuh Esensi Agama Menghindari Kesalehan Artifisial

Merengkuh Esensi Agama Menghindari Kesalehan Artifisial

“Allah menurunkan kepadamu kitab dan hikmah dan mengajarkanmu sesuatu yang kamu belum ketahui” (QS. An – Nisa : 113)

 

Ketika isu terorisme merebak, sebagian analis langsung mengaitkan terorisme dengan islam. Kalau pun tidak ada perintah secara eksplisit, minimal islam dipandang sebagai inspirator teror. Kesan dan kesimpulan tersebut tidak salah, baik diakui atau tidak terdapat sejumlah pelaku teror di indonesia yang menganut agama islam dan menggunakan simbol islam dalam aktifitasnya.

 

Dan selanjutnya publik mulai bertanya, apakah islam mengajarkan teror? Secara eksplisit islam tidak pernah mengajarkan terorisme. Bahkan islam mengajak umat manusia kepada kedamaian. Jika demikian, lalu mengapa para pelaku teror melegitimasi aksi teror dengan memakai argumentasi agama?

 

Salah satu yang disoroti dalam konteks ini adalah lembaga lembaga pendidikan yang dianggap memiliki peran dalam mengajarkan islam ekstrim. Faham dan praktik agama yang mendorong munculnya konflik intra dan antar umat beragama, bukannya malah mendorong perdamaian. Singkatnya, publik secara serius bertanya kemana tujuan pendidikan agama, termasuk kurikulum, buku referensi, metode dan para pengajarnya.

 

Intinya, pendidikan dan pengajaran agama yang salah atau disalahgunakan sangat potensial melahirkan terorisme. Pendidikan karakter yang efektif sesungguhnya semasa seseorang berada pada usia belasan tahun, sehingga usia itu disebut sebagai formative years. Ibarat tanah, pada usia itu seseorang masih gembur sehingga subur untuk ditanam benih apa saja. Ketika seseorang masuk ke perguruan tinggi akan sangat dipengaruhi oleh kualitas alumni pendidikan semasa SMA. Sebagai konsekuensi pihak perguruan tinggi mesti menciptakan kultur universitas kondusif untuk mendukung program pembangunan karakter bagi mahasiswa, salah satunya melalui pendidikan dan pengajaran agama.

 

Dosen agama di perguruan tinggi mesti di rancang dan disiapkan secara serius mengibgat beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengajar agama di tingkat sekolah menengah di anggap kurang berhasil. Para siswa merasa kurang tertarik terhadap pelajaran agama. Materi dan metodenya dianggap membosankan, lebih banyak hafalan sehingga suasana kelas tidak dinamis dan kreatif. Kondisi ini semestinya menjadi peringatan bagi fakultas yang melahirkan para pengajar agama.

 

Oleh karena itu doktrin dan aktivitas agama sangat kaya dengan sistem simbol sampai sampai secara ekstrim dikatakan bahwa pada dasarnya agama adalah sistem simbol. Simbol pada agama tidak memiliki makna konstitutif, tetapi mempunyai makna inspiratif regulatif sebagai medium pengantar pemeluk agama agar sampai pada inti religiusitas. Karena itu simbol mesti diperlakukan sebagai jembatan atau perantara bukan tujuan. Religiusitas tidak ditujukan oleh simbol, sebab religiusitas yang berorientasi pada simbol memproduksi cara beragama formalistik, legalistik dan artifisial.

 

Oleh : Prof. Dr. Komaruddin Hidayat

About adminislat1

Check Also

TASAWUF – Mereka Yang Diberi Hidayah Khusus Oleh Allah

“Dan Allah – yang mulia dengan segala asma-Nya – dalam waktu ke waktu dan dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress database error You have an error in your SQL syntax; check the manual that corresponds to your MySQL server version for the right syntax to use near '%b, %b)' at line 1 for query INSERT INTO `wp_tsw_log` (`IP`, `Time`, `IS_BOT`, `IS_HIT`) VALUES ('54.224.102.26', 1510985030, %b, %b) made by require('wp-blog-header.php'), require_once('wp-includes/template-loader.php'), include('/themes/sahifa/single.php'), get_sidebar, locate_template, load_template, require_once('/themes/sahifa/sidebar.php'), dynamic_sidebar, call_user_func_array, widget_traffic_stats, view