Home / Featured / Mewaraskan Diri dengan Membaca

Mewaraskan Diri dengan Membaca

Saya yakin, kalian pernah sebel banget ketika baca jenis “komentar bego banget” dari seseorang di sosial media. Jenis komentar yang bikin kalian mikir, “ini orang nggak pernah baca buku X kali ya,” atau “Duh, ini orang masa hal simpel begini aja nggak bisa narik kesimpulan dengan logic sih.”

Ini fenomena yang sekarang ini, kian hari kian banyak saja. Bisa jadi, dan memang sangat mungkin terjadi, penyebab kelemahan logic berfikir ini adalah karena kurangnya membaca.

Ketika Najwa Shihab mengisi sebuah sesi di panggung Mocosik Festival, ia menyampaikan kalimat-kalimat yang lumayan menggelitik buat saya. Najwa, sebagai duta baca Perpustakaan Nasional kala itu mendapat pertanyaan dari Tompi, “Selama ini membaca katanya bikin bla-bla-bla, tapi sebetulnya, mengapa sih kita harus membaca?”

“Membaca itu bikin kita bahagia.” Jawab Najwa.

Ada banyak alasan dari jawaban itu. Alasan ilmiahnya karena ketika membaca, sel-sel syaraf di otak kita jadi aktif. Saya jadi teringat, di sebuah pelatihan jurnalistik yang pernah saya ikuti, salah satu pesertanya adalah kakek tua berusia 85 tahun. Hingga usia itu, si kakek masih tetap aktif membaca koran tiap hari, bahkan di sesi diskusi, ia sempat-sempatnya mengingatkan peserta lain perihal beberapa tanggal momentum penting dalam sejarah perpolitikan Indonesia. Ketika ditanya apa alasa ia ikut pelatihan, ia menjawab tegas,”untuk mencegah pikun!”

Selain yang ilmiah, Najwa menambahkan bahwa kegiatan membaca bukanlah sekadar mengeja kalimat-kalimat dalam buku. Lebih dari itu, membaca adalah memahami makna literal maupun kontekstual dari kalimat-kalimat yang dibaca. Membaca adalah menghubungkan satu paragraf ke paragraf lain (atau dalam level yang lebih tinggi: satu buku ke buku lain), untuk kemudian bisa ditarik kesimpulan dari apa yang sudah dibaca, sembari membandingkannya.

Bacaan makin banyak, minat membaca semakin sedikit, maka jangan heran jika membaca semakin menjadi hal yang tidak sederhana. Terlebih di zaman keberlimpahan informasi seperti sekarang ini, yang kecepatan perputaran arus infomrasi tidak diimbangi dengan minat membaca yang serius. Orang-orang jadi nampak “banyak yang bego”. Sebabnya, membaca juga merupakan keterampilan, yang sama seperti keterampilan sederhana lain seperti mengayuh sepeda, misalnya, yang mesti dilatih terus-menerus agar semakin cakap.

Saya lalu teringat pada Gus Dur. Gustiiiiii, rasanya kagum saja tidak cukup buat memandang seorang Gusdur. Esai-esai Gusdur sudah banyak dibukukan. Satu judul, “Melawan Melalui Lelucon” yang diterbitkan TEMPO misalnya, memuat ratusan esai Gus Dur yang terbit di Majalah Tempo mulai era 70-an hingga 90-an. Dari sekian banyak nama lain seperti Kuntowijoyo dan Mahbub Djunaidi, esai Gus Dur memang nampak lebih gila dalam hal isi. Gus Dur bisa bicara apa saja mulai dari politik, ekonomi, sosial budaya, arsitektur, kebijakan publik, sains, hingga sepakbola. Dalam semua topik itu, karakter esai Gus Dur adalah karakter yang tidak nggedabhus, tidak sekadar berindah-indah dalam kalimat, tapi sangat kaya pengetahuan dan manifestasi pengalaman perjalanan.

Dari sebuah sumber, seorang teman karib Gus Dur (sayang banget saya lupa namanya karena kurang cakap membaca) bercerita, jaman Gus Dur kuliah di Kairo dulu, hampir atau ia berani bilang, seluruh buku di perpustakaan universitasnya sudah dibaca oleh Gus Dur. Buktinya, tanda tangan Gus Dur ada di halaman paling belakang semua buku-buku itu. Fakta itu adalah jawaban hidup Gus Dur sebagai seorang kolumnis, seniman, dan penerjemah buku babon Syed Hossein Nasr juga seorang pemimpin dan guru bangsa yang saking kontroversial kebijakannya hingga tidak dipahami banyak orang. Ya gimana mau paham, Ketika buku paling lawas yang pernah kita baca mentok di bukunya Kahlil Gibran (itupun bangganya sudah setengah modiar), Gus Dur bahkan sudah buku-buku babon sastra Yahudi dan puisi penyair Arab yang hidupnya 500 tahun sebelum Rasulullah SAW.

Minat baca yang besar dan jumlah bacaan yang memuaskan lambat laun akan mendorong seseorang untuk terbiasa berdiskusi. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk mencari pemahaman-pemahaman baru yang tak hanya bersumber dari satu pintu. Sebab bagaimanapun, pemikir yang hebat selalu berawal dari pembaca yang lahap.

KH Yahya Cholil Staquf, mantan juru bicara Presiden Gus Dur sekaligus pengarang buku Terong Gosong pada suatu ketika pernah mengatakan, bahwa cara beragama yang baik bukanlah sekadar membaca teks dari kitab, tetapi lebih dari itu, harus disertai pula dengan punya guru. Apa bedanya? Beragama dari kitab akan membawa kita pada kebingungan pada sebuah persoalan karena kita ini nggak pinter-pinter banget. Tetapi, jika kita punya guru, kita nggak perlu bingung dan cukup bilang,”Oh Kiai As’ad Syamsul Arifin dulu mengambil sikap begini. Oh, dalam peristiwa ini, Kiai Bisri Syansuri dulu mengambil sikap begini. Oh, Kiai Maimoen Zubair pernah memberI nasihat seperti ini.” Sesederhana itu, dan kita cukup nurut saja. Tahu diri, tidak ngeyelan, sambil terus membaca dan belajar.

Dalam kehidupan non-pesantren, gambaran itu terwujud dalam forum-forum diskusi, sehingga interpretasi terhadap sebuah bacaan bertemu dengan interpretasi orang lain, hingga akhirnya muncullah kesimpulan-kesimpulan pemahaman baru yang lebih segar.

Cerita dari KH Yahya Cholil Staquf itu saya pikir ingin menunjukkan bahwa ragam bacaan mestilah diperkaya, ragam orang yang kita temui mesti kita perbanyak, dan berguru, juga tidak dari seorang saja. Insya Allah, kita akan bahagia dan nggak edan di era sosial media.

Dan yang paling penting, tidak ada lagi alasan bahwa sumber bacaan kita terbatas. Wong di luar Jawa saja susah banyak program mulai dari perahu pustaka dan duta-duta literasi lain. Utamanya, buat pembaca Mojok yang akses internetnya saja lancar begini, mbok sana, pesen buku di Mojok Store. Banyak diskon, adminnya ngganteng, mbribikan pula.

 

Sumber : http://www.mojok.co/2017/02/mewaraskan-diri-dengan-membaca/

About syauqi glasses

Check Also

TASAWUF – Mereka Yang Diberi Hidayah Khusus Oleh Allah

“Dan Allah – yang mulia dengan segala asma-Nya – dalam waktu ke waktu dan dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *