Home / Isu-isu Dunia Islam / Perang di Suriah, Perang Dunia Ketiga?

Perang di Suriah, Perang Dunia Ketiga?

Banyak yang beranggapan perang di Suriah yang terjadi saat ini adalah “pertunjukan kecil” perang dunia ke-3. Salah satu alasannya: begitu banyak kekuatan asing yang terlibat dalam perang ini. Suriah bagai medan laga adu kekuatan negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Qatar, Turki, Iran, dan negara-negara Barat.

Kabar mutakhir Prancis akan membangun pangkalan militer di Suriah Utara di basis militan Kurdi. Sementara Rusia membangun pangkalan di dekat Palmyra untuk memperkuat rezim Suriah dalam misi merebut kembali wilayahnya. Itulah mengapa perang Suriah menjadi perang yang begitu melelahkan, gelombang warga Suriah yang mengungsi meninggalkan tanah airnya terus mengalir tak terbendung hingga ke jantung Eropa.

Suriah tak hanya dijadikan medan perang adu kekuatan negara asing yang berebut pengaruh di Timur Tengah yang menyeret sekutu-sekutunya dari negara Barat. Perang Suriah juga jadi ajang adu kekuatan militan-militan asing papan atas. Hanya terjadi dalam perang Suriah militan sekelas Al-Qaidah berhadapan dengan militan Hizbullah, militan legendaris asal Libanon. Hanya terjadi dalam sejarah perang Suriah sesama militan jihadis Islamis bentrok.

Perang Suriah telah melahirkan Khilafah yang diimpikan kaum jihadis global; perang Suriah melahirkan negara eksperimen Rojava yang diidamkan bangsa Kurdi di Suriah. Perang Suriah juga menjadi magnet individu warga asing berbondong-bondong turut serta menyemarakkan perang akbar ini.

Sungguh ironis saat penduduk Suriah dipaksa keadaan mengungsi meninggalkan tanah airnya, justru warga asing dari berbagai negara mengalir deras ke negeri ini. Warga asing ini bukan menggantikan warga Suriah sebagai penduduk, namun mereka berpartisipasi sebagai pejuang asing (foreign fighters).

Fenomena berbondong-bondongnya para pejuang asing ke Suriah memang menarik perhatian. Bukan saja bagi pihak Barat, tapi juga kalangan internal umat Islam.

Banyak media dan pengamat yang menganggap semua pejuang asing sebagai jihadis. Kondisi sesungguhnya lebih rumit. Sebab, tidak semua pejuang asing dalam perang Suriah berorientasi pada jihad. Semua ini tergantung dengan kelompok-kelompok mana mereka bergabung dalam perang Suriah.

Jika para para pejuang asing itu bergabung dengan kelompok militan Islamis semacam Islamic Front hingga yang ekstrim seperti militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) atau Jabhat Nusrah (Al-Qaidah) dipastikan orientasi mereka adalah jihad. Soal jumlah, dibandingkan kelompok jihadis lain, ISIS menempati peringkat teratas sebagai kelompok yang diperkuat pejuang asing.

Meski demikian, kita tak bisa menutup mata bahwa pejuang asing juga bergerak memperkuat faksi bersenjata Kurdi di Suriah, rata-rata mereka adalah orang-orang dari negara Barat. Hanya saja fenomena pejuang asing yang bergabung Kurdi sangat kecil jika dibandingkan ISIS. Mesin perekrutan ISIS bekerja lebih baik dan kita bisa melihat bukti dari segi jumlah mereka. PBB menaksir ISIS diperkuat 30 ribu pejuang asing dari 100 negara (CNN Indonesia, 29/05/2015)

Atas dasar itulah saya lebih tertarik mengangkat fenomena pejuang asing yang berorientasi jihad dalam tulisan ini.

Adanya fatwa-fatwa dari ulama yang menyerukan untuk jihad dan berperang ke Suriah, baik secara personal maupun atas pendapat/sikap suatu lembaga juga, merupakan faktor yang menggerakkan pejuang asing muslim terlibat dalam konflik Suriah.

Contoh fatwa yang dikeluarkan oleh DR. Yusuf Al-Qaradhawi, misalnya, di tahun 2013, dalam acara Festival Solidaritas Rakyat Suriah di Qatar. Al Qaradhawi mengajak kepada umat Islam siapa saja yang mampu berjihad dan berperang untuk bergerak ke Suriah, membantu rakyat Suriah melawan rezim Bashar al-Assad.

Fatwa berjihad ke Suriah kembali digemakan oleh Yusuf Al-Qaradawi pada Oktober 2015 bersama puluhan tokoh dari Arab Saudi.  Ketika itu mereka mendesak umat Islam, baik di negara Arab Saudi dan di seluruh dunia, untuk membantu penentang rezim Suriah dalam memerangi Rusia yang bercokol di Suriah.

Mayoritas pejuang asing yang berjihad di Suriah memang selalu beralasan kehadiran mereka untuk membantu rakyat Suriah menggulingkan rezim. Lebih jauh sejatinya mereka berjuang untuk tujuan kelompoknya. Tak sekadar bertujuan melengserkan Presiden Suriah Bashar al-Assad sebagaimana tujuan Revolusi Suriah, tapi lebih dari itu pejuang asing ini ingin menjadikan Suriah sebagai negara yang menerapkan formalisasi Syariah.

Militan ISIS bahkan lebih dulu memperlihatkan diri “watak aslinya”. tanpa menunggu siapa yang menang dalam perang Suriah, rezim Suriah juga belum lengser, mereka mendeklarasikan negara Khilafah.

Ancaman atau Bukan?

Para jihadis lebih memilih berjuang di luar negeri (Suriah) sebenarnya dilandasi oleh alasan-alasan normatif. Bagi mereka, berjuang di zona konflik (dar al-harb) dipandang lebih mendapat legitimasi dan sesuai “aturan main” dalam hukum Islam yang mereka pahami. Sebab, jika melakukan “operasi jihad” di negerinya sendiri hampir dipastikan dianggap sebagai teroris (irhaby). Itulah mengapa mereka memilih pergi Suriah, apalagi ada yang mengeluarkan fatwa.

Di sisi lain, kadang masyarakat kita tanpa sadar juga menganggap “positif” keberadaan pejuang asing (foreign fighters) di Suriah. Seringkali kita dengar kalimat dari orang-orang kita semacam “kalau mau jihad jangan di sini! sana ke Suriah!” Atau memprotes kenapa orang-orang yang hendak pergi ke Suriah bergabung ISIS dicegah aparat, biarin aja daripada ngebom di sini!

Indonesia memang sedang menghadapi ancaman teror. Negara-negara lain juga mengalami hal yang sama. Kekhawatiran ancaman WNI yang menjadi pejuang asing di Suriah seandainya kembali ke tanah air terlalu dilebih-lebihkan. Sangat kecil peluang mereka kembali ke tanah air.

Mencegah warganya pergi menjadi pejuang asing di negara lain sudah sewajarnya dilakukan negara sebagai bagian dari masyarakat dunia demi menciptakan perdamaian. Dengan membiarkan WNI menjadi pejuang asing di Suriah sama saja kita memiliki “saham” dalam konflik Suriah. Kita ingin negeri ini aman tentu tidak dengan cara “mengekspor teroris” ke negeri lain, bukan?

 

Sumber ; http://geotimes.co.id/fenomena-petempur-asing-di-perang-suriah/

About adminislat1

Check Also

Ormas Radikal dan Demokrasi yang Tersandera

Demokrasi membuka ruang publik (public sphere) seluas-luasnya, termasuk kepada mereka yang menentangnya. Ini paradoks negeri Muslim …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *