Home / Featured / Nurcholish Madjid dan Wacana Pemikiran Kebudayaan
Nurcholish Madjid

Nurcholish Madjid dan Wacana Pemikiran Kebudayaan

Wacana tentang kebudayaan adalah wacana yang selalu menarik untuk dibahas. Penafsiran terhadap suatu kebudayaan dan wacana pemikirannya membutuhkan suatu pemahaman (verstehen) yang mendalam dan luas. Sebab, penafsiran kebudayaan tidak hanya mengupas teks kebudayaan masa lalu, tetapi apakah masa lalu tersebut dapat menemukan suatu kesinambungan dengan kondisi kebudayaan saat ini?

Perjumpaan antara masa lalu dan masa kini dalam wacana pemikiran tentang teks kebudayaan menyingkap suatu pemahaman yang oleh Hans-Georg Gadamer disebut dengan pemahaman historikal. Menurutnya, pemahaman dan manusia itu sendiri dikuasai oleh sejarah dan pengejawantahannya terdapat dalam suatu tradisi.

Alasannya, menurut Gadamer, “tidak dapat diragukan lagi bahwa cakrawala besar masa lalu tempat kebudayaan dan masa kini kita hidup, memengaruhi kita dalam setiap hal yang kita maui, kita harapkan atau kita takutkan dan khawatirkan di masa depan” (Poespoprodjo, 2004: 94).

Pandangan ini menjelaskan bahwa kesadaran sejarah adalah latar depan manusia agar tetap memahami dan mengaktualisasikan (mengalami dalam sejarah) nilai-nilai yang terkandung dalam sejarahnya. Oleh karena itu manusia tidak akan dapat mengetahui dan memahami kebudayaan jika tidak melirik akar budaya yang ada dalam sejarah kebudayaannya.

Dalam filsafat kebudayaan, hakikat manusia ditafsirkan kembali. Yaitu siapakah manusia, ke mana arah manusia itu seharusnya berkembang, berjalan dan tujuan akhir hidupnya? Dari pertanyaan ontologis inilah, hakikat manusia kemudian dipertanyakan. Sebab, manusia adalah makhluk yang selalu dipertanyaakan dalam setiap eksistensinya baik secara fisik, psikologis maupun metafisik.

Namun, jawaban demi jawaban tidak membuahkan hasil yang komprehensif dan demikianlah sifat dari ilmu pengetahuan. Ketidakkomprehensifan inilah yang kemudian meneguhkan ilmu pengetahuan untuk terus mencari hakikat kehadiran manusia di dunia.

Meski demikian, ciri yang dapat disekapati dari pembahasan tentang hakikat manusia adalah akal budi. “Manusia adalah makhluk yang berakal budi,” demikan kata Aristoteles (Sutrisno, 2008: 13). Dengan akal budi manusia kemudian membentuk lingkungan sosial dan budayanya yang bernilai untuk kehidupannya (individu) dan orang lain (masyarakat).

Kebudayaan adalah rekam jejak manusia dalam menjalani kehidupan yang di dalamnya terdapat berbagai macam dimensi nilai baik agama, filsafat, tradisi, seni, bahasa, ilmu atau pemikiran, tata negara dan seterusnya—dengan alasan inilah maksud dan makna kebudayaan disejajarkan dengan peradaban.

Dimensi nilai inilah yang kemudian memberikan jalan kepada manusia untuk menanyakan dirinya, menelusuri alam kehidupanya dan mencari ke mana manusia harus pergi. Tanpa dimensi nilai, sulit sepertinya membedakan antara kedudukan manusia dan hewan, sebagaimana Sigmund Frued menjelaskan bahwa kebudayaan itu membersihkan manusia dari agresivitas dan naluri hewani (Kusumohamidjojo, 2009: 124).

Dengan pemikiranlah manusia kemudian menemukan wujudnya sebagai makhluk yang menyejarah. Dan melalui sejarah manusia menemukan gambaran masa lalu, sekarang dan rencana masa depannya. Dari paparan ini, pemahaman tentang kebudayaan mengalami proses perubahan baik dalam penafsiran maupun aktualisasinya.

Menjejaki kajian atau studi kebudayaan, perlu secara tegas membedakan antara wujud kebudayaan sebagai pikiran-pikiran atau konsep-konsep dan kebudayaan sebagai rangkaian kegiatan manusia yang berpola. Di sini baik pikiran maupun kegiatan merupakan gerak kegiatan manusia juga yang menghasilkan kebudayaan, baik kebudayaan sebagai ide-ide, sebagai kegiatan, dan sebagai hasil material.

J.J. Hoenigmann membedakan adanya tiga “gejala kebudayaan”: (1) ideas, (2) activities, dan (3) artifact. Pandangan ini kemudian diperjelas oleh Koenjtaraningrat yang memaknainya dengan tiga wujud kebudayaan. Pertama, wujud kebudayaan sebagai suatu yang kompleks dari ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.

Kedua, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat dan ketiga, wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia (Koentjaraningrat, 2000).

Kajian dan pemikiran tentang kebudayaan sendiri mulai berkembang sekitar pertengahan abad 19 Masehi. Adalah Sir Edward Burnett Tyalor seorang antropolog Inggris yang pada awal kajiannya merumuskan kebudayaan dan menyamakannya dengan “peradaban”.

Menurutnya, kebudayaan adalah “that complex whole which include knowledge, belief, morals, law, custom, and any other capabilities and habita acquired by man as a member of society”  (Kusumohamidjojo, 2009: 38). Dari pemikiran Sir Edward Burnett Tyalor inilah, banyak antropolog ataupun pengkaji budaya menemukan dasar diskursusnya tentang kebudayaan.

Berbeda dari ahli sejarah yang cenderung lebih sering mengunakan kata “peradaban” (civilization) daripada “kebudayaan”, seperti Guezzot, Will Durant, Oswald Spengler dan Arnold Toynbe.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah yang mengembangkan pemikiran al-hadharah sebagai kebudayaan. Artinya bahwa kebudayaan adalah kondisi-kondisi kehidupan yang melebihi dari apa yang diperlukan.

Kebudayaan, menurutnya, tidak akan berkembang benar-benar kecuali di kota, yaitu suatu tempat kondisi kehidupan yang melebihi dari apa yang diperlukan diperoleh. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kebudayaan sangat terkait dengan kota (Abdul Hadi W.M., 2008: 4).

Malinowsky mengartikan kata “civilization” sebagai aspek khusus dari kebudayaan yang lebih maju. Sedangkan J. Maritain menekankan aspek rasional dan moral pada arti kata kebudayaan dan aspek sosial, politik dan institusional kata “peradaban”. Akan tetapi kedua kata ini juga diperlawankan. O. Spengler memandang kebudayaan sebagai perwujudan dari budi manusia, sedangkan peradaban sebagai perbudakan dan pembekuan budi (Sutrisno, 2008:4).

Lalu pertanyaannya kemudian, apa pengertian dan makna kebudayaan menurut Cak Nur? Seperti yang diketahui bersama, Cak Nur adalah seorang intelektual Muslim Indonesia yang dalam banyak kesempatan sering menngungkapkan pentingnya persoalan kebudayaan, khususnya persoalan tentang kehidupan umat Islam di Indonesia.

Menurut Cak Nur, kalangan umat Muslim Indonesia sendiri, dalam memandang masalah agama dan budaya kebanyakan masih belum jelas. Ketidakjelasan ini akan berpengaruh pada bagaimana seorang dan kelompok Muslim menilai tentang absah dan tidaknya suatu ekspresi kultural yang khas Indonesia.

Sebabnya, Islam di Indonesia semakin diterima dan dihayati secara luas, sebagai sumber utama dalam pembinaan nilai-nilai bersama yang melandasi pembangunan bangsa secara menyeluruh. Dengan kata lain, pembangunan manusia Indonesia seutuhnya (Nurcholish Madjid, 1986: 4).

Karenanya, menurut Cak Nur, umat Islam diharapkan dapat menampilkan sebuah gagasan atau ide dengan tawaran-tawaran kultural yang produktif dan konstruktif, khususnya dalam pengisian nilai-nilai keindonesiaan menurut kerangka Pancasila.

Selanjutnya dalam tafsirannya tentang kebudayaan, termasuk juga kebudayaan Islam, Cak Nur memandang, akan berkembang jika dilandasi tradisi yang kokoh dan berkesinambungan yang jalannya tak lain ada pada pembaruan dalam pemikiran. Pembaruan atau inovasi di sini diartikan sebagai tajdid, bukan bid’ah.

Tajdid tentunya berkaitan dengan ijtihad, yaitu suatu upaya menafsirkan dan menjelmakan ajaran agama dengan jalan akal budi, atau menggunakan dalil-dalil aqli, bukan dalil-dalil naqli. Sebab, setiap kebudayaan yang lahir dan berkembang dalam sejarah Islam sebenarnya merupakan hasil ijtihad (Abdul Hadi W.M., 2006: 94).

Melalui tradisi pemikiran yang kokoh dan kesinambungan budaya inilah, transformasi kebudayaan dalam suatu masyarakat akan dapat terwujud.

Dalam beberapa pemikirannya, Cak Nur tidak membuat suatu pengertian tentang kebudayaan tetapi mengandaikan suatu kebudayaan tertentu. Maka, ketika mencari penjelasan tentang kebudayaan menurut Cak Nur, sangat mustahil dan tidak akan mendapat pengertian tentang kebudayaan itu sendiri.

Karena itu, tidak ada pengertian suatu kebudayaan yang berlaku secara absolut. Yang ada adalah pengertian kebudayaan menurut disiplin ilmu pengetahuan dan kebudayaan menurut individu dan masyarakat tertentu.

 

Sumber : http://www.qureta.com/post/nurcholish-madjid-dan-wacana-pemikiran-kebudayaan

About syauqi glasses

Check Also

TASAWUF – Mereka Yang Diberi Hidayah Khusus Oleh Allah

“Dan Allah – yang mulia dengan segala asma-Nya – dalam waktu ke waktu dan dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *