Home / Universalia / Kajian Kontemporer / Modernisme dalam Perbandinganya dengan Tradisi dan Agama

Modernisme dalam Perbandinganya dengan Tradisi dan Agama

Permasalahan pengaruh pengurangan (reduksi) terhadap agama dan tradisi merupakan objek yang dikaji dalam karya-karya dan tulisan-tulisan ilmu sosiologi secara urut juga detail. Sekulerisme, tanpa diragukan lagi merupakan objek yang rumit, dan tanpa pengamatan yang lebih mendalam lagi akan berakhir pada penghapusan secara utuh terhadap pemikiran dan aktivitas-aktivitas agamis; karena agama hingga kini memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi yang terlontarkan semenjak dahulu. Dengan semua itu, sebagian besar kondisi- kondisi kehidupan masyarakat modern tidak sejalan dan serasi dengan agama yang sebagai kekuatan yang berkuasa atas kehidupan setiap hari. Kosmologi agamis telah memenuhi ruangnya dengan penyaksian empiris dan pemikiran logis. Agama dan tradisi sama-sama memiliki hubungan yang erat. Dan kebebasan berfikir yang merupakan ciri khas kehidupan masyarakat modern berbeda secara langsung dengan tradisi, lebih banyak melemahkan –menyerang— tradisi ketimbang agama.

Tradisi berbeda dari agama, di mana ia tidak merujuk kepada serangkaian khusus dari keyakinan-keyakinan dan akibat-akibat (hasil), akan tetapi ia merujuk pada panduan dari lembaga keyakinan dan hasil-hasil tersebut, khususnya yang berhubungan dengan waktu (masa). Tradisi memiliki cira khas sebagai satu tunggangan yang tangguh, namun satu tunggangan tangguh yang secara esensial bermakna dan tidak bisa disarikan dalam adat murni. Berbeda dengan budaya modern, dalam budaya tradisional zaman dan tempat bukannya tanpa muatan, bahkan lahan bagi esensi aktivitas-aktivitas kehidupan. Makna dari aktivitas-aktivitas tunggangan terkandung (tersembunyi) dalam penghormatan ataupun penghargaan seluruh manusia terhadap tradisi dan hubungannya dengan tata-cara ibadah. Kebanyakan, tata-cara ibadah memiliki sisi tekanan dan paksaan, namun di samping itu memberikan ketenangan secara mendalam, karena memberikan kecondongan terhadap sekumpulan hasil-hasil tertentu dari aturan.

Kosmologi agamis juga memberikan penafsiran-penafsiran etis dan praktis terhadap kehidupan sosial dan praktis serta dunia materi, di mana menunjukkan kepada orang-orang mukmin sebuah lingkungan yang aman. Yang terpenting dari peranan keyakinan-keyakinan agamis adalah, di mana kebiasaannya memasukkan kepercayaan kepada pengalaman dari fakta-fakta dan kondisi-kondisi, juga menyiapkan bingkai yang mampu menjelaskan fakta-fakta dan kondisi-kondisi tersebut yang terdapat di dalamnya, serta menunjukkan perubahan di hadapan fakta-fakta dan kondisi-kondisi tersebut.

Penjelasan potensi-potensi (lahan) beragam dari kepercayaan dalam kebudayaan-kebudayaan pra-modern bukan dengan makna bahwa lingkungan tradisional memberikan ketengan dan dari sisi psikologis mudah untuk dibentuk, akan tetapi lingkungan modern tidak memiliki ciri tersebut. Dari beberapa sisi tertentu, neraca (tolok-ukur) keamanan (keselamatan) manusia yang khusus bagi dunia modern lebih tinggi ketimbang dari kebanyakan kondisi kehidupan pra-modern. Lingkungan yang berbahaya dari budaya tradisional pada waktu itu di bawah cengkraman fenomen-fenomena alam yang material. Angka kematian, kematian bayi serta kematian wanita ketika melahirkan berdasarkan neraca dunia modern cukup tinggi. Dan banyak dari orang-orang yang terserang penyakit bawaan, juga mereka terjangkit berbagai macam penyakit infeksi. Seluruh bentuk sistem masyarakat pra-modern kebanyakan dengan cara yang keras, di bawah pengaruh perubahan udara dan air. Dan mereka sangat sedikit memliki penjagaan (antisipasi) terhadap bencana-bencana alam seperti, banjir, topan, hujan lebat dan kekeringan.

Kondisi-kondisi di zaman modern, kebanyakan bahaya yang kita hadapi tidak muncul dari alam, tentunya angin puting beliung, gempa bumi dan bencana alam lainnya hingga kini juga terjadi, akan tetapi dalam banyak hal hubungan kita dengan alam materi secara mendasar berbeda dengan hubungan yang terjadi pada masa-masa sebelumnya, khususnya pada bagian yang telah diciptakan dari bumi. Ancaman-ancaman pada masa modern mayoritas hasil dari pengetahuan dan industri modern, salah satunya yang paling nyata adalah ancaman kekerasan militer. Hari ini, kita sibuk oleh satu pengaturan sistem militer dunia, di mana hasilnya adalah industrisasi peperangan, tolok ukur kekuatan dengan menghancurkan peralatan perang yang tersebar di seluruh dunia merupakan hal yang paling menakutkan dari sebelumnya. Kita melontarkan usulan pelarangan penggunaan atom (nuklir) yang berbahaya, di mana tidak satu pun dari generasi sebelum kita berhadapan dengan bahaya-bahaya tersebut.[1]

Deviasi Nilai akibat Modernisme

Sampai di sini, kita telah mengetahui sebab-sebab, ciri-ciri dan hasil-hasil dari modernisme serta hubungannya dengan agama dan tradisi dari lisan salah seorang sosiolog Barat. Maka, telah menjadi jelas bahwa sebab kemunculan modernisme adalah negara-negara Eropa, dan sejarahnya kembali pada setelah abad 17 dan sekarang ini –kurang lebih— telah mendunia. Memperhatikan masa depan, tidak memiliki kepedulian, pemisahan-pemisahan waktu dan tempat, kebebasan berfikir dalam segala perkara, pelembagaan skeptis dan doksa (ihtimal) yang sebagai ganti dari keyakinan dan kepastian, berpaling dari tradisi dan pengurangan pengaruh agama dalam kehidupan bernalar serta sosial manusia merupakan ciri-ciri khusus dari modernisme. Di samping itu, dampak-dampak postif modernisme adalah menghadiahkan kepada manusia persiapan dan pencegahan terhadap fenomena-fenomena bencana alam, juga membebankan kepada manusia kehancuran dan ancaman-ancaman yang sangat menakutkan , di antaranya bahaya perang atom (nuklir) dan ancaman-ancaman yang muncul dari kemajuan teknologi dalam mempersiapkan militer. Padahal, tradisi dan agama berperan memberikan rasa aman dan kepercayaan, walaupun dalam beberapa bagian juga dapat sebagai sebab kemunculan rasa tidak aman serta ketidakstabilan (hal-hal yang tidak menyenangkan) dalam masyarakat.

Demikian juga, sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam pembahasan yang berhubungan dengan saintisme dan hubungannya dengan sekulerisme, perkembangan dan kemajuan ilmu serta pengetahuan empiris dalam fakultas teoritis dan praktis secara esensial sama sekali tidak memunculkan pandangan dunia baik Ilahi ataupun materi, nilai-nilai ataupun anti nilai dan berpaling dari agama ataupun keberagamaan. Modernisme, sampai pada batas tertentu merupakan penjelas bagi perkembangan dan pertumbuhan ilmiah serta teknologi manusia, yang terpaparkan sebatas metode dan media pengetahuan tentang alam semesta juga manusia, dan modal bagi manusia dalam memperoleh karunia-karunia alam,  pencegahan terhadapap kejadian bencana alam yang tidak menyenangkan serta mengembangkan ataupun memakmurkan urusan-urusan kehidupan dan duniawi. Adapun masalah kebebasan berfikir dan pemahaman baru, ataupun menafikan keyakinan dan kepastian dalam cakupan pengetahuan, merasa cukup dengan skeptis dan doksa (probabiliti) serta penghapusan tradisi dan agama juga pengelolaan serta perubahan di dalamnya, keseluruhannya kembali pada satu bentuk pandangan dunia dan filsafat yang dipilih oleh manusia modern.; sebagaimana bentuk tradisi-tradisi, ajaran-ajaran, hukum-hukum agama, dan metode para penanggung-jawab urusan-urusan agama dalam masyarakat yang beragam serta pandangan manusia modern terhadap kebudayaan  pra-modern juga memberikan pengaruh bagi pembentukan pandangan dunia dan pemikiran filosofis insan modern. Dari sini, tidak boleh dianggap apa yang telah terjadi di dunia barat merupakan ciri khas manusia modern, dan bersentuhan dengan perolehan-perolehan ilmu dan pengetahuan modern, dan pada akhirnya pemikiran sekulerisme disifati sebagai sebuah pemikiran ilmiah dan modern, serta masyarakat yang berpegang teguh pada tradisi bangsa, dasar-dasar dan pondasi agama dianggap sebagai kemunduran, anti ilmu serta bodoh atas pemikiran modern, sebagaimana sebagian penulis mempunyai penilaian yang tidak benar tersebut terhadap sekulerisme dan modernisme.

Pada dasarnya, dalam masyarakat barat yang merupakan tempat kemunculan modernisme, apa pun yang telah dijelaskan sebelum ini sebagai lambang dan contoh dari kebudayaan serta filsafat modernisme, tidak menjadi objek yang diterima oleh seluruh pemikir dan ilmuwan. Tidak sedikit dari para pemikir yang berada pada puncak pengetahuan, yaitu ilmu yang dalam cakupan pengetahuan empiris –yang tidak memberikan kepastian dan keyakinan— dan menerima kebebasan berfikir juga pembaharuan pemahaman terhadap pandangan orang-orang sebelumnya, memiliki keyakinan yang kokoh terhadap permasalahan-permasalah metafisika, permasalahan yang di luar cakupan pengetahuan empiris, dasar-dasar dan pondasi etika yang kuat di luar empiris serta peranan agama yang tidak bisa digantikan dalam kehidupan etis dan pembinaan manusia. Mr Giddens, di mana telah kita sebutkan pandangannya yang berkenaan dengan modernisme, ciri-ciri khas, dan dampak-dampaknya, setelah menjelaskan asupan-asupan modernisme yang membawa bencana, khususnya asupan negatif bagi masyarakat modern, ia mengatakan:

“ketakutan dan kepanikan terhadap masyarakat sekarang telah meluas dan telah menjadi pusat perhatian negara-negara di seluruh dunia. Jika kita menginginkan untuk mencegah suatu kehancuran yang serius dan tidak dapat diganti, bukan saja kita akan berhadapan dengan pengaruh ekstrenal dari teknologi, akan tetapi kita harus berhadapan dengan logika pengembangan ilmiah yang tanpa kekang tersebut dan teknologi itu sendiri. Memanusiakan teknologi lebih banyak membutuhkan apa saja dari intervensi permasalah-permasalah etika untuk sebagai media penghubung[2] antara manusia dengan lingkungannya.”

Mr. Giddens menekankan atas keharusn hadirnya etika dalam kehidupan manusia di era modern dan menganggap etika sebagai benteng pencegah dari dampak-dampak perusakan modernisme. Namun, dari sisi lain, etika tanpa intervensi agama dan naungan wahyu ia tidak akan memberikan pengaruh. Mengutip ungkapan Hoffding: tanpa jaminan dari agama, etika hanyalah sekumpulan tindakan yang terprogram, dan –kaedah, turunnya aturan –taklif— merupakan hal yang baik akan sirna.[3]

Tentunya, hendaknya poin ini diperhatikan bahwa agama tidak dapat diubah menjadi etika, sebagaimana telah diargumentasikan oleh sebagian pemikir abad 19, karena agama mempunyai perhatian terhadap kekhawatiran-kekhawatiran dan kebutuhan-kebutuhan manusia. Kecondongan terhadap keindahan, pencarian ilmiah dan historis, serta kecondongan kepada aturan-aturan dan keterikatan dapat diketahui dengan bentuk yang jelas. Akan tetapi, tidak seorang pun yang mengingkari bahwa kekhawatiran-kekhawatiran etika sebagai poros yang paling mendasar dari sisi kehidupan agamis.[4]

Alhasil, dengan pandangan positif terhadap modernisme dan membuang hal-hal negatif juga yang tanpa argumen darinya, dalam inti modernisme dan kebebasan berfikir terhadap pandangan dan pemahaman terdahulu dalam ruang lingkup pengetahuan tentang manusia, alam semesta, konsep-konsep dan hukum-hukum agamis seperti; keberagamaan, komitmen terhadap hukum-hukum agamis dan nilai-nilai etika serta tradisi-tradisi rasional, maka kebudayaan-kebudayaan kuno akan tetap ada. Dan tidaklah demikian, di mana modernitas dalam fakultas pemikiran dan kebudayaan tidak serasi dengan berpegang teguh terhadap tradisi-tradisi rasional dan ajaran-ajaran serta hukum-hukum agamis, sehingga kita mencari jalan penyesuaiannya dalam sekulerisme. Terkadang, muncul kepermukaan pendapat pembaharuan berkenaan dengan agama dan hukum-hukum agamis; pendapat tersebut sampai pada batas menyesatkan. Pembaharuan digunakan pada tempat di mana asas dan dasar sesuatu telah tumbang dan hancur, semisal, kita dapat mengatakan berkenaan dengan agama yang berada di tengah-tengah penyimpangan dan perubahan, selain dalam bentuk ini merupakan sesuatu yang diterima adalah sebagai pemahaman baru dan pembaharuan pandangan terhadap pemahaman ataupun pendapat terdahulu; sebagaimana menghidupkan pemikiran agamis juga merupakan hal yang diterima dengan makna yang demikian.[5] Kalimat “pembenahan agama” yang digunakan pada sebagian tulisan-tulisan dan ungkapan-ungkapan memiliki dua makna yang berbeda serta dua tujuan (arah). Pembenahan terhadap dasar-dasar agama dan teks-teks syari’at merupakan hal yang tidak masuk akal, akan tetapi pembenahan yang telah terjadi dalam pemaknaan dan kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh dari agama dan syari’at merupakan hal yang diterima serta rasional. Di sini, kalimat pembenahan juga harus digunakan berdasarkan tolok-ukur yang benar. Dan penggunaan pemahaman agamis, kesimpulan dan pandangan sebagian ataupun keseluruhan para ilmuwan tentang salah satu dari permasalahan kehidupan tidaklah sejalan, tidak menunjukkan atas pembenahan pemahaman agamis yang bermotivasikan untuk menciptakan keselerasannya dengan pandangan dan kesimpulan tersebut.

“bahaya besar hari ini yang sedang mengancam agama Nasrani dan agama-agama lainnya, adalah kepasrahan terhadap hawa nafsu, birahi dan mode –trand— paruh kedua dari abad 20, dengan alasan bahwa hari ini harus telah berlalu, mereka lupa bahwa apa pun yang hari ini adalah hari ini dan esok akan menjadi kemarin.             Tentunya, pada setiap masa pesan agama harus dijelaskan sesuai dengan bahasa masa tersebut. Dan bersadarkan ajaran al-Quran al- Karim berbicara dengan seluruh umat sesuai dengan bahasa dan lisan mereka, akan tetapi penjelasan terbaru atas satu hakikat yang abadi berbeda dengan memberikan perubahan atas hakikat tersebut berdasarkan kecenderungan satu masa atau zaman. Mungkin saja atau zaman, tidak lebih dari satu mata rantai kesalahan-kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan tentang keindahan, sehingga memporak-porandakan masyarakat; sebagaimana sejarah manusia menyaksikan berkali-kali atas hal tersebut.”[6]

Modernisme, dari sisi praktis juga bisa memiliki penafsiran positif dan membangun, juga memiliki penafsiran negatif serta menghancurkan; tafsir positifnya adalah memanfaatkan perolehan dan hasil-hasil dari ilmu pengetahuan dan industri demi menjaga dasar-dasar dari nilai-nilai insani yang ditentukan oleh agama, akal dan fitrah; karena sesuatu yang tidak layak dan pantas merupakan penyimpangan dari nilai-nilai insani, dan bukannya pemanfaatan dari anugrah-anugrah alam tabiat dan ciptaan-ciptaan manusia. Walaupun, industrisasi kehidupan bisa menyiapkan kondisi-kondisi dan lahan-lahan yang sangat layak bagi perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakan yang tidak etis, juga dengan nisbah yang sama bisa menciptakan jalan untuk memperolah keutamaan dan makna yang transendental lebih dekat serta lebih berpotensi. Radio dan  televisi yang dalam pengamatan kita, merupakan salah satu dari sekian perolehan ilmu pengetahuan dan industri modern yang bisa digunakan untuk menyimpangkan hakikat-hakikat, perusakan pola fikir dan etika masyarakat manusia, bisa juga dimanfaatkan untuk melayani perkembangan ilmiah dan spiritual manusia. Kondisi seluruh fenomena industri adalah sama sebagaimana yang disebutkan di atas.

Ilmu, industri dan teknologi yang tidak menghantarkan pada filsafat dan ideologi, maka tidak akan membangun agama dan etika. Filsafat dan agama memiliki sumber dan pengambilan yang lain, di mana jika manusia mengetahui dan komitmen terhadapnya, maka ia bisa memanfaat ilmu dan industri sebaik-baiknya di jalan pengembangan serta ketransendentalan dirinya.

[1] Antony Giddens, Peyâmadhâ-yi Moderniyat, terjemahan Muhsin Tsulatsy, hal. 122-132

[2] Antony Giddens, Peyâmadhâ-yi Moderniyat, terjemahan Muhsin Tsulatsy, hal. 203

[3] Will Durant, Lazât-e Falsafeh, terjemahan Abbâs Zaryâb Khûyî, hal. 478

[4] Farhang wa Dîn, maqâle-ye Akhlâq wa Dîn, hal. 47

[5] Ayatullah Jawâdi Âmoli, Syarîat dar Âyîne-ye Ma’rifat, hal. 125-130

[6] Sayyid Husain Nashr, Maârif-e Islâmî dar Jahân-e Muâshir, hal. 224-226

About adminislat1

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *