Home / Featured / Nalar Para Nabi Sosial

Nalar Para Nabi Sosial

Individu, Pengetahuan, dan Masyarakat

Awal mulanya adalah relasi antara individu-pengetahuan-masyarakat! Apa itu individu? Secara sederhana, individu (Inggris: individual, Latin: individuus “tidak dapat dibagi—dari in, “tidak”, dan dividuus, “dapat dibagi”, sepadan dengan kata Yunani atomon yang berarti “tak dapat dibagi” ) merupakan entitas terkecil dari masyarakat yang tak dapat dibagi. Relasi individu dengan masyarakat adalah relasi partikular dengan universal. Memang, jika kita melakukan atomisasi masyarakat, kita cacah secara aktual dan konseptual, maka kita akan temukan pada palung terdalam masyarakat, yang merupakan elemen dasar pembentuk masyarakat adalah individu. Individu membentuk masyarakat disebabkan, secara alamiah, ketidakmampuan dalam pemenuhan seluruh kebutuhan dirinya untuk bertahan hidup. Berserikat, berkumpul dijadikan modus untuk survive. Dengan demikian, sosialitas pun menjadi kodrat alamiah, menjadi ciri manusia. Ciri sosial tersebut dapat dijumpai dari permasalahan kecil, remeh-temeh sampai persoalan besar. Tak salah jika dikatakan bahwa, manusia adalah makhluk sosial. Tanpa sosialitas, manusia tidak akan menjadi “manusia”. Inilah basis antropologis terbentuknya masyarakat. Masyarakat dibentuk oleh individu sebagai sebuah keniscayaan naluriahnya untuk bertahan hidup.

 

Untuk bertahan hidup, manusia tidak hanya memerlukan sosialitas, tetapi juga mengaktifkan rasio, daya berfikir, yang memproduksi pengetahuan. Pada awalnya, pengetahuan diperlakukan sebagai “alat”, namun bukan alat penjelas fenomena alamiah an sich, tetapi juga sebagai perpanjangan eksistensinya untuk mengontrol alam. Dalam konteks ini, pengetahuan bersifat praktis-pragmatis. Namun, seiring perkembangan rasio manusia, pengetahuan diberlakukan juga sebagai semacam seni, bersifat estetis: pengetahuan demi pengetahuan. Lalu, gundukan pengetahuan disistematisasi dan kebenarannya dipertanggungjawabkan melalui langkah-langkah metodis. Itulah ilmu atau sains!

 

Ilmu , Menjelaskan Dunia

Pada dasarnya, Ilmu atau sains merupakan pengetahuan manusia tentang gejala alam fisik, yang merupakan citra manusia tentang alam konkret tersebut. Dapat dikatakan juga, ilmu merupakan kumpulan penemuan manusia tentang relasi, prinsip, kualitas, karakteristik kehidupan manusia, alam dan benda-benda lainnya. Relasi antara penahu (manusia) dengan yang diketahui dikenal sebagai pengetahuan. Relasi tersebut seperti relasi antara cermin dan sesuatu yang diletakkan di depan cermin untuk direfleksikan dalam cermin. Cermin tidak mempengaruhi objek, dan sebaliknya. Relasi keduanya bersifat pasif. Hukum gravitasi tidak mengubah pikiran atau sikap seorang fisikawan. Fisikawan tidak boleh memasukkan unsur-unsur subjektif dalam aktivitas ilmiah. Ia harus mempertahankan objektivitas dan impersonal. Pikiran seorang ilmuwan seperti cermin yang diletakkan di depan sesuatu yang konkret. Apa yang dilukiskan dalam cermin, itulah ilmu. (Ali Shariati, 2001: 190-191). Ilmu berhenti sampai titik ini: memaparkan gejala, menjelaskan dunia! Oleh sebab itu, seorang ilmuwan tidak bertanggungjawab bagaimana ilmu tersebut dinilai, dan penggunaannya untuk mengevalusi kondisi masyarakat. Disinilah titik persimpangan antara ilmu dan ideologi.

 

Ideologi, Seruling Israfil 

Untuk pertama kalinya, istilah ideologi diperkenalkan oleh S.L.C Destutt de Tracy (1754-1836). Baginya, ideologi adalah ilmu tentang idea-idea. Pandangan tersebut sejajar dengan pemikiran Ali Shariati. Menurut Ali Shariati, ideologi adalah ilmu tentang keyakinan-keyakinan atau gagasan-gagasan. Kata ideologi kerap diartikan secara negatif. Arti negatif kata ideologi antara lain: kesadaran palsu (Karl Marx), dan keyakinan yang tidak ilmiah. (Franz Magnis-Suseno, 1992: 230)

 

Dalam bahasan ini, ideologi saya artikan sebagai sesuatu yang netral. Dalam arti netralnya, ideologi dimaknai sebagai: keseluruhan sistem berfikir, nilai-nilai, dan sikap-sikap dasar rohani suatu gerakan, kelompok sosial atau kebudayaan. ( Franz Magnis-Suseno, 1992: 230) Jadi, ideologi mengandung: keyakinan dan gagasan yang ditaati oleh suatu kelompok, kelas sosial, bangsa, atau ras tertentu. (Ali Shariati, 1982: 190) Karena itu, nilai ideologi tergantung isinya: kalau isinya baik, ideologi itu baik, dan sebaliknya. (Franz Magnis Suseno, 1992: 230) Ideologi memiliki tiga penahapan: pertama, cara memahami realitas (tahap ilmiah), kedua, cara mengevaluasi realitas berdasarkan kerangka pikir tertentu, ketiga, rekomendasi praktis: usulan, metode, pendekatan untuk mengubah status quo. (Ali Shariati, 1982: 193-194) Dalam pandangan Ali Shari’ati, memiliki suatu ideologi berarti mempunyai kesadaran tentang bagaimana mengubah status quo (Ali Shariati, 1982: 222). Jadi, terdapat sifat praktis yang sangat kuat dari ideologi. Bagi Ali Shari’ati, ideologi laksana terompet Israfil (sheraph) yang mempercepat kebangkitan mayat dari kuburan sejarah (Shariati, 1982: 226). Berbeda dengan ilmu, ideologi menuntut komitmen perjuangan dan pengorbanan sebab didalamnya terdapat keberpihakkan. Revolusi sosial, misalnya, membutuhkan ideologi yang memompakan komitmen bertindak, berjuang dan berkorban. Dalam pemikiran Ali Shari’ati, ilmu atau filsafat tak pernah memicu revolusi dalam sejarah. Ideologilah yang senantiasa memberi inspirasi revolusioner. Titik lebih ideologi adalah bahwa hakekatnya merupakan keyakinan, tanggung jawab, keterlibatan dan komitmen (Ali Shariati, 1982: 194-195). Ideologi tersebut selalu diusung oleh kaum intelektual.

 

Intelektual, Para Nabi Sosial

Siapakah kaum intelektual itu? Istilah les intellectuels pertama kali diperkenalkan oleh Clemenceau dipakai secara luas di Prancis pada 1898 sebagai resonansi dari “manifesto intelektual” yang dipicu oleh kasus kasus Dreyfus. Pada awal kemunculannya, istilah ini menunjuk pada kelompok yang membela nurani bersama atas persoalan-persoalan mendasar. Setelah itu, muncul ragam pengertian intelektual. Meskipun demikian, Yudi Latif menjelaskan, dengan mengutip pendapat Eyerman, bahwa ragam definisi intelektual yang muncul dapat dikategorikan menjadi dua: pertama, definisi yang menunjuk kualitas personal, seperti “seorang yang menjadikan berfikir sebagai kerja sekaligus bermain” (Lasch) atau “mereka yang tak pernah puas dengan hal-hal sebagaimana adanya” (Coser, Michael Walzer, Paul Johnson). Kedua, definisi yang mengaitkan intelektual dengan fungsi sosial tertentu. Misalnya, intelektual adalah “mereka yang menciptakan, menyebarluaskan, dan menjalankan kebudayaan” (Seymour Martin Lipset, Alvin Gouldner, George Konrad, Ivan Szelenyi, Piere Bourdieu, Antonio Gramsci). (Yudi Latif, 2005: 20-22)

 

Ali Shariati memiliki istilah khas, yaitu raushanfikr. Raushanfikr bermakna “jiwa-jiwa yang tercerahkan” (enlightened souls), atau lazim diterjemahkan sebagai “para pemikir yang tercerahkan” (the enlightened thinkers). (Ali Shariati, 1986: 4). Raushanfikr berbeda dengan ilmuwan. Seorang ilmuwan menemukan kenyataan, seorang raushanfikr menemukan kebenaran. Ilmu hanya menampilkan fakta sebagaimana adanya, raushanfikr memberikan penilaian sebagaimana seharusnya. Ilmuwan berbicara dengan bahasa universal, raushanfikr—seperti para nabi—berbicara dengan bahasa kaumnya. Ilmuwan bersikap netral dalam menjalankan pekerjaannya, raushanfikr harus melibatkan diri pada ideologi. Sejarah, bagi Ali Shariati, dibentuk hanya oleh kaum rausyanfikr. Singkatnya, raushanfikr dapat diartikan sebagai intelektual yang sebenarnya. Kaum intelektual bukan sarjana yang hanya menunjukkan kelompok orang yang sudah melewati pendidikan tinggi dan memperoleh gelar sarjana (asli atau aspal). Mereka bukan hanya ilmuwan, yang mendalami dan mengembangkan ilmu dengan penalaran dan penelitian. Mereka adalah kelompok orang yang terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi mereka, merumuskannya dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang, menawarkan strategi dan alternatif pemecahan masalah.

 

Rausyanfikr memiliki beberapa karakter utama. Pertama, memiliki kesadaran akan kondisi masyarakat dan kemanusiaan. Kesadaran tersebut merupakan buah dari pengetahuannya yang mendalam akan seluk beluk masyarakat. Contohnya, raushanfikr dalam masyarakat Muslim harus seseorang yang mengerti Islam, seorang islamolog, bukan intelektual yang “tak mengerti” Islam sebab ia mesti menafsir simbol-simbol Islam serta meraciknya menjadi sebuah ideologi gerakan. Kedua, mampu menularkan kesadaran diri dan tanggung jawab sosial pada massa, al-nas. Ia berasal dari massa, dan hidup di tengah-tengah massa, tidak di menara gading! Merekalah merawat kewarasan nalar publik. Tugas rausyanfikr mirip tugas seorang nabi. Karena kemiripan itu, Shari’ati menyebut rausyanfikr sebagai nabi sosial. Karena karakter ini, raushanfikr dapar dikatakan juga sebagai intelektual organik (Gramsci), atau pemikir massa, mufakkir jamahir (Hasan Hanafi). Ketiga, rausyanfikr adalah manusia historis yang terikat oleh ruang dan waktu dimana ia tinggal. Oleh karena itu, menurut Shari’ati, tak ada prototype rausyanfikr universal. Rausyanfikr selalu bersifat lokal. Misalnya, Sartre menjadi raushanfikr bagi masyarakat Eropa, khususnya Prancis. Namun, ia tidak mungkin menjadi raushanfikr bagi masyarakat Asia, apalagi Indonesia. (M. Subhi-Ibrahim, 2004:89-90)

About syauqi glasses

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *