Home / Keindonesiaan / Sosial / Munajat Kaum Marjinal ; “Doa’ Anak Terlantar”

Munajat Kaum Marjinal ; “Doa’ Anak Terlantar”

Ya Allah, aku sering mendengar kata yatim disebut dalam ceramah-ceramah para ustad. Kusaksikan begitu banyak orang berebut agar dapat berbuat baik dan berderma kepada anak yatim karena janji surga, imbalan pahala, dan keberkahan rezeki, seperti yang Kau janjikan. Itulah sebabnya, kedudukan anak yatim begitu mulia dalam pandangan sebagian besar orang.

Ya Allah, bukankah ayah dan ibuku masih hidup? Mana pantas aku disebut yatim lalu mendapat perhatian mereka? Aku iri dan cemburu, kalau saja kata terlantar juga tercantum dalam kitab suci-Mu seperti kata yatim, mungkin saja rintihanku ini tak lagi perlu kusampaikan kepada-Mu.

Ya Allah, anak-anak yang menjadi yatim kadang mendapatkan warisan dan perhatian, dari paman, bibi, dan sanak keluarganya. Sungguh berbeda nasib mereka denganku. Tapi biarlah, karena aku memang bukan anak yatim melainkan telah diyatimkan oleh keluargaku, oleh ayah dan ibuku sendiri yang hidup dalam himpitan keadaan. Semua terjadi akibat kemelaratan yang menimpa kami. Padahal tanpa lelah kami telah membanting tulang mencari nafkah, berbeda jauh dengan tingkah para koruptor serakah yang bergelimang harta tanpa susah payah.

Ya Allah, aku terlantar dan merasa tak berharga. Kelahiranku seakan beban bagi manusia selainku. Padahal Engkaulah yang menghendakinya, bukan aku. Kalau kutahu akan begini jadinya, lebih baik kalau aku tak lahir saja ke dunia.

Tiap malam datang, kurebahkan diri dan kurelakan kepala kecilku berbantal batu. Kudamba mimpi indah yang seakan enggan menjadi penghias dan bunga tidurku. Dalam lelap berselimut angin, beralas debu trotoar, dan beratap langit. Dengan jiwa lelah, aku pasrah. Taburan kemilau gemintang-Mu yang indah selalu tampak kelam di mataku.

Menjelang pagi, nyanyian rutin perutku mulai terasa. Padahal sebutir nasipun tak ada. Dengan langkah lemas dan gontai, kupaksakan diri mengemis iba. Saat rasa ngilu perutku mulai menyiksa, tapi tak seorangpun peduli menitip secuil belas kasihnya, saat itulah aku mengais sampah atau mengamen di tengah bising deru bis kota. Bahkan terkadang, tanpa berpikir panjang aku nekad ikut-ikutan jadi copet.

Ya Allah, sebenarnya aku malu menceritakan semua derita yang kualami. Betapa lemahnya aku menolak perlakuan tak adil manusia-manusia bejat, hingga penindasan yang dilakukan para preman yang menjadikanku sapi perah penghasil rupiah buat mereka.

Ya Allah, kubayangkan betapa cerianya wajah-wajah anak seusiaku yang setiap pagi berangkat ke sekolah, ditemani ayah atau ibu mereka. Sementara aku mesti sibuk berkutat dengan urusan haus mulut dan lapar perutku. Saat itulah kadang kusadari, betapa nasib kami memang berbeda. Bagaimana aku yang tak punya penjamin dan pelindung akan dipercaya sekolah manapun? Apa yang mesti kukatakan andai mereka bertanya siapa ayah-ibuku, dan dimanakah tempat tinggal atau rumahku? Bahkan bila keajaiban dapat terjadi, dengan tangan dan hati terbuka pihak sekolah mau menerimaku, bukankah untuk belajar dengan baik, aku memerlukan suasana hati yang tenang? Padahal ketenangan dan kedamaian itu, telah sekian lamanya terenggut paksa dari kehidupan masa kecilku.

Ya Allah, aku tak ubahnya bingkai potret yang terbuang karena telah pecah berkeping-keping. Tak mungkin kurasakan peluang untuk menjalani hari-hariku di panti asuhan, karena aku bukan anak yatim. Seringkali hatiku bertanya, apakah anak jalanan dan anak terlantar bukan bagian dari kehidupan manusia, sedang pada saat yang sama para anak yatim mendapatkan perhatian mereka? Apakah Kau sengaja memilihku untuk menjadi anak-anak terlantar, sementara anak-anak lain hidup ceria? Mengapa harus ada anak terlantar bila Kau ciptakan manusia untuk tujuan-tujuan mulia?

Ya Allah, saat aku sakit, apa yang mesti kuperbuat? Mana mungkin aku kan mengenal obat dan jarum suntik? Bukankah aku terlalu kotor untuk berada di dekat dokter dan perawat berbaju putih-bersih dan rapi itu? Apalagi bila kupaksakan diri datang ke hadapan mereka, mengeluhkan rasa sakit tanpa sepeserpun rupiah di genggamanku, bagaimana mungkin mereka akan menoleh kepadaku?

Ya Allah, aku tak pernah beribadah karena selama ini memang tak ada yang mengajariku untuk itu. Bahkan seringkali aku ragu, apakah Engkau ada atau tiada, hingga aku perlu menyembah-Mu? Terkadang  kuanggap kehidupanku ini tak berarti dan sia-sia. Aku hanya tinggal menunggu waktu seperti binatang yang tak tahu kapan nyawanya akan diambil.

Aku benci sejumlah kata, ya Allah. Dan setiap kata itu masuk ke dalam telinga dan menjalari jiwaku, tak ayal kemarahanku seketika meletup. Kata ‘ayah,’ ‘ibu,’ ‘saudara,’ dan ‘keluarga,’ bagiku adalah palsu. Semua itu tak lebih adalah kata-kata yang tak bermakna, karena aku benar-benar tidak tahu apakah aku ini hasil dari sebuah perkawinan yang sah ataukah aku seorang anak yang lahir dari hubungan main-main dua orang manusia.

Ya Allah, andai Engkau benar-benar ada, andaikan Engkau memang Tuhan yang Maha Pemurah, Maha Iba, dan Maha Kasih, selain ayah dan ibu kandung yang telah pergi jauh dariku, maka hadirkanlah bagiku seorang ‘ayah’ dan seorang ‘ibu’ yang lain. Hadirkan mereka berdua untuk sekedar mengelus lembut kepalaku saat aku diterpa gelisah, mendekap tubuhku saat aku diserang rasa takut, mengingatkan dan menunjukkan arah yang benar ketika aku menyimpang dan nakal. Yang dengan tulus menyanjungku ketika aku berperilaku baik, yang membawaku ke dokter bila aku sakit, dan menguburkan jasadku andai saja nyawaku tak tertolong lagi. Kuinginkan semua itu, semata agar aku memiliki alasan berharga untuk melanjutkan hidup sebagai hamba-Mu.

Ya Allah, maafkan aku telah berdoa dengan cara yang tak pantas, dengan bahasa yang tidak santun kepada-Mu. Berikan padaku jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan yang bergelayut dalam benakku. Selamatkan aku, raih tanganku. Karena seperti yang lain, aku juga ingin punya masa depan, dan menjadi manusia yang berguna bagi manusia lain di dunia ini.

About adminislat1

Check Also

Dalam NKRI Tak Ada Orang Kafir

Dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tak ada orang kafir. Pemeluk agama disebut berdasar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *